Pacar Galak

Pacar Galak
Memancing Keributan


__ADS_3

''Ngapain lu di rumah gue..!'' Bentakan suara itu sungguh menggema dan membuat semua yang ada di sana menoleh ke arahnya.


''Putri..! Kamu sudah bangun nak? Ayo gabung sini.!'' Ujar Ningrum berusaha menenangkan anaknya yang tersulut emosi.


''Nggak bu, Putri nggak mau berurusan lagi dengan dia.!'' Putri menunjuk ke arah Victor dan tidak lupa ia memberikan tatapan tajam.


''Mm..maksud kamu apa?'' Tanya Victor dengan gugup.


''Gara-gara kau..! Masa depan gue hancur,'' geram Putri.


''Nak, tenang dulu, jangan marah-marah seperti ini,'' Ningrum berusaha menenangkan anak gadisnya itu.


''Bu, dia yang sudah membuat aku mendapatkan surat panggilan dari bapak kepala sekolah, membuat ayah marah dan berniat menjodohkan aku, aku tidak mau dijodohkan bu, aku ingin memilih pasangan hidupku sendiri, dan lagian aku ingin mengejar cita-cita ku dulu bu, kenapa ayah begitu tega kepada ku bu,'' Putri kembali menangis karena sudah tidak bisa menahan air yang menganak sungai di kelopak matanya.


''Maafkan aku, Put!!'' Lirih Victor yang tidak tega melihat wanita yang ia cintai menangis karena ulahnya.


''Apakah dengan permintaan maaf mu bisa membuat ayah ku membatalkan rencananya..? Kalau tidak bisa, kau tidak perlu membuang energi untuk meminta maaf, karena aku tidak akan pernah memaafkan mu dan aku sangat membenci dirimu.''


''Jangan pernah lagi kau menampakkan diri di hadapan ku lagi..!'' Bentak Putri dengan suara lantangnya.


''Putri..!'' Tiba-tiba Surya datang dan membentak anaknya dengan perasaan emosi.


''Ayah tidak pernah mengajarkan kamu menjadi anak yang tidak sopan seperti ini.''


''Minta maaf kepadanya..!'' Titah Surya dengan tatapan tajamnya.


''Yah, dia yang sudah membuat Putri dipanggil ke ruangan kepala sekolah,'' jelas Putri.


''Jangan membantah..! Ayo minta maaf..!'' Bentak Surya dengan tegas, Ningrum berusaha menenangkan suaminya itu.


''Ta..tapi ayah.!''


''Tidak ada tapi-tapian, ayo minta maaf...!'' Bentak Surya dengan tatapan tajamnya, membuat Putri menciut.


''A..aku minta maaf..!'' Kata-kata itu berhasil lolos dari bibirnya, ia pun kembali menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan orang di sekitarnya.


Dengan perasaan kecewa ia berlari ke kamarnya, tanpa menghiraukan panggilan dari ayah dan ibunya, ia menutup pintu kamarnya dengan sangat keras dan melanjutkan tangisannya tidak lupa ia memeluk boneka tedy bear kesayangannya.

__ADS_1


Putri tampak kecewa dengan perlakuan ayah Surya terhadap dirinya, tidak pernah seumur-umur ayah kesayangannya itu membentaknya seperti tadi di depan orang yang jelas sudah membuatnya hancur.


...----------------...


''Maafkan aku, Put..! Sudah membuatmu kecewa. Put, aku sayang kamu, aku mohon jangan diamkan aku seperti ini, lebih baik aku mendengarkan kamu marah dari pada kamu mendiamkan aku seperti ini, aku mohon Put,'' ujar Victor dengan tatapan sendunya meraih tangan Putri dengan lembut.


Flasback on.....


''Om, maafkan aku yang telah memancing keributan di rumah ini, kalau saja aku tidak ke sini, mungkin pertengkaran barusan tidak akan terjadi,'' lirih Victor dengan menekuk wajahnya.


''Tidak masalah Victor, om tidak benar-benar marah kepada Putri, om hanya ingin Putri sedikit menghargai keberadaan kamu di sini, Vic.'' Jelas Surya dengan yakin.


''Om..! Bolehkah saya menyusul Putri? Saya akan mencoba menjelaskan kepada Putri agar ia tidak salah paham.''


''Apa tidak sebaiknya kamu tunggu dulu agar emosinya sedikit mereda? Agar kalian tidak berseteru lagi??''


''Bukankah lebih cepat lebih baik, om? Agar masalah ini tidak berlaru-larut.'' Ujar Victor dengan tegas.


''Ya sudah kalau itu maumu.''


Victor pun menyusul Putri ke kamarnya yang kebetulan tidak di kunci, ia menghampiri Putri yang sedang menangis sambil memeluk boneka tedy bear kesayangannya.


Flasback Off...


''Vic...!'' Putri memanggil nama Victor yang sudah melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Putri, karena dari tadi wanita itu hanya mendiamkannya.


Putri berlari ke arah Victor memeluknya dengan sangat erat sambil kembali menangis sejadi-jadinya.


''Aku takut..!'' Lirihnya.


Victor yang kaget karena tiba-tiba Putri memeluknya berusaha mengontrol dirinya. Ia mengelus pelan punggung Putri dengan sayang untuk memberikan sedikit ketenangan pada Putri.


Ia benar-benar tidak tega melihat Putri menangis seperti itu, ingin rasanya ia menceritakan semua rencana orang tua mereka, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa sampai rencana itu berhasil hingga ia sah menjadi suami Putri.


Victor masih mengelus punggung Putri dan membiarkan Putri di dalam dekapannya hingga Putri lebih tenang, jelas terlihat bahwasannya Putri begitu nyaman berada di dekapan Victor.


''Nangisnya udah?'' tanya Victor yang sudah melepaskan pelukannya, ia merapikan rambut Putri yang terlihat berantakan dan menghapus air mata yang membasahi pipi wanita kesayangannya itu.

__ADS_1


''Blush..''


Pipinya seketika merah merona mendapat perlakuan hangat dari Victor membuat ia menjadi salah tingkah.


Ia berusaha membuang muka ke sembarang arah agar Victor tidak menyadari kalau wajahnya sudah merah bersemu seperti udang rebus.


''Jangan lihat yang lain, lihat aku aja.! kamu tambah cantik kalau salah tingkah seperti ini,'' ujar Victor yang sudah membenarkan posisi wajah Putri untuk kembali menghadapnya.


''Apaan sih..!'' Putri mencubit pinggang Victor yang berhasil menggodanya, hingga Victor mengaduh kesakitan diiringi dengan gelak tawa pria itu.


Victor meraih kedua tangan Putri, ''Maafkan aku, walaupun maaf ku tidak sepenuhnya bisa merubah keadaan, setidaknya aku akan berusaha untuk berbicara kepada om Surya kalau kamu tidak bersalah, kamu jangan sedih lagi ya.!''


''Aku takut kalau sampai perjodohan itu terjadi, aku nggak kenal lelaki itu, kalau ia tidak bisa menerima sikap aku yang seperti ini gimana? aku hanya berharap perjodohan ini tidak berlanjut, karena aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, dengan lelaki yang menyayangi dan menerima aku apa adanya.'' Lirih Putri dengan tatapan sendunya.


''Kalau seandainya lelaki itu aku, apa kamu mau menikah dengannya?'' Victor menangkup wajah Putri dan mengelusnya dengan sayang.


Putri menatap tajam bola mata indah Victor, ia berusaha menata hatinya untuk tidak terlalu berharap, karena ia meyakini kalau itu tidak akan pernah terjadi.


''Mana mungkin teman papa itu orang tua Victor, aku ngga mau berharap, walaupun sebenarnya aku ingin sekali itu terjadi, dari pada aku harus menikah dengan orang yang tidak aku kenal dan aku sayangi, hah tapi sudahlah..!'' Gumam Putri dengan menghela nafasnya dengan pasrah.


''Apaan sih, gak lucu..! Udah sana keluar..! Orang lagi serius dibawa becanda mulu, jadi kesal..!'' Ujar Putri yang berhasil melepaskan tangan Victor dari pipinya dengan sedikit kasar, ia pun melangkah ke kamar mandi dengan perasaan kesal dan mood yang lebih buruk dari sebelumnya.


Victor berusaha menahan langkah Putri dengan menarik tangannya, ''Tolong jawab pertanyaan ku kali ini, Put..!'' Perintahnya dengan sedikit memaksa, terlihat aura dingin dari wajah tampannya, membuat Putri kembali terdiam dan menatap bola matanya.


''Jawab..!'' Perintah Victor.


''Aku akan menerimanya, karena aku sangat mencin..!'' Ucapan itu terhenti dikala Putri tersadar dengan omongannya sendiri.


''Mampus gue, ngomong apa sih.? bikin malu aja...!'' Batin wanita itu yang sudah kalang kabut dengan ucapannya sendiri.


Ia berusaha melarikan diri ke kamar mandi agar terhindar dari pertanyaan ataupun tatapan Victor yang penuh tuntutan.


Victor tersenyum dengan penuh bahagia meninggalkan kamar Putri karena telah mendapatkan jawaban yang begitu ia inginkan.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2