
Arisa masih setia dengan keterdiamannya. Meskipun sekarang di sebelahnya sudah ada segelas es boba, juga beberapa jajanan pinggir jalan kesukaannya.
Roy sengaja berhenti di pinggir jalan tadi untuk membelikan makanan untuk sang istri sebelum nanti ia mengajak sang istri makan siang.
Roy tahu, jika ia mengajak Arisa makan sekarang, percuma. Sang istri pasti belum mau makan. Nyatanya, sekarang saja sudah ada beberapa camilan kesukaannya saja, ada siomay, batagor, cilor, cilok, Arisa masih tetap mendiamkannya.
Mereka kini duduk di sebuah bangku di sebuah taman dengan pepohonan yang rindang hingga menciptakan suasana yang sejuk.
Arisa masih setia dengan kegiatannya memalingkan wajahnya.
" Maafkan aku. " ucap Roy membuka suara.
Arisa menghela nafas beratnya. " Kenapa dari tadi abang minta maaf terus? Emangnya abang punya salah sama aku? " tanya Arisa dengan suara dinginnya. Ia masih enggan menoleh ke arah Roy.
Kini Roy yang menghela nafas panjang.
" Banyak. " jawab Roy singkat. " Maaf untuk semuanya. Maaf, untuk semua sikapku selama ini. Dan maaf untuk yang tadi malam. Maaf, karena aku tidak menemanimu makan malam, tidak menemanimu mencari buku, aku malah meninggalkanmu begitu saja. "
Roy menjeda omongannya.
" Maaf aku tidak memikirkan perasaanmu. Aku pergi begitu saja. Padahal aku sudah berjanji untuk menemanimu membeli buku. " lanjutnya.
Ia berhenti. Ia memperhatikan Arisa yang masih enggan memandangnya. Ia menunggu jawaban dari Arisa. Tapi setelah beberapa saat, Arisa masih tetap diam. Hanya deru nafasnya yang memburu yang terdengar lamat-lamat di telinga Roy.
Roy tahu, Arisa masih memendam amarah.
" Sa.. " panggil Roy sambil mencoba menggenggam tangan Arisa. Tapi segera Arisa tepis.
" Apa sih pegang-pegang!! " ketus Arisa.
" Arisa... " panggil Roy kembali. Tapi kali ini penuh dengan penekanan.
" Aku minta maaf. Kamu jangan diam saja. Aku menyesal. Benar-benar menyesal. " lanjutnya dengan nada serius dan tegas.
" Bagus kalau abang tahu diri. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dan orang akan meminta maaf jika ia sudah menyesal. " sahut Arisa ketus dan datar.
" Kamu kemana semalam? Kenapa tidak pulang ke rumah setelah mencari buku? " tanya Roy.
" Mau aku kemana, apa perduli abang? " cibir Arisa.
" Arisa... " ujar Roy sedikit meninggikan suaranya. Ia memang terbiasa untuk tidak di bantah. Tapi berhadapan dengan Arisa, ia menemukan banyak hal baru.
" Kamu bilang apa? Aku tidak peduli sama kamu? "
__ADS_1
" Cih! " Arisa berdecih. " Iya. Abang hanya peduli dengan adik abang saja. "
Roy memejamkan kedua matanya. Berusaha untuk bersabar.
" Selsa mau melahirkan. Kamu tahu dan lihat sendiri kan? "
" Iya. Dan aku juga lihat, sudah ada suaminya di sana. Juga mama. " sahut Arisa tak mau kalah.
" Arisa... " suara bariton Roy melembut.
" Jangan abang pikir karena aku masih kecil, dan aku tidak tahu apa-apa. Aku tahu semuanya. Aku bisa merasakan semuanya. "
" Apa maksud kamu, Sa? Tahu apa? " Roy mengernyitkan dahinya.
" Abang menikahi aku hanya untuk pelarian, kan? Sebenarnya di hati abang sudah ada perempuan lain. Tapi abang.... " Arisa menjeda omongannya. Hatinya terasa sakit. Ia memejamkan kedua matanya sebelum akhirnya dia berucap, " abang tidak akan mungkin bisa memilikinya. " lanjutnya dengan suara bergetar.
Roy makin mengernyit dalam. Apa yang di maksud istrinya? Jangan bilang.... Ah!!! Roy mengusap rambutnya kasar.
" Aku bukan manekin yang hanya bisa berdiri. Tapi aku punya perasaan. Abang bilang aku istri abang. Abang mengajakku untuk belajar saling menerima dan menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh. Tapi abang sendiri yang tidak bisa melakukannya. " lanjut Arisa.
" Abang mencintai adik abang, kan? " lanjutnya tegas, dengan nada dinginnya tapi juga bergetar.
Deg. Roy terhenyak. Apa ini? Jadi benar, istrinya mengetahui hal ini?
" Arisa... A-"
" Abang minta aku untuk bicara kan? Jadi biarkan aku mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Biar aku lega. " potong Arisa. Dan Roy pun kembali diam.
" Selama ini aku diam. Bukan berarti aku tidak peduli. Bagiku, asal abang masih memperhatikan aku, masih ada untukku, aku akan tetap diam. Tapi semalam... Apa yang abang lakukan, membuat hatiku terasa sesak. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. " ujar Arisa masih dengan menggebu-gebu. Tapi tanpa ia sadari, air matanya menetes.
" Aku tidak suka. Aku tidak suka dengan perasaan ini. Perasaan ini jadi nggak bisa buat aku untuk bersikap cuek dan masa bo doh. " lanjutnya sambil sesenggukan.
Arisa mengusap air matanya kasar dengan punggung tangannya.
" Arisa benar-benar tidak menyukai perasaan ini. Rasa ini bikin aku lebay. Bikin aku nangis kan.... Hiks .. Hiks .... "
" Aku mencintaimu. " ucap Roy tegas.
" Abang nggak usah nenangin aku dengan kata-kata cinta. Jangan bikin aku baper dong bang... " rengek Arisa. " Aku nggak suka ih. " imbuhnya.
Roy lalu menurunkan tubuhnya. Ia jongkok di depan Arisa sambil mengambil tangan Arisa dan di genggamnya.
" Abang apa-apaan ih. " protes Arisa kala melihat suaminya malah berjongkok di depannya. Ia juga berusaha menarik tangannya, tapi Roy menggenggamnya erat.
__ADS_1
Hingga tatapan mata mereka bertemu. Tapi Arisa segera memutus tatapan itu dengan mengalihkan pandangannya sembari menarik ingusnya.
" Arisa... Selama ini abang belum pernah mengatakannya. " ucap Roy.
" Aku mencintaimu, Arisa. Abang sangat mencintaimu. "
" Nggak usah ngalihin perhatian deh bang. " cicit Arisa. Ia tidak mau merasa baper, yang nantinya ia akan kembali merasa sakit.
" Abang nggak tahu apa yang ada dalam pikiran kamu. Tapi abang akan mencoba menjelaskan. " Roy mulai berucap dengan nada lembut.
" Dulu, abang memang menyukai Selsa. Dan benar seperti apa yang kamu bilang. Abang tidak akan mungkin memilikinya. Karena bagaimanapun juga, dia adalah adik abang. " Roy mulai menjelaskan.
" Tapi semenjak abang bertemu dengan kamu waktu pertama kali di restoran waktu itu, hati abang terusik. Sampai akhirnya abang sengaja membuat kamu untuk menjadi asisten abang waktu kamu magang. Abang merasa hari-hari abang terasa berwarna. Sampai akhirnya entah dorongan dari mana, abang ingin memiliki kamu. " lanjutnya.
" Tapi sungguh, ketika abang melamar kamu, mengajakmu menikah, tidak ada niatan abang untuk hanya sekedar menjadikan kamu sebagai pelarian. Abang serius ingin membina hubungan sama kamu. Meskipun waktu itu, kita sama - sama tahu, jika rasa cinta itu belum ada di antara kita. "
Roy menjeda omongannya. Ia menarik nafas sejenak.
" Maaf, jika kemarin-kemarin kamu sempat melihat abang memperhatikan Selsa. Sungguh, abang tidak menyadarinya. Mungkin karena kebiasaan lama abang ke dia seperti itu. Tapi ... " Roy kembali menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya.
Ia menatap lekat wajah Arisa.
" Kini abang sadar, dan tahu, jika mencintai kamu, tidak memerlukan waktu yang panjang. Bersama dengan kamu, abang merasa hidup abang jauh lebih berwarna. Abang merasa bahagia bersama kamu. Dan abang, tidak ingin kehilangan kamu, selamanya. "
" Untuk masalah Selsa, abang pastikan, di hati abang sudah tidak ada lagi nama Selsa. Sekarang, di hati abang, hanya ada nama kamu... Arisa.. Polaris Amalthea Prasetya.. Istrinya Roy Aditama. " ujar Roy sambil tersenyum.
Sedangkan Arisa, ia merasa hidungnya seperti kembang kempis. Hatinya berbunga-bunga. Di atas kepalanya seperti banyak kupu-kupu kecil beterbangan.
Roy sedikit menegakkan tubuhnya. Lalu ia menangkup kedua pipi Arisa hingga mau tidak mau, Arisa harus menghadap kepada Roy.
" Polaris Amalthea Prasetya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, istriku. " ucap Roy sambil menatap dalam mata Arisa. Menunjukkan kesungguhannya.
" Jangan pernah meninggalkanku . Apapun alasannya, jangan pernah jauh dari pandanganku. Hari ini, adalah yang pertama kali kamu menghilang dan membuatku kebingungan mencari. Jangan pernah lakukan lagi. " pinta Roy sungguh - sungguh.
Arisa mengulum senyumnya. Air matanya sudah berhenti mengalir.
" Kalau abang bikin hatinya aku lebih sakit dari ini, aku pastikan akan pergi sangat jauh hingga abang tidak akan pernah bisa menemukanku. " sahut Arisa sambil membalas tatapan mata Roy.
" Aku tidak akan membuat hatimu terluka lagi. " jawab Roy juga dengan sungguh-sungguh.
" Jadi sekarang, bagaimana dengan perasaan kamu? Apakah kamu juga mencintaiku? " tanya Roy.
Bersambung
__ADS_1