
Sore hari di sebuah cafe terkenal di pusat ibukota, Helena sedang dalam situasi pembicaraan serius dengan seorang laki-laki yang tidak lain adalah sepupunya.
Mereka sengaja ingin bertemu karena ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting menurut mereka.
''Helen!! gimana? lu sudah membuat mereka putus?'' tanya lelaki itu serius.
Helen mengangguk menandakan kalau ia sudah berhasil membuat sepasang kekasih untuk memutuskan hubungan mereka.
''Bagus...! Berarti saat pertandingan besok, Victor tidak akan bisa berkonsentrasi dalam mengikuti pertandingan itu, dan pastinya akan memudahkan gue untuk mengalahkannya, karena yang gue tau sejauh ini, ia sangat menyayangi kekasihnya itu,'' ucap laki-laki itu dengan seringai tipisnya.
''Hahahah...! Lu salah Damar, ia tidak pernah mencintai cewek tengil itu, ia cuma menyayangi gue seorang, karena sekarang ini, ia telah menjadi milik gue,'' ucap Helena dengan percaya diri.
Damar?? iya, Damar adalah musuh bebuyutan Victor, yang ternyata ia adalah sepupu Helena, mereka merencanakan sesuatu agar Victor dan timnya kalah dalam pertandingan lomba basket nanti yang akan diadakan di SMA Satu Nusa.
''Tunggu!! maksud lu gimana? bukannya ia sangat mencintai pacarnya itu,'' tanya Damar bingung.
''Nggak!! dia tidak mencintai cewek tengil itu, cantikan juga gue kemana-mana, lagian udah deh, kalau lu emang tidak pintar main basketnya, yaudah, lu harus menerima kekalahan lu, karena bagaimanapun Victor lah yang paling keren dalam segi apapun,'' ucap Helena dengan bangganya.
''Ooh....! jadi ceritanya lu nggak mau bantu gue nih?'' tanya Damar serius.
''Eeh...! curut!! gue mau bantu lu kayak gimana lagi? udah susah payah gue membuat rencana agar mereka putus, seenak jidat lu aja bilang gue nggak mau bantu, nggak ngehargain gue banget lu yak!'' ketus Helena dengan tampang kesalnya.
''Yaelah...! ketimbang itu doang lu bilang bersusah payah? itu kan udah pekerjaan lu! sebagai wanita penggoda, ya nggak?'' ucap Damar dengan santainya.
Seketika Helena emosi mendengar ucapan Damar yang merendahkannya.
''Brengsek lu ya! lelaki macam apa lu yang berani merendahkan sepupunya sendiri.
''Mulai hari ini gue nggak mau lagi bekerja sama dengan lu, terserah lu mau apa, dan gue nggak mau tau urusan lu lagi,'' kesal Helena kepada Damar.
''Ooh....! okey, gue akan pakai cara gue yang kedua, gue yakin pasti akan berhasil tanpa campur tangan lu,'' balas Damar dengan tampang tidak sukanya menatap Helena.
__ADS_1
''Terserah...!!!'' bentak Helena menatap tajam ke arah Damar. Helena benar-benar kesal melihat tingkah sepupunya itu.
''Apapun itu rencana lu, jangan pernah sedikit pun lu menyakiti Victor, kalau sampai itu terjadi, awas aja lu!!'' ancam Helena.
''Hahahah...! memangnya apa yang mau lu lakukan, kalau gue menyakiti Victor?'' tanya Damar sinis.
''Awas saja!! kalau sampai lu menyakiti dia, gue akan bongkar semua niat busuk lu kepada semua orang, agar semua tau bagaimana liciknya seorang Damar,'' ancam Helena, yang membuat nyali Damar menciut, tetapi itu tidak ia perlihatkan.
''Gue sudah malas sekali berurusan dengan lu,'' ucap Helena lagi, dan berlalu pergi meninggalkan Damar sendirian di cafe itu.
Damar sangat kesal atas tingkah Helena yang berani mengancamnya, dengan tampang serius ia memikirkan langkah apa yang harus diambil untuk menjalani rencana busuknya itu.
