Om itu suamiku

Om itu suamiku
Polos?


__ADS_3

" Sa, akhir pekan ini, kita pulang ke rumah papa sama mama ya. " ucap Roy kala mereka sedang bersiap untuk tidur.


" Ha? Pulang? Maksudnya? Kan kita udah di rumah. "


" Jangan jadi amnesia kamu. " ujar Roy. " Dulu kita sudah sepakat, jika waktunya tiba, kita akan tinggal di rumah kita. " lanjutnya.


" Kan itu rumah pak Manoj sama bu Ruby bang. "


" Papa sama mama. " Roy mengingatkan.


" Iya. Rumah papa sama mama. Bukan rumah kita. " Arisa membenarkan.


" Kita tinggal dulu di sana beberapa waktu. Nanti kalau sudah siap kamunya punya rumah sendiri, kita tinggal di rumah kita. "


" Siap, maksudnya? "


" Ya... Siap jadi nyonya rumah. Ngerawat rumah misalnya. Siap jadi ibu, biar nanti rumah kita ramai. Nggak cuma berdua doang. " jawab Roy seadanya.


" Ck! Lama. " ketus Arisa.


" Siapa bilang lama? Semua bisa jadi cepet, kalau kamunya udah siap. "


" Ck! Arisa juga udah siap bang. Kalau cuma ngerawat rumah mah gampang. Nyabutin rumput di halaman kan? Nyapu rumah kan? Ngepel juga? Arisa udah terlatih kalau itu. Kalau soal masak memasak kan gampang. Tinggal searching di hp, kita mau makan apa, terus tinggal nunggu, bentar dateng deh. Oh iya, abang kan punya cafe sama restoran. Tinggal suruh mereka anterin lah masakan ke rumah. " ungkap Arisa panjang dan lebar.


" Oke. Kalau masalah itu mungkin kamu udah siap. Tapi gimana dengan anak? Apa kamu juga udah siap bikin anak? "


" Bikin anak? Di kira anak itu bisa di bikin kek mo bikin kue. Ada ada aja si abang. " kekeh Arisa. Tapi ia tetap tak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Roy tersenyum. Sungguh menggemaskan melihat sang istri yang malu-malu seperti itu. " Kan tetap kita harus bikin adonan. Kalau nggak di bikin adonannya, mana bisa jadi bayi. Abang yakin, kamu udah tahu caranya ngadon buat jadi bayi. " godanya.


" Apaan sih abang ih. " Arisa segera meloncat naik ke atas ranjang dan menutup tubuhnya sampai kepala dengan selimut.


" Hei. " Roy ikut naik ke atas ranjang. Ia lalu mencoba menarik selimut Arisa.

__ADS_1


" Abang ih, jangan di tarik! " pekik Arisa.


" Kamu bisa kehabisan oksigen kalau di tutup pakai selimut begini. " ujar Roy tapi Arisa masih kekeh mempertahankan selimutnya.


" Katanya udah siap punya anak. Ayo kita bikin sekarang. "


" Iiiiihhhhh!!!! ABANG!!! " teriak Arisa dari balik selimut. " Me sum ih! Risa masih kecil loh. Belum punya KTP. Masih sekolah juga. "


" Tapi kan udah ha*id. Jadi udah bisa di ajakin bikin anak kan. " Roy makin semangat untuk menggoda Arisa.


Srett


Roy berhasil menarik selimut yang menutupi wajah Arisa. Hingga kini, wajah imut terlihat memerah karena malu. Ternyata, istrinya yang bar-bar dan petakilan itu bisa malu juga.


Arisa mengedip-ngedipkan matanya lucu. Wajahnya, dan wajah Roy begitu dekat. Roy bahkan kehilangan tawa yang tadi ia semburkan kala menggoda Arisa. Ia justru menelan salivanya susah payah hingga jakunnya naik turun.


Roy menatap kedua manik mata Arisa lekat. Mata yang mampu menghipnotis nya hingga membuatnya tak berdaya. Jadi, apakah Roy sudah mencintai Arisa? Jawabannya adalah iya, meskipun baru beberapa persen.


