Om itu suamiku

Om itu suamiku
Interogasi


__ADS_3

Sedari pagi, hingga menjelang siang ini, Kaila serta Santo selalu memperhatikan gerak-gerik Arisa yang terlihat tidak seperti biasanya.


Wajahnya nampak seperti wajah kecapekan, kurang tidur dan kurang bersemangat. Tapi kalau kurang gai rah, kayaknya nggak deh. Secara tadi pagi kan hampir aja.


Ia duduk dan berjalan dengan tidak nyaman. Seperti gelisah ketika duduk, dan berjalan dengan langkah perlahan. Sungguh bukan seperti Arisa yang sehari-harinya tidak bisa bersikap lembut. Lebih ke gasrak gusruk.


Kaila dan Santo saling menyenggol kan lengan, saling menatap dengan mulut komat-kamit seolah saling bertanya ada apa. Mereka saat ini sedang duduk di kantin, dengan posisi Kaila dan Santo saling berdampingan, dan Arisa berada di depan mereka.


" Sa! " panggil Kaila.


Sontak Arisa mendongak memandang ke arah Kaila yang berada di depannya. Mengalihkan kegiatannya yang sedang memasukkan sesendok bakso beserta kuahnya.


" Lo kenapa sih? Dari tadi kita perhatiin gak kayak biasanya. " tanya Kaila penuh selidik.


" Ish, maksud loe apaan? " bukannya menjawab, Arisa ganti mengajukan pertanyaan.


" Dari pagi loe tuh kayak yang gak semangat gitu. Udah gitu, loe nggak pecicilan kek biasanya. Loe lebih kalem hari ini. " Kaila mulai menjelaskan apa yang ia perhatikan semenjak pagi.


" Nggak mungkin kan, seorang Arisa tiba-tiba insyaf, terus jadi cewek lembut yang lemah gemulai. " lanjutnya.


" Loe kata gue ben_ces say??? " sahut Arisa dengan nada suara dan gerakan tangan mirip seorang ban ci perempatan.


" Ish, najissss!!!! " sahut Santo bergidik ngeri juga geli.


" Sa, beneran deh. Gue serius nanya ini. " ujar Kaila. " Kita perhatiin eloe loh dari tadi. Jalan loe udah agak-agak kek angsa ya San? " ia mencari pembenaran dari Santo.


Santo hanya mengangguk sambil tetap menikmati baksonya.


" Kek habis di sunat. " celetuk Santo.


" Nah, bener tuh. " Kaila membenarkan.


" Habis di sunat apaan? " Arisa mengekeh garing. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Jangan sampai apa yang terjadi pada dirinya semalam di ketahui oleh kedua sahabat luc nutnya ini.


Sudah sedari sampai di sekolah tadi, Arisa berusaha berjalan seperti biasa. Meskipun bagian bawahnya masih sedikit sakit setelah di kasih obat oleh Roy, Arisa tetap berusaha berjalan normal.


Tapi namanya juga manusia. Gudangnya khilaf. Mungkin karena gesekan pa ha yang membuat bagian bawahnya terkadang terasa perih dan ada yang mengganjal, Arisa berjalan dengan sedikit mengang kang.

__ADS_1


" Kayaknya bukan habis di sunat deh. Dia kan udah di sunat waktu kecil. " sahut Kaila kembali. Ia nampak berpikir.


" Ah, gue tahu. " ucapnya kencang. Bahkan suara traktor aja kalah. Beberapa siswa yang ada di kantin menoleh ke arahnya.


" Bisa nggak sih, kalau bicara nggak bikin kaget? Untung gue kagak keselek nih bakso. Kalau sampai gue keselek, gue bakalan tuntut loe. " sengak Santo sambil menunjuk ke arah mangkok baksonya.


" Ish!!! " Kaila hanya melirik sinis ke arah Santo.


" Iya nih. Jangan suka ngeluarin suara gledek loe di saat yang nggak tepat gini lah. Untung aja si Toyib kagak keselek sendok sama garpunya. " sahut Arisa sambil terkekeh.


" Sa, loe udah di perawanin laki loe ya? " tanya Kaila tanpa pembuka.


Ha???? Santo dan Arisa di buat melongo dengan pertanyaan yang Kaila ucapkan.


Beda dengan si Arisa yang tiba-tiba agak gugup. Santo langsung menatap horor ke arah Arisa. Kini, Kaila dan Santo sama-sama menatap tajam ke arah Arisa. Dan membuat Arisa seperti sedang di hakimi.


" Kenapa kalian jadi mandangin gue kek gitu sih? " ujar Arisa kaku dan gugup. Matanya bahkan bingung harus menatap kemana.


" Jujur loe sama kita-kita. Beneran loe udah gituan sama om itu? " tanya Santo.


Ia memang paling tidak bisa berbohong dengan kedua sahabatnya ini. Apapun yang terjadi dengan dirinya, kedua sahabatnya ini pasti tahu.


Tapi masalah ini, apakah ia juga harus jujur? Bukankah ini privasi? Tapi pandangan mata mereka membuat nyali Arisa menciut. Dan hanya mereka berdualah yang bisa membuat Arisa merasa terpojok. Seperti saat ini.


" Harus kita katakan dengan jelas, gitu? " jawab Kaila sambil menyipitkan kedua matanya.


Glek


Makin susah aja nih ludah di telen. Batin Arisa.


" Udah deh Kai. Kagak usah di jawab juga, kita udah tahu jawabannya apa. Loe lihat kan, raut wajah si Arisa kek apa. Hafal lah loe! " ujar Santo.


" Iya, gue tahu. Gue cuman pengen dia jujur aja. " sahut Kaila sambil menatap Santo.


" Sa, loe kan masih sekolah. Kenapa loe mau di ajakin begituan? Bukannya kalian udah sepakat, belah durennya entar nungguin loe lulus dulu. " ujar Kaila.


" Yaaaa... Gimana yaaa... Namanya juga udah kebelet. Kayak kalau loe mau bo_ker. Nggak bisa di tahan kan? " jawab Arisa.

__ADS_1


" Terus, kalau loe hamidun gimana? Masak loe mau ke sekolah sambil bawa perut buncit loe. "


" Kenapa mesti bingung kalau emang gue hamil. Gue punya laki kan? Ada bapaknya. Kalau masalah sekolah, kita lihat aja entar. " sahut Arisa diplomatis.


" Kalau emang gue di kasih rejeki dari Allah buat punya anak dalam waktu dekat, ya pastinya perut gue, gue bawalah kemana-mana biarpun udah segede gentong juga. Masak iya, kalau mau sekolah orok gue, gue lepehin dulu gitu di rumah. Habis pulang sekolah, gue telen lagi? Di pikir lagi ngemut permen. " kekeh Arisa.


" It's oke. Kita bakalan jagain loe di sekolah. Loe tengah aja. " sahut Santo.


" Cieehh!!! Ini nih my bro. Gue suka gaya loe. " sahut Arisa bangga.


" Gue juga lah. Gue seneng mau jadi onty. " sahut Kaila.


" Onty, onty. Anak si Arisa, gue suruh manggil loe bibik. " sahut Santo.


" Di kata gue tukang bersih-bersih di rumah dia. " sengak Kaila.


" Loe berdua kenapa jadi ribut, elah. Gue aja belum hamil, woy!! " sahut Arisa sambil geleng-geleng kepala.


" Eh, ngomong - ngomong, emang beneran enak ya Sa? Kek yang pernah kita tonton. Kita yang cuman nonton doang aja bisa kelojotan. " ujar Kaila, membuat Santo melotot ke arahnya.


" Astaghfirullah..!!! Nyebut Kai, nyebut!!! Kalian ternyata.... " ujarnya.


" Sekali doang Yib. Si Kai-kai tuh yang ngajakin. Karena penasaran, ya gue main ikut aja. "


" Ish loe juga suka. "


" Eh, tapi kita nontonnya juga nggak sampai selesai kok. Udah nggak nahan kita. " sahut Arisa kembali.


Tak


Tak


Santo memukul kepala Kaila dan Arisa bergantian mengunakan garpu yang masih bersih dari dalam wadahnya.


" Addduhhh!!! " Kaila dan Arisa memegang kepala mereka bersamaan. Lalu mengusapnya. Dan setelahnya, mereka malah tertawa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2