Pacar Galak

Pacar Galak
Surat Panggilan


__ADS_3

Victor, Doni dan Wiliam masih hormat ke tiang bendera sampai pak Boy menyudahi hukumannya, mereka rasanya sudah tidak kuat karena matahari yang sangat terik, dan lagian mereka juga belum makan siang, membuat mereka ingin menyerah saja.


Setelah menunggu sekian lama, orang yang mereka tunggu-tunggu pun datang.


''Gimana? enak berjemurnya? serasa di pantai gak?'' tanya pak Boy sambil menahan tawa dengan muka datarnya.


''Duuuh ...! pak, udah ga kuat kita pak, udahan dong hukumannya, udah kaya ikan asin aja pake jemur-jemur segala,'' ucap Doni dengan tampang kesalnya.


''Iya nih pak, nanti kalau kulit kita terbakar gimana? nanti kita gak ganteng lagi dong, skincare kita mahal nih pak,'' sela Wiliam dengan percaya diri.


''Kalian bilang apa? kalian ingin bermain-main dengan saya? mau saya tambahin hukumannya?'' ucap pak Boy sembari menjewer telinga Doni dan Wiliam.


''Duh ....!! duh pak, ampun pak ampuun...!'' ucap Doni dan Wiliam sambil memegang telinganya yang terasa sakit karena ulah gurunya tersebut.

__ADS_1


Kemudian pak Boy melepaskan telinga muridnya dan menatap tajam ke arah murid-muridnya tesebut.


Pak Boy mengeluarkan tiga buah surat, ''Tolong surat ini kalian kasih ke orang tua kalian, dan besok temui bapak kepala sekolah di ruangannya, kalian mengerti...!'' ucap pak Boy dengan tegas.


''Dan untuk kamu Victor,'' tunjuk pak Boy ke arah Victor.


''Sebagai anak dari orang yang sangat berpengaruh disekolah ini, seharusnya kamu menjadi panutan bagi teman-temanmu, bukan mengajak mereka untuk melakukan hal bodoh seperti ini!'' ucap pak Boy dengan muka masamnya.


''Dan saya yakin bukan saya saja yang kecewa, tetapi orang tua kalian juga, orangtua mana yang tidak mau anaknya rajin dan pintar, namun kenyataannya, anak yang mereka bangga-banggakan hanya membuat mereka kecewa saja, terutama kau, Victor...!'' ucap pak Boy dengan tatapan tajamnya dan ia pun berlalu meninggalkan murid-muridnya tersebut.


Doni dan Wiliam merasa cemas untuk memberikan surat itu kepada orang tuanya. Apalagi Doni, dia sangat risih sekali karena emaknya pasti akan menyita motor kesayangannya, mengurangi uang jajannya, dan akan melarang Doni untuk nongkrong bersama teman-temannya.


Huft...! memikirkan itu saja Doni sudah merasa pusing, apalagi nanti setiba di rumah mendengarkan ocehan-ocehan emaknya, rasanya ia ingin menutup telinganya rapat.

__ADS_1


*


Victor sudah tiba di rumahnya, ia langsung mencari mamanya yang ada di ruang tengah, kemudian ia memberikan surat yang diberikan pak Boy tadi kepada mamanya, ibu Sukma membaca surat itu dengan teliti, ia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku anaknya di sekolah, yang selalu bolos ataupun berkelahi.


Dulu Victor pernah berkelahi dengan kakak kelasnya, sehingga orangtuanya di panggil ke sekolah dan ia di skor selama 1 minggu, membuat papanya sangat marah melihat Putra semata wayangnya yang keras kepala dan tidak bisa diatur.


Berbeda dengan istrinya yang bernama ibu Sukma Dewi, ia sangat berhati lembut, sebesar apapun kesalahan anaknya dia sama sekali tidak pernah marah, dia selalu merangkul anaknya dan menasehati dengan lembut, sehingga Victor sangat menyayangi mamanya tersebut.


Tidak seperti papanya yang terlalu keras mendidiknya sehingga ia terkadang ingin memberontak, tapi itu tidak pernah dilakukannya karena walau bagaimanapun ia sangat menyayangi kedua orang tuanya.


.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2