Om itu suamiku

Om itu suamiku
Paniknya ibu


__ADS_3

" Sayang... Kenapa kamu nggak bangun, hem? " ujar Roy sambil mengelus pipi Arisa lembut.


Hari sudah hampir beranjak malam, tapi Arisa masih belum sadarkan diri. Jika sampai malam nanti ia belum sadar, maka dokter harus bertindak. Dokter harus menyuntikkan obat yang sudah pasti akan membahayakan janinnya.


Roy lalu menggenggam tangan Arisa, dan mengecupnya lembut. Setetes air mata leleh dari sudut mata Roy. Ia sedih, sakit.


" Sayang... Bangun, sayang... " suara lirih Roy begitu menyayat di telinga Julio juga kedua orang tua Roy.


Tuan Manoj memeluk tubuh istrinya yang sedari tadi sudah menangis. Ruby tidak tega melihat kondisi anak dan menantunya.


Tuan Manoj pun demikian. Ia menyesal. Kenapa tidak ia umumkan saja hubungan anak-anak nya di depan umum? Jika ia dulu menikahkan Roy dan Arisa dengan mewah, maka kejadian ini tidak akan terjadi.


Harusnya, ia tidak mengikuti kemauan Arisa yang tidak mau mengekspos hubungannya dengan Roy.


Buat apa takut dan khawatir di keluarkan dari sekolah. Toh, dirinyalah penyandang dana terbesar di yayasan sekolah tempat Arisa menimba ilmu. Ialah yang berkuasa.


Tuan Manoj sangat menyesalinya. Ia merasa telah gagal melindungi anak-anaknya.


" Arisa!!! " suara Roy terdengar lantang.


Julio, Tuan Manoj, juga Ruby, segera mendekat ke ranjang karena suara Roy seperti sedang panik. Atau mungkin itu hanya perasaan mereka.


" Ada apa, Roy? " tanya Julio.


" Ayah, tadi jari Arisa bergerak. Sepertinya dia sudah sadar, ayah. " jawab Roy. Wajahnya terlihat senang, tapi air mata pun tetap menetes di kedua sudut matanya.


Julio segera menghampiri sang putri. Ia memeriksa denyut nadi Arisa yang ada di pergelangan tangannya.


Julio merasa lega ketika ia mendengar denyut nadi sang putri yang sudah normal. Senyum kecil tersungging dari kedua sudut bibirnya. Ucapan syukur pun ia ucapkan di dalam hatinya.


" Bagaimana? " tanya Roy.


" Sebentar lagi, dia akan membuka matanya. " jawab Julio ringan seringan hatinya kini.


" Benarkah? " kedua sudut bibir Roy pun terangkat.


Ia kembali mengecup kening Arisa lembut, kemudian kembali menggenggam tangan Arisa.


Selang beberapa saat, Roy merasa genggaman tangannya teremat. Segera ia melihat ke arah tangannya. Dan kembali, ia melihat pergerakan tangan Arisa. Dan kali ini, gerakan itu terlihat jelas.


" Sayang... Kamu bangun? " ucapnya sambil berdiri dari duduknya.


Roy lalu menatap ke wajah Arisa. Perlahan, ia melihat Arisa membuka matanya. Lalu mata itu mengerjab perlahan sambil menyesuaikan dengan penerangan.


" Ehmm" Arisa menge rang lirih.

__ADS_1


" Sayang... " panggil Roy.


Perlahan Arisa menoleh ke kanan di mana ia mendengar suara Roy.


" Bang... " lirih Arisa. Ia mengangkat tangan kanannya, hendak menggapai wajah sang suami yang terlihat berantakan. Tak serapi biasanya.


" Iya, sayang. " Roy segera meraih tangan Arisa dan ia bawa ke pipinya.


" Abang kenapa jelek gitu wajahnya?? " bukan Arisa jika tidak mengeluarkan ucapan absurb nya.


Ha!!!! Ruby dan tuan Manoj nampak agak terkejut dengan ucapan yang Arisa ucapkan pertama kali. Tapi tidak dengan Julio. Ia sudah biasa mendengar ucapan semacam itu. Ia pernah punya 2 di rumah sebelumnya. Sebelum Arisa di bawa suaminya tentu saja.


" Abang khawatir sama kamu. " ucap Roy. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Arisa, hendak memberikan kecupannya. Tapi Arisa segera membuang wajah, dan menutup wajah Roy dengan telapak tangannya.


" Abang jangan deket-deket ih! Wajah abang jelek. Risa nggak mau. " tolak Arisa.


" Tap- "


" Abang cuci muka dulu sana, terus sisiran. Biar ganteng dulu. Baru cium Risa. " potong Arisa.


Fix. Anaknya masih ada di dalam. Pikir Roy. Karena sikap nyeleneh sang istri dengan segala kemauannya yang ajaib. Hati Roy menghangat memikirkannya.


" Iya. Abang cuci muka dulu bentar. " jawab Roy cepat. Ia lalu melepas tangan Arisa dan segera pergi ke kamar mandi.


Pintu ruangan terbuka dari luar dengan sedikit kasar.


" ARISAA.... Anaknya ibu....!!!! " pekik Andhara histeris sambil menghambur memasuki ruangan dan segera menghampiri Arisa.


Tanpa basa-basi, ia lalu memeluk erat tubuh Arisa sambil menangis sesenggukan.


" Buu... " Arisa pun ikut menangis di pelukan sang ibu.


Andhara melepas pelukannya lalu meneliti tiap inci tubuh sang putri. Lalu pandangannya jatuh ke perut Arisa.


" Cucu ibu masih aman, kan? " ia menyentuh perut Arisa sambil menatap Arisa.


" Ayah??? " Arisa menoleh ke arah ayahnya. Iya, dia sampai lupa dengan keadaan sang janin. Apakah janinnya masih ada, atau......


Tiba-tiba pandangan mata Arisa memburam karena tertutup oleh genangan air mata. Tangannya menggenggam erat tangan sang ibu. Tiba-tiba ia merasakan ketakutan yang amat sangat.


" Ayah... Baby nya gimana? Dia baik-baik aja kan? Dia masih ada kan, yah? " tanya Arisa beruntun sambil tangannya yang satu menggenggam tangan sang ayah. Kini orang tuanya berada di sisi kanan dan juga kirinya.


Julio mengembangkan senyumannya. " Dia baik. Cucu ayah, anak kamu, dia masih ada di sini. " jawabnya sambil menaruh tangannya yang bebas di atas tangan Andhara yang berada di atas perut Arisa.


" Dia kuat seperti ibunya. " imbuh Julio.

__ADS_1


" Aahh.... Hua...Hua... " Arisa menangis sejadi-jadinya mendengar jawaban sang ayah. Ia tadi sudah sangat takut.


Mendengar tangisan sang istri yang membahana, Roy segera keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah dan rambut yang masih basah.


" Sayang... " Roy terlihat panik kala melihat sang istri sedang menangis di pelukan sang ayah dan ibu.


Andhara dan Julio melepas pelukan mereka kala mendengar suara sang menantu.


" Huaaaaa..... " tangis Arisa kembali pecah.


" Sayang, kamu kenapa lagi? Ada yang sakit? " tanya Andhara panik sambil meneliti tubuh Arisa.


" Abang.. " tunjuk Arisa ke suaminya. " Abang kenapa jadi makin jelek gitu??? Huaaa.... Abang jorok!!! " ucapnya.


" Roy, keringkan dulu wajah sama rambut kamu. " ucap Ruby pelan sambil mengusap bahu putranya. " Istri kamu, maunya kamu kelihatan tampan. Bukan malah jorok. " imbuhnya.


Roy menoleh ke arah mamanya. Lalu ia mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


" Arisa, kenapa kamu nggak cerita sama ibu? Kenapa kamu selalu aja memendam semuanya sendiri? Kamu nggak nganggep ibu ya? Ibu itu sayang sama kamu. Ibu nggak mau kamu kenapa-kenapa. " cerca Andhara.


" Maaf, Bu. " ujar Arisa sambil menggenggam tangan ibunya.


" Ibu pasti hajar anak itu. Ibu jadiin rujak bebek kalau perlu. " geram Andhara.


" Sayang, udah. " Julio mencoba menenangkan sang istri yang terlihat begitu menggebu-gebu.


" Abang juga. Kenapa abang nggak kasih tahu Dhara kalau putri kita pingsan gini? Kenapa Dhara harus taunya belakangan? Abang kira, Dhara suka kalau gini? Dhara nggak suka, tau bang. " oceh Andhara ke sang suami.


" Maaf. Abang minta maaf. Abang cuma nggak mau kamu panik. " ucap Julio lembut sambil memeluk bahu Arisa. Ia sudah beralih tempat menjadi berada di sebelah sang istri yang sedang tersulut emosi.


" Apa sih! Abang nggak usah peluk peluk. Dhara lagi marah loh ini sama abang. " ketus Andhara sambil menggoyang goyangkan bahunya supaya tangan suaminya terlepas dari sana.


" Sayang, malu ada besan. " bisik Julio.


" Biarin. Dhara nggak malu. Karena Dhara emang lagi kesel sama abang. " jawab Andhara.


" Maaf ya pak besan sama Bu besan. Saya kalau lagi kesel emang kayak gini. " ucapnya sambil tersenyum garing ke arah Ruby sama tuan Manoj.


" Abang awas jauhan sana. Jangan deket-deket. Dhara lagi pengen gigit abang sekarang. " ketusnya ke sang suami.


Julio menurut. Ia berpindah satu langkah ke samping menjauh dari Andhara.


Jika saja di sana tidak ada tuan Manoj juga Ruby, Julio pasti sudah memeluk erat tubuh Andhara, menciumi seluruh wajah sang istri, membujuknya juga merayunya. Jurus andalan paling manjur untuk menaklukkan hati Andhara Nurmalia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2