Om itu suamiku

Om itu suamiku
Bertunangan


__ADS_3

" Tapi .... " Arisa menggantungkan omongannya.


Roy terdengar menghela nafas beratnya. Sepertinya ia harus lebih ekstra bersabar menghadapi gadis ABG yang masih labil macam Arisa.


" Aku takut om. " lirih Arisa. Ia menunduk dalam. Setelah mendengar dirinya sudah di lamar, ia jadi merasa takut. Ia yang biasanya garang, tak takut apapun, meskipun ada garong maupun om gerandong menghadang di depannya. Tapi di hadapkan dengan kenyataan bahwa dirinya telah di lamar oleh seorang laki-laki, tiba-tiba nyalinya menciut.


" Takut kenapa? " tanya Roy sambil mengernyitkan alisnya. Ia memutar kembali tubuhnya hingga menghadap ke Arisa.


" Risa masih kecil tahu om. Risa takut nggak bisa jadi istri yang baik nantinya. Aku tuh belum ngerti kehidupan rumah tangga itu seperti apa. " jawab Arisa sambil sedikit mendongakkan kepalanya dan melirik ke arah Roy.


" Aku juga sama seperti kamu. Karena aku juga belum pernah berumahtangga. Jadi, ayo kita sama-sama belajar membangun rumah tangga kita. Kita hadapi semuanya bersama-sama. Susah, senang, kita hadapi berdua. Kamu tidak sendirian. " jawab Roy serius.


 Ia bahkan menggenggam tangan kiri Arisa demi menyalurkan kekuatan. Tentu saja tidak ada penolakan dari Arisa, karena ia masih bergelut dengan pemikirannya.


" Tapi umur Arisa belum boleh buat nikah. Kan sesuai aturan di negara kita, usia 19 tahun baru boleh nikah. " Arisa masih saja berat buat menerima kenyataan.


" Semua itu bisa di atur. Lagian, kurang 1 tahun lagi usiamu 19 tahun kan? "


Arisa terdiam. Ia masih gamang dengan apa yang akan ia putuskan. Karena ini menyangkut masa depannya.


" Tapi aku masih pengen nyelesain sekolah aku. Masih pengen kuliah juga. Masih pengen meraih cita-cita. "


" Tidak masalah. Kamu akan tetap sekolah seperti biasa meskipun kita menikah. Kamu tetap bisa berkuliah, bahkan bekerja meraih cita-cita kamu. Aku tidak akan menghalanginya. "


" Mana bisa nerusin sekolah kalau udah nikah. " gerutu Arisa. " Yang ada, Arisa pasti bakalan di keluarin kalau ketahuan udah nikah. "


" Aku jamin tidak akan ada yang tahu tentang pernikahan kita. Kamu tenang aja. "


" Maksud om, kita bakalan nikah diam-diam gitu? Kayak yang di novel-novel itu? " Arisa menoleh ke arah Roy.


Roy mengangguk. " Kurang lebih seperti itu. "


Arisa merasa ada yang aneh dengan tangannya. Tangannya terasa hangat. Ia menunduk, guna melihat apa yang ada di tangannya.


Arisa segera menepis kasar tangan Roy yang sedari tadi menggenggam erat tangannya.


" Ish! Om ngapain pegang-pegang tangan aku? Nyari kesempatan dalam kesempitan ya. " Arisa mendelikkan matanya tajam ke arah Roy.


Bukannya kesal atau marah, Roy justru terkekeh. " Kesempatan gimana? Tidak ada larangannya memegang tangan calon istri. "


" Calon istri apa? Kan aku belum bilang iya. " ketus Arisa.


" Makanya, cepetan bilang iya. Udah malam juga loh ini. " sahut Roy dengan santainya.

__ADS_1


Arisa kembali terdiam. Entah ia harus menjawab apa. Roy pun ikut diam. Ia membiarkan Arisa untuk berpikir.


" Kalau ternyata nanti aku nggak bisa jadi istri seperti yang om arepin, gimana? Apa om bakalan ninggalin aku? " tiba-tiba Arisa bersuara pelan.


Roy kembali menoleh. " Jangan berpikiran buruk seperti itu. Aku menikahi kamu, bukan untuk meninggalkan kamu. Tapi aku menikahi kamu, untuk menjaga kamu. Selamanya. " jawabnya.


Arisa terlihat menatap kosong ke depan.


" Arisa... Kamu lihat orang tua kamu? " Roy bertanya.


Arisa menoleh, lalu mengangguk.


" Kamu sudah bersama mereka siang malam hampir selama 18 tahun. " Roy mulai berucap. Semoga dengan ini, Arisa menjadi yakin. pikir Roy.


" Kamu juga tahu kan, usia berapa ibu kamu ketika ayah kamu menikahinya? "


Arisa kembali mengangguk.


" Kondisi ibu kamu dengan kamu, tidak jauh beda. Usia kalian pun sama. Dan aku juga yakin, usia ayah kamu saat itu juga tidak jauh beda dengan usiaku sekarang. Mereka menikah juga tidak dengan berpacaran terlebih dahulu. Bahkan ibu kamu, tahu jika dia sudah menjadi istri seseorang setelah ia sah menyandang status itu. " jelas Roy memberikan contoh dan gambaran nyata buat Arisa.


" Dan kamu lihat, pernikahan tanpa cinta itu berjalan seperti apa. Mereka bahagia. Mereka berhasil mengarungi susah senang membangun keluarga bersama. Ayah kamu, mampu meluluhkan hati ibu kamu kan? Mereka saling mencintai sekarang. Akupun sama. Aku pun akan melakukan seperti yang ayah kamu lakukan untuk ibu kamu. " lanjutnya.


Arisa terdiam sesaat mencoba mencerna setiap ucapan Roy. Ia membenarkan apa yang Roy katakan. Kedua orang tuanya memang saling mencintai sekarang. Bahkan sangat. Jadi, apakah dirinya juga bisa seperti mereka nantinya?


Ia ingin mempunyai rumah tangga seperti rumah tangga orang tuanya. Ia tidak pernah melihat kesedihan di wajah sang ibu selama ini. Karena ayahnya selalu memberikan cinta berlebih untuk ibunya.


" Kamu juga bisa belajar dari ibu kamu, bagaimana menjadi istri yang baik kan? " imbuh Roy.


Arisa menoleh ke arah Roy. Ia menatap lekat mata Roy. Ia tidak melihat ada candaan di sana. Akhirnya, dengan sangat pelan, Arisa menganggukkan kepalanya.


" Apa jawabanmu iya? " tanya Roy memastikan. Dan kembali Arisa mengangguk.


" Iya, artinya iya untuk menjadi istriku? " tanya Roy kembali. Kembali Arisa mengangguk. Tapi tak lama ia menghela nafas kasar.


" Om kelamaan ih. Di jawab nggak, mikir. Di jawab iya, mikir lagi. " ucap Arisa kesal. Ia berdiri dari duduknya, lalu membenarkan penampilannya. Membenarkan posisi hijab pashmina nya yang agak sedikit melenceng. Membenarkan kebayanya yang agak sedikit kusut. Sambil mengomel tentu saja.


" Jadi nggak nih, masangin cincin? Kalau nggak jadi ya udah, Arisa mau balik ke kamar. " cerocosnya sambil menggapai rok batik bagian bawahnya yang tertekuk karena ulahnya tadi yang sedikit bar-bar.


Tapi berulang kali mencoba meraihnya, ia tidak bisa. Ia sedikit susah bergerak karena kebaya atasannya yang banyak manik-manik, membuat kebaya itu sedikit kaku.


