Om itu suamiku

Om itu suamiku
Lamaran


__ADS_3

" Jadi begini, dokter Julio. Saya, atas nama keluarga Rakesh, malam ini datang kemari, dengan maksud tentu saja. " tuan Manoj memulai pembicaraan.


" Yang pertama, untuk silahturahmi tentu saja. Biar keluarga kita bisa saling mengenal. Dan yang kedua, adalah untuk menyambung silahturahmi ini menjadi hubungan kekeluargaan. Atas nama putra saya, Roy Aditama, kami ingin melamar putri dokter Julio untuk menjadi menantu di rumah kami. " tutur Tuan Manoj memberitahu niatnya.


" Om, mungkin saya bukanlah laki-laki yang baik dan terbaik untuk putri om dan Tante. Tapi percayalah, saya akan berusaha dengan keras untuk menjadi yang terbaik untuknya. Mungkin usia kami terpaut cukup jauh. Tapi saya yakin dengan hubungan ini. Meskipun usia Arisa jauh di bawah saya, saya akan membimbingnya untuk menjadi seorang wanita yang baik. Menjadi istri yang baik untuk saya. " lanjut Roy dengan segala kemantapan hatinya.


" Jadi om, Tante, ijinkan saya untuk meminang putri kesayangan keluarga ini. Ijinkan saya untuk menikahi Polaris Amalthea Prasetya. " ucap Roy dengan kesungguhan hatinya.


Julio nampak berkaca-kaca mendengarnya. Ia tidak menyangka, akan secepat ini melepas putri satu-satunya. Tapi ia tetap harus merelakan putrinya untuk di miliki laki-laki lain. Toh, cepat atau lambat, hal ini juga pasti akan terjadi.


Begitu juga dengan Andhara dan seluruh keluarga besar Julio beserta sahabat Andhara. Mereka juga sudah menitikkan air matanya. Gadis kecil yang mereka ikuti pertumbuhannya selama ini, kini sudah akan menjadi milik orang lain. Bukan hanya milik mereka.


Bahkan Andhara sudah mengganti tisu entah untuk yang ke berapa lembar. Karena tisu itu selalu basah oleh air matanya. Dan Lila, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dan mengeratkan pelukannya di lengan sang suami.


Dan bagaimana dengan Arisa? Dimanakah gadis itu? Gadis itu masih berada di dalam kamarnya. Semua orang melarangnya keluar. Dan Orion lah yang bertugas menjaganya.


" Tuan Manoj beserta keluarga, saya, Julio, ayah dari Arisa, mengucapkan banyak terima kasih atas kedatangannya. Terima kasih juga atas niat baik keluarga tuan terhadap keluarga kami. Sebelum saya menerima lamaran Roy, saya sebelumnya ingin mengatakan bagaimana sifat dan sikap putri saya, tanpa ada niat untuk menutup-nutupinya. " jawab Julio.


" Arisa, adalah putri pertama saya dan istri saya. Dia terlahir kembar, dan dia mempunyai adik dua orang. " Julio menarik nafas dalam-dalam. " Sebagai putri satu-satunya di keluarga ini, membuatnya tumbuh sebagai anak manja. Karena semua orang memanjakannya. "


" Usia baru akan menginjak 18 tahun, bulan depan. Dia sebenarnya masih terlalu muda untuk menikah. Arisa mempunyai sifat keras kepala juga selain manja. Dan sikapnya terkadang suka seenaknya. Sedikit bar-bar kalau boleh saya bilang. Dan sedikit bandel. " kekeh Julio.


" Maaf tuan, nyonya. Kalau sifatnya yang satu itu, mungkin menurun dari saya. " sahut Andhara tanpa malu. " Tapi Alhamdulillah, setelah menikah dengan abang, sikap bar-bar itu sedikit demi sedikit menghilang. Meskipun yaaa... masih ada lah sedikit hingga sekarang. " kekehnya.


" Jadi, jika memang putri kamu berjodoh dengan Roy, kami harap, Roy bisa membantu Arisa menjadi sosok yang jauh lebih baik. " imbuhnya.


" Tuan, sebelum saya benar-benar menjawab pinangan dari keluarga Rakesh, saya akan bertanya kembali kepada nak Roy terutama, juga keluarga Rakesh, apakah kalian siap menerima segala kekurangan dan kelebihan putri saya? Menerima segala sifat juga sikapnya? " lanjut Julio.

__ADS_1


Mama Ruby dan tuan Manoj saling berpandangan, lalu tersenyum. " Kami akan dengan senang hati menerima putri anda di keluarga kami. Justru kami senang mendapatkan calon menantu seperti Arisa. Kami berharap, rumah kami akan lebih hidup, lebih ramai dengan kehadiran Arisa. Dan bisa menghilangkan sikap datar putra saya tentu saja. " jawab Tuan Manoj.


" Saya siap menerima segala kekurangan juga kelebihan Arisa, om. Karena saya pun bukanlah orang yang sempurna. Saya juga memiliki banyak kekurangan. Dalam membina rumah tangga kami kelak, kami akan saling mengisi kekurangan dan kelebihan kami. " ucap Roy.


Julio menghela nafas panjang. Ia juga menghirup udara sebanyak-banyaknya. Lalu ia menoleh ke sang istri, mengambil tangan Andhara dan menggenggamnya erat. Andhara mengangguk sebagai isyarat.


" Bismillahirrahmanirrahim... Dengan segala kerendahan hati kami, kami menerima lamaran Roy Aditama untuk anak saya, Polaris Amalthea Prasetya. " ucap Julio tegas.


" Alhamdulillah. " ucap keluarga Manoj bersamaan. Juga dengan Roy. Kini , ia bisa menghela nafas lega setelah beberapa hari ia merasa ketegangan tiada henti.


Sekarang tinggal menunggu bagaimana reaksi Arisa ketika mengetahui jika ia telah resmi melamar gadis kecil itu. Batin Roy.


" Sayang, panggilkan Arisa. " pinta Julio sambil memandang lembut ke arah sang istri. Dan Andhara mengangguk sambil tersenyum.


" Selsa sayang, cincinnya tidak lupa kan? " tanya Ruby ke Selsa yang ada di sebelahnya.


" Tentu saja tidak, ma. " jawab Selsa. Ruby tersenyum ke arah Selsa hangat.


Tuan Manoj tersenyum. " Anda tidak perlu khawatir, dok. Roy sudah mengatakannya. Memang dasar anak satu ini. Maunya bikin surprise katanya. " kekehnya.


Tak lama, Andhara terlihat menuruni tangga bersama Arisa dan di belakangnya, terlihat Ori mengikuti mereka. Dari tempat Arisa berdiri, ia hanya bisa melihat sosok Elyas, tapi itupun dari samping. Jadi ia tidak mengetahui siapa sebenarnya yang datang.


Arisa sampai melongokkan kepalanya ke samping demi untuk mengetahui siapakah tamu sang ayah hingga harus membuat acara penerimaan seperti ini.


" Ngapain sih nih anak. " gerutu Andhara melihat kelakuan putrinya.


" Kepo Bu. Siapa gitu tamunya. Sampai Arisa di suruh pake kebaya gini. Si Ori pakai kemeja batik gitu. Tapi kenapa ibu cuma pakai gamis? " Arisa memperhatikan penampilan sang ibu. Yang justru terlihat biasa saja. Tidak seperti dirinya yang di dandani habis-habisan oleh onty Lila.

__ADS_1


" Karena ibu nggak bisa pakai kebaya. Panas bawaannya. "


" Nah, itu udah ngerasain. Arisa juga gitu Bu. Panas. Gerah. Enakan pakai kolor panjang sama kaos oblong lengan panjang, sama pakai hijab instan. Adem. " rengek Arisa.


" Bentar doang. Habis acara, kamu bisa tuh pakai kolor kesayangan kamu. " sahut Andhara.


Ia lalu menarik tangan Arisa, mengamit lengannya.


" Emang udah ready Bu, acaranya? " tanya Ori yang sedari tadi mengikuti langkahnya.


" Udah. " jawab Andhara. Ia lalu berhenti tepat di tangga kedua terbawah.


" Sini nak. Gantengnya ibu. Jagoannya ibu. Kita jalan bertiga. Biar kita kayak adik kakak. " Andhara menarik tangan Ori dan mengamitnya juga seperti Arisa.


" Nah, gini kan kita kelihatan kayak sohib an. " kekeh Andhara yang selalu menolak tua jika sudah bersama sahabat dan juga anak-anaknya.


" Dih, ibu ngarepnya kejauhan. Apa kabar tuh sih ayah? " sela Arisa.


" Kabar ayah baek. Entar kalau udah di samping ayah, ibu bakalan jadi ibu kalian lagi. Tapi sekarang, biarkan ibu ngerasain jadi kakak kalian. " ucapnya tak terbantahkan.


Lalu ia menarik tangan kedua anaknya untuk kembali berjalan. Hingga di depan pintu yang menghubungkan ruang tengah dan ruang tamu, Arisa terjengkit kaget. Apalagi saat kedua netranya bertemu dengan netra tajam yang ia ingin hindari itu.


" Ngapain si om kesini? " gumam Arisa. " Kok, dia pakai batik samaan kek rok gue sih. " lanjutnya. Lalu matanya memicing. Mengamati keadaan sekitar.


Semua ada di sana. Lalu ada adiknya, atasan magangnya bersama sang suami juga di sana. Lalu, ada dua orang paruh baya yang sepertinya usianya di atas ayahnya. Siapa mereka? Ngapain mereka ada di rumah ini? Berbagai pertanyaan meliputi pikiran Arisa .


Sampai otak cerdasnya menemukan sebuah jawaban.

__ADS_1


Ah. Jangan bilang ini????? Tidaaaakkkkk!!!!!


bersambung


__ADS_2