Om itu suamiku

Om itu suamiku
Pulang ke rumah mertua


__ADS_3

Setelah bermelow-melow dengan ibunya, akhirnya kini Arisa telah sampai di kediaman keluarga Rakesh. Roy menarik kopernya dan Arisa mengikuti dari belakang. Wajahnya masih terlihat sendu.


" Sayanggg... " sapa Ruby dari dalam rumah. Ia sudah tahu jika pasangan pengantin baru itu akan pulang ke rumahnya hari ini. Makanya, nyonya rumah satu itu sudah sibuk mulai dari pagi hari. Ia memasak, membersihkan kamar sang putra, dan masih banyak lagi yang lainnya.


Ia langsung menarik Arisa dan memeluk menantunya itu erat.


" Mama... " sapa Arisa balik.


" Kamu apa kabar? "


" Alhamdulillah, Arisa baik ma. Mama sendiri gimana? "


" Alhamdulillah, mama juga baik. Papa juga. Tapi maaf, papa tidak bisa menyambut kalian. Ada kerjaan di kantor yang tidak bisa di tinggal. Gara-gara anaknya nih, ngajuin cuti dadakan. Padahal udah tahu kalau ada janji ketemu klien. " sengit mama Ruby sambil melirik ke arah Roy.


" Kan Roy mau siap-siap pulang kesini. Kalau Roy sibuk terus, yang ada kita nggak jadi pulang kesini loh. " sahut Roy.


" Ck. Ya udah, ayo masuk. Jangan di luar terus. "


" Kan mama yang belum ngajakin masuk. " seloroh Arisa.


Tapi ia buru-buru menutup mulutnya. Ia sudah terbiasa bercanda tanpa ada batasan, baik dengan ibunya, para onta dan ontinya, juga dengan teman-temannya. Kebiasaan itu jadi terbawa.


Ruby tersenyum. " Jangan sungkan. Mama juga aslinya suka bercanda. Anak mama aja nih yang nggak mau di ajakin bercanda. Jadinya, mama hampir lupa gimana caranya bercanda " ucapnya menenangkan sang menantu baru. Ia tidak ingin menantunya itu merasa tidak nyaman tinggal bersamanya.


" Maaf, ma. Bibir Arisa suka blong remnya. Bahkan kadang sampai nggak punya rem. " ujar Arisa sambil tersenyum garing.


" Udah santai aja. Anggap saja mama ini juga seperti ibu kamu. " ujar Ruby sambil menepuk-nepuk bahu Arisa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sedangkan Roy, ia sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


" Kamu, masuklah ke kamar dulu. Istirahat, lalu bersih-bersih. Nanti kita makan malam bersama. Selsa sama Elyas juga akan kesini nanti. " ujar Ruby.


" Iya, ma. " jawab Arisa. Ia berjalan sebentar, lalu berbalik. " Ma.. " panggilnya. " Kamar Arisa yang mana? "


" Ah, dasar si Roy. kenapa kamu malah nggak di ajak. " sahut mama Ruby. Ia lalu segera menghampiri sang menantu.


" Kamu lihat? " Mama Ruby menunjuk lantai 2 rumahnya yang terlihat dari tempat mereka berdiri saat ini. " Kamar yang paling pojok kiri itu kamar suami kamu. "


" Kok kamar abang ma? Katanya kamar Arisa. "


Hah. Polos, apa pura-pura polos? Itulah yang reader pertanyakan.

__ADS_1


" Kan kamu istrinya Roy. Tentu saja kamar Roy juga kamar kamu dong. Mana mungkin suami istri kok tidurnya misah. Yang ada, mama nanti tidak cepat punya cucu. " sahut mama Ruby.


" Cucu ya ma? Hehehe... " Arisa menjadi canggung. Ia bahkan sudah tertawa garing. Baru saja beberapa malam ini suaminya menciumnya sebelum mereka terlelap, rasanya sudah entah apa.


" Iya dong. Mama pengen banget nimang cucu dari Roy dan kamu. Nanti kan jadinya pas tuh. Bentar lagi, Selsa melahirkan. Tahun depan, anak Selsa udah satu tahun, gantian kamu yang melahirkan. " ucap Mama Ruby menggebu-gebu.


" Insyaa allah ya ma. Anak kan rejeki dari Allah. Se dikasihnya Allah. " jawab Arisa diplomatis.


" Iya. Mama juga nggak menuntut kamu buat ngasih cucu mama sekarang. Sekolah dulu, lulus dulu. Baru deh mama minta cucu. " kekeh Mama Ruby.


" Ya sudah, buruan naik. Istirahat sana. " ujar mama Ruby.


Arisa mengangguk, lalu ia berjalan menuju ke tangga.


🌷🌷🌷


" Wuaaahhh.... Gede banget kasurnya. " Arisa menatap takjub kamar Roy yang memang sangat besar. Mungkin berukuran dua kali lipat dari kamarnya di rumah.


