Om itu suamiku

Om itu suamiku
Terasa sesak


__ADS_3

Hari terus berganti. Satu bulan, dua bulan. Kini usia pernikahan Arisa dan Roy sudah menginjak bulan ketiga. Hubungan keduanya masih belum ada perkembangan yang signifikan.


Rutinitas merekapun masih biasa - biasa saja. Setiap pagi, Roy akan mengantar Arisa ke sekolah. Lalu siangnya, Roy pun juga menjemputnya dari sekolah.


Rutinitas itupun membuat komunitas sekolah Arisa sedikit terbakar. Desas desus seorang Polaris Amalthea Prasetya yang menjadi sugar baby pun merebak.


Tapi bukan Arisa namanya jika ia merasa pusing dengan gosip yang beredar. Ia hanya perlu menutup telinga saja. Toh pada akhirnya, mereka akan bosan sendiri. Dan benar adanya. Gosip itu perlahan mereda.


Sebenarnya, Arisa ingin sekali berteriak mengatakan jika ' om om itu laki gue!!! '. Tapi ia tahu, jika ia melakukan hal itu, maka sudah bisa di pastikan ia akan di keluarkan dari sekolah.


Tak terasa juga, kini keluarga Rakesh sedang menunggu kelahiran cucu pertama mereka. Tinggal menunggu hitungan hari, Selsa akan melahirkan. Bahkan Ruby meminta Selsa untuk tinggal di rumah besar keluarga Rakesh saat ini.


" Kak, kenapa perutnya kok kayak yang kenceng, gitu? " tanya Arisa ketika ia mengamati, perut Selsa seperti hendak mau pecah.


Ia bahkan bergidik ngeri melihat perut sang adik ipar.


" Iya. Namanya juga udah mau lahiran. " jawab Selsa.


Arisa kembali mengamati perut Selsa.


" Kamu katanya mau beli buku buat referensi tugas? " tanya Selsa.


" Nanti. Suruh nungguin abang. Mau pergi sendiri nggak boleh katanya. " jawab Arisa.


Lalu mereka bercakap-cakap seraya menunggu para suami pulang bekerja.


Sampai tak terasa, waktu terus bergulir. Adzan Maghrib berkumandang.


" Assalamualaikum... " ucap seorang laki-laki.


" Waalaikum salam. " jawab Arisa dan Selsa bersamaan. Mereka sama-sama menoleh ke arah pintu.


" Udah pulang, mas? " tanya Selsa karena yang pulang adalah suaminya. Ia berdiri dengan susah payah untuk menyambut kedatangan sang suami.


Elyas buru-buru berjalan cepat menghampiri sang istri. Ia melihat sang istri yang kesusahan untuk berdiri. Meskipun Arisa pun sedang membantu Selsa berdiri, tapi tetap saja Elyas siaga


" Sayang, duduk saja. Aku yang akan menghampirimu. " ucap Elyas sambil membantu sang istri berdiri.


Selsa tersenyum manis. " Tugas istri harus menyambut suami kala suaminya pulang dari kerja. " jawabnya.


" So sweet banget sih. " celetuk Arisa.


" Kamu juga harus seperti ini sama kakak. " timpal Selsa sambil menoleh dan tersenyum ke arah Arisa.


Arisa tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya.

__ADS_1


" Mas Elyas bersih-bersih dulu yuk. Udah magrib juga kan. " ujar Selsa ke suaminya.


Elyas mengangguk. " Kita jama'ah . " ucap Elyas sambil membalas senyuman Selsa.


" Sa, aku ke kamar dulu yah. " pamit Selsa. " Kamu juga belum magriban kan? "


" Nggak kak. Lagi di palang jalannya. Hehehe... "


" Masih dapet aja kamu. Jangan-jangan, masih segelan juga. " tanya Selsa.


" Apanya yang masih segelan? " sahut suara berat Roy yang baru masuk ke dalam rumah.


" Mau tau aja, apa mau tau banget? " goda Selsa. " Yuk ah mas. Kita ngamar dulu. Biar pengantin baru itu kepengen. " lanjutnya lalu mengalungkan tangannya ke lengan suaminya.


" Hati-hati jalannya. " ucap Roy. Ia pun memperhatikan Selsa dari belakang.


Perhatian, dan tatapan seperti itu, sering Arisa lihat dan perhatikan setelah Selsa tinggal di rumah itu. Tatapan yang mungkin, ia saja tidak mendapatkannya.


Arisa memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Entah sejak kapan, hatinya berganti haluan hanya menatap sang suami.


" Kamu ngapain berdiri saja di sana? " suara berat Roy menyadarkan Arisa dari lamunannya.


" Ah, oh, iya. " jawab Arisa gugup. Ia menunduk. " E Hem. " Arisa berdehem untuk menetralkan dadanya yang terasa sesak tadi. " Abang kenapa baru pulang? Katanya mau pulang sorean. Kan mau nganter aku beli buku. "


" Iya maaf. Tadi ada klien datang sore-sore. Aku mandi dulu, lalu sholat. Habis itu, kita langsung berangkat beli buku. " jawab Roy lembut.


" Kan aku masih berhalangan. " jawab Arisa.


" Oh. Ya sudah, kalau gitu, abang ke kamar dulu. " ujar Roy.


Kenapa Roy tidak memperlakukan dirinya seperti Elyas memperlakukan Selsa? Bahkan, setelah Selsa tinggal di rumah ini, perhatian Roy seolah tertuju ke Selsa saja. Ia hanya seperti pelengkap saja.


Arisa menghela nafas panjang dan mengikuti langkah Roy dari belakang.


" Abang mandi aja. Nih, handuknya. " Arisa menyerahkan handuk bersih ke Roy setelah mereka sampai di dalam kamar. Arisa sekarang sudah terbiasa menyiapkan segala keperluan suaminya. Berkat omelan sang ibu tentu saja.


Roy mengangguk dan mengambil handuk dari tangan Arisa.


" Abang mau pakai baju apa? Mau pakai celana panjang, atau celana pendek aja? " tanya Arisa.


" Celana... "


" Celana panjang aja deh ya bang. Entar kalau abang keluar rumah pakai celana pendek terlalu banyak mengundang maksiat. " potong Arisa cepat. Ia berlalu masuk ke dalam walk in closed untuk mengambilkan baju ganti suaminya.


" Maksiat gimana? " tanya Roy sambil melepas kancing kemejanya satu persatu.

__ADS_1


" Abang kalau pakai celana pendek bikin mata ciwi-ciwi mupeng. " sahut Arisa.


" Tapi kalau abang pakai celana panjang, terus jalan sama kamu, entar kamu di kira sugar baby nya abang. " ujar Roy. Ia mengatakan hal itu bukan tanpa alasan.


Ia tahu, apa yang terjadi dengan istri kecilnya di sekolah. Tapi ia tidak akan bertanya langsung. Ia memilih menunggu sang istri yang mengeluh dan menceritakannya. Tapi ternyata, sang istri kebal juga.


" Biarin. Kan Arisa emang kayak sugar baby nya abang. Abang isi rekening Arisa tiap bulan. Abang juga kasih uang jajan ke aku tiap pagi. " sahut Arisa. Setelah mendapatkan baju ganti untuk sang suami, Arisa berjalan keluar dari walk in closed.


" Astaghfirullah... ABANG!!! " pekik Arisa. " Kebiasaan deh abang ih. Suka bikin mata aku ternodai. " omelnya.


" Kenapa? Kamu kayak yang nggak pernah lihat aja. " sahut Roy sambil tersenyum. Tadi ia sudah melepas kemejanya dan melempar kemeja kotor itu ke dalam keranjang baju kotor. Kini ia mulai melepas celananya.


" Abang!! Buka di kamar mandi aja sana. " geram Arisa.


" Gaya kamu. Biasanya kalau cewek malu lihat laki-laki telanjang dada kek gini tuh tutup mata. Kamu tinggal tutup mata kamu aja. Biar matanya nggak ternodai. Gampang kan? " sahut Roy tanpa berniat menghentikan aktivitasnya.


Ia melepas celana kerjanya sembarangan dan melemparkannya ke keranjang. Kini di tubuhnya hanya melekat celana boxer saja.


" Ck! Mubadzir namanya kalau di kasih pemandangan indah dari Allah kok di anggurin. Kesannya jadi nggak mensyukuri nikmat Allah SWT. " timpal Arisa santai. Ia masih saja memandang tubuh atletis suaminya yang sebenarnya membuatnya mupeng.


Roy menggeleng - gelengkan kepalanya mendengar jawaban wow dari sang istri. Ia lalu berjalan menuju ke kamar mandi dan segera membersihkan diri.


" Yakin, kamu nyuruh abang pakai baju kek gini? " tanya Roy kala ia melihat baju yang di siapkan sang istri.


" Abang katanya mau sholat kan? Masak iya, sholat pakai kaos tanpa lengan? Ya Arisa ambilin baju Koko lah. " sahut Arisa yang tengah duduk di tepi ranjang.


" Terus, habis sholat, bajunya mana? " tanya Roy sambil membolak-balik baju yang di siapkan Arisa.


" Ya udah, sekalian aja pakai itu. Kasihan bibi nyucinya kalau abang keseringan ganti baju. " jawab Arisa seadanya.


" Ck! Sekalian nggak abang entar pakai kopiah juga? "


" Wah, boleh tuh. Biar nggak ada cewek yang mupeng. Kan abang udah kek ustadz. " jawab Arisa sambil nyengir.


Roy kembali menggelengkan kepalanya. Daripada ia makin pusing dengan jawaban sang istri, ia memilih diam dan memakai baju yang sudah di siapkan oleh Arisa.


Lalu ia segera menggelar sajadahnya dan melakukan sholat magrib. Sedangkan Arisa, ia menunggu dengan tenang di atas ranjang.


" Abang makan dulu? " tanya Arisa ketika ia melihat sang suami selesai melaksanakan shalat.


" Kamu udah makan? " tanya Roy sambil melipat sajadahnya.


Arisa menggeleng. " Belum. "


" Ya udah, kita makan di luar aja nanti. Keburu kemaleman. Katanya, bukunya besok udah harus ada. " sahut Roy.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2