
Victor menghampiri Putri yang sibuk menatap sekeliling ruangan yang ia duduki sekarang, ia melihat foto-foto keluarga yang tergantung di dinding, di sana juga ada foto Victor di masa kecil yang begitu menggemaskan menurutnya.
''Kenapa? kamu terpesona melihat kegantengan aku diwaktu kecil?'' ucapnya tanpa memberi aba-aba di saat kedatangannya. Membuat Putri yang sedang serius menatap satu foto ke foto yang lain menjadi kaget.
''Apaan sih.! ngagetin aja!'' lagian siapa juga yang ngeliatin foto lu,'' ketusnya menatap tajam ke arah Victor.
Victor tersenyum menatap Putri yang selalu mengerucutkan bibirnya, pada saat ia berhasil menggodanya, sungguh menggemaskan..!
''Mama kemana?'' tanya Victor.
''Lagi ke kamar, nyamperin papa lu,'' jelas Putri tanpa menatap Victor.
''Ooh! papa udah pulang? kebetulan banget nih,'' ucap Victor sumringah.
''Nanti kalau ada papa aku, ngomongnya jangan pake lu gue yah! papa aku galak loh..! nanti kamu dimarahin kalau ngomongnya tidak sopan,'' ujar Victor berniat menakuti Putri.
''Mm.. emang iya?'' tanya Putri gugup.
''Iya, kalau nggak percaya coba aja nanti,'' ucapnya lagi.
''Iya deh, tapi lu jangan bikin gue kesal, kan elu yang selalu bikin gue kesal.''
''Tuh kan..! masih pake gue elu!'' protes Victor tidak terima.
''Iya kan belum ada papa lu!'' ketus Putri yang tidak mau kalah.
Victor hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Putri yang begitu keras kepala.
Bu Sukma yang sudah berada di tangga sedari tadi, hanya tersenyum lucu melihat perdebatan diantara mereka.
Pak Heru yang sudah menyusul istrinya, menghampiri Putri dan Victor untuk mengajak mereka makan bersama. Putri yang berusaha menolak, berhasil dipaksa oleh bu Sukma agar mau makan bersama dengan keluarga mereka.
Mereka makan dengan tenang, hanya dentingan sendok yang berima menemani makan mereka kali ini. Pak Heru yang selalu fokus menatap Putri semakin penasaran saja, tetapi ia tidak mau bertanya ataupun bersuara perihal rasa penasaran yang ia rasakan saat ini.
Setelah mereka selesai menghabiskan makanan mereka masing-masing, bi Tuti yang memang bertugas bersih-bersih di rumah itu, membereskan semua piring-piring bekas mereka. Putri pun ikut membantu dan membawa piring kotor itu ke tempat pencucian.
''Nak...! nggak usah, kamu duduk saja, biar nanti bi Tuti yang membersihkannya!'' bu Sukma melarang Putri dengan lembut, walaupun sebenarnya ia sangat senang dengan semua yang dilakukan Putri saat ini.
__ADS_1
''Tidak apa-apa tante, aku sudah biasa kok ngerjainnya,'' balas Putri sopan dan meninggalkan mereka menuju dapur.
''Mah..! wajahnya sungguh familiar,'' pak Heru meluapkan isi hatinya yang sedari tadi ia tahan.
''Oh.. mas sering melihatnya?''
''Bukan, mas baru pertama kali melihatnya, ketika melihat wajahnya itu, mas ingat seseorang,'' gumam pak Heru.
''Apa mungkin ia anak Ningrum.? ck.. mana mungkin, perasaan mas saja kali ya, karena kemaren bertemu dengannya, pikiran mas menjadi tak tenang.''
''Bagaimana kabar Surya sekarang ya? mas rindu dengannya! tapi dendam ini masih ada di hati ini!'' pak Heru menatap istrinya dengan sendu.
"Ternyata papa masih sangat merindukan sahabatnya, berarti masih ada peluang untuk mereka berbaikan lagi, aku harus mendengarkan cerita itu dari versi tante Ningrum, siapa tau bisa bertemu titik terangnya." Gumam Victor di dalam hatinya.
''Mas, kamu harus berdamai dengan keadaan, biar hati kamu bisa tenang, tidak baik menyimpan dendam terlalu lama!'' ucap Sukma sambil mengelus punggung suaminya dengan sayang.
''Kalau benar dia anak Ningrum dan Surya, apa kamu setuju aku menjodohkannya dengan anak kita?'' tanya Sukma dengan takut.
Pak Heru menatap istrinya dengan saksama, begitupun Victor yang terlihat panik dengan pertanyaan mamanya, ''Maksud kamu?'' pak Heru yang merasa bingung dengan semua ucapan istrinya, tidak melepaskan tatapannya dari istrinya itu.
