Om itu suamiku

Om itu suamiku
Penjelasan


__ADS_3

Arisa tiba di depan rumah beberapa saat setelah Roy sampai di rumah dulu. Ia memarkirkan motornya asal. Matanya menoleh melihat mobil sang suami yang sudah terparkir di garasi rumah dengan rapi.


" Jam segini, kenapa udah pulang? Heh, makan gaji buta. " dengusnya.


Arisa lalu melangkah memasuki rumah yang masih terbuka pintunya. Ia menghembuskan nafas kasar sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.


" Sayang!! " panggil Roy dengan berdiri di depan pintu kamar di lantai dua. Ia baru saja selesai mengganti bajunya dengan baju rumahan. Dan ketika ia hendak keluar, ia melihat sang istri yang baru menginjakkan kakinya di tangga paling atas.


Arisa menghentikan langkahnya sejenak sambil menatap sengit ke arah Roy. Lalu ia kembali berjalan. Ia menyenggol kasar tubuh Roy yang sedikit menghadang pintu masuk ke kamar.


" Sayang... " Roy meraih lengan Arisa. Tapi segera di tepis kasar oleh Arisa.


" Awas, ih. Aku mau mandi. Gerah. Abang juga mendingan mandi sana. Tangannya di cuci dulu yang bersih. Sampai 7 kali. Biar najisnya ilang. Baru deh nyentuh aku. " ucap Arisa ketus tanpa berniat melihat ke arah Roy.


Setelah berucap seperti itu, ia langsung masuk ke dalam kamar begitu saja. Sedangkan Roy, ia memilih mengikuti langkah sang istri masuk ke dalam kamar.


" Kenapa? " tanya Roy masih mengikuti langkah Arisa.


" Awas, aku mau mandi. " kembali Arisa mendorong tubuh suaminya yang berusaha menghadang langkahnya.


Brak


Arisa menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Ia masih dalam mode emosi tingkat tinggi. Ia sedang kesal.


Roy menghela nafas beratnya sambil mengusap rambutnya kasar.


" Arisa " tapi tak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Arisa memilih menghidupkan kran air untuk meredam suara tangisannya.


Ketika melihat Roy tadi, tiba-tiba bayangan apa yang ia saksikan di kantor sang suami tadi kembali. Dan itu membuatnya kembali menangis.


Jadi gini rasanya di khianati? Sakit ah!


Resiko seseorang jika berani jatuh cinta. Harus berani terjatuh, sakit, terjerembab, bahkan nyungsep juga.


" Gue kenapa sih? " gumamnya di sela-sela tangisannya. " Kenapa gue harus sedih, kenapa gue harus nangis?? Nggak gue banget tahu nggak!! " cercanya kesal sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


Cepek mengomel dan menangis, Arisa mulai membuka pakaiannya satu persatu dan ia biarkan terjatuh ke lantai dan basah tentu saja. Ia lalu mulai mengguyur badannya, dari ujung kepala. Biar kepala dan otaknya dingin, jadi ia bisa kembali berpikir.


" Si*ll!! Gue lupa nggak bawa baju lagi." umpatnya setelah selesai mandi.


Gini nih, kalau mau marah, mau emosi, nggak pakai mikir panjang. Alhasil jadi lupa bawa baju ganti kan?

__ADS_1


Ih, nggak ethnik banget. Mau marah-marah, tapi sambil pakai handuk gini. Yang ada jatohnya bukan garang, tapi sek seh.


Arisa yakin, Roy pasti masih menunggunya di luar. Masak iya, dirinya harus berdiam terus di kamar mandi? Sampai kapan? Sampai si Upin Ipin beranjak dewasa? Yang ada dia bisa masuk lesus. Bukan cuma masuk angin.


Arisa membuka pintu kamar mandi perlahan, lalu menyembulkan kepalanya keluar. Arisa melengkungkan bibirnya keatas. Sepertinya Roy tidak ada di sana.


Arisa membuka pintu kamar mandi lebih lebar, lalu ia menutup pintu kamar mandi kembali perlahan. Sangat pelan.


Ia memutar badannya hendak berjalan. Tapi matanya menangkap sang suami yang sedang duduk di sofa sambil terus menatapnya.


Arisa menelan salivanya kasar. Hais, kenapa ia bisa tidak kepikiran jika sang suami duduk di sofa menunggunya. Karena posisi sofa memang tidak terlihat dari pintu kamar mandi.


Arisa memegang ujung handuk yang selipkan ke balutan handuknya kencang. Takut merosot dan jadi meleyot.


Huh. Kenapa dia jadi oon gini? Niat marah tuh harusnya bawa baju ganti ke kamar mandi. Kalau perlu di gendong tuh almari ke kamar mandi.


Aris berdehem pelan, lalu meneruskan langkahnya menuju ke walk in closed yang posisinya berada di dekat sofa. Ia berusaha cuek. Berusaha tak menganggap ada orang lain di sana.


" Arisa, sebenarnya ada apa? Kamu marah sama abang? " Roy membuka suaranya.


Bahu putih, leher jenjang, rambut basah dengan air yang masih menetes, membuat pemandangan terasa syahdu di mata Roy. Jika sekarang istrinya itu tidak sedang marah, sudah ia pastikan akan melahap istri kecilnya itu sekarang juga.


" Pikir aja sendiri! " sentak Arisa. Oke, setidaknya hari ini, Arisa berbicara. Tidak hanya diam saja seperti ketika ia sedang kesal sebelum-sebelumnya.


Roy berdiri, ia lalu meraih tangan bebas Arisa. Arisa menunduk. Tanpa sadar, air matanya kembali menetes.


Uh, Arisa benci perasaan seperti ini. Arisa benci menjadi cengeng seperti ini.


" Kamu nangis? " Roy mendongakkan dagu Arisa, dan ia melihat air mata sang istri menetes, lengkap dengan mata sembabnya.


Kenapa? Kenapa hanya salah paham seperti tadi, istrinya itu sampai menangis dengan mata sembab Segede biji Pete.


Biasanya, Arisa cuek. Bahkan Arisa juga tahu bagaimana hubungannya dengan sang sekretaris.


Roy menarik Arisa ke dalam dekapannya, meskipun Arisa memberontak menolak.


Tangan Arisa yang sudah terbebas dari genggaman Roy, memukul-mukul dada Roy, dan tangan satunya masih setia memegangi handuknya biar tidak terlepas.


" Abang jahat, tahu nggak!! Arisa kesel sama abang!! " umpatnya.


" Kalau abang emang suka sama Tante gi rang itu, kenapa mesti merawa nin Arisa dulu? Harusnya abang kalau pengen, minta aja ke tante Joice. Kenapa jadi ke Arisa?? Arisa jadinya yang rugi bandar. Udah nggak pera wan. Kalau abang ninggalin Arisa, terus lebih milih Tante Joice, siapa coba yang mau sama janda bolong? " lanjutnya sambil terus memukul dada Roy.

__ADS_1


" Arisa nggak suka sama perasaan ini. Sakit tahu bang. Arisa bawaannya mau nangis terus. Capek nangis terus tuh. Arisa nggak suka. NGGAK SUKA!!! " lanjutnya


Sebenarnya Roy ingin tertawa mendengar kemarahan sang istri. Marahpun masih aja nyeleneh ngomongnya.


Roy melepas dekapannya. Ia menatap lekat kedua manik mata Arisa yang basah.


" Si Joice?? " ucapnya. " Jadi benar, kamu tadi ke kantor? Kamu yang nimpuk abang pakai botol? " tanyanya.


" Iya. Harusnya tuh OB isi tuh botol hand sanitizer penuh. Biar mantap buat Arisa nampol abang. " sahut Arisa.


" Kalau abang gegar otak gimana? "


" Biarin. Amnesia juga biarin. Biar abang nggak main sosor ke perempuan lain. " ketus Arisa.


" Main sosor gimana? " Roy mengernyit. Oh, ia tahu sekarang. Apa yang ada di pikiran sang istri.


" Kamu salah paham, sayang. "


" Nggak usah manggil sayang... Sayang... " sengak Arisa.


" Iya, nggak. Arisa. " sahut Roy mengikuti kemauan sang istri. Daripada makin runyam. Mending di iyain aja.


" Kamu salah paham. " Roy mengulang lagi ucapannya.


" Tadi Joice kesandung, mau jatuh. Abang tolongin. Eh, baru abang pegang lengannya, kamu dateng. Lihatnya dari belakang. Nggak lihat dari depan. Jadinya kamu salah paham. Nggak ada yang terjadi antara Abang sama Joice. " jelas Roy.


" Abang minta maaf, udah bikin kamu sedih, udah bikin kamu nangis kayak gini. Demi Allah, Abang nggak ada apa-apa sama Joice. Abang tadi cuma nolongin dia. Tahu kalau kamu bakalan salah paham gini, mendingan tadi abang biarin aja si Joice jatuh. "


" Ih, ya jangan lah. Kasihan si tantenya. Benjol entar pan tatnya. " sahut Arisa sambil cemberut.


Roy mengulum senyumnya. Ia merasa sang istri sangat menggemaskan.


Roy meraih kepala Arisa, lalu mengecup puncak kepalanya. Aroma wangi aloevera menguar dari rambut Arisa yang masih basah.


" Kalau abang memang suka sama Joice, kenapa abang milih kamu buat abang nikahi? Padahal jelas-jelas Joice suka sama abang dari dulu. Kenapa abang lebih milih gadis kecil yang suka bicara asal, sikapnya bar-bar, buat abang jadiin istri? Kenapa abang bisa mera wanin kamu, kalau Abang suka sama perempuan lain? Hem? " Roy kembali menatap lekat ke arah Arisa.


" Karena Abang hanya mencintai kamu. Istri kecilnya Abang. Abang hanya sayang sama kamu. Bukan perempuan lain. Karena Abang hanya mau kamu. Bukan perempuan lain. I love you, my little wife. " ucap Roy penuh dengan keseriusan.


Ia lalu meraih tengkuk Arisa, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Arisa. Mengulum dan melu mat bibir itu yang telah menjadi candunya.


Arisa makin mengencangkan genggamannya di handuk ketika ia merasai tubuhnya ikut memanas seiring dengan perlakuan lembut nan panas sang suami.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2