
" Neneeeeekkkkk!!!! " pekik Arisa kala melihat kedatangan sang nenek, yaitu emak Komsah. Ia berlari menuruni tangga rumahnya menghampiri sang nenek.
Setibanya di dekat neneknya, Arisa langsung menghambur memeluk sang nenek.
" Risa kangen sama nenek. " ucapnya dalam pelukan emak Komsah.
" Kalau kangen, kenapa kagak pernah main ke kampung? " si nenek berpura-pura merajuk.
Arisa melepas pelukannya. " Kan Risa baru libur sekolah nek. Baru mau rencana ke kampung. Eh, nggak tahu ayah sama ibu mau ada pesta apaan. Nenek udah di undang kesini aja. " sahutnya.
Nenek Komsah tersenyum, lalu menangkup kedua pipi Arisa. " Cucu nenek udah gede ya. " ucapnya sambil dengan mata berkaca-kaca.
" Iyalah nek. Di kasih makan sama ayah sama ibu. Enak enak pula. " jawab Arisa. " Udah mau kelas XII. Bulan depan udah 18 tahun loh. Samaan tuh kek si Orisinil. "
" Apa loe!!! " si pemilik nama tak terima namanya di ganti asal oleh sang kakak.
" Nama loe kan ORI. Kepanjangannya ya Orisinil. Wleekkk!!! " ledek Arisa.
" Awas, minggir loe kak. Gue juga mau peluk nenek. Emang loe doang yang kangen. " Ori menyingkirkan tubuh Arisa kasar dari hadapan nenek Komsah.
" Isshhh!!! Ori ah! Hampir jatuh kan gue? Udah badan kek gajah gitu. "
" Gajah darimana? Badan gue kekar gini. Fitness terus tiap hari oey! " Ori tak terima.
" Hola adik gue yang paling ganteng.... " sapa Arisa ke sang adik yang lebih suka tinggal bersama sang nenek di kampung.
Arisa menghampiri sang adik yang juga telah beranjak dewasa. Usianya hanya terpaut 22 bulan dari Arisa dan Ori.
" Kakak apa kabar? " tanya sang adik sambil memeluk sang kakak.
" Alhamdulillah. Kakak selalu baik. Kakak tuh nggak baiknya kalau si Ori lagi rese. " jawab Arisa sambil melirik ke arah Ori.
" Loe tuh biangnya rese. " sahut Ori.
" Loe gimana kabarnya? " tanya Arisa ke Zavi, sang adik.
__ADS_1
" Kamu, kak. Alhamdulillah, aku baik. " jawab Zavi kalem. Anak Andhara yang satu ini lebih banyak mewarisi sifat sang ayah yang lebih terlihat dewasa dan kalem.
" Dih, harusnya si Zavi nih yang tinggal di rumah. Si Ori yang minggat dari rumah. " cebik Arisa.
" Eh, malah jadi lupa. Ayo masuk nek. Ibu, Oma, opa, ayah, lagi ngumpul di teras belakang. Lagi ngeliatin orang pasang dekorasi. Tau mau buat apa. " ujar Arisa yang panjang seperti gerbong kereta.
Di teras belakang, semua sudah pada berkumpul. Mereka menyambut kedatangan emak Komsah dan anak ketiga dari Julio dan Andhara, Zavi. Bahkan para sahabat Andhara juga berkumpul di sana. Malam ini, mereka sepakat akan menginap di rumah itu. Sebagian di rumah opanya Arisa, sebagian lagi di rumah Arisa.
" Onta, sebenarnya mau ada acara apaan sih? Kok semua pada ngumpul gini. " rayu Arisa ke Putra. Onta kesayangannya.
" Besok princess juga akan tahu. " jawab Putra. " Tunggu aja besok, oke. "
Arisa cemberut. " Perasaan cuman Arisa doang deh yang nggak tahu mau ada acara apa. "
" Nggak juga. Tuh si Kevin sama Chikita nggak tahu. "
" Idih! Masak Risa di samain sama mereka sih. Risa kan udah gede, onta. Tuh, si Bagas aja pasti tahu. Kalau dia kagak tahu, nggak mungkin dia bantu-bantu. " keluh Arisa sambil menunjuk ke arah putra kedua pasangan Putra dan Lila. Bagas berusia 10 tahun.