Belum sempat bu Sukma membalas pertanyaan pak Heru, Putri yang berjalan kearah mereka sudah kembali dari dapur. Sementara percakapan mereka terhenti.
''Mmm....'' belum sempat Putri menjawab, Victor langsung memotong pembicaraannya.
''Iya ma, pasti ia akan datang, mama tenang saja, aku akan menjemput calon menantu mama ini sebelum acara mama sama papa berlangsung,'' jelas Victor yang membuat bu Sukma dan pak Heru mengembangkan senyum mereka.
''Yaudah mah, pah, aku mau nganterin Putri pulang dulu, takut kemaleman, nanti ibunya ngomel lagi bawa anaknya lama-lama,'' Victor mencium tangan mama dan papanya diiringi dengan Putri yang langsung berpelukan dengan bu Sukma.
''Titip salam buat ibu dan ayah kamu ya, nak!'' Putri mengangguk mengiyakan dan kemudian menyalami pak Heru terlebih dahulu sebelum ia menyusul Victor yang sedang mengambil mobil di parkirannya.
Setelah mendudukkan tubuhnya di jok mobil itu, Putri pun berucap, ''Kenapa nggak pake motor saja?'' ketus Putri.
''Nampaknya langit sudah mulai mendung pertanda akan turun hujan, nanti tuan putri sakit kalau pakai motor,'' balas Victor yang selalu saja berhasil menggoda Putri, membuat Putri menjadi salah tingkah.
Selama perjalanan, mereka hanya terdiam, sibuk mengarungi pikiran mereka masing-masing.
Victor berhenti di sebuah cafe, ia keluar dari mobil menuju cafe itu, meninggalkan Putri yang memang sudah tertidur setelah mengakhiri perdebatannya dengan Victor yang ingin membawanya untuk berkeliling-keliling kota terlebih dahulu sebelum mengantarkannya pulang.
__ADS_1
Setelah memesan dua botol coklat hangat yang memang sangat cocok di minum dengan suasana dingin seperti ini, ia kembali lagi ke dalam mobil.
Putri yang sudah terbangun dari tidurnya sebelum Victor memasuki mobil, menatap Victor dengan tatapan tajamnya.
''Kamu sudah bangun sayang? mukanya biasa aja dong, jangan galak-galak gitu, nih.. minum dulu biar nggak kedinginan,'' Victor menyodorkan satu botol coklat hangat itu kepada Putri.
Putri menerima botol itu, yang sebelumnya tutup botol telah dibuka oleh Victor memudahkan Putri untuk meminumnya.
''Enak, kan?'' tanya Victor, setelah melihat Putri meneguk minuman itu dengan lahap.
Putri hanya mengangguk pertanda ia menyukai minuman yang dibelikan oleh Victor.
Setelah terdiam lama, Victor yang sudah meneguk minumannya sampai habis, membuang sisa botolnya ke tong sampah.
Kemudian ia menatap Putri, ia mendekatkan tubuhnya ke arah Putri, membuat Putri menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat di artikan.
Semakin lama tubuh itu semakin mendekat, dan wajah mereka hanya menyisakan jarak sejengkal.
''Kalau minum jangan belepotan, kayak anak kecil saja.!'' Victor membersihkan sisa minuman yang membekas di sekitar bibir Putri dengan jempolnya. Bibir mungil yang ada di depannya saat ini begitu sangat menggoda.
Semakin lama wajah itu semakin mendekat, deru nafas mereka pun beradu, Putri yang sudah merasa deg-degkan berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain.
Namun, Victor berusaha menahan wanita itu, agar terus menatapnya, deru nafasnya semakin memburu, panas menjalari seluruh tubuh kedua insan tersebut, bahkan ac mobil yang begitu dingin sangat mendukung hasrat Victor untuk gadis itu.
Seketika bibir mereka pun beradu, bibir mungil yang berwarna merah jambu nan sungguh manis itu, membuat Victor ketagihan ingin mengecapnya lebih dalam, sedangkan Putri yang begitu kaget dengan semua perilaku Victor kepadanya, hanya terdiam dan tidak membalasnya.
Ketika keadaan semakin memanas, Victor yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, berusaha ingin memainkan lidahnya ke dalam mulut Putri, membuat Putri begitu tersentak, dan mendorong tubuh Victor dengan kuat untuk menjauhinya.
''Brengsek..!'' teriak Putri dengan berlinangan air mata.
Victor pun kaget dan tersadar dengan semua yang ia lakukan, spontan ia memeluk Putri dengan erat
''Maafkan aku..!'' ucapnya dengan rasa bersalah.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung