
Andhara menatap kesal ke arah suaminya. Sambil sesekali mulutnya komat-kamit tidak jelas. Tapi tak urung, ia tetap menyiapkan baju ganti sang suami.
" Kenapa cemberut? Hem ? " tanya Julio lembut. Ia memandang sang istri yang sedang ngedumel tidak jelas sambil mondar-mandir menyiapkan baju ganti untuknya.
Andhara tidak menjawab, tapi ia hanya melirik sadis ke arah suaminya.
" Anak-anak bikin ulah lagi? " tanya Julio mendekat ke arah sang istri. Ia bermaksud memeluk, tapi Andhara segera menghindar.
" Anak-anak bikin kamu kesel? " tanya Julio kembali.
" Bapaknya yang bikin Dhara kesel. " ketus Andhara tanpa mau melihat ke arah Julio.
" Abang? Abang kenapa? " Pura-pura tidak tahu, adalah pilihan terbaik bagi Julio. Meskipun ia sangat paham, apa yang membuat istrinya yang solehot ini kesal kepadanya.
" Ck. " decak Andhara. " Dhara mah tahu, abang pura-pura nggak tahu. Atau pura-pura amnesia? " ketusnya.
" Abang kan, yang ngasih tahu sahabat somplaknya Dhara biar ngelarang Dhara nikahin muda Arisa? " Julio tidak bisa menjawab. Ia sepertinya sudah ketahuan sejak awal.
" Mereka tuh sahabat Dhara sehidup semati seperjuangan. Kita udah barengan mulai dari orok. Jadi nggak mungkin mereka lebih milih ngikutin abang daripada ngikutin Dhara. Dan asal abang tahu ya, mereka malah mau bantuin nyariin calon yang cocok buat Arisa. " ledek Andhara.
Julio tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya memang pilihan yang salah memberitahu geng somplak itu. Mereka terlalu solid. Susah untuk di panas-panasi.
" Bang, Dhara tuh ngelakuin ini bukan karena egois atau apa. Dhara justru memikirkan masa depan si Arisa. Dhara cuma takut bang, Arisa salah langkah. Salah jalan. Dhara takut kita nggak bisa ngejaga dia dengan baik. Kalau dia punya suami, paling nggak kita ada bala bantuan buat ngejagain dia. Abang ngerti dong bang... " ucap Andhara lirih.
" Kayak Dhara dulu. Mungkin, kalau abang nggak nikahin Dhara, Dhara juga nggak tahu masa depan Dhara kek apa. " sendunya. " Buktinya, Dhara dulu yang petakilan, bar-bar, suka ngereceh ke banyak orang, bisa sembuh karena nikah sama abang. "
__ADS_1
Julio menghela nafas beratnya. " Tapi tidak semua laki-laki itu seperti abang. " ucapnya.
" Dhara tahu itu abang. Kalau di dunia ini banyak laki-laki yang seperti abang, Dhara bingung dong jadinya mau milih yang mana. " Sahut Andhara. " Abang kan cuma milik Dhara. Cuma Dhara seorang yang punya. " imbuhnya.
" Tapi seenggaknya, pasti ada lah bang, cowok yang sifatnya hampir sama abang. Dan Dhara pasti bisa menemukan cowok yang seperti itu buat anak kita. " bujuknya.
Julio kembali menghela nafas beratnya. Ia kembali menghampiri sang istri. Lalu ia meraih pinggang sang istri dan di peluknya posesif.
" Oke. Abang ngikutin rencana kamu. Kita cariin calon suami buat Arisa. Tapi abang minta sama kamu, jangan gegabah. Jangan sampai kita salah pilih untuk putri kita satu-satunya. " ujar Julio pada akhirnya.
Ia mengikuti kemauan sang istri. Bukannya dia selalu mengalah terhadap istrinya atau kurang tegas dengan istri. Julio tetap memilah dan memilih mana yang harus dirinya ikuti atau tidak.
Tapi kali ini, ia membiarkan sang istri melakukan apa yang dia mau. Julio ingat, bagaimana kesakitannya Andhara saat berjuang melahirkan anak-anaknya. Sedangkan dia hanya mampu melihat tanpa mampu mengurangi rasa sakit itu. Jadi, apa salahnya jika sekarang ia membahagiakan sang istri dengan menuruti kemauannya? Asal kemauan itu masih di ambang batas.
Julio mengangguk. " Karena abang udah ngikutin maunya kamu, sekarang abang berhak dapet reward dong. " ucapnya dengan senyuman smirk nya.
" Dih, di kira kita lagi main game. Bisa dapet reward segala. " sahut Andhara.
Julio di buat gemas dengan ucapan sang istri. Mulut mungil dengan bibir yang selalu bergerak seolah menggodanya itu, selalu membuatnya candu.
Ia menarik dagu sang istri, lalu ia kecup bibir berlipstik pink itu. Ia meraih kedua tangan sang istri, lalu ia letakkan di lehernya.
" Kita bersenang-senang dulu sebentar. " bisiknya dengan tangan kanannya yang meraih resleting gamis yang Dhara kenakan kemudian menariknya turun hingga membuat gamis itu melorot begitu saja.
" ABANG!!! " pekik Andhara terkejut karena gamisnya melorot menjuntai ke lantai.
__ADS_1
" Sepertinya berolahraga sore-sore begini enak. " sahut Julio sambil tersenyum dan mendorong tubuh sang istri ke belakang perlahan. Hingga membuat Andhara pun ikut terpundur ke belakang tanpa ia sadari.
" Dhara belum mandi loh bang. " sahut Andhara.
" Habis ini kita mandi sama-sama. Abang juga belum mandi. " jawab Julio dengan tatapan yang terus melekat ke manik mata sang istri.
" Dhara bau teri. Tadi habis masak sambal teri. " ucap Andhara.
" Apapun bau tubuh kamu, Abang tetap suka. " sepertinya Julio benar-benar sudah berhasrat sore ini.
" Dhara baru lepas I_U_D seminggu yang lalu loh bang. Belum di pasang lagi. " pekik Andhara ketika tubuhnya jatuh ke atas ranjang. Kini tubuhnya telentang di atas ranjang dengan hanya mengenakan dala mannya dan kerudung yang masih terpasang di kepalanya. Sedangkan bajunya, sudah teronggok di lantai.
Julio menahan tubuhnya dengan kedua lututnya di atas ranjang tepat di atas tubuh Andhara. Ia melepas kemejanya dan melemparkannya ke sembarang arah.
" Sekalian kita bikin adik buat Kevin. Kalau Arisa sudah menikah, rumah ini akan terasa sepi. Hanya ada Kevin di rumah. Bukankah Ori lebih sering di rumah Omanya? Dan Zavi lebih memilih ikut neneknya. " ucap Julio dengan suara berat.
Ia lalu membungkam mulut Andhara dengan bibirnya. Ia melu mat bibir itu penuh naf su.
" Kita bikin baby kembar lagi sekarang. " ucapnya lalu ia melepas kerudung yang masih melekat di kepala istrinya, lalu mulai bergerilya memenuhi hasratnya serta menjadikan sore hari panas berkeringat.
Sedangkan Andhara hanya bisa mende sah tanpa bisa menolak.
" Jha nghanh... Di keluarin dih dahlamh... ahh... " ucapnya di sela-sela kenikmatan yang di berikan suaminya.
bersambung
__ADS_1