Apalagi ketika matanya sampai ke ranjang super king size milik Roy. Ranjang yang mungkin hanya orang-orang tertentu yang memilikinya karena ranjang dan kasurnya di pesan dengan ukuran khusus.


" Bagus.... Bagus.... " Arisa terlihat manggut-manggut. " Seenggaknya, di sini, gue bisa tidur berjarak sama om. " lanjutnya masih bermonolog. " Ngeri juga lama-lama tidur bareng suami. Bisa-bisa, gue yang khilaf sebelum waktunya. " kekehnya.


" Ngomong-ngomong, yang punya kamar kemana nih? " ucapnya masih bermonolog. Lalu terdengar suara gemericik dari dalam mandi. " Oh, lagi mandi? "


Ceklek


Suara pintu kamar mandi di buka. Roy keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang dengan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Keluar dari dalam kamar mandi, ia di suguhi pemandangan sang istri yang tengah merebahkan tubuhnya telungkup di atas ranjangnya.


" Nggak mau mandi? Udah sore juga loh. Bentar lagi magrib. " ucap Roy sambil mendekati ranjang.


Mendengar suara sang suami, Arisa bergerak. Ia merubah posisi telungkupnya, hingga telentang. Tapi baru saja ia telentang, ia sudah di suguhi pemandangan sore yang begitu indah.


Kedua mata Arisa mengerjab dengan lucu beberapa kali sebelum ia enggan mengerjabkan matanya takut pemandangan yang ada di hadapannya ini menghilang.


" Matanya kedip. Entar kering. " ucap Roy terkekeh sambil mengusap wajah Arisa.


Membuat si empunya mendengus kesal. " Abang ih, gangguin orang lagi menikmati pemandangan. " gerutunya.

__ADS_1


" Mmm.... Mau lihat pemandangan yang lebih memikat, nggak? " goda Roy sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Arisa mendongak. Ia merubah posisinya menjadi duduk. " Pemandangan apa? Bisa lihat gunung Tangkuban Parahu gitu dari kamar ini? " tanyanya antusias.


" Lebih menakjubkan daripada gunung. "


" Apa? "


Lalu Roy mulai meraba lilitan handuk yang bertengger di pinggangnya. Sorot mata Arisa pun mengikuti.


" ABANG!!!! " pekiknya. " Me sum ih!!" lanjutnya. Ia histeris, tapi matanya tetap menatap gerakan tangan Roy. Sedangkan Roy ia tetap hendak melepas lilitan handuknya.


" STOP!! Jangan di terusin. Entar Arisa bisa khilaf beneran loh. " ujar Arisa seolah dia yang akan melahap tubuh Roy.


Roy terkekeh. " Harusnya tuh, laki-laki yang bilang kayak gitu. " kembali Roy mengusap wajah Arisa.


" Namanya juga jaman emansipasi wanita bang. " sahutnya. " Awas ah, Arisa mau mandi juga. " ia sedikit mendorong tubuh suaminya . Ia bangkit dari duduknya dan hendak masuk ke dalam kamar mandi, tapi Roy mencekal lengannya.


" Ada apa? " Arisa menoleh ke arah Roy.


" Kamu nggak adil. " ucap Roy.


Arisa mengernyit. " Nggak adil... Maksudnya? "


" Kamu udah lihat tubuhku hari ini. Tapi kamu tidak mengijinkan aku melihat tubuh kamu. Katanya emansipasi wanita? "


" IH!!! " pekik Arisa sambil menaruh kedua tangannya di depan dada. " Arisa di suruh telan jang gitu, maksudnya? " ia lalu menggelengkan kepalanya kuat. " Nggak... Nggak ... Nggak....Aku masih mau lulus sekolah. Abang jangan lupa dengan kesepakatan kita dulu. "


" Ck! Abang nggak minta kamu buat telan jang. Abang cuma mau kamu membuka jilbab kamu jika sama abang. Itu aja. "


" Ta-piii.... " Arisa terlihat ragu.


" Abang ini suami kamu Sa. Suami sah, meski baru secara agama. Tapi tetap saja abang ini sah, buat lihat rambut kamu. " ucap Roy dengan serius.


" Atau jangan-jangan... Kamu botak ya... Makanya malu kalau sampai abang tahu.... " ledek Roy. Meminta baik-baik ke Arisa sepertinya akan sulit. Oleh karena itu, Roy memilih cara dengan meledek.


" Lagian, Abang juga nggak bakalan minat meskipun kamu telan jang. Abang nggak suka sama body yang rata. " ledeknya kembali.


Arisa terlihat geram. " Wah, nantangin nih om om atu. "

__ADS_1


" Jangan panggil aku Arisa Prasetya kalau punya om nggak berdiri. " ucapnya penuh kekesalan.


bersambung


__ADS_2