
Tring
π© Abang udah di depan
Sebuah pesan masuk di ponsel pintar milik Arisa. Arisa tersenyum sumringah membaca pesan itu.
Bilang saja Arisa sin ting hari ini. Biarlah orang berkata apa. Arisa mah cuek aja. Yang penting dia happy.
π© Kok di depan?
Arisa membalas pesan suaminya.
π© Terus di mana?
Balas Roy.
π© Belakang lah. Mana bisa Arisa keluar kalau abang di depan?
tulis Arisa.
Arisa melihat status sang suami yang sedang mengetik. Arisa tersenyum simpul.
Tring
π© Terus, kalau abang ke belakang, emang kamu bisa keluar?
Arisa makin melebarkan senyumannya. Benar apa yang di bilang suaminya. Dari belakang, mana mungkin ia bisa keluar. Memangnya dia David Cooper_fil yang bisa nembus tembok?
Arisa terbahak menyadari kebodo hannya. Lalu ia segera mengetik pesan membalas pesan suaminya.
π© Oh iya, Risa mah lupa. Masih keinget waktu SMP. Suka manjat dinding belakang sekolah.π€π€π
π© Terus gimana dong?ππ
Tring
__ADS_1
Tak lama, ponselnya berbunyi kembali.
π© Kamu ke depan aja. Cuma pengen lihat Abang, kan? Bisa kamu lihat dari dalam gerbang. Abang ada di depan gerbang. ππ
Arisa tersenyum sumringah. Ia segera berjalan menuju kasir dan membayar makanannya.
π© Tungguin, Cinta. π₯°π₯°ππ
Arisa segera berlari menuju ke lobby sekolah, lalu menuju ke halaman depan untuk menemui sang suami.
Ketika Arisa berlari menuju luar, sepasang mata mengernyit. Dan sifat kepo nya keluar begitu saja. Dengan berhati-hati, Inez mengikuti langkah Arisa keluar.
Inez, sang pasangan selingkuhan Miler, kebetulan pengen buang air kecil ke kamar mandi. Dan tidak sengaja ia melihat sang saingan yang berlarian dengan wajah sumringahnya.
Tentu saja Inez kepo. Apapun yang Arisa lakukan, selalu akan membuatnya ingin tahu. Inez jelas tidak menyukai Arisa.
Sejak awal ia sudah tidak suka. Karena ia hanya mampu menjadi selingkuhan Miler. Sedangkan Arisa menjadi kekasih Miler yang sesungguhnya. Dan setelah mereka putus, Miler pun memutuskan hubungan dengannya. Dan sikap Miler kepadanya pasca waktu itu, sangat dingin kepadanya.
Arisa tersenyum lebar kala ia hendak sampai gerbang dan melihat sang suami yang terlihat begitu tampan.
Roy menyandarkan tubuhnya di body samping mobil, menumpukkan kaki kanannya di atas kaki kirinya, kedua tangan bersedekap ke dada, lengan kemeja yang ia linting hingga siku, dan tak lupa, kacamata berwarna navy bertengger di hidung mancungnya.
Arisa terlihat berdiri tepat di depan gerbang sekolah yang menjulang tinggi. Kedua tangannya memegangi gerbang. Dan tak lupa, senyumannya secerah mentari.
Tapi tak lama, senyuman itu meredup berganti dengan awan kelabu. Arisa memanyunkan bibirnya ke depan. Membuat Roy mengernyit. Ia lalu mengubah posisinya menjadi berdiri sempurna. Ia melirik ke arah sekuriti yang ada di dalam ruangan.
Rasanya, ia ingin sekali memeluk sang istri. Ternyata bukan hanya istrinya saja yang rindu. Ia juga merindukan istri kecilnya nan absurb dengan segala tingkah laku juga ucapannya itu.
Terlihat, Arisa merasa kesal. Berkali-kali mulutnya berkomat kamit tidak jelas. Akhirnya, Roy memutuskan untuk menemui sekuriti sekolah.
Roy berjalan dengan elegan menuju ke pos satpam. Ia terlihat berbincang serius dengan sekuriti sekolah Arisa, membuat Arisa kini mengernyit menggantikan sang suami.
Tak lama setelahnya, sekuriti nampak keluar dari pos, dan membuka gerbang sedikit tidak sampai anak satu sekolah bisa melewatinya dengan berbondong-bondong.
Arisa makin mengernyit sambil tak melewatkan semua pergerakan.
__ADS_1
" Mbak Arisa, di tunggu saudaranya. Katanya perut mbak Arisa sakit dan obatnya ketinggalan di rumah. " ujar sekuriti.
Arisa mengernyit sejenak, lalu ia mengangguk, " Iya pak. "
Arisa berjalan menuju gerbang yang terbuka sepojok, sambil menatap suaminya dengan tatapan entah apa. Tapi sang suami justru menampilkan senyuman tipisnya.
" Makasih ya pak. " ucap Arisa ke sekuriti.
" Iya mbak. Tapi jangan lama-lama ya. " pinta sekuriti.
Arisa mengangguk, lalu ia berjalan menghampiri sang suami. Sampai di dekat sang suami, Arisa langsung menurunkan lengan kemeja Roy yang Roy linting hingga siku. Lalu merapikan kemeja itu, karena kemeja Roy sudah keluar - keluar sedikit dari dalam celananya.
βHingga kini posisi mereka menjadi terlihat intim. Dari pojok lobby Inez mempergunakan kesempatan itu. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku, lalu mengambil gambar momen tersebut sambil tersenyum smirk.
Setelah mendapatkan beberapa gambar, Inez segera berlalu dari tempatnya bersembunyi dan kembali ke kelasnya sambil berlari.
" Risa nggak suka ya, abang berpenampilan kayak gini ke sekolah Risa. " omel Arisa sambil merapikan penampilan Roy.
" Kenapa? " tanya Roy santai sambil membiarkan sang istri melakukan apapun yang istrinya itu inginkan. Bahkan ia mengangkat tinggi kedua tangannya supaya Arisa bisa dengan mudah merapikan kemejanya.
" Abang jadi kelihatan so hot tau nggak sih. Kek sugar Daddy jadinya. " jawab Arisa dan membuat Roy tergelak.
Selesai kemejanya di rapikan, Roy menarik pinggang Arisa dengan kedua tangannya hingga kini mereka saling berhadapan dengan sangat dekat.
Arisa menekan dada Roy dengan kedua tangannya dengan mata melirik ke kanan dan ke kiri.
" Abang, ih! Jangan kek gini. Entar ketahuan anak-anak. " omelnya.
Roy ikut melirik ke kanan dan ke kiri. " Nggak ada orang lain selain kita di sini. "
" Ih, ada. Tuh, pak satpam. " tunjuk Arisa dengan dagunya.
Roy mengikuti arah pandang Arisa, lalu ia tersenyum.
" Kamu tenang aja, abang udah so gok pak satpamnya. Kasih selembar merah, dia juga bakalan diem. " sahut Roy.
__ADS_1
" Ih, Abang. Mana ada saudara pakai dekap-dekap kek gini? " protes Arisa masih mendorong tubuh Roy supaya agak menjauh.
Bersambung