
" Jangan panggil aku Arisa Prasetya kalau punya om nggak berdiri. " ucapnya penuh kekesalan.
Lalu dengan sendirinya, ia mengangkat kedua tangannya, mulai melepas peniti yang ia pasang di dagu. Setelah peniti itu terlepas, ia melempar asal jilbab yang sedari tadi menutupi kepalanya. Lalu ia juga melepas karet yang ia gunakan untuk menguncir rambut panjangnya. Hingga kini, rambut tebal nan hitam legam itu tergerai dengan indah.
Roy menatap kagum dengan apa yang di tutupi sang istri selama ini. Sang istri terlihat makin cantik dengan rambut panjangnya.
" Lihat kan? Rambut Arisa panjang. Kagak botak. " sengaknya. " Mau lihat body Arisa yang om bilang rata kek triplek? " lanjutnya masih dengan kekesalannya. " Bentar, om lihat juga. "
Arisa mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Roy masih memperhatikan sampai di mana keberanian dan kenekatan seorang Arisa di depannya.
Arisa melempar juga dengan asal kemejanya hingga menyisakan tang top dengan tali spaghetti di bahu. Apalagi tang top itu berkerah rendah dan lebar. Hingga dari sana, bisa terlihat da da Arisa yang terlihat cukup berisi.
Lalu tangannya beralih melepas kancing celana jeans nya. Namun, ketika ia hendak memelorotkan celananya, Roy mencegah.
" Kamu mau abang khilaf sekarang? " suara bariton sang suami terdengar sangat berat.
" Ck! Abang kan, tadi yang bilang kalau body Arisa nggak bakalan bikin Abang mupeng? Kita buktiin. Biar Arisa selesain ini dulu. "
Dasar si Arisa. Belum tahu dia jika gajah jantan milik suaminya sudah terbangun sedari tadi. Belum melihat dia seberapa kuatnya gajah itu jika sudah mengajaknya bertempur dan bermain.
Arisa melepas celananya hingga kini menyisakan celana legging pendek sepaha yang bisa memperlihatkan pan tat yang berisi.
Roy yang tidak ingin kebablasan, lebih memilih untuk membalikkan badannya dan berjalan menuju walk in closed miliknya untuk mengambil baju gantinya.
Ia tidak mengira jika sang istri begitu rawrrr....
" Lah, kok??? " Arisa di buat bertanya-tanya dengan sikap suaminya. " Dih, aneh. Kalau pengen, bilang aja pengen. " ucapnya santai.
Ia lalu tersenyum smirk dan menuju ke walk in closed suaminya. Tapi ia tidak ikut masuk. Ia memilih berdiri di depan pintu.
" Baangghh... " panggilnya sambil mende sah. " Gimana? Menggiurkan tidak body istri abang? Ini Arisa belum lepas semua loh. Abang keluar dulu dong. Biar Arisa lepas semuanya dulu. " Lanjutnya dengan suara mendayu-dayu.
Sedangkan di dalam walk in closed, Roy nampak mengepalkan tangannya sambil memejamkan kedua matanya erat. Gajah jantannya makin menggelinjang tak karuan.
" ****!! " umpatnya. Ia salah memilih lawan sepertinya.
" Baaangghh... Udah Arisa buka loh ini. Entar abang sendiri yang buka pengaitnya. " suara merdu nan mendayu sang istri kembali terdengar.
__ADS_1
Tidak bisa di biarkan. Jika sang istri berani mengerjainya seperti ini, ia pun akan melakukan hal yang sama.
Ceklek
Pintu walk in closed terbuka dari dalam. Sontak Arisa mundur menjauh.
" Oke. Karena kamu sudah berbaik hati membuka semuanya, abang juga akan berbaik hati membukanya juga buat kamu. " ucap Roy dengan tatapan yang entah bagaimana.
Ia mulai melepas lilitan handuknya dari pinggang, hingga handuk itu melorot ke lantai. Sontak Arisa langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Blug
Arisa menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras karena ia yang terburu-buru dan panik. Jantungnya berdebar sangat kencang.
" Si* l! Kenapa malah jadi gue yang takut? " Arisa menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi sambil memegangi dadanya.
" Harusnya abang yang kalah. " umpatnya. Sedangkan di luar, Roy terbahak bahak begitu keras. Sebenarnya tadi ia sudah mengenakan celana pendek. Tapi karena ia ingin mengerjai istrinya kembali, ia memakai kembali handuknya setelah mengenakan celana pendeknya.
" Abang jelek!!! " pekik Arisa kala mendengar tawa sang suami. Kini ia tahu, jika ia sudah di kerjai oleh Roy.
🌷🌷🌷
Selsa dan Arisa sedang menikmati suasana malam di taman belakang rumah. Para laki-laki, sedang mengobrol di ruang keluarga. Pasti sedang membicarakan hal-hal seputar bisnis dan pekerjaan. Tidak mungkin kan, mereka sedang membicarakan harga cabe sekilo di pasar berapa.
Ruby, sedang berada di dapur untuk mengambilkan camilan untuk keluarganya.
" Biasanya kalau jam segini, apalagi habis makan. Dia akan bermain. " jawab Selsa sambil tersenyum dan ikut mengelus perut buncitnya.
" Nih, kamu rasakan. " Selsa menarik tangan Selsa ke bagian perutnya yang menonjol dan dari dalam terasa ada yang bergerak-gerak.
Wajah Arisa nampak antusias. Senyuman terukir dari sudut bibirnya. " Wuaahhh... Sepertinya dia lagi koprol nih. " ujarnya.
" Cewek, apa cowok kak, dedeknya? " tanyanya.
" Belum tahu. Aku sama mas Elyas sepakat buat nggak lihat kelaminnya. Biar jadi surprise aja entar. " jawab Selsa.
Arisa nampak manggut-manggut. Tangannya masih senantiasa berada di atas perut Selsa yang terus menonjol bergantian di beberapa bagian.
__ADS_1
" Kamu suka anak kecil nggak? " tanya Selsa ke Arisa.
Arisa mendongak. Sejenak ia menghentikan aktivitasnya yang mengelus perut buncit Selsa.
" Suka. " jawab Arisa sambil mengangguk. " Dulu, waktu masih kecil, aku suka mainan boneka baby. Terus, waktu si Zavi sama Kevin lahir, aku suka banget gendong. Bayi itu lucu banget tahu kak. Menggemaskan. " lanjutnya dengan senyuman tipisnya.
" Kalau kamu suka sama baby, kenapa nggak bikin baby sendiri? Kamu udah bisa loh sekarang bikin baby sendiri. Udah ada partner nya. " goda Selsa.
" Ish, kak Selsa mah. Aku kan masih sekolah Kak. Masak punya anak? Masak iya, sekolah tapi perutnya buncit. Bisa heboh satu sekolah entar. "
" Kan, kalau emang kamu hamil pas masih sekolah, bisa home schooling. Kakak pasti bakalan nyariin kamu guru terbaik. Udah gitu, setelah lulus, kamu bisa langsung lanjut kuliah lagi. "
" Emang bisa, gitu kak? " tanya Arisa. Kini ia sudah duduk bersandar di sandaran bangku taman.
" Bisa banget. Kakak suka banget juga loh sama anak kecil. Apalagi kakak sekarang usianya udah mau 29 tahun. Udah saatnya lah punya anak sendiri. Biar besok kalau anaknya masih pada sekolah, kakak masih bisa nyekolahin. Belum yang terlalu aki-aki. " sahut Selsa.
" Abang sih kemarin setuju setuju aja waktu aku minta jangan ngapa-ngapain dulu. "
" Abang? Kamu panggil kakak, abang? " tanya Selsa. Kini ia duduk sedikit menyamping, menghadap Arisa.
" He em. " jawab Arisa sambil mengangguk.
" Masak? Padahal kakak dulu punya cita-cita, kalau punya istri, dia akan suruh manggil mas loh. "
" Iyaaa... Abang kemarin juga mintanya gitu. Tapi akunya yang geli kalau manggil mas. Tiap hari denger ibu manggil ayah abang, jadi pengen manggil om dengan sebutan abang juga. Dan Abang nggak masalah. " jelas Arisa.
Kini Selsa yang nampak manggut-manggut. Sepertinya ia yakin sekarang. Jika sang kakak sudah move on. Sepertinya kakaknya sudah bisa menerima istrinya dengan baik. Buktinya, Roy bersedia di panggil abang oleh Arisa. Padahal, Roy dulu paling tidak suka jika ada yang memanggilnya abang.
" Arisa, pikirin omongan aku tadi, oke. Ingat, menjaga seorang suami itu susah susah gampang. Apalagi kalau suami kamu itu sudah dewasa kek kakak. Dia punya kebutuhan biologis yang sewaktu - waktu ingin di salurkan. Jangan sampai, dia mencari pelampiasan di luaran sana karena kamu nggak mau ngasih. " Ujar Selsa sambil mengelus pundak Arisa.
Arisa menunduk. " Tapi aku belum siap hamil Kak. Lagian, abang belum pernah tuh bilang cinta sama aku. Mana bisa melakukan hal itu tanpa ada cinta. "
" Kamu cinta nggak sama abang? " tanya Selsa.
" Belum tahu. Masih abu-abu. "
" Layani kakak dengan baik. Maka kamu bisa melihat hati kamu, juga hati kakak seperti apa. Jangan sampai ada penyesalan di belakang. Jika kamu mengatakan belum siap hamil, ada banyak cara melakukan hal itu yang tidak membuat kamu hamil. "
__ADS_1
Arisa nampak menggela nafas beratnya.
Bersambung