Pacar Galak

Pacar Galak
Baku Hantam


__ADS_3

Victor menatap Rendi dan Putri dengan tatapan dingin.


''Lu mau cari kesempatan..?''


''Apaan sih lu, baru dateng udah marah-marah,'' ujar Rendi sambil berdiri menatap Victor dengan wajah tidak sukanya.


''Lu nantangin gue??'' Victor menarik kerah baju Rendi, membuat semua orang yang ada di sana begitu ketakutan melihat dua orang lelaki yang sedang tersulut emosi.


Rendi menepis tangan Victor dengan kasar, ''Lu laki apa banci sih..? bikin cewek galau mulu, inget..! cewek lu cantik di mata cowok lain,'' cecar Rendi dengan emosi dan berlalu dari sana agar ia tidak terlalu memancing keributan.


''Brengsek..!'' umpat Victor geram, ia menatap kepergian Rendi dengan kesal.


Semua yang ada di sana hanya terdiam menatap Victor.


''Apa yang kalian liat? urus saja urusan kalian..!'' ujarnya menatap semua orang yang memandangnya.


Mereka semua pun mengalihkan pandangan ke sembarang arah, agar tidak bertemu mata dengan Victor, walaupun mereka yang ada di sana sudah siap-siap memasang telinga untuk mendengar percakapan Victor dan Putri, mereka yang memang terlihat kepo dengan semua masalah Victor, apalagi ciwi-ciwi di kelas itu yang selalu mendambakan kehangatan Victor.


Berbeda dengan Putri, ia menatap Victor dengan sendu, harusnya ia marah kepada Victor yang hampir memukul sahabatnya itu, tetapi hatinya bertolak belakang dengan keinginannya, karena saat ini ia sangat rindu dengan sosok Victor yang selalu mengganggunya.


''Put..! ayo ikut aku!!'' perintah Victor dengan lembut dan menarik tangan Putri untuk mengikutinya.


Putri hanya mengikuti Victor dari belakang, Victor mengajak ia ke taman belakang sekolah, setiba di sana Victor duduk di bangku taman di ikuti Putri yang masih terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


''Kamu galau kenapa?'' aku tidak suka kamu bermesraan seperti tadi dengan dia.'' Tampang dinginnya terlihat jelas di mata Putri.


Putri masih berusaha diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Melihat Putri yang masih terdiam, Victor menghela nafasnya dengan pelan.


''Kamu kenapa? jangan diamkan aku seperti ini, kamu marah denganku?''


Putri tetap mengunci mulutnya dan menatap ke sembarangan arah.


''Puut..!'' ia membelai wajah Putri dengan pelan agar menghadap ke arahnya.


''Kamu marah karena aku tidak mengabari mu? kemaren aku ada urusan keluarga hingga aku tidak bisa mengabari mu, maafkan aku..!'' sorot mata sendu itu berharap wanita yang ada di hadapannya sekarang ini memaafkannya.


''Tidak ada yang perlu dimaafkan, dan kau tidak perlu bersusah payah untuk mengabari ku, karena aku tidak butuh kabar darimu,'' Putri menepis tangan Victor dengan kasar dan melangkah dengan cepat berusaha meninggalkan Victor yang berusaha mengejarnya.


''Put..!'' teriak Victor yang berusaha mengejar Putri hingga ia menggapai kembali pergelangan tangan Putri.

__ADS_1


''Lepasin..!'' bentak Putri.


''Tidak...! aku tidak akan melepaskan sebelum kau memaafkan ku.'' Ujar Victor dengan tegas.


''Jangan memaksa..! aku benar-benar tidak butuh kabar dari mu, tidak usah merasa bersalah, karena kita juga tidak ada hubungan yang spesial.'' Genggaman tangan itu terlepas, wanita itu berjalan meninggalkannya tanpa menoleh ke belakang.


''Akan aku pastikan setelah ini kau akan menjadi milikku,'' teriak Victor yang sama sekali tidak digubris oleh Putri.


Sesak di dada menahan semua rasa di hatinya, rasa kecewa, rasa bersalah dan rasa takut kehilangan bercampur menjadi satu.


Sesampainya di toilet, ia melepaskan semua isi hatinya dengan menangis sejadi-jadinya. Ya, tujuan pertamanya adalah toilet sekolah, untung saja di sana sudah tidak ada orang, karena di jam segini, semua siswa sudah memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran di jam pertama mereka hari ini, jadi ia bisa menangis sepuasnya.


Setelah melepaskan semua resah di hatinya, ia mencuci mukanya yang sudah acak-adul, terlihat mata yang sedikit sembab, ia merapikan rambutnya yang agak berantakan di depan kaca yang ada di toilet itu. Seketika ia tersenyum miris melihat dirinya yang sekarang selalu menangisi masalah hatinya, terkhusus masalah percintaan.


Merasa sudah lebih baik, dan sudah terlihat percaya diri, ia keluar dari toilet itu berjalan dengan malasnya. Ia tidak tau harus kemana, karena sudah bisa ia pastikan kalau ia masuk kelas sekarang, pasti akan dihukum oleh guru yang mengajarnya di jam pertama ini.


