
Dan benar saja, baru saja Cantika memencet tombol hijau, suara Putra sudah menggelegar di seberang sana, ''Kenapa lama banget? Adek saya dimana? sudah siap apa belum?'' Ujar Putra sedikit membentak.
''Iya pak..! Ini Putri sudah selesai, sebentar lagi kami akan ke bawah,'' balas Cantika dengan gugup.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Putra langsung mematikan telfon itu secara sepihak, membuat Cantika semakin kesal dengan tingkah bosnya yang selalu seenaknya saja.
''Itu siapa kak? Abang?'' Tanya Putri dengan tatapan sendu.
Cantika pun mengangguk pertanda tebakan Putri itu benar.
''Kenapa ayah, ibu, dan abang tidak menemani aku disaat seperti ini? Apa mereka memang benar-benar ingin melepaskan aku dan tidak memperdulikan aku lagi?'' Gumam Putri terdengar lirih tetapi masih bisa didengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu.
Mereka semua pun hanya terdiam menatap Putri dengan haru, mereka tidak bisa membayangkan kalau mereka ada di posisi Putri saat ini, apalagi Raysa yang sudah tidak tahan menumpahkan air matanya sedari tadi, ia tidak akan kuat menghadapi cobaan seperti ini.
''Hai sayang...! Ayah dataaang...!'' Suara itu terdengar begitu nyaring di dalam ruangan yang tampak canggung setelah Putri bergumam tadi.
Terlihat Surya, dan Ningrum menghampiri anak gadisnya itu, yang diikuti oleh Putra dari belakang.
''MasyaAllah..! Anak ayah cantik banget,'' ujar Surya yang langsung memeluk anaknya dengan erat, air mata itu seketika lolos begitu saja di kelopak matanya, sebenarnya ia tidak tega melepas anaknya kepelukan lelaki lain begitu cepat, tetapi mau bagaimana lagi, ini adalah jalan yang terbaik menurutnya, agar anak perempuan satu-satunya jatuh ke tangan orang yang tepat.
Begitupun dengan Putri, ia memeluk ayahnya dengan sangat erat dan tidak ingin melepasnya, dengan susah ia menahan air matanya yang sudah menganak sungai di kelopak matanya.
''Ayah..! Aku takut..!'' Adu Putri yang menahan sesak di dadanya.
''Sayang, kamu harus percaya sama ayah dan ibu, ini adalah jalan terbaik untuk kamu nak, dia lelaki baik, dia lelaki bertanggung jawab, ayah yakin ia akan menjaga dan menyayangi Putri dengan tulus, dia adalah pengganti ayah ketika kelak ayah sudah tiada, percaya sama ayah dan ibu ya, nak?'' Surya begitu miris melihat anaknya seperti ini. Tetapi ia tidak mau lemah di depan anaknya, sekarang anaknya sudah besar, sudah mempunyai suami, tidak terasa gadis kecilnya yang dari dulu selalu ia manjakan, akan menjadi suami orang di usia yang masih belia. Berat sebenarnya harus melepasnya, tetapi ia harus kuat.'' Batinnya
''Nanti kalau dia macem-macem sama kamu, bilang ke abang, abang yang akan kasih pelajaran ke dia, tidak ada yang boleh menyakiti hati adek abang yang tengil ini,'' oceh Putra sambil mengelus lembut pipi chuby adik kesayangannya itu. Membuat semua yang ada disana ikut tertawa melihat tingkah kakak beradik yang sedang membual itu.
''Sudah ya nak, jangan membual lagi, apa kamu sudah siap? Ayo kita ke bawah, yang lain sudah menunggu di bawah,'' ujar bu Ningrum.
''Apa ijab kabulnya sudah diselenggarakan bu?'' Tanya Putri.
''Sudah nak, mulai sekarang kamu sudah sah
menjadi seorang istri, ayo sekarang waktunya memperkenalkan pengantin wanitanya ke semua orang, kami yang ada di sini akan mendampingi kamu menemui suamimu.
Putri pun mengangguk, ia sudah sedikit menerima semua ini, karena dikelilingi orang-orang yang selalu menyayanginya.
__ADS_1
Mereka pun berjalan ke bawah dimana semua orang menantikan mereka.
Putri yang didampingi oleh ayahnya di sebelah kiri dan ibunya di sebelah kanan dengan warna pakaian yang senada, terlihat elegant dan kompak.
Mereka menuntun Putri berjalan dengan pelan dari satu tangga ke tangga yang lain.
Putri yang merasa deg-degkan mengenggam erat tangan ayahnya.
Surya menatap anaknya yang terlihat panik,
''Tenang nak, ayah selalu bersamamu,'' lirih Surya yang membuat Putri seketika tersenyum.
Ia pun mengangguk, terlihat semua orang menatap ia dengan tampang kagum dan terpana, membuat Putri menjadi salah tingkah.
''Ibu, apa ada yang salah dengan wajahku? Kenapa semua orang menatapku sepeti itu?'' Gumamnya.
Ningrum pun tertawa melihat tingkah anaknya yang ternyata masih sepolos itu walaupun sudah menjadi istri orang.
''Tidak ada yang salah dengan mu nak, mereka hanya kagum melihat anak gadis kesayangan ibu yang cantik jelita ini,'' Ningrum pun tersenyum.
Setelah mereka melewati tangga satu persatu, akhirnya mereka sampai dimana semua orang menunggu mereka.
Seorang WO yang sudah ditugaskan untuk membawa rangkaian acara hari ini, bersorak gembira melihat mempelai wanita yang begitu cantik dan mengalihkan pesonanya.
Putri pun dipersilahkan maju ke depan panggung untuk bertemu dengan lelaki yang hari ini telah resmi menjadi suaminya.
Victor dan kedua orang tuanya beserta kedua sahabatnya berada di sudut panggung yang sedikit tertutup, hingga Putri tidak bisa melihat keberadaan mereka. Di sana tersedia tempat duduk beserta makanan yang dikhususkan untuk mereka.
Victor yang menatap Putri tanpa berkedip, sungguh wanitanya sangat mempesona dan menggoda imannya, melihat leher jenjang Putri membuat hawa panas menyeruak di tubuhnya.
''Heh, udah kaya buaya ketemu mangsanya aja lu ngab, sabar..! Ntar malam juga lu kenyang,'' goda Doni yang menyenggol siku Victor.
Orang tua Victor pun tertawa geli mendengar gurauan Doni, mereka tidak menyangka anak lelaki semata wayang mereka sudah menjadi suami orang.
''Nanti malam jangan lupa video call sama kita berdua ya, itung-itung mau belajar siapa tau kita juga nikah dadakan kaya elu,'' Wiliam pun mencoba menggoda Victor.
Victor pun menatap tajam ke arah mereka berdua. ''Belajar matematika aja ngga lulus lu, udah mau belajar begituan aja, belajar dulu sono yang rajin,'' balas Victor sambil melempar bulatan tisu yang ia pegang sedari tadi.
__ADS_1
Sedangkan Heru dan Sukma hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
''Btw, Putri cantik banget ya, gue jadi pangling, harusnya Putri buat gue, dulu kan elu yang nyakitin dia, dan gue yang nemenin dia di saat terpuruk, tapi kenapa sekarang lu yang malah dapetin dia? Hmm.. gue tak terima, ''Oceh Doni tanpa rasa berdosa, bahkan ia tidak segan berbicara seperti itu di depan orang tua Victor.
''Bodo amat, yang penting Putri udah jadi bini gue, lu nggak bakal bisa deketin dia lagi, awas aja lu sampai deket-deket ama dia,'' ancam Victor dengan menautkan kedua alisnya.
''Lah gue mah juga bodo amat, kalau elu nyakitin Putri, terus kalian berpisah, udah pasti gue bakalan maju bung, sekarang mah janda semakin terdepan,'' balas Doni yang sudah membusungkan dadanya dengan bangga.
Mendengar ucapan Doni, seketika jantungnya bergemuruh, wajahnya semakin beku dan tatapannya semakin dingin, dengan spontan ia langsung memegang kerah baju doni dan ingin menonjoknya.
Untung saja Doni menahannya dengan cepat,
''Eit...eits.. santai bos, jangan emosi, yaelah gue becanda doang Vic, kaga usah dimasukin ke hati, kaya ngga tau gue aja, segitu takutnya lu kehilangan ibu negara ya,'' goda Doni lagi, begitulah Doni, ia sangat pintar mempermainkan suasana.
Victor yang terlihat kesal melepaskan genggaman tangannya dari kerah baju Doni.
''Awas aja lu sampai macam-macam ama bini gue,'' ancam Victor yang duduk kembali dan merapikan bajunya terlebih dahulu.
''Yaelah ngab, serius amat lu, mana berani gue macam-macam, sayang nyawa,'' oceh Doni lagi sambil meneguk minuman manis yang ada di depannya
''Hei, sudah jangan berantem, malu dilihat orang,'' lerai Wiliam yang sudah pusing mendengar perselisihan kedua sahabatnya itu,
''Teman lu bikin gue emosi,'' balas Victor dingin.
''Lu nya aja yang kagak bisa diajak bercanda,'' lawan Doni yang nggak mau kalah.
''Diam gak lu..!'' Bentak Wiliam ke arah Doni.
''Kalau masih berisik, gue sumpal mulut lu pake sepatu,'' ujar Wiliam yang membuat Doni terdiam dan memonyongkan bibirnya ke depan.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1