Pacar Galak

Pacar Galak
PENJELASAN


__ADS_3

''Maafin aku ya!'' Kata-kata itu berhasil lolos dari mulut Victor yang sudah memeluk Putri dari belakang, Putri yang sedang mencuci piring pun kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Victor.


Jiwanya serasa melayang disaat dekapan hangat itu memeluk tubuhnya, ia berusaha menetralkan hati dan pikirannya yang sudah memberontak dan saling bertolak belakang. Disisi lain hatinya begitu tenang dan damai disaat tubuh itu memeluk erat tubuhnya, tetapi pikirannya selalu mendahulukan logika untuk tidak terpengaruh dan terbuai dengan perlakuan hangatnya sebelum ia mengetahui semuanya.


''Maaf untuk apa?'' tanya Putri yang masih sibuk dengan cucian piringnya, tanpa melepaskan pelukan itu.


''Untuk semua pernikahan dadakan ini, aku tau ini begitu berat untukmu, tapi aku mohon kamu bisa terima aku sebagai suami mu dengan lapang dada,'' ujar Victor dengan sendu.


''Ya, semua sudah terjadi, mau menolak pun gue sudah tidak bisa, karena gue sudah jadi istri lo. '' balas Putri dengan nada ketus nya.


''Aku akan ceritakan bagaimana awal bisa terjadinya perjodohan ini, ayo kita duduk di depan.'' Ajak Victor yang dituruti oleh Putri.


Victor menceritakan dari awal ia tidak sengaja bertemu dengan ibu Putri, yang ternyata sahabat lama kedua orang tuanya, ia pun menceritakan masalah orang tuanya yang bertahun-tahun terjadi karena kesalahpahaman dan baru-baru ini mereka baikan, apalagi setelah mereka membicarakan tentang perjodohan anak-anak mereka


''Memang benar yah, ternyata dunia sesempit itu,'' gumam Putri yang masih terdengar di telinga Victor.


''Trus kenapa lo nggak nolak perjodohannya,'' tanya Putri dengan wajah masamnya.


''Karena aku tau yang bakalan dijodohin buat aku itu kamu, ya aku terima, aku nggak mau kamu di ambil orang, aku sayang banget sama kamu.'' Ujar Victor yang sudah menggenggam tangan Putri lembut.


Putri menepis tangan Victor dengan sedikit kasar


''Ngomong sayang terus tapi malah asik nongkrong sama cewek lain, males banget gue ladenin buaya kayak lo Vic.'' Ketus Putri kemudian melangkah meninggalkan Victor sendiri.


Victor tidak tinggal diam, ia berusaha mengejar Putri dan mensejajarkan langkahnya.


''Put, itu kan udah selesai, aku udah jelasin semuanya ke kamu, kok kamu masih marah aja sih,'' tanya Victor tak terima.


''Iya, semua udah selesai gue paham, tapi kalau gue teringat lo lagi asik berduaan sama nenek lampir di saat gue lebih membutuhkan elo, bikin gue enek, hati gue masih sakit Vic.'' tekan Putri yang tampak meluapkan emosinya.


Melihat mata Putri berkaca-kaca seperti itu, dengan spontan Victor memeluk Putri dengan erat.


''Maaf,'' lirih lelaki itu.


''Aku ga tau kalau kamu bakalan sesakit ini, tapi aku mohon kasih aku kesempatan untuk menebus kesalahan aku.''


''Aku mohon Put, aku sayang banget sama kamu, aku janji nggak akan mengulanginya lagi, kamu bisa pegang kata-kata aku Put.'' ucap Victor sendu.


''Gue nggak butuh kata-kata lo, yang gue butuhin cuma bukti,'' Putri melepaskan pelukan itu dan ia pun berlari ke kamar.

__ADS_1


Dengan langkah gontai Victor menyandarkan tubuhnya di sofa empuk ruangan itu.


Ia berpikir untuk memberikan ruang untuk Putri agar lebih tenang dan bisa menerima kenyataan yang sudah ada saat ini.


''Gue benci lo Viic!! '' teriak Putri dengan emosi.


"tetapi gue sayang, " batinnya.


Tak terasa Putri pun tertidur dengan berlinangan air mata di kamar itu, sedangkan Victor juga tertidur di sofa apartemen, tampaknya mereka sangat lelah menghadapi hari ini dan kenyataan yang ada.


Jam menunjukkan pukul 2 siang, Putri terbangun merasakan cacing-cacing di perutnya sudah menari-nari untuk meminta makan.


Dengan langkah gontai ia menuju wastafel dan mencuci mukanya yang terlihat kusut, tampak mata yang sembab dan hidung merah seperti tomat karena terlalu lama menangis.


