Om itu suamiku

Om itu suamiku
Rombongan


__ADS_3

" Sudah kamu kabari suami kamu supaya pulangnya nggak sore-sore? " tanya Julio sambil melepas kacamata bacanya saat melihat putrinya menuruni anak tangga.


" Udah. " jawab Arisa mengangguk. " Emang mau ajakin kemana sih? Kok kayak yang buru-buru? " tanyanya sambil berjalan melenggang menghampiri sang ayah.


" Makan. Bukannya sekarang kamu suka makan? Mumpung kalian di sini, kita makan malam di luar bareng. Sama Ori sama Kevin juga. " jawab Julio.


" Weehhh.... Mantappp!!! " Arisa mengangkat jari jempolnya.


" Ibu kemana yah? " tanya Arisa sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Heran aja, biasanya rumah nggak akan sepi dari suara sang ibu. Tapi kenapa sekarang terasa sepi.


" Ibu keluar nganter si Kevin beli peralatan menggambar. Katanya besok mau ada pelajaran melukis. " jawab Julio.


" Oh, pantesan rumah sepi. Biasanya kek pasar malem. " Arisa mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Kamu ini. Aslinya juga sama kayak ibu kamu. Suka bikin heboh. " sahut sang ayah.


" Iya lah. Kan titisan ibu Andhara Nurmalia resmi. " sahut Arisa sambil cengengesan.


" Yah, Risa mau ke rumah opa. Kangen sama opa, sama Oma. " pamit Arisa.


" Hem. " jawab Julio.


🌷🌷🌷


" Ayah, katanya mau makan malam di luar? Kok malah ke rumah sakit sih? " protes Arisa kala mereka memasuki gerbang rumah sakit tempat Julio bekerja.


Saat ini, mereka sedang dalam perjalanan menuju rencana mereka, yaitu makan malam. Tapi entah kenapa, Julio justru meminta sang menantu yang sedang mengemudikan mobilnya, masuk ke kawasan rumah sakit.


Roy pun tak kalah penasaran. Tapi karena ia yang terbiasa bersikap cool, ia hanya diam saja. Toh, nanti juga ia bakalan tahu.


Andhara juga diam saja. Ia hanya mengulum senyumnya tipis.


" Emang kita makan malamnya mau di kantin rumah sakit? " tanya Arisa. " Ih, nggak asyik lah. Emang ayah nggak bosen, seharian udah makannya di kantin? Sekarang masih mau makan malam di kantin lagi? " dengusnya.

__ADS_1


" Ayah ada janji ketemu sama teman dulu sebentar. Habis ayah ketemu sama teman ayah, kita baru makan malam. Lagian, ini masih sore. Kalau makannya masih sore, entar kamu laper lagi. " jawab sang ayah sambil menengokkan tubuhnya ke belakang. Karena dirinya duduk di bangku depan, menemani sang menantu.


Julio lalu menelepas seatbelt nya. Begitupun Andhara.


" Ibu ikutan turun juga? " tanya Arisa sambil menoleh ke arah sang ibu yang berada di sampingnya.


" Iya lah. Kita semua ikutan turun. "


" Ngapain? "


" Kalau kamu, ngapain mau di sini aja? Kita belum tahu, ayah seberapa lama ketemuan sama temannya. Ayok turun. Ayah udah nungguin. " ajak Arisa yang sudah membuka pintu mobil.


" Ayo Roy. Ikut turun. " ajak Andhara ke Roy.


Roy mengangguk. Ia membuka seatbelt nya, dan membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil.


Mereka pun akhirnya ikut masuk ke dalam rumah sakit semua.


Tiba-tiba, Arisa mengekeh.


Memang mereka semua ikut masuk ke dalam rumah sakit. Ada orang tua Julio, Ori, Kevin, yang tadi berada di dalam mobil lain yang di kendarai oleh Ori, lalu Arisa, Roy, Andhara, juga Julio. Sepertinya memang sudah pas jika di angkut pakai mobil pick up terbuka.


Roy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan aneh sang istri. Ia sudah terbiasa. Jadi buat apa memprotes lagi. Toh percuma saja kan ya?


" Bang, semoga aja, si Arisa nggak kayak Dhara dulu ya bang. " ucap Andhara pelan di dekat telinga sang istri kala mereka sedang berjalan menuju ruangan seorang dokter.


Andhara memeluk lengan sang suami, berjalan di barisan paling depan. Lalu di belakang mereka ada Arisa sama Roy. Arisa pun sama, ia memeluk lengan sang suami. Ingin mengikuti orang tuanya.


" Semoga saja, Arisa bisa menyikapinya dengan baik, sayang. " jawab Julio sambil mengelus punggung tangan Andhara yang berada di lengannya.


" Eh, ngomong-ngomong, kita udah kek mau gerak jalan tujuh belasan, tau nggak sih bang. " kembali ucapan absurb Arisa terdengar.


" lihat tuh. Kita jalannya berdua-dua gini. Bentar lagi ada juri di depan. " kekehnya.

__ADS_1


Tak hanya itu. Ia menoleh ke belakang. Di barisan paling belakang, ada Ori dan Kevin.


" Ri. Masak gandengannya sama bocil. Kek gue nih. Gandengan sama lawan jenis. Nggak sejenis. Truck aja gandengan loh. Masak loe kagak! Hahaha.... " ledek Arisa di sertai tawa yang membahana.


" Arisa, ini di rumah sakit. Jangan kamu bikin orang yang lagi sakit, makin tambah sakit. " bisik Roy di samping.


" Ck! Abang ngatain suara Risa jelek gitu? Cempreng? Jadi bikin telinga sakit? Iya? " ketus Arisa. Mood nya tiba-tiba berubah. Ia lekas melepas tangannya dari lengan sang suami.


Ia menyedekapkan kedua tangannya di dada sambil dengan bibir mengerucut. Pandangannya pun ia buang ke samping.


Huh. Roy menghela nafas kasar. Salah ucap dirinya. Niatnya hanya ingin mengingatkan, tapi malah kena batunya. Ia lupa, jika sekarang istri kecilnya itu begitu moodian. Bentar-bentar ketawa-ketawa, bentar-bentar marah-marah, bentar-bentar nangis tanpa alasan yang jelas.


" Maaf. Abang minta maaf. " ucap Roy sambil mengalungkan sebelah tangannya di bahu Arisa. Tapi segera Arisa tepis. Ia menggoyang-goyangkan pundaknya kasar.


" Bukan maksud abang seperti itu. Abang cuma mau ngingetin kamu. Kalau ini di rumah sakit. Nggak boleh ketawa kenceng-kenceng kayak tadi. " ucap Roy lembut.


" Tau ah. Udah keburu BT! " ketus Arisa.


" Sa, nggak boleh gitu, nak. Dosa loh marah-marah sama suami. " sang Oma mengingatkan. Beliau sempat mendengar ucapan ketus sang cucu tadi.


Arisa hanya mengangguk. Tapi raut wajahnya tak berubah. Ia memilih berjalan lebih dulu, menghampiri sang ayah sama ibu yang sedang berbicara dengan seorang perawat di depan.


" Ayah... Ibu... " panggilnya.


Julio dan Andhara menoleh bersamaan.


" Loh, ayah ada janjinya sama dokter Lulu? Kenapa yah? " tanyanya. " Ishh... Jangan-jangan, ibu hamil lagi ya. " Arisa menyipitkan matanya menatap penuh curiga ke sang ibu.


" Emang kenapa kalau ibu hamil lagi? Ibu punya suami. Ibu juga masih muda. Ayah kamu juga. Mau bikin anak sampai kesebelasan juga ibu masih mampu. " sahut Andhara.


" Arisa malu ih bu. "


" Kan kamu yang malu. Ibu mah nggak. " jawab Andhara santai.

__ADS_1


" Maaf, dokter Julio, nyonya. Dokter Lulu sudah menunggu di dalam. " ucap seorang perawat.


bersambung


__ADS_2