" Yaa.. Karena dia mau bantu-bantu aja. " jawab Putra.
" Udah, mending princess nya onta tidur aja. Udah malem kan? Biar besok fresh. Kagak lungset mukanya kayak kertas buram bekas bungkus bakwan. " ujar Putra sambil membelai puncak kepala Arisa yang tertutup jilbab.
" Haisshhh!! Onta nggak pren lah sama incess. Nggak sayang. Nggak asyik lah pokoknya. " protes Arisa sambil berlalu meninggalkan teras belakang sambil menghentak-hentakkan kakinya.
" Kira-kira, bakalan kejadian nggak ya, kejadian 19 tahun yang lalu? " ujar Soni.
" Kejadian apaan maksud nya? " tanya Sabil.
" Kejadian waktu emaknya si princess bar-bar kawin. " sahut Lila.
" Hem? " beo Sabil.
" Dulu, dokter Julio nikahin si Dhara juga kagak pakai bilang-bilang. Alhasil si Dhara pingsan pas habis ijab qobul, dia di minta keluar sama pak penghulu. "
" Pingsan? "
__ADS_1
" Iya. Kaget dia. Syok. Karena nggak nyangka dia di halalin sama pak dokter yang sering dia recehin. " sahut Soni.
" Apa loe? Sukanya pada gibahin. " sahut Andhara.
" Bukan gibah, say. Tapi kita bercerita kenyataan. " sahut Lila.
" Gue pingsan waktu itu karena gue kagak loe kasih makan ya. Udah perut kosong, tenggorokan seret, eh, di kasih kenyataan yang nggak pernah gue sangka-sangka. "
" Tapi gue rasa, si Arisa kagak bakalan pingsan lah. Kan besok cuma tunangan doang. Bukan di halalin tanpa bilang-bilang. " sindir Andhara ke sang suami yang berada tak jauh darinya.
" Tapi kamunya mau kan? " jawab Julio yang sudah berada di sampingnya dan menelusupkan tangannya ke pinggang sang istri.
" Yaa .. gimana nggak mau? Kalau yang halalin gantengnya kek gini. " goda Andhara sambil mengerlingkan sebelah matanya dan mencolek dagu Julio. Membuat Julio terbahak-bahak.
" Mubadzir kalau di sia-sia in. " lanjutnya.
" Semoga Arisa juga bisa bersikap seperti kamu. " ucap Julio.
" Amiin. Semoga ya bang. " jawab Andhara.
" Ibu yakin, si kakak bakalan terima? " tanya Zavi yang tiba-tiba nimbrung di antara para orang tua.
Julio dan Andhara membalikkan badannya. " Doa'in aja, sayang. " jawab Andhara. Ia memeluk sang putra dari samping.
" Zavi kasihan sama kakak. Zavi denger, calon suami kakak jauh lebih tua dari kakak. " ujar Zavi.
Andhara mengangguk. " Usia bukan penghalang kebahagiaan seseorang nak. Kita berdoa saja, semoga calon suami kak Risa, bisa seperti ayah. Usia ayah sama ibu juga terpaut jauh. Tapi kami bisa menjalani rumah tangga ini dengan bahagia. Hingga kalian, anak-anak ibu dewasa. Iya, kan? "
Zavi terdiam.
" Ibu tahu, kamu adalah adik kakak yang paling dekat dengan kakak. Jadi ibu harap, Zavi bisa mendukung kebahagiaan kakak. Doa'in yang terbaik buat kakak, sayang. "
Zavi akhirnya mengangguk. " Bu, boleh nggak malam ini Zavi tidur bareng kakak? Mungkin setelah kakak jadi istri orang, Zavi nggak bisa bobok bareng kakak lagi. " pintanya.
" Boleh, sayang. " jawab Andhara sembari tersenyum dan mengusap bahu sang anak. " Tapi ingat, jangan kasih tahu kakak dulu soal acara tunangan kakak besok. Oke?? " pintanya dan Zavi mengangguk, lalu ia berlalu meninggalkan teras dan menyusul sang kakak yang sudah pergi ke kamarnya.
__ADS_1
bersambung