Om itu suamiku

Om itu suamiku
Gemukan


__ADS_3

" ASSALAMUALAIKUM.....!!!! "


" Yuhuuuuuu...... "


" SPADAAA.... "


" SAMPORASOOONN.... "


Siapa lagi jika bukan si absurb binti petakilan, Arisa binti Julio anak si emak Andhara.


Ia datang ke rumah weekend ini. Karena sekolahnya hanya 5 hari, alhasil hari Sabtu seperti ini ia free. Dan hari ini, karena sang suami lembur di kantor, ia memilih pulang ke rumah orang tuanya.


Tadi Roy yang mengantarnya. Tapi hanya sampai depan rumah. Ia tidak ikut masuk karena sudah terlambat untuk ke kantor. Mungkin saat jemput nanti ia akan singgah sebentar.


" Assalamualaikum.... Anak ibu Andhara Nurmalia datang ini.. !!!! " teriaknya lagi sambil masuk ke dalam rumah lebih dalam.


Pug


Sebuah lap meja dapur mampir di muka putih nan kinclong milik Arisa. Menjadi istri seorang sultan memang beda. Ia melakukan perawatan sekujur tubuh setiap dua minggu sekali. Dan kini, hasil dari perawatan itu, membuat kulitnya jernih sejernih air pegunungan dan putih seputih susu.


" IBUUUU!!! " pekik Arisa sambil mengambil lap dari dadanya dan mengerucutkan bibirnya.


" Abang kasih uang buat perawatan wajah Arisa mahal loh ini. Ibu main nimpuk aja. Ya.. kalau nimpuknya pakai uang segepok. Ini nimpuk pakai lap kotor gini. Mana ada arangnya lagi. Item ih! " omelnya sambil melempar lap itu sembarangan.


" Yang ada, muka kamu kalau ibu timpuk pakai duit segepok, entar pada meleyot kemana - mana. Kagak mulus lagi. " sahut Andhara sambil mengambil lap yang Arisa buang tadi.


" Iya kalau duitnya recehan koin semua. Jontor deh mukanya Arisa. " sahut Arisa.


" Lagian kamu sih, kayak hidup di hutan belantara aja. Tiap dateng pasti heboh. " omel sang ibu.


" Habisnya tadi Arisa udah salam dari ujung gang sana loh. Nggak ada yang jawab. Ya udah, Arisa teriak aja biar pada denger orang sekompleks." jawab Arisa santai.


" Laper bu. Ibu masak apa? " tanya Arisa sambil mengelus perutnya dan berjalan melangkah menuju ke dapur, meninggalkan sang ibu yang masih berdiri di ruang keluarga.


" Kamu, tiap kesini yang di cari makan. Kayak yang nggak di kasih makan sama suami kamu aja. " sahut Andhara sambil berjalan mengikuti Arisa dari belakang.


" Di kasih makan lah bu. Masak nggak. Abang resto nya banyak. Masak istrinya di biarin kelaperan. "


Keluarga Arisa kini sudah mengetahui jika menantu mereka, Roy mempunyai beberapa usaha selain bekerja di Rakesh entertainment. Bahkan mereka juga sudah mengetahui jika Orion juga di beri tanggung jawab di usaha Roy tersebut.


" Nyatanya tiap kamu kesini selalu bilang laper. " sahut Andhara. Ia lalu menghidupkan kompornya lagi yang tadi sempat ia matikan karena mendengar teriakan anak gadis yang sekarang sudah tidak gadis lagi itu.


" Ibu mau goreng apaan? " Arisa mendekati ibunya. Melongokkan kepalanya ke arah meja kompor.


" Wuihhh, bakwan. " lanjut Arisa berbinar. " Ibu tahu aja, Arisa lagi pengen nyemil. " Arisa mencomot satu buah bakwan yang berada di atas piring.

__ADS_1


Sebelum ia datang tadi, Andhara sudah sempat menggoreng bakwan satu kali gorengan.


" Cabe mana bu? "


" Ada, tuh di lemari es. " jawab Andhara sambil menunjuk lemari es dengan dagunya.


Arisa mengangguk, lalu berjalan menuju lemari es. Membuka pintunya, sedikit mengobrak abrik isinya guna mencari seplastik cabe hijau.


Ia tersenyum kala menemukan apa yang di carinya. Ia lalu mengambil cabe itu beberapa biji dari dalam plastik lalu membawanya ke meja makan.


Ia lalu duduk di kursi sambil menikmati bakwan yang ada di atas piring sambil sesekali mengobrol dengan sang ibu.


Kriuk


Kriuk


" Bakwan ibu emang paling the best lah. " pujinya masih sambil menikmati bakwan.


" Iyalah.. Ibu gitu loh. Kamu juga, kapan mau belajar masak? "


" Entaran lah bu. Arisa masih fokus sekolah dulu. Bentar lagi ujian. " jawab Arisa.


" Selalu aja alasan kamu ini. " Sahut sang ibu. " Kamu ini seorang istri. Suami itu bakalan betah di rumah, dan makin sayang sama kita, kalau kita menyiapkan isi perutnya. "


" Iya, Bu. Arisa pasti belajar masak. Tapi nggak sekarang. Abang juga ngerti kok. " jawab Arisa sambil mengangguk.


" Assalamualaikum " ucap Julio dari ruang keluarga. Ia yang saat datang tadi mendengar suara sang istri dan anak perempuannya sedang mengobrol, langsung menyusul.


Arisa dan Andhara menoleh bersamaan. " Waalaikum salam. "


" Ayaaahh!! " pekik Arisa heboh. Ia langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri sang ayah yang masih berdiri di depan pintu.


Arisa menghambur ke pelukan sang ayah.


" Anak ayah udah punya suami, masih juga manja sama ayah. " ujar Julio sambil terkekeh.


" Arisa kangen sama ayah. Pengen peluk ayah. " Arisa menelusupkan kedua tangannya ke pinggang sang ayah, lalu meletakkan kepalanya di dada sang ayah.


Julio mengusap punggung Arisa lembut, lalu mengecup puncak kepalanya.


" Anak kamu, bang. Masih saja kek balita. " Andhara menggoda Arisa. Andhara membalikkan badannya untuk menghampiri sang suami juga untuk menyalami sang suami yang baru pulang bekerja.


Tapi saat ia berbalik, matanya membola.


" Arisaaa.... " pekiknya sambil melihat ke atas meja. " Bakwan ibu buat ayah, pada kemana? " tanyanya.

__ADS_1


" Hehehe... Di perut Arisa Bu. " jawab Arisa sambil nyengir.


" Kamu habisin semua, satu piring? " tanya Andhara heran.


" Habis Arisa makan satu, yang lain pada ngiri, Bu. Ya udah, daripada bikin dosa, Arisa makan lagi semuanya deh. " jawab absurb anak ibu Andhara.


Andhara menggelengkan kepalanya. Ia lalu menghampiri suaminya.


" Awas, suami ibu lepas, ih! Kamu kalau mau manja manja, noh sama suami kamu sendiri. Jangan suka ngrebut suami ibu. " Andhara melepas tangan Arisa yang masih memeluk Julio.


" Dih, si ibu. " protes Arisa.


Andhara lalu menyalami sang suami, dan mencium kedua pipi suaminya. Dan Julio, mendaratkan bibirnya di kening Andhara.


Pemandangan yang selalu membuat Arisa bahagia, dan menginginkan keluarga seperti ayah ibunya.


" Abang tungguin dulu. Dhara angkatin bakwannya lagi. " Andhara membimbing sang suami untuk duduk di kursi.


" Anak abang sekarang sukanya makan mulu. " lanjutnya sambil melirik ke arah Arisa yang sudah duduk kembali di kursinya tadi.


" Risa juga heran loh bu, yah. Risa sekarang gampang laper. Ini aja, udah pengen makan lagi. Padahal barusan udah habis bakwan 7 biji. " sahut Arisa.


Julio mengernyit. Ia memperhatikan Arisa dengan seksama. Ia mendapati, sang putri memang terlihat gemuk di beberapa bagian tubuhnya. Begitu juga Andhara.


" Gemukan loh kamu sekarang. " sahut sang ibu.


" Iya Bu. Seragam sekolah Arisa hampir nggak muat. Suka kesel deh. "


Julio menarik tangan Arisa, lalu melihat denyut nadinya. Ia kembali mengernyit. Ia dan sang istri saling berpandangan dengan pandangan yang entah apa artinya.


" Ha*id kamu lancar? " tanya Arisa.


Arisa mengangguk. " Cuma sekarang dikitan sih Bu. "


Kembali Julio dan Andhara saling berpandangan.


" Risa kenapa emang yah? Risa baik-baik aja, kan? " tanya Arisa ke Julio.


Julio mengangguk. " Anak ayah baik-baik aja. " jawabnya sambil tersenyum.


" Suami kamu lembur? " tanyanya lagi.


" Iya. Kata abang, banyak kerjaan. " Arisa mengangguk.


" Nanti kesini? Bilang sama suami kamu, jangan pulang kesoren. Suruh pulang siangan. Ayah mau ada perlu sama dia. " ujar Julio, dan Arisa hanya mengangguk.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2