Seseorang menarik tangannya dengan pelan, ia terlihat kaget, dengan spontan menarik tangannya lagi dengan kasar.


''Rend..!! lu bikin gue kaget saja,'' ujarnya.


Rendi menatap Putri dengan sendu, dari awal perdebatan Victor dan Putri di taman tadi, ia melihat dan mendengar semua yang mereka bicarakan itu, sampai Putri ke toilet dan menangis tersedu-sedu ia mendengar semuanya, ia merasa iba melihat Putri yang dulu selalu terlihat ceria, sekarang sejak bersama dengan Victor ia sering murung.


Dan pada kesempatan kali ini, ia berniat ingin mengungkapkan perasaannya kepada Putri, setelah ia mengetahui kalau Putri dan Victor tidak mempunyai hubungan spesial, ia sangat meyakinkan dirinya, untuk mengungkapkan isi hatinya sebelum terlambat untuk kedua kalinya, pikirnya.


Putri menggeleng dengan pelan, ''Apa sih Rend, mana ada gue nangis.'' Ia berusaha memperlihatkan senyumnya walaupun sedikit dipaksakan.


''Jangan bohong, gue ngikutin lu dari tadi, gue tau, lu nggak pacaran sama laki-laki brengsek itu, lu hanya dipermainkan olehnya.''


''Put..! jangan seperti ini, gue tidak tega melihat lu selalu murung, mana Putri yang gue kenal? mana Putri yang selalu ceria dan selalu bersikap bodo amat? gue kangen lu Put.''


Putri terdiam, air matanya kembali menganak-sungai di kelopak matanya yang berusaha ia tahan agar tidak tumpah membasahi pipinya.


Melihat Putri seperti itu, Rendi menarik tangan Putri dengan pelan dan menuntun Putri duduk di tepi lapangan basket yang terlihat sepi, Putri hanya mengikuti saja karena saat ini ia memang butuh teman untuk bercerita.


''Rend, lu emang selalu ngertiin gue dari dulu, lu yang selalu paham dengan keadaan gue, terima kasih ya Rend, lu udah mau jadi sahabat gue selama ini,'' air mata itu berhasil membasahi pipi chuby wanita itu, ia menangis dengan sesenggukan.


Terlihat raut muka kecewa setelah mendengar pengakuan itu, kalau ia hanya dianggap sebagai sahabat, nggak akan pernah lebih, tetapi apakah ia salah kalau berharap menjadi yang spesial di hati wanita itu? pikirannya berkecamuk tak tau arah.


Rendi mengusap air mata itu dengan lembut, ''Gue nggak suka melihat air mata ini membasahi pipi lu lagi, sudah jangan menangis lagi..!''


''Terima kasih..!'' Putri pun tersenyum menatap dalam mata Rendi dengan jarak yang begitu dekat memandangnya.

__ADS_1


''Gue boleh jujur?'' ujar Rendi masih memegang pipi Putri.


Putri hanya mengangguk menjawab pertanyaan Rendi.


''Bugh...!'' belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, kerah bajunya di tarik, seseorang memukul pipinya dari samping, hingga membuat ia tersungkur ke tanah.


Victor yang memang mengikuti mereka dari tadi, berusaha tenang melihat Rendi menarik tangan wanitanya, ia pun tidak bisa mengendalikan emosinya pada saat Rendi menyentuh pipi Putri dengan sayang, hingga ia tidak bisa mengontrol emosinya.


Putri yang begitu kaget, membulatkan matanya dengan sempurna, melototi pria yang sudah memukul sahabatnya itu.


Dengan spontan Rendi berdiri mengejar pria itu, dan terjadilah baku hantam di antara mereka.


''Stop..!'' teriak Putri.


''Tetapi kedua lelaki itu tetap beradu otot, bergelut dengan emosi yang saling menggebu.


Dengan tergesa-gesa Putri berlari ke arah mereka menghentikan perkelahian itu.


''Victor..!!'' teriak Putri.


''Lu apa-apaan sih..! berhenti..!'' teriak Putri yang sudah histeris melihat wajah Rendi yang sudah babak belur.


Seketika Victor terhenti menatap wanitanya yang terlihat ketakutan.


''Berapa kali harus gue bilang..! jangan pernah membuat gue cemburu..! tetapi kau selalu saja bermesraan dengannya, ini kan yang lu mau


?'' bentak Victor kepada Putri. Victor terlalu emosi hingga ia tidak menyadari telah membentak wanita kesayangannya itu.


''Dan kau..!'' Victor menunjuk Rendi yang terduduk mengusap wajahnya.


''Jangan pernah lagi menyentuh apa yang sudah menjadi milik gue, sampai ini terjadi lagi, gue akan menghancurkan lu lebih dari ini.'' Ujar Victor mengancam Rendi yang hanya menatapnya dengan keji.


Putri yang dibentak oleh Victor hanya terdiam dan termenung hingga air matanya kembali menetes, karena setelah dekat dengan Victor ia tidak pernah dibentak seperti ini lagk oleh Victor, dan ini pertama kalinya ia dibentak seperti itu membuat hatinya semakin kecewa.


''Kalian semua ngapain di sini...!!''


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2