Putri melangkah ke dapur tanpa menghiraukan sekitarnya, yang ia pikirkan saat ini hanya ingin membuat makanan dan memakannya dengan lahap.


Victor yang sudah bangun dari tadi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Putri yang tetap cuek kepadanya. Ia hanya sabar dan menunggu Putri mau menerimanya seutuhnya.


Dengan hati yang riang Putri memasak nasi goreng kesukaannya, Putri memang pandai memasak, dari dulu dia diajarkan oleh ibunya memasak, karena dari kecil ibu menanamkan sifat kalau wanita bukan harus pintar dalam segi pendidikan saja, dalam segi memanjakan lidah ia harus bisa walaupun tidak seenak masakan di restoran.


Sambil melantunkan lagu kesukaannya, ia memasak tanpa memikirkan masalahnya.


sedang asyik menata makanan itu, ia dikagetkan dengan kedatangan Victor secara tiba-tiba.


Victor memeluk Putri dari belakang, membuat ia merinding saja,


''Kamu ternyata jago masak ya, aku tidak salah pilih mencari istri,'' ujar Victor yang masih memeluk erat pinggang itu dan meletakkan wajahnya tepat di bahu Putri.


Putri tidak menggubris ucapan Victor, ia melepaskan pelukan itu.


''ayo kita makan! '' Putri pun menata nasi goreng itu di meja makan dan tidak lupa mengisi dua gelas air untuk mereka.


Dengan lahap Victor memakan nasi goreng itu tanpa jeda, hingga hitungan menit nasi goreng itu habis sekejap mata.


''Makasih sayang,'' ucap Victor yang sudah terperangah karena kekenyangan.


''Lo laper apa doyan sih,! '' ujar Putri menggelengkan kepalanya.


''Dua-duanya sayang, makasih udah menjadi istri yang baik buat aku,'' ujar Victor dengan mencubit gemas pipi Putri.

__ADS_1


Setelah mengisi perut, mereka pergi ke ruang tamu, Putri pun menyalakan tv, dan memutar film kesukaannya sedangkan Victor melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena mengurus semua keperluan menikah mereka.


Putri pun mulai merasa bosan, biasanya ia akan sekolah dan bercengkrama bersama sahabatnya, tetapi hari ini ia hanya mengisi hari dengan hal yang membosankan.


Apalagi di sini tidak ada buku atau novel yang akan ia baca untuk mengisi hari-harinya.


''Vic..! gue bosen..!'' ujar Putri mengeluh.


''baru sehari jadi istri aku udah bosan aja sayang,'' celetuk Victor dengan menatap tajam.


Victor yang sibuk mengerjakan laporan dari kantor papanya tidak menyadari dari tadi istrinya begitu merasa bosan di apartemennya itu karena tidak mengerjakan apa-apa.


''Bukan begitu, dari tadi gue nggak ngapa-ngapain, masak nontonin lu yang sok sibuk mulu dari tadi, balas Putri dengan sewot.


Victor menarik nafas dengan pelan, dan membuangnya dengan perlahan.


Ia harus sabar menghadapi sikap istrinya yang kekanak-kanakan itu, padahal masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan, mengingat sudah seminggu ia tidak memegang pekerjaannya karena sibuk mengurus pernikahan mereka.


''Yaudah, sekarang kamu maunya apa? ke mall? mau belanja?'' tanya Victor dengan lembut.


''Nggak..! '' gue nggak suka belanja,'' ketus Putri.


''biasanya kan cewek hobinya belanja,'' balas Victor.


''Gue bukan cewek.'' balas Putri dengan ketus ia pun berjalan meninggalkan Victor.


''Salah lagi gue ngomong, '' gumam Victor menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Ia menyusul Putri dan mencari dimana keberadaan istrinya itu.


''Kamu kenapa sih? aku cuma nanya baik-baik loh, kok kamu langsung ngegas gitu.'' tanya Victor yang sudah menemukan istrinya sedang minum di dapur.


''lagian elu bikin gue kesel,'' ketus Putri.


''Aku kenapa?'' tanya Victor yang berusaha sabar.


''Gue nggak suka lu ngebandingin gue sama cewe lain,'' tegas Putri.


''Astagfirullah sayang, aku bukan ngebandingin kamu sama yang lain, aku cuman ngomong sesuai fakta yang aku lihat.'' jelas Victor.

__ADS_1


''sama aja!! sudah sana..! pergi aja sama cewek-cewek yang selalu lu belanjain itu, nggak usah sama gue.'' jawab Putri yang sudah melangkah meninggalkan Victor.


__ADS_2