Om itu suamiku

Om itu suamiku
Menjadi asisten CEO


__ADS_3

" Polaris Amalthea Prasetya. " jawab Joice.


Kembali Elyas dan Selsa saling berpandangan.


" Panggilin aja mas. Kita lihat seperti apa anaknya. " ujar Selsa seolah tahu ada yang tidak beres. Elyas mengangguk, lalu meraih interkom yang ada di ruangannya dan meminta rekannya membawa siswa dengan nama yang Joice sebutkan tadi.


Tak berapa lama, pintu ruangan Elyas di ketuk dari luar. " Masuk In. " teriak Elyas dari dalam. Dan masuklah Indri rekan Elyas bersama dengan seorang gadis berwajah unyu menggemaskan dengan kerudung menghiasi kepalanya.


" Kamu yang bernama Amalthea? " tanya Selsa sambil tak henti mengamati gadis bernama Polaris Amalthea Prasetya itu.


" Iya, bu... Hehehehe.... " jawab gadis itu. " Panggil saja saya Arisa, bu. Kebagusan kalau manggilnya Amalthea. Entar di kira keturunan Timur Tengah. Nggak tahunya turunan Cia_ter. " lanjutnya.


Selsa tersenyum. Ia merasa lucu dengan gadis yang kini berdiri di depannya. Lalu ia berbisik di telinga sang suami, " Sepertinya kakakku punya selera yang menarik. "


Elyas menanggapinya dengan tersenyum. Lalu ia meneliti Arisa, dan kemudian mengangguk membenarkan.


" Arisa, kamu di pindah tugaskan. Kamu tidak jadi berada di tim kami. Karena petinggi perusahaan lebih tertarik menjadikanmu asistennya. " ucap Elyas.


" Ha? Jadi asisten petinggi perusahaan? " beo Arisa.


" Iya. Dan lakukan tugasmu dengan baik. Kamu beruntung karena beliau memilihmu di antara sekian banyak teman-teman kamu. " jawab Selsa.


Arisa nampak manggut-manggut dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dari balik jilbabnya.


Kok perasaanku jadi nggak enak gini? ucapnya hanya dalam hati.


" Ikutlah kak Joice. Dia yang akan mengantarmu. " titah Elyas. Lalu Joice berpamitan dan Arisa mengekor dari belakang.


" Sepertinya kakakmu agak pedofil. " ujar Elyas ketika Joice dan Arisa sudah meninggalkan ruangannya.


" Kamu ini mas. Kalau kakak mendengar, bisa habis kamu. ".


" Tapi sayangnya, aku lebih suka menghabiskan adiknya. " jawab Elyas sambil menarik pinggang Selsa dan mengecup pipinya.


.


.


.


" Kamu tunggu di sini dulu. Biar saya kasih tahu atasan. Okeh?? " ujar Joice ke Arisa.


" Assiappp tante. " jawab Arisa.


" Ck! Jangan manggil gue Tante napa? Panggil kak kek. Gue nih masih unyu-unyu kek loe. " protes Joice.


" Oh, siap kakak... " jawab Arisa sambil mengangkat tangan kanannya dengan posisi menghormat.


" Duduk aja di situ. " titah Joice. Dan Arisa mengangguk.


Lalu Joice meninggalkan Arisa di depan ruangan, tepatnya di kursi Joice.


Arisa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia melihat hanya ada 3 ruangan dengan pintu besar di lantai yang seluas itu.


" Kira-kira yang mau gue asisteni, atasan yang mana ya? " monolog Arisa. " Ih, jangan sampai om itu yang bakalan jadiin gue asistennya. Bisa darah tinggi gue. "

__ADS_1


Ceklek


Pintu ruangan besar di mana tadi Joice masuk, terbuka dari dalam. Tak lama, muncullah Joice dengan bibir manyunnya.


" Eh, si kakak. Kenapa bibirnya jadi kek bebek? " celetuk Arisa.


" Bebek ... bebek ... Pala loe! Masuk sana gih. Tuh, udah di tungguin bos. " sengaknya.


Arisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dari balik jilbabnya. Salah apa dirinya tiba-tiba si embaknya jadi jutek gitu.


Arisa berdiri, lalu ia berjalan menghampiri Joice. Ia berdiam diri di depan Joice.


" Loe ngapain malah berdiri kek patung di sini? " tanya Joice. " Bukannya buruan masuk. "


" Nungguin kak Joice lah. Kan masuknya sama kakak. " jawab Arisa.


" Loe masuk sendiri sana. Tuan bos maunya loe sendirian masuknya. "


" Ha? Sendirian? Kok bulu kuduk gue jadi berdiri gini ya. " gumam Arisa. " Pak bosnya nyeremin nggak kak? "


" Ck? Loe nggak perlu takut gitu. Loe, sama dia, masih sama-sama makan nasi. Dia nggak bakalan makan orang. "


" Karnivora dong kalau makan orang. " sahut Arisa.


" Paling cuman di cemilin aja elo nya. "


" Hih!! Si kira Risa keripik singkong. Kalau pak bos sukanya nyemil, biar besok Risa bawain tuh sekrembeng kerupuk. Biar terbang terbang aja sekalian. " sahut Arisa.


" JOOO.... " teriak suara bariton dari dalam ruangan.


" Iya tuan boss!! OTW.." balas Joice juga teriak dari luar ruangan.


" Doain ya kak. " pinta Arisa dengan wajah sedikit memelas dan malas tentu saja. Karena sedari tadi, perasaannya sudah tidak enak.


Tok... Tok ... Tok ...


" Masuk. " suara bariton dari dalam menjawab.


" Ih, kok suaranya mirip om itu sih. " gumam Arisa.


" Buruan masuk! " ujar Joice sambil mendorong tubuh Arisa hingga tubuh itu terdorong masuk ke dalam ruangan yang pintunya sudah sempat di buka oleh Arisa sedikit.


" Iihhh! Kakak ih! " ucap Arisa sambil membelakangi pemilik ruangan. Tangannya masih memegang handle pintu.


" E Hem. " sang pemilik ruangan berdehem keras supaya Arisa menoleh ke arahnya.


Dan benar sekali. Arisa langsung menoleh ke arah suara bariton yang berdehem tadi.


Glek


Arisa menelan salivanya kasar. ' Anjrriitt!! Pantesan perasaan gue dari tadi nggak enak !' umpat Arisa dalam hati.


Roy mengacungkan jari telunjuknya lalu menggerakkannya dengan gerakan menyuruh Arisa mendekat.


Arisa berjalan mendekat sambil menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Mendadak jantung Roy berdetak dengan kencang kala tatapan matanya nyasar ke bibir pink milik Arisa yang sedang di gigit.

__ADS_1


" Selamat pagi om. Eh, pak bos. " sapa Arisa sedikit mendongak.


" Om? Masih ingat ternyata kamu. " Roy menjawab sambil tersenyum miring.


" Heheheh... Ya masih inget lah om. Saya tuh punya daya ingat yang sangat bagus. Keturunan dari ayah sepertinya. " sahut Arisa sambil cengengesan dan menggaruk pelipisnya.


" Kapan saya menikah sama tante kamu? " ujar Roy kesal karena di panggil om oleh Arisa.


" Yaaa... Nggak mungkin lah om nikah sama tante saya. Orang ayah saya sama ibu saya anak tunggal kok. Jadi nggak punya sodara lain. " sahut Arisa. Entah kenapa, rasa takut yang semenjak tadi menyerangnya, mendadak hilang begitu saja. Ia justru merasa nyaman berdua sama Roy.


" Lalu kenapa kamu manggil saya om? "


" Yaa... kan nggak mungkin dong kalau saya panggil bang, mas, akang, aa'... nggak sopan gitu. Apalagi cuma panggil nama. Lagian usia kita juga pasti jauh beda. "


" Jadi kamu mau bilang, kalau saya sudah tua gitu? " kesal Roy dengan nada datarnya.


" Ih, saya nggak ada bilang gitu loh om. Saya juga nggak tahu usia om berapa. Saya cuma memprediksi aja sebenarnya. " sahut Arisa.


" Mulai sekarang, awas kalau saya mendengar kamu memanggil saya om lagi. " Roy memberikan tatapan tajamnya. Membuat Arisa sedikit salah tingkah. Manik mata coklat itu seperti sedang menelan janginya.


" I-iya, pak bos. " jawab Arisa sedikit gugup.


" Ck, terserah kamu saja lah. " ujar Roy pada akhirnya.


" Polaris Amalthea Prasetya... Benar nama kamu kan? " tanya Roy.


" Bener banget pak bos. Tapi manggilnya Risa atau Arisa saja. Biar nggak kepanjangan. "


" Arisa? "


" Iya om... Eh, maaf .. Pak bos... Hehehe ... Usia saya 17 tahun, kelas XI SMA, bentar lagi naik kelas XII. Kalau naik sih.. Heheheh...Belum punya KTP, apalagi SIM. " cerocos Arisa. Membuat Roy tertawa dalam hati.


" Oke, Arisa. Mulai hari ini, kamu akan menjadi asisten saya. Kemanapun saya pergi, kamu harus ikut. Semua kebutuhan saya, kamu yang memenuhi. "


" Eh.. " Arisa mendongakkan kepalanya. " Asal bukan kebutuhan biologis sama batiniah saja pak bos. " jawabnya cepat.


" Maksud kamu? "


" Ya... Kali aja pak bos mau minta kebutuhan biologis. Saya nggak bisa menuhin. Karena kita bukan suami istri. Terus kalau kebutuhan batiniah, itu berarti mencakup kebutuhan akan kasih sayang juga cinta. Dan itu, Arisa saya juga nggak bisa menuhin. Karena kasih sayang saya sudah saya kasihkan sama orang tua saya sama adik-adik saya. Sedangkan kalau cinta, sudah saya kasih ke pacar saya. Ya.... walaupun cuma 35% aja sih. " jelas Arisa panjang lebar.


Roy nampak menghela nafas panjang. " Bukan kebutuhan seperti itu yang saya butuhkan dari kamu. Lagian, saya juga nggak mau minta cinta sama kamu. Masih bocil gitu. " jawabnya pelan.


" Eh, pak bos jangan salah ya. Bocil bocil gini, tapi pacar saya the most wanted nya SMA IT Persada Nusantara loh. Lagian, body saya udah nggak bocil lagi. Usia saya juga udah ABG. " protes Arisa.


" Ck. Terserah kamu lah. Bisa- bisa darah tinggi saya ngadepin kamu. " keluh Roy.


" Ya .. "


" Tempat kerja kamu di sana. " tunjuk Roy memotong Arisa yang hendak berbicara. Ia menunjuk ke sebuah meja kerja juga kursi yang berada di samping mejanya. Arisa menoleh.


" Jadi, meja kerja saya satu ruangan gitu sama pak bos? " tanya Arisa.


Roy mengangguk sambil pandangannya ke berkas yang ada di depannya. " Hem. " jawabnya. " Biar saya bisa mantau langsung cara kerja kamu. Kalau sampai nggak bener, biar saya bisa langsung kasih nilai D buat magang kamu. "


" Isshh!!! Kejamnya...." ketus Arisa. " Saya boleh duduk di sana sekarang pak bos? Capek loh dari tadi berdiri terus. "

__ADS_1


" Hem. " jawab Roy.


bersambung


__ADS_2