
" See? " ledek Arisa ke Joice. Membuat Joice makin geram.
Arisa mengangkat tangan kanannya, melambai ke arah Roy memberitahu jika dirinya ada di sini. Roy yang melihat, lalu menghampirinya.
" Maaf tuan bos. Si mantan anak magang ini ngeyel mau ketemu tuan. " adu Roy.
" Aku yang memintanya datang. " jawab Roy singkat, membuat Joice terkejut dengan mulut menganga.
" Ayo naik. " ajak Roy ke Arisa. Lalu ia berjalan lebih dulu, dan Arisa mengikuti dari belakang.
Ia menoleh ke belakang sekali untuk mengatakan ke Joice, jika dirinya yang menang. Dan pemandangan itu terlihat juga oleh beberapa karyawan.
Siapa sebenarnya Arisa itu? Hingga membuat seorang CEO turun langsung untuk menjemputnya. Mungkin begitulah pikiran para karyawan.
" Abang kenapa masih pakai sekretaris yang itu sih? Aku nggak suka! " protes Arisa ketika mereka sudah sampai di dalam lift.
" Kenapa? "
" Ck! Emang abang nggak ngeh ya. Dia itu penggoda. Tipe-tipe pelakor. Dandanannya udah kek selebritis yang nggak laku kontrak gitu. " jawab Arisa.
" Abang kenapa nggak pake sekretaris yang laki-laki aja sih? Kayak yang di novel-novel gitu. CEO tuh sekretarisnya laki-laki. " protesnya kesal. Bahkan wajahnya sudah ia tekuk, dengan bibir yang cemberut.
" Nggak modelan kek ondel-ondel Betawi gitu. Segala macam aksesoris dan make di pakai semua. " lanjutnya.
Roy memilih untuk diam mendengarkan keluhan sang istri sambil sesekali mengulum senyumnya. Senang rasanya melihat sang istri yang ia yakini sedang cemburu ini.
" Terus lagi, karyawan abang tuh. Kesel tahu nggak bang. Mau ketemu abang aja harus buat janji. Kalau aku mesti buat janji dulu, tiap hari harus buat janji, gitu? Kenapa mesti ribet sih, mau ketemu suami sendiri. " Arisa mengeluarkan semua unek-uneknya.
Roy mendekat. Cup. Ia mengecup sekilas pipi kepala Arisa.
" Abang ih! Kenapa pakai nyium-nyium sih!! " Arisa mendelikkan matanya.
" Aku tuh lagi kesel ya. Lagi marah. Pengen nyemilin meja kursi kalau gini. " gumamnya.
__ADS_1
" Kalau mau, meja sama kursi abang kamu cemilin juga boleh. " jawab Roy sambil mengulum senyumnya.
Arisa makin mendelikkan matanya. Kesal, tentu saja.
" Au' ah! Males ngomong sama abang. " Arisa melipat kedua tangannya di depan dada dan menjauh dari Roy. Ia memilih menempel ke dinding lift.
" Kan kamu sendiri yang minta supaya pernikahan kita di sembunyikan? Jadi ya gini resikonya. " ucap Roy santai.
" Mereka tidak tahu kamu siapa. Jadi sudah pasti kalau kamu nggak buat janji ketemu, mereka nggak akan kasih ijin kamu buat ketemu abang. " jelas Roy.
Arisa terlihat melirik ke arah Roy.
" Gimana? Mau berubah pikiran? Hari ini juga, abang bakalan umumin ke semua karyawan , kalau kamu adalah istri CEO mereka. " lanjut Roy.
Arisa malah mencebik. " Yang ada terus jadi viral, terus aku di keluarin dari sekolah. "
" Aku jamin, meskipun seluruh dunia tahu status kita, kamu tidak akan di keluarkan dari sekolah. " sahut Roy serius.
Pintu lift terbuka. Arisa segera keluar dari dalam lift, di ikuti oleh Roy. Arisa berjalan tergesa menuju ruangan Roy.
Ceklek
Arisa membuka kasar pintu ruangan itu.
" Untung istri. Kalau nggak, udah aku tuker tambah di pasar loak. " gumam Roy.
Sampai di ruangan Roy, Arisa melempar tubuhnya asal ke atas sofa.
" Ngantuk! Haus! Gerah pengen mandi. Laper. " keluh Arisa.
Arisa kembali menegakkan tubuhnya. Ia melihat Roy membawa sebotol air mineral dari dalam kulkas kecil yang ada di ruangan itu.
" Kalau haus, minum. " Roy menyodorkan air mineral itu ke Arisa.
__ADS_1
Arisa mengambilnya, lalu membuka tutup botol yang ternyata sudah di buka segelnya oleh Roy. Menenggak air itu hingga tinggal setengah botol.
" Aku tuh ngantuk, tau bang!! " rengek Arisa lalu meletakkan botol air mineral yang masih setengah itu ke atas meja dengan kasar.
" Kenapa malah di suruh kesini sih? Aku mau pulang... " lanjutnya masih dengan merengek.
" Ya udah, tidur aja dulu. Di dalam ada kamar. Tidur di dalam aja. " sahut Roy.
" Ck! Mana bisa tidur kalau perutnya dangdutan gini. " cebiknya.
" Mau makan apa? Abang pesenin sekarang. " Roy meraih ponselnya yang ada di atas meja.
" Mau soto yang di kantin aja deh. Seger tuh. " jawab Arisa berubah sumringah.
Roy mengangguk. Ternyata permintaan sang istri selalu saja sederhana. Ia lalu meraih interkom yang ada di atas mejanya, menghubungi bagian pantry, meminta mereka untuk membelikan soto di kantin dua porsi.
" Kalau sotonya sampai, bangunin ya bang. " Arisa menaruh tas ranselnya di atas sofa yang kosong, lalu ia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, membuat posisi ternyaman untuk memejamkan kedua matanya sebentar.
Roy memandang ke arahnya sambil tersenyum tipis.
" Asal nggak perlu datengin gempa aja buat bangunin kamu. " kekeh Roy sambil mengusap puncak kepala Arisa.
" Abang ih, suka asal. Emang abang mbah du kun yang bisa manggil gempa. " cebik Arisa.
Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Meringkuk di atas sofa yang ternyata tidak bisa menampung tubuhnya.
Roy duduk di sofa kosong di sebelah sofa yang di pakai Arisa. Ia mengamati Arisa sambil menyangga dagunya dengan tangan yang ia tumpukan di pegangan sofa.
Roy mengangkat kedua sudut bibirnya tinggi sambil memandang ke arah sang istri. Istri yang ia nikahi dengan cara memaksa, padahal saat itu, iapun tidak yakin bisa mencintai gadis kecil itu apa tidak.
Ternyata anggapan Roy salah kaprah. Ia tersenyum, karena ternyata tidak sulit untuk jatuh cinta pada sosok Arisa. Gadis kecil yang suka bertingkah dan berbicara seenaknya dan sesukanya.
Bersambung
__ADS_1