Lalu, tatapan mata Roy turun ke bawah hingga ia menatap bibir merah jambu yang sedang di gigit oleh si pemilik. Sepertinya Arisa juga merasa debaran jantung yang tidak karuan dalam posisi intim seperti ini.


Roy melu mat lembut bibir atas dan bawah Arisa bergantian. Roy membelalakkan matanya ketika ia merasakan balasan dari sang istri. Bahkan Arisa membalas luma tannya seperti sudah ahli. Saling menyecap, melu mat, hingga menimbulkan suara decapan di kamar yang sunyi itu.


Bahkan kini Arisa membuka sedikit mulutnya dan membiarkan Roy mengeksplor rongga mulutnya. Mengabsen semua giginya. Mungkin Roy ingin menghitung, apakah jumlah gigi Arisa sesuai standar nasional apa tidak.


Roy melepas ciuman mereka kala merasa pasokan udara sudah kian menipis. Ia menatap manik mata sang istri kembali.


" Katanya baru kemarin ngerasain first kiss. Kok sepertinya sudah ahli? " tanya Roy. Sekelebat ada rasa kesal menyelimuti hatinya membayangkan jika istrinya itu pernah beradu bibir dengan laki-laki lain.


" Ck! Di kira kita hidup di dunia novel. Yang karena gadisnya terlalu polos, terus belum pernah berciuman, jadi hanya bengong aja pas *******, gitu? " Arisa pun sedikit kesal karena suaminya tidak mempercayainya.


" Ya kan kamu bilangnya baru sekali berciuman kemarin sama Abang. Tapi tadi kok lihai banget. "


" Itu karena efek pengalaman dan pembelajaran, bang. Arisa suka ikut ibu nonton drakor. Ya Arisa lihat dari sana. Terus tadi di praktekkin. Ternyata nggak susah. " jawab Arisa dengan polosnya.

__ADS_1


" Kenapa kemarin cuma bengong? Nggak mau membalas? "


" Kalau kemarin kan masih kaget, om. Terkejut. Jadi masih Lola otaknya. Belum keinget apapun. " jawab Arisa. " Ah, udah ah. Aku mau tidur. Ngantuk. Besok harus sekolah. " Arisa membalikkan posisinya hingga membelakangi Roy.


Tapi Roy menariknya kembali. " Kita praktek lagi. " ucapnya, lalu mengulangi kegiatannya yang tadi. Kegiatan yang mungkin akan dirinya lakukan tiap malam. Ah, tidak. Siang juga. Dan pagi juga.


Arisa segera mendorong tubuh Roy hingga bibir mereka terlepas.


" Abang, tangannya ih!! "


Puk


Arisa memukul tangan kanan Roy yang tadi sempat berselancar. Untung saja, Arisa masih bisa sadar. Jika tidak, mungkin mereka akan benar-benar ngadon bayi.


" Ck! Arisa masih kecil ya om. Katanya tubuh Arisa kecil semua. Lempeng, tipis kek triplek. Nggak mungkin om CEO tertarik. Cih! Nyatanya apa? Tangannya nakal. " omel Arisa.


Roy terkekeh. Ia ingat, dirinya memang pernah mengatakan hal itu dulu. " Tadi cuma ngecek. Beneran seperti kelihatannya, atau seperti yang kamu bilang? " ia lebih memilih ngeles saja.


" Terus, hasilnya? "


" Belum tahu. Kan tadi baru sebentar. Mana bisa tahu kalau cuma sebentar. Makanya, ayo kita terusin. Biar abang cek, beneran gede, apa cuma kek bola bekel. "


Puk


Arisa menepuk kembali punggung tangan Roy. " Moddusss!!!! " cibirnya. Ia lalu menarik selimutnya kembali.


" Awas, Abang tidur sana. Udah malem. Entar di jengukin sama mbak Kunti kalau boboknya kemaleman. " ujar Arisa.


Kali ini,.Roy mengalah. Ia memundurkan sedikit tubuhnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia lalu menelusupkan tangan kanannya ke pinggang Arisa.


" Abang, tangannya!! "


" Meluk doang. Mulai malam ini, kita akan tidur seperti ini. " jawab Roy sembari menutup kedua matanya, dan makin mempererat pelukannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2