Om itu suamiku

Om itu suamiku
Pembicaraan serius


__ADS_3

" WHAT?????? "


" Jangan bercanda loe Ra? Kagak lucu tahu nggak! " omel Lila.


" Haiss... Siapa juga yang bercanda? Gue serius ini mah. Sepuluh rius deh kalau kalian pada nggak percaya. " jawab Andhara.


" CEO Rakesh entertainment Ra? Loe mau jodohin si princess sama cowok tajir itu? Wah, mimpi apa si Arisa dapet laki tajir melintir kek gitu. " sahut Sabil.


" Ih, gue masih nggak percaya deh Ra. CEO, ganteng, tajir, mau jadi mantu loe? Nggak percaya gue. " timpal Lila.


" Ck! Kok malah jadi kalian ikut ramai gini sih. Emang sekeren apaan sih dia? " sungut Putra yang tidak terima istrinya ikut-ikutan memuji laki-laki lain.


" Bentar deh Ay. Aku cariin gambar nya. Biar kamu tahu dia tuh sekeren apa. " jawab Lila antusias. Ia tidak menyadari bagaimana perubahan raut wajah suaminya. Sedangkan Julio yang melihatnya sudah ingin tertawa terbahak bahak.


Lila mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu mengetik nama Roy Adhitama di sebuah akun medsos miliknya.


" Nah, ini dia Ay. Keren kan? Ganteng pula. " Lila menunjukkan foto Roy yang sedang mengenakan setelan jas lengkap dengan raut wajah datar dan tatapan tajamnya.


" Cuma segitu aja. Heh! " cibir Putra.


" Ih, kamu Ay. Nggak tahu cowok ganteng kek gimana. " sahut Lila.


" Puji terossss!!!!! " sengak Putra.


" Ha? " beo Lila. Ia menoleh ke arah suaminya. Glek. Lila menelan salivanya melihat raut wajah sang suami yang sedang tidak bersahabat.


" Aduh Ayyy.... Kamu cemburu? Ha...ha... ha... Masak sama calon ponakan sendiri cemburu sih. Dia tuh calon mantunya si Anggoro itu loh Ay. " ucap Lila yang ia iringi dengan senyuman garingnya.


" Ck! Back to topic lah. " sela Soni.


" Iya nih. Malah pada heboh sendiri. " imbuh Sabil. " Terus gimana Ra? "


" Ya nggak gimana-gimana. " jawab Andhara.


" Emang dia mau, nikah sama si incess? " tanya Soni.


Andhara mengangguk mantap. " Sama sekali dia kagak nolak. " jawabnya.


" Oh iya. Dia tadi justru bilang sama gue. Dia tadi sengaja nemuin si Risa, katanya dia ngelamar Arisa. Gila kan? Kalau jodoh emang nggak bakalan susah. " cerita Andhara.


" Apa? Dia ngelamar putri kita? " kini Julio di buat terkejut. Seorang CEO terkenal yang kaya raya , tertarik sama putrinya yang bar-bar itu?


Andhara mengangguk. " Nih ya bang. Tadi pas Dhara tahu kalau dia tuh CEO Rakesh entertainment, Dhara sebenarnya udah batalin acara perjodohan itu. Eh, dianya malah nolak. Dia bilangnya, jangan nyariin jodoh lain buat Arisa. Karena Arisa hanya dia yang bisa menikahi. Gitu loh. " jelasnya.


Julio meraup wajahnya kasar. Ia bukannya senang bakalan mendapatkan menantu Sultan. Tapi ia terlihat gamang. Apa jadinya ia berbesanan dengan keluarga kaya raya dan terkenal.


" Sayang, nggak ada jodoh yang lain gitu? " tanyanya.


" Abang kok nanyanya gitu? Abang nggak suka punya menantu kayak si Roy itu? " tanya Andhara.

__ADS_1


" Bukan nggak suka sayang. Abang hanya ragu. Dia dari keluarga kaya raya loh. Sedangkan kita hanya begini aja. Abang nggak pede jatohnya. " jawab Julio.


" Iya juga sih bang. " Andhara nampak manggut-manggut. " Tapi bang. Kalau jodohnya putri kita emang dia gimana? Kita nggak bakalan bisa nolak takdir Allah. Iya kan? Lagian, kita sama mereka sama-sama manusia. Masih makan makanan yang sama. Sama - sama makan nasi. Mereka nggak mungkin makan emas atau berlian kan? " celotehnya.


Julio masih terdiam. Ia nampak berpikir.


" Udah Lah pak dokter. Mungkin ini jalan hidup si incess. Dia beruntung bisa jadi istri seorang CEO. " ujar Soni.


" Apa dia tidak terlalu tua buat Arisa? " tanya Putra.


" Gue rasa nggak. Arisa kan emang pengen punya suami yang jauh lebih dewasa dari dia. Lagian, jarak usia mereka kayaknya nggak jauh beda kayak gue sama abang. " jawab Andhara.


" Ya udah kalau keputusan kalian kayak gitu. " ujar Putra. " Kapan mereka akan datang kesini? " tanyanya


" Belum tahu. Tapi dia bilang secepatnya. Dan dia juga minta sama gue, sementara Arisa jangan di kasih tahu dulu. Biar jadi surprise pas si Roy itu datang kesini buat ngelamar dia secara resmi. " ucap Andhara.


Oke, semua sudah di putuskan. Julio pun akhirnya setuju. Mungkin memang laki-laki itu jodoh sang putri. Dia berdoa semoga putrinya selalu di limpahi kebahagiaan.


.


.


.


" Ma, pa, Roy mau bicara serius. " ucap Roy yang baru saja tiba di ruang keluarga.


Tuan Manoj dan Ruby sang istri, menoleh ke arahnya bersamaan.


" E hem. " Roy berdehem guna menghilangkan rasa gugupnya.


" Roy, mau mengajak papa sama mama, ke rumah seseorang. " ucapnya. Untuk mengatakan untuk melamar gadis, kenapa rasanya sulit sekali. Teriak batin Roy.


Mungkin bagi seorang Roy, lebih mudah berhadapan dengan puluhan klien, daripada harus berhadapan dengan seorang gadis dan segala hal yang berhubungan dengannya. Gadis yang mungkin tanpa Roy sadari, mampu membuatnya move on dari sang adik tiri.


" Kamu di undang klien untuk makan malam di rumahnya? " tanya tuan Manoj.


" Bukan. Bukan klien pa. "


" Lalu? "


Ruby masih diam dan menyimak pembicaraan ayah dan anak itu.


Huh. Roy membuang nafas kasar.


" Ke rumah calon mertua pa. " ucapnya cepat, bahkan ia harus menahan nafasnya.


" Ha? " Tuan Manoj juga Ruby sama-sama terkejut.


" Mama nggak salah dengar Roy? Calon mertua? Maksudnya, calon mertua kamu? " tanya Ruby dengan wajah berbinar.

__ADS_1


Roy mengangguk pelan.


" Ya Allah.... Alhamdulillah.... Putraku akhirnya menyukai perempuan juga. " ucap Ruby.


" Ck! Mama pikir selama ini Roy tidak menyukai perempuan? Mama kira Roy mau pisang makan pisang? " decak Roy.


" Ya... Siapa tahu kan? " sahut Ruby.


" Siapa nak? Orang mana? Keluarganya siapa? " tanya tuan Manoj.


" Tunggu... Tunggu...Jangan bilang, kamu menyukai sekretarismu. " Ruby merubah raut wajahnya menjadi tajam.


" Bukanlah ma. Roy masih bisa berpikir. " sahut Roy cepat. Ia pun tidak akan mau menikah dengan sekretarisnya yang suka berpakaian terbuka dan suka memamerkan bentuk tubuhnya.


" Lalu siapa? "


" Dia bukan dari keluarga pebisnis seperti kita pa, ma. Dia putri seorang dokter. Dulu, kakeknya adalah camat di kecamatan XXX. " jelas Roy. Ia sudah mencari tahu tentang seluk beluk seorang Polaris Amalthea Prasetya.


Tuan Manoj nampak manggut-manggut. " Sebenarnya papa tidak pernah memikirkan dari keluarga seperti apa dia berasal. Yang penting kalian saling cinta, dia gadis baik-baik, itu sudah cukup buat kami. Bukankah begitu, ma? " tanya tuan Manoj ke istrinya yang berada di sampingnya.


Ruby tersenyum dan mengangguk. " Mama senang dengernya, nak. " ucapnya.


" Mmmm.... Apakah mama pernah bertemu dengan gadis itu? Sepertinya mama mencurigai seseorang. " Ruby tersenyum smirk.


" Mama sok tau lah. " elak Roy.


" Hmmm.... sepertinya benar. Apakah gadis yang pernah kamu ajak kemari waktu itu? "


" Putra kita pernah membawa seorang gadis ke rumah kita, ma? Kenapa mama tidak pernah bercerita. " protes tuan Manoj.


Ruby mengangguk. Lalu ia menepuk pelan punggung tangan suaminya. " Mama pikir waktu itu tidak ada apa-apa di antara mereka pa. "


" Memang tidak ada apa-apa di antara kami waktu itu ma. Bahkan sekarang pun sama. "


" Maksud kamu? Kalian tidak pacaran? " tanya tuan Manoj.


Roy menggeleng.


" Lalu, kenapa kamu mengajak kami ke rumahnya? "


" Untuk melamar dia, pa. Setelah kita nanti dari rumahnya, barulah Roy dan dia ada hubungan. Tunangan mungkin. " jawab Roy santai.


" Roy, kamu serius ingin menikahi gadis itu? Kamu yakin dia mau menikah denganmu? Mama lihat, gadis itu masih terlalu muda untukmu. " sahut Ruby.


" Mama tenang saja. Roy sudah mengantongi restu dari ibunya. Roy yakin, anak itu akan menurut dengan ibunya. "


" Papa cuma berpesan, jangan sampai kita di tolak setelah sampai sana. " ucap Tuan Manoj.


" Papa tenang saja. Roy pastikan, semuanya berjalan lancar. "

__ADS_1


" Lalu kapan kita akan kesana? Mama sudah nggak sabar pengen lihat kamu menikah, terus punya anak. Anak kalian kelak pasti lucu-lucu. Ibunya aja kelihatan imut dan ngegemesin gitu. " ucap Ruby sambil menerawang mengingat sosok Arisa.


bersambung


__ADS_2