
Pagi yang begitu indah, dengan dihiasi langit yang sangat cerah, membuat mereka yang menunggu hari esok menjadi bersemangat, begitupun dengan Victor.
Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah, ia menyusul Doni yang sudah sejak tadi menunggunya di depan kelas mereka.
''Vic, nanti jadikan kita ke rumah Wiliam setelah pulang sekolah?'' tanya Doni yang mengikuti langkah kaki Victor menuju bangku mereka masing-masing.
Victor terdiam dan berpikir sejenak, ia bingung harus bagaimana, karena ia sudah membuat janji juga dengan mamanya tadi pagi.
''Nanti lu sama yang lain duluan aja, gue mau nganterin mama gue ke butik dulu, nanti gue nyusul!'' balas Victor.
Doni hanya mengangguk mengiyakan penjelasan Victor.
''Don, nanti kalau guru masuk ijinin gue ya, gue mau ke ruangan kepala sekolah,'' ujar Victor.
''Lu mau ngapain? bukannya masalah kemaren udah kelar? dia di DO kan?'' tanya Doni dengan sangat penasaran.
''Yang kemaren sih udah kelar, ada satu lagi yang belum gue kelarin,''
''Apaan??'' tanya Doni heran.
''Helena!'' balas Victor singkat.
''Urusan apa lagi sih lu sama nenek sihir itu, jangan-jangan lu beneran suka sama dia ya?''
''Sue..!! Sembarangan aja lu kalau ngomong!'' balas Victor yang sudah melemparkan sebuah bola kecil dari kertas ke kepala Doni, karena ia tidak terima dengan tuduhan Doni kepada dirinya.
''Hahaha... kalem bos kalem, becanda doang kok,'' ucap Doni dengan senyuman tanpa dosanya.
Victor mencari video di handphonenya, dan memperlihatkan video itu kepada Doni.
Doni yang melihat video itu seketika emosi jiwa, terlihat raut tidak senang di wajahnya.
''Bener-bener anjing banget tuh si Helena, sini biar gue labrak!" tegas Doni yang sudah berdiri ingin melabrak Helena yang sedang asyik bercengkrama dengan kedua sahabatnya.
''Eeits... santai, lu jangan gegabah bambang, lu mau mempermalukan diri lu sendiri dengan ngelabrak cewe?"
''Udah, ikutin cara gue aja, biar ia di hukum dan satu sekolah pun jadi tau.''
''Sekarang tugas lu cuma ngurusin Helena, gue takut kalau dia semena-mena lagi sama cewe gue, mau kan lu?''
''Iya, gue mau, udah sono pergi keburu guru masuk.'' ucap Doni.
Victor melangkahkan kakinya keluar kelas menuju ke ruangan bapak kepala sekolah. Sesampainya di ruangan itu, pak Alan mempersilahkan Victor untuk duduk.
''Ada keperluan apa kamu kemari, Victor?'' tanya pak Alan.
''Sebelumnya saya minta maaf sudah mengganggu waktu bapak sepagi ini, saya ingin memperlihatkan ini pak,'' ucap Victor sambil memperlihatkan handphonenya kepada pak Alan.
__ADS_1
''Bukannya ini Putri?'' tanya pak Alan dengan tampang dinginnya.
''Bapak tau dengan Putri?'' tanya Victor antusias.
''Ya tau lah, dia junior kamu kan? guru-guru di sini sering membicarakan kepintaran dan keaktifan ia dalam belajar, makanya saya tau dengan dia,'' jelas pak Alan.
''Helena memang sudah sangat keterlaluan, padahal saya tidak berniat ingin menghukumnya dengan masalah kemaren, tetapi ia selalu mencari gara-gara, dan selalu membuat masalah.''
''Sekarang kamu boleh ke kelas, nanti saya akan memanggil Helena dan Putri di jam istirahat, dan kamu akan menjadi saksinya, jangan lupa bukti video itu di bawa, agar nantinya dia tidak bisa mengelak lagi,'' ucap pak Alan.
''Baik pak, terima kasih sebelumnya pak,'' ucap Victor sambil menundukkan kepalanya dengan sopan dan berlalu dari ruangan itu.
*
Jam istirahat pun telah tiba, Raysa dan Putri bersiap-siap menuju kantin sekolah untuk mengisi perut mereka yang sudah minta di isi.
''Puut...!'' teriak Rendi yang lari terbirit-birit mengejar Putri.
Langkah Putri dan Raysa terhenti setelah mendengar teriakan dari Rendi.
''Apaan sih Rend, kaya orang di kejar setan aja lu,'' omel Raysa melihat tingkah Rendi yang tidak seperti biasanya.
"Put, lu di panggil bapak kepala sekolah ke ruangannya," ucap Rendi dengan panik, tanpa memperdulikan omelan Raysa kepadanya.
"Hah..? serius lu Rend? ada apa?" tanya Putri panik.
"Nggak tau gue, barusan bu Rani minta tolong gue buat panggilin lu," jelas Rendi lagi.
"Yaudah, gue ke ruangan kepala sekolah dulu ya."
"Ray..! lu duluan aja ke kantinnya bareng Rendi, nanti gue nyusul," seru Putri yang sudah terlihat panik dan ia pun berlalu dari sana.
Di dalam ruangan itu ternyata sudah ada Helena dan pak Alan menunggunya. Putri dipersilahkan duduk di samping Helena.
"Males banget gue ngeliat si congor, sebenarnya ada masalah apa sih, bikin gue spot jantung aja," gumam Putri di dalam hati sambil menatap tajam ke arah Helena.
Begitupun Helena, ia menatap sinis ke arah Putri.
"Kalian sudah tau kenapa saya memanggil kalian berdua ke sini?" tanya pak Alan dengan santai.
"Tidak pak!!" ujar mereka serempak.
Pak Alan hanya mengangguk-angguk pelan.
"Di antara kalian berdua mempunyai masalah?" tanya pak Alan lagi.
Mereka saling menatap satu sama lain, dan kemudian terdiam. Melihat muridnya terdiam seperti itu, pak Alan pun angkat bicara lagi.
__ADS_1
"Helena...! kamu ada masalah apa sampai tega melakukan tindakan kekerasan kepada junior mu sendiri?" tanya pak Alan menatap tajam ke arah Helena.
"Mm..maksud bapak?" tanya Helena dengan gugup.
"Jangan berpura-pura bodoh, saya sudah tau semua kejahatan yang telah kamu lakukan,"
"Sekarang jujur sama saya...!" bentak pak Alan dengan lantang, membuat Putri dan Helena pun kaget.
"Saya tidak melakukan apa-apa pak, saya tidak mengerti dengan ucapan bapak, mungkin bapak salah orang," ucap Helena membela diri.
Pak Alan menatap tajam ke arah Helena, ia tidak habis pikir dengan sikap Helena yang benar-benar ingin mencari masalah dengannya.
Ketika semua terdiam, mereka di kejutkan dengan kedatangan Victor, Victor yang sudah begitu muak dengan tingkah Helena itu, menatap Helena dengan begitu dingin, membuat nyali Helena menciut seketika.
Sedangkan Putri yang melihat kedatangan Victor, hanya memandang Victor dengan bingung.
Victor melangkahkan kaki mendekati pak Alan, ia memberikan video itu kepada pak Alan, dan pak Alan pun memperlihatkan bukti itu di hadapan Putri dan Helena.
Helena yang sudah ketahuan belangnya itu, langsung menciut, mukanya memerah menahan marah sekalipun takut, ia tidak menyangka Victor akan memberikan video ia sedang membuli Putri di toilet kepada pak Alan.
"Sekarang kamu masih berani mengelak..!" bentak pak Alan yang sudah sangat emosi.
"Perilaku mu sungguh tidak bermoral Helena..! kamu orang yang berpendidikan, tetapi moral mu lebih rendah dari orang yang tidak bersekolah."
"Apa kamu ingin saya DO seperti sepupu mu itu..?
"T..tidak pak, maafkan saya, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Helena menundukkan kepalanya berharap pak Alan memaafkannya.
Pak Alan pun terdiam sejenak, ia memikirkan hukuman apa yang pantas untuk Helena.
"Baiklah, akan saya maafkan, tapi kamu harus di DO dari sekolah ini," ucap pak Alan.
Helena begitu terkejut mendengar bahwa dirinya akan di DO,
"Pak saya mohon..! saya tidak ingin di DO, apa yang harus saya bilang ke orang tua saya nanti pak? saya mohon pak, saya berjanji tidak akan membuat kesalahan lagi, kalau sampai itu terjadi lagi, saya siap di DO pak," ucap Helena dengan wajah memelasnya.
"Kalau begitu, kamu tidak akan saya DO, tetapi untuk hari, ini kamu harus membuat surat perjanjian untuk tidak mengulangi kesalahan mu lagi sebanyak 100 lembar, setelah itu kamu harus kasih ke saya hari ini juga, dan berikan surat ini kepada orang tua mu, agar mereka tau kalau anak kesayangannya ini akan saya skors selama 2 minggu terhitung mulai besok, kamu mengerti..!"
"T..tapi pak..!
"Tidak ada tapi-tapian, pilihan kamu hanya dua saja. Membuat perjanjian itu, dan bersedia saya skors atau mau langsung saya DO?" ucap pak Alan memberi pilihan.
Karena tidak ada pilihan lain, Helena pun bersedia di skors tanpa dikeluarkan dari sekolahnya. Walaupun ia tau pasti orang tuanya akan memarahinya, tapi mau bagaimana lagi, ia harus melakukannya, karena ia tidak ingin dikeluarkan dari sekolah itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung