
" Loh, pada mau kemana ini? " tanya Andhara yang tengah menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Ia melihat sang putri dan menantunya menuruni tangga bersamaan.
" Ck! Ibu masih muda loh. Masak udah plus matanya. Kan udah pakai seragam sekolah gini anaknya. Masak iya, pakai seragam putih abu-abu gini mau ke pasar. Nggak level lah Bu. " sahut Arisa.
" Ck! " Plak
Andhara menggeplak punggung Arisa.
" Aduh. Ih, ibu KDRT ini namanya. Sebenarnya, Arisa tuh anak ibu bukan sih? "
" Nggak. Ibu mungut kamu di depan rumah. Noh, deket tong sampah. Nyempil kamu di sana udah kek puntung rokoknya si abang tukang sayur. " jawab Andhara.
Julio yang melihatnya, hanya bisa menghela nafas beratnya. Sudah biasa baginya melihat dan mendengar betapa ramainya suara anak dan istrinya itu tiap pagi. Udah kayak petasan renteng.
" Roy, duduk. Kita sarapan bareng. Jangan di dengerin tuh istri sama ibu mertua kamu. Kamu jangan kaget. Sudah biasa mereka seperti itu tiap pagi. " ujar Julio.
" Ih, abang. Kalau Dhara diem aja, entar abang yang bingung, kebakaran jenggot. " sahut Andhara.
" Iya, sayang. Kalau kamu diem, abang bingung. Karena pasti lagi marah sama abang. " jawab Julio.
" Arisaaa.... Duduk di sebelah suami kamu. " titah ibu negara.
" Biasanya juga Risa duduk sebelahan sama Ori. " gerutu Arisa.
" Kan kamu sekarang udah punya suami. Biar nanti Zavi yang duduk di sana. " jawab Andhara.
" ORIIIIII.... ZAVIIIIIII......" panggil Andhara ke dua anak lakinya.
" Ibu... Nanti telinga Kevin bengkak loh kalau pagi-pagi dengerin ibu teriak-teriak. " sahut Kevin.
" Tau nih ibu. " Sahut Arisa. " Yah, kayaknya ayah perlu ketemu sama takmir masjid di komplek kita deh. "
" Mau ngapain? " tanya Julio.
" Bilang sama mereka, kalau misal pengeras suara di masjid rusak, suruh manggil ibu aja. Suara ibu kan udah kek ada TOA nya. Jadi nggak perlu pengeras suara lagi kalau mau adzan. " sahutnya santai. Dan langsung mendapatkan pelototan mata dari sang ibu.
" Morning semuanya. " sapa Ori. Dan cup...
" Morning my first love. " sapanya khusus untuk sang ibu. Ia mengecup pipi sang ibu. Membuat sang ibu tersenyum. Melupakan emosinya terhadap putri satu-satunya.
" Jangan peluk - peluk sama cium-cium ibu kek gitu. Nanti ada yang kebakaran jenggot. " ujar Arisa sambil melirik ke arah Julio.
" Apa? " ujar Julio.
" Santai aja my father. Slow down. Biasanya ayah kan suka cemburu kalau ibu di peluk sama laki laki lain. "
__ADS_1
" Gue anaknya, dodol! Kalau loe lupa. " sengak si Ori.
" Eh, kita tuh anak pungut. Habis mulung ibu di tong sampah. "
" Itu kan cuman loe doang. Gue mah nggak. Asli tulen keturunan Prasetya sama Andhara. "
" Kita kembar ya. Asal loe nggak amnesia. " balas Arisa tidak mau kalah.
" Ck! Kalian ini bisa pada diem nggak sih. Jangan sampai Roy, anggota baru di rumah kita jadi illfeel liat keluarga ini. " Andhara mengingatkan.
" Yeee.... Kan ibu yang mulai. " balas Arisa.
" Nih anak satu, sukanya ngebantah aja kalau orang tua lagi ngomong. Lama-lama ibu lempar juga kamu balik ke planet Mars sana. "
Sedangkan Roy, ia nampak menikmati apa yang di dengar juga di lihatnya pagi ini. Sungguh pemandangan yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Ia jadi membayangkan, apa kelak jika dirinya dan Arisa mempunyai anak, keluarga mereka juga akan sehangat ini?
" Laper ih, pagi-pagi udah main stand up komedi. " ujar Arisa.
" Sengaja. Biar kamu makannya banyak. Biar kalau di ajakin suami kamu olahraga, kamu siap kapanpun. " sahut sang ibu.
" Ogah ah! Ngapain olahraga. Di sekolah aja kalau jam olahraga Arisa sering bolos. Ijin ke UKS kok. " jawab Arisa. Ia mengangkat piringnya, lalu meraih centong nasi, dan hendak mengambil nasi goreng.
Pug
" Apalagi, ibuuu!!! " geram Arisa.
" Ambilin suami kamu dulu. Baru kamu boleh ambil buat kamu sendiri. " titah Andhara.
" Anak gadis tuh kalau udah nikah, harus pinter-pinter manjain suami. Harus menyiapkan semua kebutuhannya. Meladeni suami di meja makan kayak gini. Biar suami kita tuh makin sayang sama kita. " pesan sang ibu.
" Emang gitu ya om? Om bakalan sayang gitu sama Risa kalau Risa manjain om. " tanya Arisa sambil menoleh ke samping.
Dan Roy mengangguk, lalu berbisik, " Apalagi kalau manjain di atas ranjang. "
Plak
Sontak Arisa memukul pundak Roy dengan keras sambil memelototkan kedua matanya lebar-lebar. Bisa-bisanya si om om genit ini bicara me sum sama anak kecil. Mana ada orang banyak lagi. Kalau cuma berdua sih, hayuk lah gue ladenin. kekeh Arisa dalam hati.
" Arisa sayang... Baru aja ibu bilang, suami tuh harus di manjain, bukan main asal di geplak kayak gitu. " tutur Andhara.
" Udah sayang. Nanti tekanan darah kamu naik. " Julio membelai lembut punggung sang istri yang sedang mengambilkannya nasi di atas piringnya.
" Habisnya bang, anak kesayangan kamu ini. Kalau di kasih tahu, nauzubillah... Sukanya ngejawab mulu. Dhara kan cuma ngasih tahu, gimana jadi istri yang baik. Baru juga Dhara diem, eh, dia malah main geplak lakinya. Gimana nggak kesel coba? " jawab Andhara.
" Pelan-pelan sayang. Ngasih tahunya. Lagian, abang juga percaya kok. Arisa bisa jadi istri yang baik buat suaminya. Dia kan juga tiap hari udah lihat, gimana kamu melayani abang, menyiapkan semua kebutuhan abang. Dia pasti bisa belajar dari situ. Iya kan nak? " kini Julio menoleh ke arah putrinya yang sedang menunduk.
__ADS_1
Arisa mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya. Memang dia sudah keterlaluan. Ia menyadari akan hal itu. Dia memang terlalu sering membuat sang ibu kesal, bahkan darahnya terus naik.
Arisa berdiri dari duduknya, lalu menghampiri sang ibu.
" Risa sayang sama ibu. " Ia memeluk sang ibu dari belakang. Mengalungkan kedua tangannya di leher sang ibu.
Andhara mengangguk sambil tersenyum dan menepuk-nepuk pelan tangan Arisa. " Ibu juga sayang sama Arisa. Arisa adalah putri kandungnya ibu. Ibu ngeden loh buat ngelahirin kamu. "
Arisa mencium pipi kanan sang ibu dan Andhara pun demikian.
" Ibu jangan azab Arisa jadi batu kek si Malin Kundang yah. " kekeh Arisa.
" Kagak. Palingan ibu azab jadi candi. Kayak si Roro Jonggrang. " kekeh sang ibu.
Arisa pura-pura merengut. Ia berjalan kembali ke kursinya. Lalu mengambil piring sang suami dan mengisinya dengan nasi goreng.
" Segini, cukup? " tanyanya dan Roy mengangguk. " Mau telur mata sapi, atau dadar om? Kalau om carinya telur mata keranjang, kayaknya ibu nggak bikin deh. Soalnya, semua keluarga sini pada setia sama pasangan semua. " kelakarnya.
Julio hanya menggelengkan kepalanya. Putrinya memang keturunan asli sang istri. Yang suka bicara seenaknya.
" Aku telur dadar aja. " sahut Roy sambil tersenyum. Sungguh, paginya akan selalu ceria seperti mentari pagi mulai hari ini.
" Oke. " jawab Arisa sambil menautkan jari telunjuk dan jempolnya ke arah Roy. Ia mengambil sepotong telur dadar untuk suaminya, lalu ia mengambil nasi juga telur mata sapi untuknya sendiri.
" Om... "
" Ayah itu om. Jangan panggil ayah dengan panggilan om lagi. Katanya udah jadi mertua. Manggilnya harus samaan dong sama Risa. " potong Arisa.
" Tuh, ayah. Tuh, ibu. Jangan di panggil kakak. Entar ibu kesenengan. " lanjutnya.
" Yah,,"
" Kenapa? " tanya Julio.
" Mulai hari ini, Arisa biar saya saja yang mengantar dan menjemput sekolah. Karena sekarang, dia adalah tanggung jawab saya " ujar Roy.
" Jadi ceritanya, ayah di pecat nih jadi sopir? " kelakar Julio.
" Tuh, ayah ganti job aja. Nganterin ibu ke pasar, nganterin si Kevin sekolah. " sahut Arisa.
" Ori, entar sekalian aja bareng kakak. " ajak Roy ke Orion.
" Mmmm... Kayaknya nggak usah deh bang. Sekolah kakak sama Ori kan beda arah. Lagian, biasanya Ori di samperin temen kok. " jawab si Ori. Dan Roy pun mengangguk.
bersambung
__ADS_1