Tidak berapa lama, ia mengambil handphonenya kemudian menghubungi seseorang, siapa lagi kalau bukan anak buahnya yang akan menjalankan rencananya jahatnya.
Tanpa ia ketahui, ada seseorang yang sedang menguping pembicaraannya dari awal sejak ia terlibat pembicaraan serius dengan Helena tadi.
Orang itu tidak lain adalah Victor, ia sengaja membuntuti Helena setelah sepulang sekolah tadi, agar ia bisa tau rencana apalagi yang akan dilakukan Helena bersama dengan Damar.
Setelah dirasa Damar sudah meninggalkan cafe itu, Victor pun juga ikut pergi meninggalkan cafe menuju tempat tongkrongannya di warung Bu Tejo.
Sampainya di warung Bu Tejo, ia dikejutkan dengan kabar, bahwa Wiliam dan Doni mendapatkan serangan dari orang yang tidak dikenal, karena mereka hanya berdua, sehingga mereka tidak bisa mengalahkan serangan dari orang yang tidak mereka kenal yang berkisaran tujuh sampai delapan orang itu, dan orang itu berhasil membawa Wiliam kabur, sedangkan Doni yang sudah babak belur, tidak bisa untuk membantu Wiliam.
Setelah beberapa lama, Doni berusaha berdiri dan kembali membawa motornya ke warung bu Tejo untuk melaporkan apa yang terjadi dengan dirinya dan Wiliam kepada teman-temannya.
''Tidak sesuai prediksi, ia terlalu cepat bergerak, hingga gue kalah selangkah,'' gumam Victor di dalam hati.
"Vic, lu kenapa?" tanya Doni yang melihat kepanikan di wajah Victor.
Victor menarik nafas dengan pelan, "apa gue harus cerita sekarang?" batin Victor.
"Don, gue mau cerita," ucap Victor dengan tampang datarnya.
__ADS_1
"Yaudin, cerita aja sih! pake acara ijin segala," balas Doni dengan cuek.
"Berdua," bentak Victor.
"Jan ngadi-ngadi lu Vic, lu udah ganti selera setelah diputusin Putri? amit-amit dah gue punya temen homo kaya lu, noh!! ama si Maman aja, ogah gue berdua-duaan ama lu, ucap Doni dengan tampang jijiknya.
Maman adalah adik kelas mereka yang ikut menjadi anggota basket mereka, yang hobinya hanya makan dan molor sedangkan untuk latihan ia hanya bermalas-malasan ria, maka dari itu ia hanya dipilih sebagai pemain cadangan di tim itu.
Sedangkan Maman yang dibicarakan asyik makan mi rebus kesukaannya, tanpa memperdulikan kedua seniornya yang sedang cekcok itu.
"Keadaan seperti ini lu masih sempatnya bercanda, Don!!" ucap Victor dengan tampang dinginnya.
Victor sudah berusaha menahan emosinya, tapi ia sudah tidak bisa mengendalikannya karena melihat tingkah Doni yang masih menganggapnya bercanda.
Dengan emosi yang menggebu-gebu, Victor memagang kerah baju Doni dan menariknya kesebuah ruangan yang ia jadikan markas mereka, hanya orang tertentu yang boleh memasuki ruangan itu.
Semua yang ada di warung itu, langsung panik melihat Victor yang sudah dibakar emosi seperti itu, biasanya, Wiliam lah yang akan menenangkan Victor, tetapi sekarang tidak ada Wiliam yang akan menengahi perdebatan antara mereka.
Victor mengunci ruangan itu, dan melepaskan Doni dalam genggamannya.
Doni yang sudah ketakutan melihat wajah Victor yang merah padam, hanya tertunduk dan bertanya, "Sebenarnya lu mau cerita apa, Vic?" tanya Doni sedikit takut.
Victor menghela nafas pelan dan mengatur emosinya, kemudian ia menceritakan semua yang ia tutupi dari teman-temannya beberapa minggu ini, termasuk hal yang berhubungan dengan Putri.
.
.
.
bersambung
__ADS_1