
Hari terus berganti. Arisa begitu menikmati masa - masa kehamilannya. Roy pun begitu antusias. Ia selalu berusaha menjadi suami siaga untuk Arisa.
Teman - teman Arisa seperti Santo, Kaila, bahkan Rian juga sudah mengetahui tentang kehamilan Arisa. Siapa lagi yang memberitahu mereka jika bukan si ibu.
Andhara takut dan khawatir ada apa-apa saat Arisa di sekolah. Jadi, ia sengaja memberitahu ketiga teman dekat Arisa supaya mereka bisa membantu menjaga Arisa saat di sekolah.
Semua keluarga menjadi sangat protektif terhadap Arisa. Begitupun dengan sang ayah, Julio. Ia selalu menanyakan kabar kesehatan sang putri setiap hari.
Orion pun sama. Ia juga ikut menjaga kembarannya. Jika Roy tidak bisa mengantar ataupun menjemput Arisa, maka Orion lah yang bertanggung jawab. Kemanapun Arisa pergi, pasti keluarganya menemani.
Mulai dari saat hamil, Arisa tidak begitu menyusahkan sang suami. Ia tidak mengalami ngidam yang menginginkan hal-hal yang aneh. Ia hanya suka makan saja. Dan makanan yang ia inginkan juga tidak ribet yang meski jika ia menginginkan gudeg, harus ke Jogja langsung. Atau jika ia ingin makan sushi, harus terbang ke Jepang.
Arisa hanya suka makan mi instan saat ini. Dan Roy pun harus mengijinkan dengan berat hati. Arisa juga suka jajanan pasar dan jajanan pinggir jalan. Yang agak aneh, hanya ia yang tidak menyukai makanan ataupun jajanan yang membeli dari toko. Ia lebih suka jika membelinya dari pasar tradisional.
.
.
.
Usia kandungan Arisa kini sudah masuk bulan ketiga pertengahan. Sebentar lagi akan masuk ke tri semester kedua. Perut Arisa sudah tidak serata dulu. Body nya juga sudah tidak se slim dulu.
" Abang, perut Risa udah keliatan banget nonjolnya nggak sih? " Arisa bertanya pendapat sang suami.
Dengan sudah mengenakan seragam putih abu-abu nya, Arisa berdiri di depan cermin sambil melihat kondisi perutnya.
Roy berjalan mendekat, lalu memeluk Arisa dari belakang dan mengelus perut Arisa.
" Belum terlalu. " jawab Roy setelah ia mengelus perut Arisa. " Masih bisa ketutup sama seragam kamu. " lanjutnya.
" Iyakah? " Arisa menoleh ke samping hingga wajahnya berada tepat di hadapan Roy yang berdiri di belakangnya.
" Hem. " jawab Roy lalu ia mengecup ujung hidung Arisa.
" Seragam Risa juga udah pada kekecilan. Da da Risa jadi tumpah gini. " ucap Arisa sambil memegang da danya.
" Pan tat juga jadi makin kek bola basket. Lengan udah kek Ade Ra_y. Gede gede pisan. " ia mengabsen tiap inci tubuhnya.
" Tapi abang suka. Makin se_ksi. Makin enak di lihat. Makin enak di pegang. Daripada kerempeng. " jawab Roy.
Plak.
Arisa menepuk punggung tangan Roy yang masih berada di atas perutnya.
__ADS_1
" Abang ih!! Pikirannya selalu 21+. " omel Arisa.
Roy tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
" Mau beli seragam baru yang lebih gedean? " tawar Roy.
" Mmmmm ... " Arisa nampak berpikir. " Kayaknya ga usah aja deh bang. Entar kalau perut Arisa udah buncit kan mau home schooling aja. Habis lahiran, kalau mau sekolah di sekolah lagi juga tinggal bentaran terus lulus. Kalau beli seragam lagi, mubadzir duitnya. " lanjutnya.
Roy mengangguk. " Terserah kamu aja. Senyaman kamu gimana. Abang ngikut. " jawabnya lalu mengecup puncak kepala Arisa.
Arisa tersenyum. Ia bahagia. Ia tidak pernah menyangka, jika ia akan sebahagia ini menjadi istri seorang Roy Aditama.
" Abang emang paling the best deh. " ucap Arisa.
Ia lalu menaruh tangannya di atas tangan Roy yang masih bertengger di atas perutnya.
" Risa masih suka nggak percaya dan nggak nyangka deh bang. Ada makhluk hidup di sini. " ucap Arisa.
" Sekarang dia udah kelihatan kepalanya, tangannya, kakinya juga. Meski masih kecil-kecil. " lanjutnya sambil memandang foto USG yang ia tempelkan berjajar di cermin.
Semalam, mereka baru saja check up kandungan rutin ke dokter Lulu.
" Iya. Alhamdulillah, sayang. " jawab Roy. " Alhamdulillah, sepertinya ia tumbuh dengan sempurna di perut kamu. Semoga ke depannya, ia tetap akan tumbuh sempurna seperti ini. " lanjutnya sambil ikut memandang foto USG itu.
Lalu tiba-tiba... Kruuuukkkk.... Kruuuukkkk...
Ambyar sudah momen romantis itu oleh suara perut Arisa.
" Hehehehe ... Laper. " ringis Arisa sambil menoleh ke arah Roy.
Roy tersenyum gemas. Ia mengusap puncak kepala Arisa yang sudah tertutup jilbab.
" Kali ini, si kecil, apa mommy nih yang laper? " Roy menoel ujung hidung Arisa.
" Dua-duanya lah. Kan emang belum sarapan. " jawab Arisa. " Abang, jangan manggil mommy atuh anaknya teh. Arisa nggak suka di panggil mommy. Udah kayak yang bule aja. " bibir Arisa mengerucut.
" Mau di panggil apa? Mama? Ibu? Nyak? Emak? " tanya Roy.
" Bunda. Arisa mau di panggil bunda aja sama anak kita besok. " jawab Arisa.
Roy tersenyum. " Oke , bunda. Kita sarapan sekarang aja, yuk. Habis itu, ayah antar bunda ke sekolah. "
" Abang nggak pengen di panggil Daddy, gitu? Atau papi? Atau papa? " Arisa menoleh dan bertanya sembari mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke dapur.
__ADS_1
Roy menggeleng. " Abang bukan bule. Jadi nggak pantes di panggil Daddy. Abang juga berasal dari Jawa. Jadi kurang enak kalau di panggil papi. Karena kamu maunya di panggil bunda, maka panggilan ayah untuk abang udah yang paling pas. " jelas Roy.
Arisa menarik kedua ujung bibirnya tinggi-tinggi.
Sampai di meja makan, Arisa mengambil dua potong roti tawar yang ia olesi selai nanas kesukaan sang suami. Lalu menuangkan teh ke cangkir.
Lalu ia mengambil tiga potong roti tawar dan ia olesi dengan coklat untuk dirinya sendiri. Susu hamil, sudah tersedia di gelas di samping piringnya.
Saat ia menyiapkan roti untuk sang suami tadi, Roy membuatkannya susu khusus ibu hamil rasa coklat.
Selesai sarapan, mereka berangkat bersama. Roy mengantarkan Arisa ke sekolah.
" Kalau nanti sore Abang nggak bisa jemput, Ori yang bakalan jemput. Oke? " ujar Roy ketika mereka telah sampai di depan gerbang sekolah.
Arisa mengangguk. " Sebenernya Risa bisa minta antar sama Toyib loh bang. " jawabnya.
" Nggak. " Roy menggelengkan kepalanya. " Kamu lagi hamil. Nggak baik naik motor. "
" Ck! Abang, ayah, ibu, sama Ori sama. Posesif. " decak Arisa.
" Demi kebaikan kamu, dan anak kita. " jawab Roy sambil mengusap perut Arisa.
" Ya udah, Arisa masuk ke dalam sekarang. " ucap Arisa. " Sini tangannya. Mau salim dulu. " lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.
Roy tersenyum, sambil mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Arisa.
Seperti biasa, Roy akan memberikan kecupan di kening Arisa setelah Arisa selesai mencium punggung tangannya.
" Abang hati-hati nyetirnya. Nggak usah ngebut-ngebut. Entar di kejar sama polisi loh. " ujar Arisa.
" Iya. Abang pelan-pelan bawa mobilnya. Kamu juga jangan pethakilan kalau di sekolah. "
" Hisshh... Nggak lah! "
" Mau di tambah, uang jajannya? "
" Nggak usah bang. Yang kemarin masih banyak. " Arisa menggeleng. " Ya udah, Risa turun dulu ya bang. Assalamualaikum. "
" Waalaikum salam. "
Arisa segera turun dari dalam mobil dan berjalan memasuki gerbang sekolah. Roy meninggalkan depan gerbang ketika tubuh istrinya sudah tak terlihat lagi.
Bersambung
__ADS_1