
Bel tanda jam pelajaran telah berakhir berdering dengan nyaring. Bukan menutup telinga karena kerasnya bunyi bel itu. Mereka malah justru berteriak kegirangan. Bagaimana tidak senang, jika mereka sudah bisa pulang dan menghirup udara segar di luar sana. Mereka sudah seperti tahanan rutan yang di penjara puluhan tahun.
Arisa berjalan keluar dari kelas hingga gerbang berdampingan dengan Kaila, dan Santo juga Rian berjalan di belakang mereka.
" Udah kek bodyguard aja gue! " gerutu Rian.
" Bodyguard mah keren. Kita tuh udah kek pengikut emak-emak kompleks yang sukanya nyinyirin tetangga. " sahut Santo.
" Loe tuh, yang kek mulut netijen zulid. Pedes kek cabe se tan. " sengak Kaila sambil menoleh ke belakang.
" Udah, kagak usah di ladenin. Yang ada entar kita ikutan masuk ke kerak nera ka yang panasnya kek omongan tetangga di telinga kita. " sahut Arisa dengan santainya.
" Loe tuh, yang kebanyakan dosa. " sahut Santo.
" Eh, jangan salah ya. Gue nih udah melaksanakan sunah Rasul yaitu menikah. Udah dapet pahala gue. Udah beribadah. Lah, loe pada? Apa kabar? " ledek Arisa.
" Tuh, laki loe. Tumben dia yang jemput. Nggak takut di omongin orang loe? Nyuruh dia yang jemput? " ujar Kaila sambil menunjuk ke arah depan gerbang, di mana Roy terlihat berdiri di depan mobil dengan bersandar ke badan mobil, dan tak lupa, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
" Eh, bentar... bentar ... " Arisa menghentikan langkahnya. Ia mengangkat kedua tangannya, lalu membentuk sebuah kotak dengan jari jempol dan telunjuk kanan dan kiri saling bertaut. Lalu membawa bentuk kota itu ke depan wajahnya seolah dirinya sedang memotret suaminya.
" Ternyata, laki gue emang ganteng. " ucapnya sambil tersenyum jumawa.
" Anjjiiimmm!! Somplak nih anak. " ketus Kaila sambil menjitak kepala Arisa pelan. " Bukannya loe sendiri yang bilang, kalau laki loe itu nggak keren, cenderung mirip om om. " lanjutnya.
" Iya. Tapi om itu, suamiku. heheheh.... " sahut Arisa.
Sedangkan di seberang sana, Roy tengah mengamati semua pergerakan sang istri bersama teman-temannya dari balik kacamata hitamnya. Bahkan ada beberapa siswi lewat yang kecentilan menggoda, tidak Roy gubris sama sekali.
Roy memang terlihat gagah dan memukau dengan penampilannya saat ini. Jas kerjanya ia lepas. Hingga tersisa kemeja berwarna biru laut yang ia padukan dengan celana bahan dengan warna biru juga. Dasi nampak ia longgarkan, dan lengan kemejanya, ia tekuk hingga ke lengan.
" Siang, om. " sapa Kaila sambil tersenyum. Sedangkan Arisa berjalan beberapa langkah di belakang Kaila yang sudah mempercepat jalannya. Kecentilan, bukan. Kaila hanya berusaha ramah kepada suami sahabatnya. Yah, sambil menyelam, tenggelam sekalian lah ya. Siapa tahu, dirinya bisa di tarik jadi pegawai di Rakesh entertainment.
Roy menanggapinya dengan mengangguk. Ia sedikit memiringkan badannya guna melihat sang istri yang berada di belakang Kaila dan tertutup Kaila.
__ADS_1
" Eh, jangan ngalangin pandangan loe! " Santo menarik tas punggung Kaila dan membuat Kaila terhuyung ke belakang.
" Eee... eehh... SANTO!!! " pekik Kaila. " Kalau gue jatuh, terus gue amnesia gimana?? " sengaknya.
" Gue selametan kalau loe amnesia. Berarti berkurang satu makhluk astral di dunia ini. " sahut Rian.
" Mulut loe ya!! Minta gue ulek gue jadiin sambal matah. " geram Kaila.
" Eh, sesama makhluk astral di larang saling menghujat. Mendingan hujat tuh, para pe tinggi yang sukanya bikin masyarakat kecil hidup makin susah. Harga cabe segala macam cabe, bawang merah, bawang putih, pada naik semua. Kayaknya cuman bawang Bombay yang kagak naik. Soalnya dia masih sibuk menangis Bombay. " sahut Arisa yang sudah mengeluarkan suaranya ngaler ngidul.
" Cabe cabean juga ikutan naik kagak Sa? " tanya Santo.
" Loe mau beli cabe-cabean Yib? Kagak takut loe, di sumpahin emak loe kena penyakit ke lamin? Dasar si Toyib! " jawab Arisa.
" Hisshh... Mulut loe!! " geram Santo, hendak memelintir bibir Arisa. Tapi bersyukur, karena sebelum ia melakukan hal itu, tak sengaja netranya bertemu dengan netra elang Roy yang sudah membuka kacamata hitamnya.
Santo lalu menarik kembali tangannya dan mengusap tengkuknya. Sambil tersenyum sumbang.
" Takut kan loe, sama laki gue?? " ledek Arisa. Ia lalu berjalan menghampiri Roy.
" Bilang aja aku saudara kamu. Beres kan? " jawab Roy enteng.
" Ck! Mana mungkin pada percaya. Secara tampang abang nangkring di mana-mana. Aku mana punya saudara CEO muda macam abang. " decih Arisa.
" Ya udah, bilang aja kalau abang pacar kamu. " sahut Roy.
" Yaaa... Sugar baby dong Arisa. " ujar Arisa sambil tersenyum jumawa.
" Terserah kamu mau bilang bagaimana. Udahan kan, acara hujat menghujat sama sahabat kamu? " tanya Roy sambil melirik ke arah tiga sekawan. Yang langsung menampilkan deretan gigi gingsul mereka.
" Udah. Rencananya, besok mau di lanjut lagi. " jawab Arisa sambil mengangguk. " Ya udah yuk, my sugar Daddy. Kita let's go tinggalin mereka kaum calon penghuni kerak ne raka. " lanjutnya.
" Kimvriitt loe!!! " umpat ketiga sahabatnya dan Arisa hanya nyengir kuda menimpali umpatan mereka.
__ADS_1
" kita duluan. " pamit Roy. Setelah ketiga sahabatnya sang istri mengangguk, Roy membuka pintu untuk Arisa. Setelah Arisa masuk, ia segera menutup kembali pintunya, dan dia berlari kecil mengitari mobil menuju pintu kemudi.
Roy menaikkan tuas rem dan memindah posisi tuas gigi ke huruf L. Mobil mulai berjalan perlahan meninggalkan area depan gerbang sekolah Arisa. Tak lupa, Roy menghidupkan lampu sein kanannya untuk masuk ke jalan raya.
Ketika sudah berada di jalan raya, Roy memindah tuas ke posisi D. Kini mobil itu mulai meluncur ke jalanan.
" Kita makan siang dulu. Baru habis itu, aku antar kamu pulang. " ucap Roy.
" Okeh. Paling asyik kalau abang nawarin makan di luar. Pasti enak. Dan Risa mau pesen makanan yang paling mahal lagi. " ucap Arisa penuh semangat.
Roy hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Bang..." panggil Arisa. Roy menoleh sebentar sebelum kembali memandangi jalanan yang padat merayap.
" Risa udah putus dari Miler. " ucap Arisa memberitahu. Ia ikut menatap jalanan yang padat di depan.
Roy kembali menoleh ke arah Arisa. Kali ini, sedikit lebih lama karena mobilnya berjalan lebih lambat.
" Kamu sedih? " tanyanya ke Arisa karena ia melihat ada awan mendung di wajah sang istri.
" Hem? " Arisa menoleh ke arah Roy. " Nggak. Ngapain sedih, coba? Aku sih malah seneng akhirnya bisa lepas dari playboy cap kadal buntung gitu. Aku tuh cuma kesel aja kalau inget. Ternyata dia selingkuhin aku. " lanjutnya menggebu.
Roy tersenyum tipis. " Berarti kamu cemburu, tahu dia selingkuhin kamu? "
" Sama sekali nggak. Gimana mau cemburu? Kalau cinta aja nggak. Aku tuh cuman kesel aja. Seorang Polaris Amalthea Prasetya, yang terkenal cantik seantero jagat raya, idaman kaum lelaki, bisa-bisanya di selingkuhin. " jawab Arisa.
" Ck! Kepedean kamu. " ledek Roy.
" Hiss... Buktinya om om aja ngejar-ngejar aku. Sampai nekat langsung di nikahin. Pastinya kan karena takut di tikung cowok lain. " sahut Arisa.
" Kamu. " ucap Roy. Ia mengangkat tangan kirinya, lalu mengusap kasar muka Arisa.
" Dih, om! Eh, abang. Tangannya bau ikan asin. " pekik Arisa.
__ADS_1
" Enak aja. Biasanya yang bau ikan asin kan kamu. " ledek Roy ganti. Dan mereka terus saling melontarkan ejekan dan candaan sampai akhirnya mereka sampai di sebuah cafe.
Bersambung