
Hari terus berganti. Hubungan antara Roy dan juga Arisa pun semakin hangat. Mereka sudah seperti pasangan pengantin baru. Kemana-mana harus selalu berdua. Bahkan mau bo_ker aja harus berdua. Kata mereka biar so romantis.
Huek nggak sih tuh? Yah, kalau orang lagi jatuh cinta, memang semuanya terasa nikmat. Mau makan cuma pakai garam juga terasa kek makan sama daging Wagyu.
Arisa pun sekarang sudah lebih terbuka. Ia sudah tidak sok malu-malu meong atau sok jual mahal kepada suaminya. Bo do amat. Sama laki sendiri. Pikir Arisa.
Hari itu, sekolah Arisa di liburkan selama satu hari karena ada kegiatan rapat tahunan yayasan. Jadi hari itu, Arisa terbebas dari segala tanggung jawab seputar sekolah.
Pagi harinya, Arisa hanya bermalas-malasan di atas kasur empuknya. Sang suami sudah berangkat bekerja sedari pagi. Sedangkan Arisa hanya bergelintang gelinting ke kanan juga ke kiri.
Berulang kali menarik selimut, membuangnya kasar hingga teronggok ke lantai berulang kali. Mengganti channel televisi asal. Mulai dari siaran berita pemerko saan, pencu rian, pembu nuhan. Setelah beberapa menit lamanya, Arisa mengganti ke channel lain.
Menyimak berita terpanas dan terkini dari selebriti sampai selebgram papan atas.
Bosan dengan para artis, Arisa mengganti channel lain. Mengubah setelan hingga berganti ke aplikasi You_tune. Lalu ia mengetik sebuah judul lagu.
Berkali-kali lagu itu ia putar, ia menjadi kembali bosan.
" Bosen ih! " kesalnya sambil melempar remote TV ke kasur. Ia lalu menegakkan tubuhnya dan mengambil posisi duduk.
Rambut acak-acakan udah mirip kek wewe gem bel, baju kusut dah kek cucian habis di peres.
Kruuuukkkk
Sontak Arisa langsung menatap perutnya. Kenapa perutnya bisa berbunyi begitu keras? Macam musik rock and roll.
Seingatnya, tadi lagi ia sudah sarapan. Mana habis dua tumpuk roti bakar isian sosis keju lagi.
" Kok bisa-bisanya gue laper lagi sih? " keluhnya sambil mengusap perutnya dan turun dari ranjang.
Arisa berjalan keluar dari dalam kamar dengan mengenakan celana hotpants dan kaos tangtop karena di rumahnya memang tidak ada orang lain selain dirinya. Jadi ia tidak khawatir jikalau ada orang lain yang melihat auratnya.
Sampai dapur, Arisa segera membuka kulkas. Tapi seketika kemudian, wajahnya mengeruh. Tidak ada makanan yang bisa ia makan dari dalam kulkas.
Lalu ia beranjak menuju almari. Membukanya, berharap ada mi instan di sana . Tapi lagi-lagi, ia kecewa. Harapannya tinggal harapan. Karena memang selama ini, Roy tidak pernah mengijinkan ia makan mi instan.
Arisa berjalan lesu ke arah meja. Ia duduk dengan kasar di kursi dapur. Menopang dagunya dengan tangan kirinya sambil men desah berat.
" Laper... Hiks.... " ucapnya sambil memanyunkan bibirnya.
Ia lalu memandang ponselnya. Ia tiba-tiba merindukan suaminya. Karena biasanya, sang suami lah yang memasak jika di rumah. Ia, mana bisa dirinya masak. Goreng telur mata sapi aja ia tinggal kabur karena sering meletup-letup.
__ADS_1
" Abang.... Istri abang laper ini... " rengeknya memandangi ponselnya yang layarnya saja masih gelap. " Kalau Arisa pingsan karena kelaparan gimana? " Sebut saja ia memang lebay. Tapi seperti itulah Arisa akhir-akhir ini.
" Ih, abang kenapa nggak ada telpon sih? Nggak ngerasa gitu, kalau istrinya yang cantik ini lagi kelaparan. " sungutnya.
Ia lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Dan menopang dagu kembali.
" Ah, mending ke rumah si Kai-kai aja ah. Kalau nggak ke rumah ibu. Minta makan. " gumamnya sambil menyambar ponselnya dan segera berlalu kembali ke kamarnya untuk bersiap.
Tidak sampai berjam-jam lamanya, Arisa sudah selesai dengan baju gantinya. Tidak ada lipstik yang merekah, atau blush on yang membuat pipinya merona. Tapi penampilannya tetap cantik bak bidadari. Itu menurut pendapat Roy Aditama.
" Mmmm.... Naik apa ya? Kalau mau naik angkot, harus jalan ke depan dulu. Mau naik taksi online, masih harus nunggu. Lama ah! " Arisa terlihat berpikir sambil berdiri di ruang tamu rumahnya.
" Bawa mobil sendiri, kalau abang tahu, udah pasti kena semprot. SIM aja belum punya. Kalau kamu di tangkap polisi gimana? " Arisa menirukan suara berat Roy.
" Ya, kalau polisinya cakepan sih kagak apa-apa. Tapi kalau polisinya udah om-om, males ah. Di rumah aja udah punya om-om atu. Hot lagi. " kekeh Arisa. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
" Naik motor ajalah biar cepet. SIM juga ada. " putusnya. Ia lalu mengambil kunci motor maticnya .
" Oke, let's go every body. " ucapnya setelah mengunci pintu rumahnya.
" Oh iya lupa. Belum minta ijin suami. Entar jadi istri durhakim lagi. Elah, ribet amat jadi istri. " monolognya sambil merogok tasnya untuk mengambil ponselnya.
Ia lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Berjalan sembari bersenandung kecil menuju ke garasi untuk mengambil motornya.
🌷🌷🌷
" Hola... Halo epribadehhhh!!!!! Yuhuuuuuu..... Putri cantik anaknya ibu Andhara pulang iniii!!!! " teriak Arisa dari depan pintu utama.
Seperti biasanya, ia akan selalu membuat heboh dengan kedatangannya.
" Sshhh, anak satu ini. " geram sang ibu yang sedang duduk manis sambil membaca berita selebritis dari layar ponselnya.
Andhara beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju ke ruang tamu.
" Kamu ini. Udah punya suami juga masiiihhh nggak tahu aturan. Bar-barnya di ilangin Napa. " sahut Andhara dari dalam.
" Datang-datang bukannya salam. Assalamualaikum kek. Eh, malah teriak-teriak. " Andhara masih saja mengomel.
Arisa tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya tanpa ada rasa bersalah. Ia segera menghampiri sang ibu.
" Assalamualaikum ibu Andhara Nurmalia yang cantik. " sapa Arisa sambil menyalami sang ibu takdzim.
__ADS_1
" Waalaikum salam. " jawab Andhara. " Nggak sekolah, kamu? Awas.. Bolos!!! " Andhara menyipitkan matanya.
" Ih, nggak lah Bu. Masak anak ibu yang cantik jelita gini bolos sekolah sih? Sayang sama duit ayah sama duit suami dong. Terbuang sia-sia. Arisa lagi libur bu. Ada rapat yayasan di sekolah. " jelas Arisa.
" Alhamdulillah deh. " sahut Andhara. " Suami kamu tahu nggak kalau kamu kesini? "
" Tau lah. Gini-gini, Arisa tuh istri yang baik loh Bu. " Arisa mengamit lengan sang ibu, lalu berjalan berdempetan udah kayak duduk di angkot.
" Arisa udah ijin sama abang. "
" Syukur deh kalau kamu bisa jadi istri yang baik. Ibu seneng dengernya. "
" Iya kan anaknya ibu Andhara Nurmalia sama ayah Julio Enggar Prasetya. " sahut Arisa. " Bu, Arisa kesini tuh karena laper loh. Di rumah nggak ada apa-apa. Arisa nggak bisa masak. Jadi bingung mau makan apaan. " lanjutnya.
" Ck! Kamu itu. Jadi istri itu harus bisa masak. Buat nyenengin suami kamu. "
" Ih, nggak di bolehin sama abang. Kata abang, yang penting Arisa bikin abang kelojotan tiap malem. Itu udah cukup. Daripada bikin dapur gosong? " jawab Arisa.
" Kamu ini. Mentang-mentang udah tahu enak-enakan, suka bicara asal. "
" Bukan asal ibu, tapi kenyataan. "
" Ck! Mau makan apa kamu? "
" Ibu masak apaan? "
Kini mereka berjalan menuju ke dapur.
" Ayah tadi pagi minta di bikinin nasi goreng udang. Buat makan siang, ibu baru mau masak. " jawab Andhara.
" Oke tuh Bu. Nasi goreng seafood. Arisa mau. "
" Ya udah, kamu tunggu di sini. Ibu angetin dulu nasi gorengnya. " titah Andhara.
Ia menyuruh Arisa duduk manis di kursi dapur. Ia sendiri berjalan menuju ke dekat kompor dan segera memanasi nasi goreng.
" Mau nambah pakai telur mata sapi nggak? "
" Boleh tuh Bu. "
Bersambung
__ADS_1