Pacar Galak

Pacar Galak
Sungguh Familiar


__ADS_3

Malam itu, Sukma menceritakan semua kejadian masa lalunya kepada anak semata wayangnya. Victor yang mendengar dan melihat mamanya seperti menahan sesak di dada, berusaha untuk menenangkan mamanya.


Victor tidak menyangka kalau masa lalu orang tuanya dan orang tua Putri begitu buruk, hingga ia begitu sulit untuk berpikir bagaimana caranya mempersatukan mereka. Karena ia tidak ingin dengan adanya masalah orang tuanya ini, akan mempersulit ia untuk mendapatkan hati Putri. Sungguh, ia sudah sangat mencintai Putri pada saat sekarang ini.


Setelah mamanya sedikit lebih tenang, ia kemudian mengantarkan bu Sukma ke kamar. Pak Heru yang masih merasa kesal dengan istrinya langsung menutup badannya dengan selimut, sedangkan Sukma yang melihat tingkah suaminya itu, hanya mendengus kasar. Mereka pun saling diam membisu tanpa ada yang memulai pembicaraan.


*


Pagi ini Victor sudah berada di depan rumah Putri dengan motor kesayangannya. Ia menjemput Putri untuk pergi ke sekolah bersama.


Putri yang tidak mengetahui Victor sudah menjemputnya, terlihat kaget melihat Victor yang sepagi ini sudah berada di depan rumahnya.


''Ngapain lu ke sini?'' ujar Putri yang sudah menghampiri Victor dan berniat ingin mengomelinya.


''Jemput kamu dong, masa mau jemput bang Putra, kan gak lucu,'' balas Victor menggoda Putri.


''Gue nggak mau bareng lu, udah sono pergi, bikin badmood aja pagi-pagi,'' omel Putri.


Pak Surya yang akan berangkat ke kantor di dampingi oleh istri tercintanya ke depan pintu, ia melihat anaknya sedang bersama seorang laki-laki langsung menghampiri mereka.


''Put..! jadinya kamu berangkat sama temen? katanya mau sama angkot,'' ujar pak Surya yang menatap Victor dengan intens.


"Wajahnya terasa sangat familiar," batin pak Surya di dalam hati.


Sedangkan Victor yang melihat pak Surya, spontan turun dari motornya dan menyalami pak Surya dengan sopan.


"Perkenalkan om, nama saya Victor, saya temannya Putri. Kebetulan saya lewat sini sekalian aja saya singgah untuk menjemput Putri om, ujar Victor sopan.


"Eh ada nak Victor, kemana aja? udah lama nggak mampir kesini," ucap bu Ningrum sambil menatap Victor.


"Ibu mengenalinya?" tanya pak Surya heran kepada istrinya.


"Kenal yah, ini teman Putri, teman dekat malah, ya nggak put..?" tanya Ningrum kepada Putri yang berusaha menggoda anak gadisnya itu.

__ADS_1


"Apaan sih ibu," balas Putri manja.


"Ya udah, Putri berangkat dulu ya yah, bu," ucap Putri sambil menaiki motor Victor. Putri yang tidak mau urusannya jadi panjang dengan ibunya, terpaksa menuruti permintaan Victor.


"Kamu hati-hati ya nak,"


"Jaga anak saya, jangan ngebut di jalan," peringatan pak Surya kepada Victor.


"Siap..! baik om, saya akan hati-hati, kita berangkat dulu ya om," pamit Victor dengan sopan kemudian ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju sekolahnya.


Surya pun bergumam kepada istrinya. "Rasanya ayah sungguh familiar dengan wajah anak muda tadi bu," ucap pak Surya.


"Memangnya siapa ayah?" tanya bu Ningrum pura-pura tidak tau.


"Entahlah..! yasudah, ayah berangkat dulu ya bu,'' pak Surya mencium kening istrinya dengan lembut, sedangkan bu Ningrum mencium tangan suaminya dengan sopan, setelah itu pak Surya melajukan mobil yang ia kendarai menuju kantornya.


*


Belum sempat Putri menjauh, Victor sudah menahan tangan Putri dengan cepat.


"Ayo kita jalan berbarengan," ucap Victor dengan menatap datar ke arah Putri.


"Nggak mau..! Lepaskan..! bentak Putri yang berusaha terlepas dari Victor.


Mendengar Putri membentak seperti itu, ia begitu terkesiap, ia menarik tangan Putri dengan kuat hingga Putri jatuh ke dalam pelukannya.


"Jangan pernah membentak ku seperti itu lagi, atau kau ingin ku melakukan hal yang tidak wajar di depan semua orang?" ancam Victor.


Putri pun langsung panik, mengingat Victor orang yang sangat nekat, ia langsung mengiyakan ucapan Victor, ia begitu takut kalau Victor berani menciumnya di depan orang ramai seperti ini,


Victor melepaskan pelukan itu, ia menggenggam tangan Putri dengan lembut.


"ayo, jalan..!" perintah Victor yang dengan bangga menggandeng tangan Putri.

__ADS_1


"Dasar..! pemaksa..! gumam Putri samar-samar yang masih terdengar oleh Victor. Victor pun hanya tersenyum licik karena ia bisa menaklukkan Putri sepagi ini.


Victor mengantarkan Putri sampai di depan kelasnya. Banyak mata yang memandang mereka, membicarakan kedekatan mereka lagi, karena seperti yang mereka tau, kalau sebelumnya ada kabar miring antara hubungan Victor dan Putri hingga satu sekolah menggosipkan mereka.


"Nanti sepulang sekolah aku tunggu kamu di parkiran yah," ujar Victor.


"Nggak mau, gue bisa pulang sendiri," balas Putri yang masih jutek kepadanya.


"Jangan membantah...!" Victor menekankan setiap ucapannya kepada Putri.


"Yaudah iya," balas Putri lagi dengan kesal kemudian ia meninggalkan Victor yang tersenyum penuh kemenangan.


"Dengan ancaman seperti itu saja kamu langsung panik, takut banget ciuman pertamanya itu akan aku ambil, tapi tenang itu pasti akan menjadi milikku seutuhnya, aku akan berusaha memperbaiki semuanya, gumam Victor di dalam hati.


Kemudian ia melangkahkan kaki menuju dimana kelasnya berada.


"Ciee...! ada yang lagi kasmaran nih," goda Raysa yang memang melihat dari kejauhan kalau Putri bergandengan tangan.


Putri menatap Raysa dengan kesal, "Apaan sih, Ray..! bentak Putri yang berusaha menutupi wajahnya yang sudah memerah seperti udang rebus.


Raysa hanya tertawa melihat tingkah malu-malu Putri.


"Put, lu beneran udah balikan sama Victor?" tanya Rendi yang begitu tidak suka dengan kabar ini. Ia takut kalau Putri menerima Victor lagi, ia akan tersakiti seperti sebelumnya. Mengingat bagaimana terpuruknya Putri pada saat itu.


"Nggak, gue nggak balikan sama dia, dia aja yang suka memaksa, masa kalau gue nggak mau menuruti ucapannya gue akan di cium di depan umum, dimana harga diri gue nantinya.


''Memang dasarnya saja kalau ia itu sangat menyebalkan." balas Putri menggerutu mengingat perlakuan Victor sepagi ini yang sudah begitu lancang kepadanya.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2