
Siang itu, Andhara, Lila, Eka, Sabil, dan tak ketinggalan Soni juga Putra sedang duduk melingkar di sebuah meja makan di restoran dengan seorang laki-laki berbadan kekar di antara mereka.
Laki-laki itu berbadan kekar, tapi keringat dingin mulai bercucuran kala keenam orang dewasa yang berada di depan, juga kanan dan kirinya mulai menatap intens ke arahnya.
Laki-laki itu hanya bisa menunduk. Sudah hampir setengah jam mereka duduk bersama. Tapi belum ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan.
" Mayor Prakas, kenapa kamu hanya diam saja? " tanya Eka jengah. Sedari tadi ia menunggu bawahannya itu untuk angkat bicara, tapi bawahannya itu malah hanya diam saja.
Laki-laki bernama Prakas dengan postur tubuh tinggi tegap berotot dengan kulit sawo matang, berpotongan rambut cepak mengangkat wajahnya tegap.
" Siap letnan! " jawabnya tegas dengan suara yang lantang. Bahkan kelima orang yang ada di sana selain Eka, di buat terkejut.
" My princess bisa kena serangan jantung dadakan kalau lakinya kayak gini. " gumam Lila sambil bergidik ngeri.
" Kenalkan dirimu siapa. " ujar Eka. " Jangan hanya diam saja. Kami di sini bukan hanya untuk melihat wajah kamu. "
" Siap, letnan! " jawab Prakas dengan suara lantang khas seorang prajurit sambil lekas berdiri dan bersikap siap. Bahkan kursi yang ia duduki tadi terpelanting ke belakang ketika ia berdiri. Dan kembali, kelima orang kesayangan Arisa di buat kaget. Mereka bahkan mengelus dada mereka.
" Perkenalkan, nama saya Mayor Prakas Koir. Tanggal lahir saya, Lampung 27 Maret 1998. Saya anak pertama dari 6 bersaudara. Bapak saya bernama Muhammad Koir. Ibu saya bernama Zubaidah. Adik saya yang pertama bernama Kenes Koir. Adik saya yang kedua bernama... "
" Sudah cukup perkenalannya. Untuk adik-adik kamu, besok saja biar kesayangan saya berkenalan sendiri jika sempat. " potong Eka dan membuat Prakas melongo.
Dan kelima orang lain yang di sana sudah menahan tawanya.
" Sudah menikah? " tanya Lila.
" Siap, belum. " jawab Prakas. Lila manggut-manggut.
" Sudah punya anak? " tanya Lila kembali.
" Baby... Dia bilang kan belum menikah? Gimana ceritanya punya anak? " protes Putra.
" Ck. Siapa tahu duda. Atau dia punya anak di luar nikah. " bisik Lila.
" Siap belum teman letnan! " jawab Prakas dan langsung membuat Lila menoleh ke arahnya, lalu sedetik kemudian tertawa terbahak bahak mendengar panggilan Prakas terhadapnya.
Sedangkan Andhara, Sabil juga Soni sudah menahan tawanya. Sedangkan Eka, ia menggelengkan kepalanya.
" Sudah punya pacar? " tanya Andhara mengeluarkan suaranya.
" Siap, belum juga teman letnan! Saya tidak berani pacaran. " jawab Prakas dengan suara lantang dan pandangan lurus ke depan. Sudah macam perploncoan saja. Batin Sabil.
__ADS_1
" Kenapa tidak berani pacaran? "
" Siap! Karena takut khilaf. Takut kalau terjadi hal seperti yang di katakan teman letnan yang itu tadi. " jawab Prakas sambil menunjuk ke arah Lila tanpa melihatnya.
" Tipe cewek kamu, seperti apa? " tanya Soni.
" Saya suka perempuan yang keibuan, yang cantik dan siap saya bawa kemanapun saya bertugas. "
Soni manggut-manggut. Lalu ia meletakkan foto Arisa di atas meja, dan mendorongnya ke depan Prakas.
" Kalau perempuan seperti itu, tipe kamu bukan? " tanyanya.
Prakas menundukkan kepalanya dan melihat apa yang ada di atas meja. Ia bergeming. Ia terdiam dengan mulut melongo. Tangannya ia angkat untuk mengambil foto itu. Dan tangannya bergetar hebat. Hal itu tak lekang dari pengamatan keenam orang yang ada di sana.
