
Victor melempar handphone Putri ke sembarang arah, ia begitu kesal melihat nama yang tertera di layar itu, ingin sekali ia memarahi laki-laki itu, karena beraninya ia menghubungi Putri sepagi ini.
Mengingat pernikahan ini masih harus disembunyikan ia pun mengurungkan niatnya untuk mengumpati lelaki itu.
Dengan tampang kesal Victor melangkah ke kamar mandi.
Setelah beberapa lama melakukan ritual mandinya, ia pun keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang terlilit dibagian bawahnya dan menampakkan dada bidang kekarnya yang sudah seperti roti sobek.
Sedangkan istrinya masih tertidur di kasur itu, yang membuat ia geleng-geleng kepala.
Ia menatap wajah istrinya yang sedang tidur, ''Adem,'' batinnya. Ia pun mengusap rambut Putri dan mencium pucuk kepala Putri dengan sayang.
Setelah memakai baju santainya, Victor berlalu ke dapur ingin membuatkan sarapan untuk istri tercintanya.
Karena Victor dan Putri akan tinggal di apartmen itu, orang tua Victor sudah mempersiapkan semua kebutuhan mereka dari isi kulkas hingga keperluan bulanan, mengingat kedua anak mereka masih sekolah, mereka tidak ingin sekolah mereka terganggu karena hal seperti itu.
Selama berkutat dengan peralatan dapur, wajah Victor terlihat sumringah, ia sangat bangga sudah menjadi suami orang yang begitu ia cintai dan hanya wanita itu yang bisa menaklukkan hatinya.
Lima belas menit berlalu, Victor pun selesai dengan kegiatannya di dapur, roti bakar sandwich andalannya sudah berada di depan mata, ia berharap istri tercinta menyukai masakan spesial darinya, karena jarang-jarang ia memasak di dapur.
Dua roti bakar yang diisi dengan daging, telor ceplok beserta sayur-sayuran, tidak lupa ia menambahkan saus sambel dan mayones untuk membuat rasa menjadi lebih gurih, dengan dua gelas susu coklat panas pelengkap sarapan mereka pagi ini.
Dengan berhati-hati Victor membawa sarapan itu ke dalam kamar untuk istri tercinta.
Victor membuka pintu dengan pelan, istri kesayangannya masih saja tertidur pulas.
“Sayang..!” Victor mengusap pucuk kepala Putri dengan pelan.
“Bangun yok, kita sarapan dulu,” ujarnya lagi.
Tetapi istri cantiknya tak kunjung membuka matanya, ia masih nyenyak dengan alam mimpinya, membuat Victor menghembuskan nafas dengan kasar.
Ia pun menggoyangkan tubuh Putri dengan pelan,
“Puut..! Ayo bangun, aku sudah lapar ayo kita makan,” keluhnya lagi.
“Kalau tidak mau bangun aku akan mencium bibirmu,” goda Victor mengulum senyumnya.
__ADS_1
Berniat ingin menggoda Putri malah ia yang tergoda melihat bibir sensual yang berwarna pink itu.
“Kok malah gue yang tergoda dan ingin ******* bibir itu,” batin Victor.
Karena tidak melihat wanita itu melakukan pergerakan, dengan pelan Victor mendekatkan wajahnya ke wajah Putri, bibir keduanya beradu tanpa ada yang menghalangi.
Dengan perlahan Victor memainkan lidahnya di ujung bibir ranum itu, setelah puas bermain di area bibir, dengan pelan ia membuka bibir Putri dengan lidahnya, ia berhasil menautkan kedua lidah mereka, dengan buas ia ******* bibir Putri yang begitu menggoda.
Membuat tidur Putri terganggu, karena ada yang mengusik tidurnya, ia pun ingin berteriak tetapi ia tidak bisa melakukannya karena Victor yang asyik memainkan bibirnya.
“Emmh..!” Ujar Putri yang kelabakan sambil memukul punggung Victor dengan kuat.
Victor pun menghentikan aksinya, ia pun tersenyum senang melihat istrinya sudah bangun karena ulahnya.
“Selamat pagi sayang..!” Ujar Victor melemparkan senyuman tampannya.
Seketika wajah Putri pun merah merona, karena tidak kuat menahan malu ia pun memukul dada bidang Victor dengan kuat, membuat Victor kaget dengan aksi Putri dengan pelan ia menahan tangan Putri.
“Kenapa sayang, aku salah apa lagi,” ujar Victor yang susah payah menahan tangan Putri yang tetap memukulnya.
“Kamu jahat, kamu mengambil ciuman pertamaku, aku benci..!” Teriak Putri dan ia pun menangis sejadi-jadinya.
“Hey.. hey sayang..! Dengarkan aku..! Memangnya kamu ingin ciuman pertama mu buat siapa?” Tanya Victor dengan penuh selidik.
“Buat suamiku lah, buat siapa lagi, tetapi kamu dengan seenaknya saja mengambilnya,” ucap Putri masih dengan tesedu-sedu.
Victor pun tersenyum gemas melihat tingkah Putri, ia yakin istrinya masih belum sadar kalau ia sekarang sudah menjadi suami istri.
Melihat Putri yang masih menangis, Victor langsung merengkuh Putri dan mendekapkannya kedalam pelukan lelaki itu.
“Jangan menangis sayang, kamu pasti melupakan kalau aku itu sudah menjadi suami, iya kan?” Tanya Victor dengan tatapan menggoda.
Putri pun terdiam, dengan tampang polosnya ia menatap Victor, membuat suaminya semakin gemas melihatnya.
Pipinya sudah merah merona menahan malu, bisa-bisanya ia berbicara seperti itu di depan suaminya.
“A-aku malu,” lirih Putri dan ia kembali memeluk Victor dengan erat agar Victor tidak bisa melihat wajahnya yang sudah memerah seperti udang rebus.
__ADS_1
Victor pun mengusap punggung Putri dengan pelan,
“Tidak apa-apa kok, aku paham karena kamu belum terbiasa, kalau sudah seperti itu, berarti aku boleh mengecupnya lagi dong,” goda Victor lagi.
Putri mencubit pelan bibir Victor, “Dasar mesum..!” Ujar Putri dengan gemas.
Membuat Victor terkekeh geli melihat reaksi Putri yang terlihat lucu baginya.
''Ayo kita sarapan sayang, aku sudah membuatkan roti bakar dan susu coklat panas kesukaan mu,'' ujar Victor yang sudah melepaskan pelukannya.
Putri mengalihkan pandangannya ke arah makanan yang terletak di atas nakas, ia pun tersenyum kecut karena seharusnya ia yang menyiapkan sarapan untuk suaminya, tetapi baru hari pertama menjadi istri, ia sudah merasa gagal dan malu.
''Aku mandi dulu sebentar ya, setelah itu aku akan sarapan,” Putri pun berlalu ke kamar mandi dan tidak lupa ia membawa handuk kimononya agar tidak terjadi drama seperti semalam.
Setengah jam berlalu, Putri pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimononya, rambut yang basah ia lilitkan dengan handuk kecil agar cepat kering.
Ia menatap suaminya yang sedang bersantai di sofa kamar itu sambil menonton tv, kasur yang tadi berantakan sudah tertata rapi, kamar itu telihat adem dan tertata.
“Kamu yang beresin semuanya?” Tanya Putri penasaran.
Victor pun mengangguk, ''Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar,'' balas Victor sambil memegang perutnya.
''Tapi aku tidak mempunyai baju ganti, aku boleh memakai baju mu lagi?'' Ujar Putri.
''Boleh sayang, lagian aku tidak bisa menahan nafsuku kalau kamu hanya memakai ini saja, cepatlah menggantinya sebelum aku benar-benar khilaf.'' Cicit Victor dengan tatapan nakal.
Putri pun hanya cemberut melihat tingkah Victor yang selalu mesum. Ia memilih salah satu baju Victor yang ada di lemari ganti. Kemudian ia menghampiri suaminya yang telah menunggunya sedari tadi.
Mereka pun makan dengan tenang, Putri yang sudah merasa lapar dari semalam, langsung melahap sarapan yang telah dibuat dengan cinta oleh suami tercintanya dengan lahap.
Setelah menghabiskan sarapan mereka dengan tenang, Putri pun beranjak ke dapur untuk cuci piring bekas makanan mereka, Victor mengikutinya dari belakang.
Melihat mood Putri pagi ini sedikit membaik, dari pada semalam, Victor pun berniat ingin menceritakan semuanya kepada Putri saat ini juga, karena ia tidak mau menundanya lagi.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung