
" Halooo epribadehhhh..... " sapa Arisa yang datang di antara teman-temannya yang lain. Ia baru saja keluar dari dalam ruangan kelas bersama sang ibu yang sedang membolak-balikkan buku hasil belajar Arisa alias buku raport. Sambil sesekali mengernyit.
" Kebakaran semua ya tan, isi raportnya si Arisa? " celetuk si bang Toyib.
" Nggak kebakaran sih. Nggak sampai gosong. Masih bisa di selametin. Yang tante heran mah, kenapa yang nilainya delapan cuma menggambar aja? Emang anak ibu pelajarannya cuma menggambar doang? Pas berhitung, kamu kemana Sa? " tanya Andhara sekaligus menjawab pertanyaan Santo.
" Ya di situ juga bu. Cuma kayaknya otak kanan Arisa agak beku deh. Susah kalau di ajakin ngitung. Beda kalau yang di itung tuh yang merah, yang biru. Baru deh otak Arisa mencair. " jawab Arisa.
" Iya. Karena eloe mata duitan. " Kaila menggeplak punggung Arisa. Dan di sahuti tawa oleh Arisa.
" Habisnya gue suka heran. Kenapa kalau ngerjain soal matematika tuh ya, kalau di ajarin sama gurunya bisa. Tapi kalau udah di kasih soal, suruh ngerjain sendiri kagak bisa. PR juga sering kan tuh soal-soal macem soal yang ada di tes. Tapi pas ngadepin soal tes, kagak bisa ngerjain. Suka kabur tulisannya pas di baca. Jadi susah buat ngejar. " celoteh Arisa ngalor ngidul tanpa makna yang jelas.
" Ih, gue suka pusing kalau bicara sama loe mah Sa. " keluh Kaila.
" Kamu pulang kan To? Kasihan emak kamu kalau kamu nggak pulang. " Andhara lebih memilih tidak menanggapi celotehan anaknya.
" Insyaallah Tan. Hehehe.... " Santo tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Sebenarnya, Santo tuh udah pengen pulang lama tan. Cuma kalau di rumah suka males sama bapak. Ngajakin ke sawah mulu. Udah gitu ngajakinnya pake maksa lagi. Kalau nggak di ikuti, bisa ngomel dari A sampai Z. Dari Sabang sampai Merauke di sebutin semua. " jawab Santo.
" Ya... meskipun begitu, nggak baik loh pergi dari rumah gitu. Kamu juga harus ingat, siapa yang bayarin uang kos? Uang makan kamu? Uang jajan kamu? "
" Ya bapak tan. "
" Nah, bapak kamu kerjanya ngapain? "
" Garap sawah. Nanem padi. Kalau nggak ya nanem ketela. "
" Nah, itu tau. Berarti kamu tahu kan, darimana bapak kamu dapet uang buat bayar biaya sekolah sama hidup kamu di sini? Jadi nggak ada salahnya kalau kamu pas liburan sekolah bantuin bapak di sawah. "
" Iya sih tan. "
" Terus sekarang, yang ambilin raport kamu siapa? "
" Hehehe... Belum di ambil tan. Nggak mungkin juga emak apa bapak kesini tan. Tadi niatnya mau minta tolong mamanya si Kaila. Tapi sampai sekarang mamanya Kaila belum kelihatan juga. " jawab Santo.
" Mau Tante ambilin? " tawar Andhara.
" Kalau nggak ngerepoti sih tan. Makasih banget malahan. " jawab Santo.
" Kamu ini. Ngerepotin kan emang tiap hari. " jawab Andhara dan Santo malah tergelak.
" Kaila, mau sekalian tante ambilin raport nya? Biar sekalian Tante jadi walinya 3 anak. "
" Mmm kayaknya nggak usah deh tan. Makasih. Kaila nunggu mama aja. Tadi mama bilang kesini kok. Cuma agak telat dikit. " jawab Kaila.
" Ya udah, Tante masuk lagi ke dalam ngambilin raportnya bang Toyib. " ucap Andhara lalu ia kembali masuk ke dalam ruangan. Sebelum masuk, ia menyerahkan buku raport milik Arisa ke si pemilik.
" Sa, nilai magang loe pasti bagus ya? Kan loe di pilih buat jadi asisten CEO langsung. " tanya Kaila.
" Bentar, gue juga belum lihat. " jawab Arisa. Ia lalu membuka buku raportnya dan mencari nilai magangnya.
" Apaan nih? Kok gue cuma di kasih B doang. Harusnya A lah. Kimvriitt, emang tuh om-om. " kesal Arisa.
" Ih bagus tahu Sa, magang dapet B tuh. Apalagi magang di perusahaan gede, terkenal lagi. " sahut Kaila.
__ADS_1
" Bagus apaan? Orang gue udah di bikin kesel tiap hari sama tuh CEO kecakepan kok. Oh iya, gue belum cerita kan sama loe pada. " Arisa terlihat antusias hendak bercerita.
Kaila mengangguk semangat. Mereka memang belum pernah saling bercerita selepas hari magang itu.
" Masak nih ya, hari pertama kita magang tuh, gue cuma di suruh duduk di kursi kerja gue doang. Tanpa di kasih kerjaan apapun. Boring banget kan tuh? Nah, pas hari kedua dan seterusnya, bilangnya karena pas gue di suruh diem aja gue pengen di kasih kerjaan, eh... giliran kasih kerjaan seabrek. Nggak tanggung-tanggung. File yang udah expired, di suruh merekap ulang semua. " Arisa bercerita dengan nada suara menggebu-gebu. Terlihat sekali jika ia memang kesal dengan Roy.
" Berarti tampang keren, belum tentu kelakuan juga keren dong ya? " sahut Kaila.
" Mangkanya Kai. Don't judge the book from the cover. " sahut Santo.
" Halah. Loe sok bahasa Inggris. Tahu juga cuma you and me doang. " ledek Kaila.
" Kalau you and me, yuk kita jadian aja. Daripada jomblo. " Santo menaik turunkan kedua alisnya.
" OGAH!!! Mendingan gue jomblo ketimbang punya pacar modelan loe. " sarkas Kaila mencibir.
" Wah, loe belum tahu gimana rasanya pacaran sama gue ya. "
" Tau. " jawab Kaila cepat.
" Gimana rasanya emang? "
" Pait!!! " jawab Kaila dan Arisa langsung tergelak.
" Nasib loe To... To... Mendingan ganti arah aja deh. Tuh, si Ome masih nungguin loe. " ujar Arisa sambil tertawa.
" Ogah gue. Kalau di suruh bawain kacamatanya, berat di pundak. " jawab Santo bergidik. Si Ome, adalah siswi sekolah itu juga, tapi penampilannya selalu mengenakan kacamata yang sangat tebal.
" Gue mah mending nungguin dudanya pak Elyas aja deh. " celetuk Kaila.
Arisa menjitak kepala Kaila. " Loe ngarepin bininya koit? Bininya pak Elyas tuh adiknya om CEO loh. "
" Ish, yang bener loe? "
" Di bilangin kagak caya loe? "
" Yang lagi bunting itu? " tanya Kaila meyakinkan.
" Bunting... Bunting... Loe kira kambing? " sahut Santo.
" Iya e lah. Yang lagi hamil. "
" He em. " jawab Arisa sambil mengangguk.
" Wah, salah saing dong gue. Kalau sama adiknya CEO mah. "
" Ngarep loe ketinggian. " Santo memukul kepala Kaila dengan tasnya.
" Eh, pala ini woy. Tiap tahun di sedekahin sama bonyok gue. " sarkas Kaila.
Tring... Tring ....
" Eh, bentar ada yang nelponin. " ujar Arisa. Ia lalu merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
" Dih, panjang umur banget nih om om satu. Tahu aja kalau lagi di omongin. " gumam Arisa.
" Sapa Sa? " tanya Kaila.
" CEO yang loe kata ganteng. Bentar, gue angkat dulu. Siapa tahu dia mau ngasih bonus magang ke gue. " kekeh Arisa.
" Sok atuh. Di loadspeaker deh Sa. Gue kepo nih. " ujar Kaila mendekat ke arah Arisa. Ia penasan bagaimana CEO ganteng itu jika sedang berbicara santai. Tidak dalam kondisi formal.
Arisa mengangguk. Ia lalu menggeser icon hijau, dan memencet tombol loadspeaker.
" Assalamualaikum, om. " sapa Arisa riang.
" Waalaikum salam. " suara bariton terdengar dari seberang.
" Ada apa nih om? Kan magang Arisa udah selesai. Udah bukan asisten om lagi dong. " ujar Arisa.
" Saya tunggu di cafe XL jam makan siang hari ini. Ada yang mau saya bicarakan. " jawab Roy.
" Apaan? Nggak ah. Males banget. Jauh cafe nya. Arisa tuh lagi terima raport. Sama ibu. "
" Saya tunggu kamu. "
" Emang ada apaan sih? Kalau cuma mau bicara, lewat telpon aja deh om. "
" Ada pekerjaan kamu yang belum beres. Saya bisa nuntut kamu kalau sampai kerjaan ini nggak beres. " sahut Roy.
" Kerjaan apaan? Perasaan semua udah beres deh. " Arisa mengernyit.
" Makanya, siang ini datang ke cafe XL saya tunggu. Nanti kamu bakalan tahu kerjaan kamu yang belum beres apa. "
" Tap-"
Klik. Belum juga Arisa berucap, Roy sudah mengakhiri panggilan sepihak.
" Kurang di ajar nih om om bangkotan. " geram Arisa. " Kayak yang nggak pernah di ajarin sopan santun aja. " imbuhnya.
" La, To. Loe berdua temenin gue lah. " pintanya setelah memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
" Duh, gimana ya. Tadi mama mau ngajakin jemput papa ke bandara. " jawab Kaila. " Harusnya sih mau banget gue nemenin loe. Bisa ketemu sama om om yang Awwrrr!!! Hahahah.... "
" Dasar otak loe! " sahut Arisa. " Duh, gimana lah? Masak gue sendirian? Ngeri gue. Kalau gue di apa-apain sama dia gimana? "
" Emang mau di apain.loe? "
" Ya... mana gue tahu. Namanya juga dia udah berumur. Lihat ciwi-ciwi ngegemesin macem gue, bisa jadi bernav su kan dianya? "
Pletak
" Dih, otak loe tuh yang kelewat me sum. " Santo menjitak kepala Arisa.
" Ya kan sapa tahu. Loe deh To, temenin gue. " rengek Arisa.
" Iya deh. "
__ADS_1
" Biar emak gue kagak ribet juga pas gue minta ijin entar. " imbuh Arisa.
bersambung