Tiba-tiba ia merasa tangan seseorang menurunkan kain batik itu yang tertekuk. Ia sedikit menoleh ke belakang. Ia melihat, Roy lah yang jongkok di belakangnya untuk membantunya membenarkan roknya. Ada rasa menggelenyar di hati Arisa melihat perhatian kecil Roy itu.


" Ayo. " Roy menengadahkan tangannya supaya Arisa mengulurkan tangannya untuk ia genggam.

__ADS_1


Tapi bukan Arisa namanya jika tidak menolak.


" Terima kasih, buat yang tadi. " ucap Arisa sambil berlalu mendahului Roy menuju ke ruang depan kembali. Roy menyunggingkan senyum tipisnya sambil menatap punggung gadis yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya.


Ia lalu melangkah mengikuti Arisa dan menyamai langkah Arisa kala mereka hampir sampai di ruang tamu.


Semua orang menatap ke arah Arisa dan Roy bersamaan kala mereka muncul.


" Berikan cincinnya. " pinta Roy ke Selsa sambil menengadahkan tangannya. Sedangkan Arisa, ia sudah duduk di sofa kosong yang memang di tujukan untuk dia dan Roy duduki.


Tak lama, Roy ikut duduk di sofa yang sama dengan Arisa. Semua orang bernafas lega kala melihat Roy memasangkan cincin tunangan di jari manis tangan kiri Arisa.


" Alhamdulillah.... " ucap semua yang hadir di sana. Entah apa yang Roy katakan hingga Arisa menerima lamarannya. Semua orang tidak memperdulikannya.


" Tinggal menentukan hari baiknya saja. " ucap pak Siswo.


" Sebenarnya, kami sudah menyiapkan tanggal baiknya. " jawab tuan Manoj.


" Bagaimana jika bulan depan? Tepat ketika usia Arisa 18 tahun. " imbuhnya.


" Bagaimana jika kita samakan dengan hari ulang tahun Arisa saja? " usul Ruby.


" Secepat itu? Arisa pikir masih tahun depan. " sahut Arisa.


" Niat baik, harus di segerakan. " jawab Roy.


" Kami sebagai pihak perempuan, mengikuti saja bagaimana baiknya. " jawab Julio.


" Baiklah jika begitu. Kita sepakat bulan depan, kita rayakan ulang tahun Arisa dan Ori, sekalian rayakan pernikahan Arisa dan Roy. " imbuh Andhara.


" Tante, om, dan semuanya. Rencana saya, kami hanya akan melangsungkan akad nikah saja dulu. Tidak perlu mengundang tamu banyak. Cukup keluarga kita saja. " Roy menyela .


" Bukan maksud saya menyembunyikan pernikahan ini atau saya tidak serius dengan niat saya. Tapi, saya memikirkan masalah Arisa yang masih bersekolah. Kami sepakat untuk menyembunyikan pernikahan ini setidaknya sampai Arisa lulus sekolah. Dan karena usia Arisa masih belum bisa untuk mendaftarkan pernikahan secara negara, maka kamu akan melaksanakan pernikahan secara agama dulu. Nanti di saat usia Arisa sudah genap 19 tahun, saya pasti akan mendaftarkan pernikahan kami ke negara. " Roy memberikan penjelasan kepada semuanya.


" Kenapa tidak menuakan usia Arisa satu tahun saja? Jadi kalian bisa langsung menikah resmi secara agama maupun negara. " usul Ruby.


" Kalau saya tidak masalah untuk itu. Tapi bagaimana dengan Arisa sendiri? " Roy menoleh ke arah Arisa. " Apa tidak masalah buat kamu, jika usia kamu kita tambah satu tahun, supaya kita bisa langsung mendaftarkan pernikahan secara negara? " tanyanya.


Arisa langsung menggeleng keras. " Tidak. Sebaiknya kita menikah secara agama saja dulu. Arisa nggak mau menjadi tua sebelum umurnya. " jawabnya.


Dan semuanya langsung mengerti. Mereka menyetujuinya. Dan kesepakatan juga telah di buat.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2