
''Aaww..! sakiit..! pelan-pelan pak,'' ujar Cantika yang sedari tadi meringis kesakitan.
Putra begitu tidak tega melihat Cantika seperti itu, ia berusaha mengobatinya dengan pelan.
''Lagian kenapa kamu begitu ceroboh, kenapa buru-buru? seperti dikejar orang gila saja,'' oceh Putra.
''Sebenarnya saya takut pak, makanya saya buru-buru,'' Cantika menunduk menahan malu di depan bosnya itu.
''Apa yang kamu takutkan? lagian kenapa kamu tidak membangunkan Putri saja kalau kamu memang merasa takut,'' ocehnya lagi membuat Cantika hanya terdiam.
Setelah mengobati luka itu, Putra merapikan kembali kotak P3K dan meletakkan kembali di kamarnya.
''Tunggu sebentar, jangan kemana-mana,'' tegas Putra dan ia pun berlalu ke kamarnya, setelah itu ia mengambil sapu dan membersihkan beling kaca yang berserakan.
Dirasa semua sudah bersih, ia pun menghampiri Cantika yang dari tadi menatap apa yang ia lakukan tanpa jeda.
''Ayo saya antar ke kamar..!''
Putra memapah tubuh Cantika yang mungil, terlihat padat dan berisi, membuat tubuh Putra menjadi panas dingin apalagi dengan balutan baju tidur seksi yang tipis dan transparan, pikirannya melayang entah kemana, pikiran keji itu mengotori otaknya malam ini membuat ia gugup berada di samping Cantika.
Cantika yang berpakaian seperti itu ketika tidur tidak menyadari kalau ia sekarang berhadapan dengan siapa, ia hanya memikirkan agar cepat sampai di kamar dan tidur untuk mengistirahatkan badan dan otaknya.
Subuh menjelang pagi, Putri dan Cantika terbangun dari tidur dan mengerjakan sholat subuh dilanjutkan dengan ritual pagi mereka masing-masing.
Putri yang melihat kaki Cantika di perban, menghampiri Cantika dengan terburu-buru, ''Kakinya kenapa kak?''
''Ooh.. itu.. semalam terkena belingan kaca,'' ujarnya.
''Beling kaca..? dimana kak? bukannya semalam kita tidur?''
''Semalam aku merasa haus dan mengambil minum ke dapur, tiba-tiba aku kaget dan gelasnya jatuh mengenai kaki ku,'' jelas Cantika.
''Kok kakak nggak bangunin aku? trus siapa yang bantuin?''
''Pak Putra..!''
''Hmmm.. berarti semalam mesra-mesraan dong kak,'' goda Putri mengerlingkan matanya.
''Apaan sih dek..! udah sana..! sarapan dulu
nanti telat loh ke sekolahnya,'' kesal Cantika yang sudah menahan malu.
''Oke, oke..! kakak juga siap-siap ya aku tungguin di bawah, kita sarapan bareng,'' teriak Putri yang sudah melangkah keluar kamar meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
Cantika yang sudah terlihat segar setelah mandi, memakai baju santai yang di pinjamkan Putri kepadanya. Rambutnya di kuncir ke atas memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan dan mulus.
Ia menyusul Putri ke meja makan karena ia merasa perutnya juga sudah sangat lapar, dengan langkah pelan ia menuruni anak tangga karena insiden semalam yang mengakibatkan kakinya cidera. Untung saja masih bisa berjalan, kalau tidak ia akan menyusahkan semua orang, pikirnya.
Tiba di meja makan ia terlihat kaget mendapati Hary berada di sana dan makan bersama dengan Putra dan adiknya, begitupun Hary yang kebingungan menatap Cantika.
''Cantik? kamu di sini?'' pertanyaan itu membuat Putra jadi salah tingkah tetapi ia berusaha terlihat tenang.
''Iya pak,'' balasnya gugup.
Mereka makan dengan tenang, hanya dentingan sendok yang menemani sarapan mereka pagi ini.
Setelah selesai sarapan, Cantika membawa piring bekas mereka semua ke belakang yang diikuti oleh Putri.
''Pak..semalam anda nggak salah masuk kamar kan?'' goda Hary sambil berbisik kepada bosnya itu.
Membuat bosnya menatap dengan tajam ke arahnya.
''Hary..!'' geramnya.
''Kok dia bisa di sini pak? izin cuti kepada saya ternyata ia di sini, apa ada yang anda sembunyikan dari saya pak?'' selidik Hary tanpa rasa takut melihat wajah bosnya yang sudah terlihat menahan emosi.
''Pagi ini kamu sudah terlalu banyak bicara Hary, simpan suara dan tenaga mu untuk meeting dengan klien nanti,'' ujarnya dan berlalu mengambil kunci mobil beserta jas kerjanya.
''Iya bang, tunggu sebentar.'' Putri berlari kecil menghampiri abangnya sedangkan Cantika mengiringinya dari belakang.
''Kak..! pulangnya nanti sore aja ya, tungguin aku pulang sekolah dulu,'' Putri menatap Cantika penuh harap.
''Baiklah, kakak tungguin kamu pulang sekolah, belajar yang rajin ya,'' Cantika mengusap kepala Putri dengan sayang.
Hary melajukan mobilnya setelah semua memasuki mobilnya, kebetulan hari ini mereka berangkat menggunakan mobil Hary.
''Bos..! aku begitu penasaran kenapa Cantika bisa menginap di rumah bos?'' Hary masih menatap Putra dengan bingung.
''Simpan pertanyaan mu untuk meeting dengan klien nanti..!'' tegas Putra dengan tatapan dinginnya.
''Abang kenapa sih galak banget, nanti keriput loh, marah-marah mulu,'' celetuk adiknya yang tidak terima dengan sikap abang kesayangannya itu.
''Biar aku aja yang jawab deh, kalau abang nggak mau jawab.''
''Bang Hary sebenarnya yang bawa kak Cantika ke rumah itu aku, aku kesepian karena nggak ada ayah dan ibu, makanya aku ajak kak Cantika nginap di rumah dan kebetulan ia juga sedang cuti.''
''Kok kamu bisa kenal sama dia Put?'' Hary yang kebingungan hanya menunggu jawaban dari Putri tanpa melirik bosnya yang memberikan tatapan membunuh kepadanya karena terlalu banyak bertanya.
__ADS_1
''Ooh.. waktu itu kita tidak sengaja melihat kak Cantika sedang berjalan kaki mau berangkat ke kantor, dan bang Putra memberikan tumpangan kepadanya dan kita pun berkenalan di sana, dan bang Hary tau nggak kalau dia itu mempunyai hobi yang sama dengan aku, dan dia orangnya baik banget, memperlakukan aku seperti adiknya sendiri, aku sayang banget sama dia, aku berharap bang Putra mau menikahinya.'' ujar Putri panjang lebar.
''Uhuk..uhuk..! kode bos..!'' Hary kembali menggoda bosnya itu.
''Kau...!'' Putra memberikan tatapan membunuh membuat Hary kembali menciut.
''Abang juga terlihat menyukainya kan? buktinya abang semalam bermesraan dengan kak Cantika,'' goda Putri lagi.
''Deek..! abang cuma membantunya, bukan bermesraan..! kamu jangan mengada-ngada deh,'' ujarnya.
Putra terlihat salah tingkah di goda oleh adiknya itu, membuat Hary dan Putri tersenyum geli. Mereka sangat yakin kalau Putra benar-benar menyukai Cantika.
...****************...
Putri memasuki kelasnya dengan wajah yang terlihat sedikit murung, membuat ketiga sahabatnya bertanya-tanya.
''Put, lu kenapa? mukanya ditekuk gitu?'' Raysa yang memang terlihat kepo dengan apa yang terjadi kepada sahabatnya itu memberanikan diri untuk bertanya.
''Gue lagi males aja,'' Putri melipat tangannya di atas meja dan menidurkan kepalanya membelakangi sahabatnya itu. Raysa, Rendi dan Riko saling menatap satu sama lain dan saling terdiam.
''Put..!'' Rendi bergantian duduk dengan Raysa yang tepat berada di sebelah Putri, ia mengusap lengan Putri dengan lembut.
''Kalau ada masalah cerita, jangan disimpan sendiri,'' ucap Rendi mengingatkan Putri.
Putri hanya terdiam tanpa menoleh Rendi yang ada di belakangnya. Ia merasa sangat malas menceritakan isi hatinya saat ini kepada sahabatnya itu.
''Puut..!'' panggil Rendi lagi, ia melipat tangannya di atas meja dan menidurkan kepalanya seperti yang Putri lakukan, ia menatap punggung Putri yang membelakanginya.
''Gue udah kenal lu sejak lama, jadi gue tau kalau sekarang lu sedang tidak baik-baik saja, gue nggak maksa lu buat cerita, tapi gue mohon lu jangan kayak gini.'' ucap Rendi lagi.
Putri tertegun dengan ucapan Rendi, ia menoleh ke belakang dan mendapati Rendi menatapnya dengan tatapan sendu, ia pun tersenyum menatap Rendi.
''Terima kasih Rend!'' ujarnya, membuat Rendi membalas senyuman itu.
''Braakh..!''
''Apa-apaan nih..? teriak lelaki itu sambil menendang meja di depan meja Rendi, membuat semua yang ada di sana begitu kaget dengan kedatangan lelaki itu yang begitu sangat emosi melihat kedekatan Putri dan Rendi yang terlihat mesra saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung