
" Loh Bu. Kok malah keluar. Risa udah bawa pesenan ibu loh. " ujar Arisa ketika ia sampai di depan cafe, tapi sang ibu malah sudah berdiri di luar cafe.
" Kita nggak jadi masuk. " jawab Andhara.
" Genkkksss.... Kita nggak jadi ngemall aja lah. Ada hal penting yang harus kita bahas. Yuk, kita capcus pulang aja. Kita meeting di rumah. " ajak Andhara ke sahabat somplaknya.
" Ih, masak kita nggak jadi ngemall sih. Udah terlanjur minta duit sama suami nih. Entar pasti di suruh balikin. " gerutu Sabil.
" Ck! Laki loe kebangetan. Kayak orang susah aja. " timpal Andhara.
" Ada apaan sih Ra? Serius bet. " sahut Lila.
" Loe suruh si Putra sama Soni juga deh ke rumah. Kalau si Eka, entar kita kasih bersihannya aja. " jawab Andhara.
" Sumpah ya. Loe bikin makin kepo deh. " sahut Lila. Tapi tak urung, ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan menghubungi suaminya. Begitu juga dengan Sabil.
" Halo pa. " ucap Sabil ketika panggilannya di terima sang suami.
" ..... "
" Dhara ngajakin kita meeting di rumahnya. Sekarang. "
" ..... "
" Nggak jadi. Tapi ini kami lagi ada di mall. Jadi duitnya jangan di minta lagi. Oke? Anggap aja itu bayaran buat nanti malam. " jawab Sabil dengan nada manjanya.
" Huweekkk!!!! Lebay loe!! " ledek Lila. Ia tidak jadi menelepon Putra, karena Putra tidak mengangkat panggilannya. Akhirnya Lila memutuskan untuk meninggalkan pesan saja.
" Syirik aja loe! " balas Sabil sambil mengembalikan ponselnya di dalam tasnya.
" Ya udah yuk. Balik. " ajak Andhara.
" Kunci mobilnya bu. Biar Risa aja yang nyetir. " Arisa menengadahkan tangannya.
" Nggak usah. Makasih. Biar ibu aja yang nyetir. Ibu belum mau pisah sama ayah kamu. " jawab Andhara sambil mengayunkan kakinya menjauh dari area cafe menuju ke tempat parkir.
Mereka mengikuti langkah Andhara. Ketika mereka hendak meneruskan langkah, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh pekikan Arisa.
" Astaghfirullah hal'adzim!!! " pekik Arisa. Ia menepuk jidatnya sendiri cukup keras.
" Haiss!!! Ngagetin aja Sa? " gerutu Lila.
" Sorry, onty. Arisa kelupaan sesuatu. "
__ADS_1
" Lupa apaan? Kagak kelupaan naroh duit kan? " tanya Sabil.
" Si Toyib onty. Masih di dalam mall. Kita tadi janjian, kalau Risa udah selesai sama urusan Risa, Risa bakalan samperin dia. "
" Ya udah, tinggal di telepon aja sih. Gampang kan? Pake heboh aja. " sahut sang ibu.
" Oh iya. Kenapa otak Risa jadi gaptek gini sih. Buat apa coba punya ponsel canggih kalau nggak di manfaatin. " ucapnya sambil mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
.
.
.
" Ck! Gini harusnya meeting tuh di restoran atau minimal di cafe gitu. " oceh Soni.
" Mau loe! " sengit Andhara.
" Jadi apa nih yang mau loe bahas? Sampai kita di suruh ngumpul. " tanya Putra. Mereka semua sudah berkumpul di ruang praktek Julio yang biasa di buat rapat dadakan geng somplak.
" Bentar lah. Laki gue belum nyampe. Masak iya mau bahas anaknya, bapaknya kagak di ajak. " timpal Andhara.
" Lama dong. Gue kepikiran sama anak gue di rumah. " sahut Sabil.
" Halah! Lagak loe. Kan udah biasa si Kiki loe tinggalin di rumah sama pembantu loe. Giliran loe bawa aja loe tinggalin tuh di mobil. " sahut Lila.
" Khilaf ninggalin anak. Khilaf tuh kayak gue. Khilaf yang enak-enak. Alhasil, jadi tuh si kembar. " sahut Andhara.
" Kalau itu mah bukan khilaf, Somat!! Tapi pengen. " kekeh Lila.
" Assalamualaikum... " sapa seorang bersuara bariton. Semua menoleh ke arah pintu. Andhara mengembangkan senyum di bibirnya. Ia lalu bangkit, dan berjalan menghampiri sang suami. Mengecup punggung tangannya, dan Julio memberikan balasan dengan mengecup kening Andhara.
" Waalaikum salam, abang. " jawab Andhara.
" Ada apa, sayang. Abang di suruh pulang cepet-cepet? Untung pasiennya udah habis. Udah nggak ada yang ngantri. " tanya Julio sambil mengamit pinggang sang istri dan membawanya merapat ke tubuhnya.
" Duduk dulu bang. " ajak Andhara. Ia membawa suaminya ke sofa tunggu ruang praktek sang suami.
Setelah mereka duduk, mereka terlihat begitu menunggu kabar apa yang akan di sampaikan oleh Andhara.
" Gue, udah nemuin calon yang paling okeh buat Arisa. Gue udah bilang yes sama dia. Dan kita tinggal nunggu dia datang kesini sama keluarganya. " ucap Andhara dengan senyuman sumringah.
" Sayang?? " Julio nampak tak percaya.
__ADS_1
" Siapa Ra? Kok loe nggak bilang sama kita-kita dari tadi? " tanya Sabil.
" Iya loh. Kan kita udah sepakat bakalan nyari calon buat si princess bareng-bareng. Kita milih bareng - bareng. Kok loe mutusin sendiri? " Lila nampak tak terima.
" Kok loe main nyelonong aja. " Putra menambahi. " Loe yakin, tuh laki bener-bener baik? "
" Ck! Gue emaknya yah. Kalau loe pada lupa. Gue pasti milihin bakal laki terbaik buat anak gue. Gue jamin deh... pilihan gue nggak bakalan salah. Iya nggak bang? " Andhara mencari pembenaran dari sang suami.
" Contoh dan bukti konkrit. Nih!" lanjutnya menunjuk ke suaminya yang ada di sebelahnya. " Gue milih laki buat suami gue. Kurang apa coba si abang? Ganteng iya. Tajir, iya. Sayang sama gue dan anak-anak juga iya . " tambahnya.
" Emang loe ketemu tuh yang loe bilang calon suami anak loe dimana? " kini Soni ikut bersuara.
" Tadi di cafe. " jawab Andhara santai.
" Kamu kenal dia dari mana? Kapan? " kini sang suami yang bertanya dengan nada seriusnya.
" Baru tadi, di cafe. " jawab Andhara santai.
Semua yang mendengar langsung pada melongo. Bagaimana bisa ibu satu ini, memutuskan jodoh untuk anak kandungnya sendiri, dengan laki-laki yang baru saja ia temui.
" Andhara??? " geram Putra. " Arisa itu anak kamu. Bagaimana kamu bisa menjodohkan putri kamu sendiri, dengan laki-laki yang baru saja kamu temui? "
Hah. Putra mendesah. Bahkan ia mengusap wajahnya kasar. Arisa adalah kesayangannya.
" Bagaimana jika dia laki-laki yang tidak baik? Bagaimana jika nantinya setelah mereka menikah, anak kamu di siksa, di sakiti? " ujarnya melanjutkan.
" Ck! Kalian ini terlalu over thinking. Gue belum selesai bicara. Gue belum cerita ke kalian, siapa laki-laki itu. " Andhara berdecak.
" Sayang, coba kamu jelaskan, siapa laki-laki itu. " pinta Julio. Ia pun tidak ingin gegabah dan membiarkan istrinya itu bertindak seenaknya tanpa pikir panjang.
" Putri kita udah kenal sama laki-laki itu, bang. " jawab Andhara. Ia menjeda omongannya dengan menarik nafas. " Jadi ceritanya gini. Tadi, aku nggak sengaja mergokin Arisa lagi ngobrol di cafe sama laki-laki itu. Mereka terlihat asyik ngobrolnya. Mereka udah kenal cukup lama. Dia laki-laki terpelajar. Dan aku bisa pastikan, dia bisa membahagiakan Arisa. "
" Kenapa kamu bisa seyakin itu? Apa Arisa dan laki-laki itu memang sudah berhubungan? " tanya Julio kembali.
Andhara menggeleng. " Mana mungkin Arisa berani jadi pacar laki-laki itu. " jawab Andhara.
" Memangnya siapa laki-laki itu? " tanya Lila.
" Kalian pasti bakalan terkejut kalau gue kasih tahu. " jawab Andhara
" Emang siapa sih Ra? " tanya Soni.
" Dia adalah CEO Rakesh entertainment. Roy Adhitama. " jawab Andhara jumawa.
__ADS_1
" WHAT????? " pekik semua yang ada di ruangan itu bersamaan.
bersambung