Mata Prakas terlihat berbinar. Ada setetes air hendak jatuh dari sudut bibirnya. Membuat ke enam orang itu kembali menahan tawanya.
" Cantik? " tanya Soni.
" Banget ini. " jawabnya dengan suara yang tidak seperti tadi. Matanya bahkan tidak beralih dari foto Arisa.
" Suka? " tanya Soni kembali.
" Suka banget. " jawab Prakas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Baik Prakas. Kamu bisa kembali ke markas dulu. Nanti saya menyusul. " titah Eka.
" Ya? " Prakas menegakkan kepalanya dan bertanya apa yang tadi di katakan oleh atasannya.
" Kamu kembalilah ke markas dulu. Saya belakangan. " Eka mengulangi kembali perintahnya tadi
" Siap, letnan. " jawab Prakas sambil memberi hormat.
" Eh ... eh ... fotonya mau di bawa ke mana? " tahan Eka.
" Siap. Maaf letnan. Mau saya bawa ke markas. Buat saya kasih lihat ke teman-teman. " jawab Prakas.
" Kemarikan. " pinta Eka sambil menyodorkan tangannya. Mau tidak mau, Prakas menaruh foto Arisa di atas telapak tangan Eka dengan berat hati.
Akhirnya mereka tertawa terbahak bahak bersamaan setelah Prakas keluar dari restoran.
" Gue takut lah punya mantu kek gitu. " ujar Andhara sambil menyeka air mata dari sudut matanya karena ia tertawa tadi.
__ADS_1
" Gue juga ngeri. Yang ada my princess bisa kena serangan jantung kalau denger gaya bicara lakinya kek itu. Mana tadi dia manggil gue teman letnan? "sahut Lila dan mereka kembali tertawa.
.
.
.
" Sore nanti kamu ikut saya ke rumah. "
" Ha? Maksud pak bos?? " tanya Arisa.
" Saya butuh kamu sebagai asisten pribadi saya meski hanya selama dua minggu. Malam nanti saya ada undangan ke ulang tahun perusahaan klien saya. Saya butuh kamu sebagai asisten tentunya. " jelas Roy.
Malam nanti memang Roy harus menghadiri undangan perayaan ulang tahun perusahaan salah satu kliennya. Dan entah mengapa, malam nanti dia ingin mengajak seseorang. Ia malas jika harus datang sendiri dan harus menjawab semua pertanyaan yang sama, yaitu pasangannya mana?
Dan karena bingung ingin mengajak siapa, ia memutuskan untuk membawa Arisa saja. Toh, wajah anak itu lumayan cantik dan imut. Tidak akan memalukan jika ia ajak jalan.
" Ke undangan perusahaan besar gitu maksudnya? Ke pesta para kaum Borjuis? " tanya Arisa.
" Iya. "
" Yakin pak bos mau mengajak saya? Kenapa nggak ajak Tante Joice aja? " tanya Arisa.
Iya. Kenapa tidak mengajak sekretaris nya saja? Ah, tidak. Malas jika harus mengajak Joice. Yang ada, ia akan malu dengan penampilan Joice. Itulah yang ada di pikiran Roy.
" Nanti kalau saya malu-maluin di sana gimana? " tanya Arisa. " Saya belum pernah loh datang ke pesta orang kaya gitu. Palingan saya cuma pernah dateng ke pesta ulang tahun teman yang agak kaya. Sama ke pesta ulang tahun rumah sakit tempat ayah praktek. " lanjutnya sambil mengingat-ingat.
" Ayah kamu dokter? " tanya Roy.
Arisa mengangguk. " Dan ibu saya apoteker. Pas kan? Cocok kan mereka? " tanyanya bangga.
" Ayah kamu di rumah sakit mana prakteknya? Namanya dokter siapa? "
" Di rumah sakit XX kalau pagi. Kalau sore buka praktek di tempat sendiri. Duet bareng ibu. " jawab Arisa.
" Dokter siapa? "
" Julio Enggar Prasetya. "
" Oh. " jawab Roy. Ia seperti pernah mendengar nama itu. Tapi ia lupa di mana. " Ya udah, kamu kasih tahu orang tua kamu, kalau malam ini kamu pulang malam. Karena saya ajak kamu pergi. "
__ADS_1
Arisa hanya bisa mengangguk. Ia lalu mengambil ponselnya dan menscrooll mencari nama sang ibu dan langsung menghubungi.
bersambung