
Sudah dua minggu ini Victor bekerja di perusahaan papanya, setiap pulang sekolah ia di antar oleh pak Nanang ke kantor, Victor sudah banyak memahami dunia bisnis selama ia di hukum.
Bagaimana tidak, setiap ia memasuki ruangan papanya, ia akan diberi buku-buku yang menggunung dan selalu dipantau agar ia memahami sedikit demi sedikit dunia perbisnisan, sambil sesekali belajar mengecek laporan yang diberikan oleh papa Heru.
Victor terlihat bersungguh-sungguh menjalani hukuman itu, karena ia tidak mau membuat orang tuanya kecewa lagi dengan tingkahnya, bahkan di sekolah, terlihat lebih rajin lagi karena guru-guru selalu memantau perkembangan Victor dan melaporkan apapun yang Victor lakukan di sekolah kepada kedua orang tuanya.
Victor sudah tidak pernah lagi nongkrong di warung bu Tejo yang biasa ia dan teman-temannya tongkrongi, untuk menjadi kapten basket pun ia sebenarnya ingin mengundurkan diri, tetapi teman-temannya memohon agar Victor tidak mengundurkan diri karena mereka sangat mengandalkan kemampuan Victor dalam bermain basket.
Sampai-sampai pelatih basketnya, meminta izin kepada pak Heru agar mengizinkan Victor untuk mengikuti latihan basket lagi, dengan alasan, sebentar lagi sekolah mereka akan mengikuti lomba basket antar sekolah se-Jakarta, dengan pemikiran yang panjang, akhirnya Victor diizinkan untuk latihan tiga kali dalam seminggu oleh pak Heru.
Dan sekarang Victor sudah jarang berkumpul dengan Wiliam dan Doni, mereka hanya bertemu dan bercengkrama di sekolah saja, atau di kantin sekolah apabila waktu istirahat telah tiba.
Seperti sekarang ini, Victor dan kedua sahabatnya berjalan menuju kantin, mereka selalu menjadi pusat perhatian,ditambah lagi mereka yang sekarang menjadi lebih rajin dan tidak membuat rusuh, membuat temannya yang lain bertanya-tanya akan perubahan mereka.
Doni dan Wiliam juga di hukum oleh orang tua mereka, mereka juga tidak di bolehkan membawa motor ke sekolah dan selalu di pantau agar tidak kelayapan setelah sepulang sekolah.
Itu atas kesepakatan kedua orang tua Victor, Doni dan Wiliam, dan pak Heru lah yang memberi ide itu kepada orang tua Doni dan Wiliam agar anak-anak mereka menjadi orang sukses.
Tetapi mereka tidak memisahkan anak-anak mereka, karena yang mereka tahu, persahabatan anak-anak mereka itu sudah terjalin sangat lama, jadi mereka hanya membatasi waktu tongkrongan anak-anak mereka tersebut.
Sesekali mereka mengijinkan anak-anak mereka, untuk berkumpul dan menginap di rumah Victor disaat hari libur telah tiba.
__ADS_1
Setelah Victor, Doni dan Wiliam sampai di kantin, mereka memilih makanan yang mereka inginkan dan memilih duduk dipaling pojok kantin, agar mereka tidak di ganggu oleh teman-teman yang berlalu lalang di kantin itu.
Ketika sedang asyik menikmati makanannya, datanglah Helena menghampiri Victor, ia bergelayut manja disisi Victor, Victor hanya diam dan memasang muka datarnya sambil menghabiskan makanannya.
Doni yang melihat Helena seperti itu merasa risih, dia memang tidak suka melihat wanita di hadapannya ini yang terlalu berambisi mendapatkan perhatian Victor.
Sebenarnya, banyak yang berambisi mengejar cinta Victor, tetapi mereka tidak seberani Helena yang selalu menggoda Victor, membuat Victor dan sahabatnya jengah menghadapi wanita di depan mereka ini.
Disisi lain Putri dan ketiga sahabatnya memasuki kantin, mereka juga ingin mengisi perut mereka yang sudah diminta untuk diisi, ketika sedang sibuk memilih makanan, mereka melihat Helena bergelayut manja dengan Victor.
''Put, lihat deh cewek itu, males banget gue melihatnya, pasti dia lagi goda-godain kak Victor, ucap Raysa sambil melirik ke arah Victor.
''Yaudah sih Ray, ngapain juga ngurusin mereka yang nggak jelas itu, bukan urusan kita,'' ucap Putri kesal.
''Ya nggak lah, apaan sih lu Ray, jangan ngaco deh,'' ucap Putri dengan malas.
'' Amit-amit dah gue cemburuan sama beruang kutub,'' ucapnya lagi.
''Hahaha gue sumpahin lu berjodoh sama kak Victor! biar mulut cabe lu itu ada yang nyosor, balas Raysa dengan genit.
'' Bodo amat!'' ucap Putri mendengus kesal.
__ADS_1
Riko menengahi perdebatan kedua wanita yang membuat kepalanya pusing.
''Woi...! kalian pada kenapa sih? kalau mau adu debat, noh! di ruangan kepala sekolah,'' ucap Riko dengan kesal.
''Ayok! cari makanan, perut gue udah lapar banget, lu pada pake adu mulut segala,'' ucapnya lagi sambil berlalu mencari makanan karena cacing di perutnya sudah pada demo minta diisi, yang diiringi oleh Rendi, Putri dan Raysa.
Mereka memilih makanan yang mereka inginkan, Setelah itu, mereka mencari tempat duduk yang sekira cukup untuk mereka berempat.
Tidak sengaja tatapan Putri beradu dengan Victor, Victor menatap Putri agak lama begitupun sebaliknya, setelah tersadar, Victor melepaskan tangan Helena yang masih bergelayut manja disisinya, sedangkan Putri membuang pandangannya ke arah lain karena ia tidak suka melihat pemandangan seperti itu.
Karena sudah muak melihat tingkah Helena, Doni pun berucap, ''Eh kadal...! lu ngapain sih disini ngerusak mood gue aja, '' ucap Doni sambil merengut.
''idiih.. kenapa sih lu buaya? sewot amat sama gue? cemburu lu ya? melihat gue bermesraan sama Victor? tanya Helena dengan pedenya.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung.