
Pak boy memerintahkan Victor, Rendi dan Putri mengikutinya ke ruangan bapak kepala sekolah,
Setelah tiba di sana, mereka dipersilahkan masuk dan pak Boy menceritakan semua yang terjadi di lapangan basket tadi.
Pak Alan mengeluarkan tiga surat panggilan di dalam laci meja kerjanya dan memberikannya kepada ketiga muridnya itu.
''Besok saya tunggu orang tua kalian di ruangan ini jam 9:30, untuk sekarang kalian boleh keluar.'' Ujarnya dengan tampang dinginnya, membuat ketiga muridnya menciut dan mereka pun keluar dari ruangan itu.
''Puas lu..? Tingkah lu udah kaya preman pasar tau nggak..! Dikit-dikit berantem, kaya nggak ada kerjaan lain aja.'' Bentak Putri dengan emosi. Kemudian ia meninggalkan Rendi dan Victor yang hanya terdiam dibentak seperti itu.
Jam pulang telah tiba, Putri pun berlari ke mobil abangnya yang sudah berada di depan gerbang sekolah sejak tadi.
''Abang sudah lama?''
''Sekitar 10 menitan dek, gimana sekolah kamu hari ini?'' Tanya Putra kepada adiknya sambil melajukan mobilnya dengan pelan.
Bang..! Aku pengen cerita,'' sanggah Putri dengan sedikit takut.
''Mau cerita apa dek? Serius banget kayanya.''
''Tapi jangan cerita ke ayah dan ibu dulu ya, janji.''
Putra tersenyum melihat adiknya yang sepertinya sangat ketakutan.
''Memangnya kamu mau ngomongin apa sih, sampe kaya gini banget?''
''Tapi abang janji dulu sama aku,''
''Iya-iya, abang janji, tunggu sebentar abang ketepiin dulu mobilnya ya.'' Ujar Putra sambil mengusap kepala adiknya dengan sayang, Putri pun mengangguk mengerti.
Setelah menepikan mobilnya Putra pun menatap adiknya yang terlihat sedikit panik.
''Kamu mau cerita apa?'' Putra mengenggam tangan adiknya, agar memberikan sedikit ketenangan kepada adik kesayangannya itu.
Putri mengeluarkan surat yang diberikan bapak kepala sekolah tadi, dan memberikannya kepada Putra.
Putra tersenyum melihat surat itu, dugaannya benar kalau masalah inilah yang akan dibahas adiknya, sebenarnya Putra telah mengetahui semua masalah yang terjadi di sekolah tadi dari Victor. Victor menceritakan semuanya kepada Putra setelah ia keluar dari ruangan kepala sekolah tadi. Dan ia tidak lupa menceritakan kejadian itu kepada kedua orang tuanya dan di sana juga ada kedua orang tua Putri yang sedang menikmati perayaan pertemuan mereka yang sudah kurang lebih 20 tahun tidak bertemu.
''Kenapa abang tersenyum?'' Abang tidak marah melihat surat ini? Ini kan surat dari kepala sekolah untuk orang tua bang, abang baca dulu deh,'' ujar Putri antusias.
__ADS_1
Putra mengusap lembut kepala Putri dengan sayang, ''Abang tidak perlu membacanya, abang sudah tau semuanya dari Victor, ia sudah menceritakan semuanya kepada abang, kamu tidak perlu cemas biar abang yang akan menemui kepala sekolah mu besok ya dek, lagian ayah sama ibu pulangnya besok malam, mana mungkin mereka yang akan bertemu dengan bapak kepala sekolah.''
''Abang, terima kasih, abang memang yang paling terbaik buat aku,'' ia memeluk abangnya dengan sangat erat.
Putra hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu, merasa sudah agak lama Putri masih tetap memeluknya, ia pun berucap, ''Ada yang ingin kamu bicarakan lagi?''
''Tidak.'' Putri menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri masih dengn memeluk abangnya.
''Jam berapa kita akan sampai di ruamah kalau kamu masih memeluk abang seperti ini?'' Ujar Putra dengan gaya khasnya yang terlihat kaku.
''Hehe..! Iya bang,'' Putri melepaskan pelukan itu.
''Ish.. abang kaku banget, males deh ah, gimana nggak jomblo kaya gitu kalau tidak bisa berprilaku manis terhadap perempuan,'' Putri ngedumel dengan suara pelannya yang masih terdengar oleh Putra, dan ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.
......................
Terlihat dua pasang suami istri sedang menikmati makan siang di sebuah restaurant yang terlihat sangat mewah di kota itu, Mereka makan dengan tenang tanpa ada berbicara sedikit pun. Begitulah aturan yang mereka buat, kalau sedang makan tidak ada yang boleh bersuara.
''Kapan acara itu akan kita gelar?'' Tanya Surya sambil memasukkan buah jeruk yang telah dikupas istrinya untuk pencuci mulut.
Mereka baru saja menyelesaikan makan siang mereka dengan sangat tenang.
''Apaan sih kamu mas, anak kita kan masih pada sekolah, masa Putri hamil dibangku sekolah, apa kata teman-temannya nanti.'' Sela Sukma yang tidak terima dengan ucapan suaminya.
''Ya tidak apa-apa ma, nanti kita kan bisa ngomong sama kepala sekolahnya, apa kamu tidak ingin menimang cucu?''
''Ya itu semua yang diinginkan orang tua pa, tapi kan kasihan Putri nantinya.''
''Ya tidak apa lah Sukma, anak kita juga sebenarnya saling mencinta, ngga baik loh dibiarin pacaran lama-lama. Kalian para istri ngikut aja deh apa yang direncanakan suami kalian ini.'' Ujar Surya yang kelihatan bersemangat.
''Iya deh kita nurut aja sama para suami,'' ucap Sukma dan Ningrum serempak sambil memberikan senyumannya. Mereka pun tertawa bersama. Lengkap sudah kebahagiaan mereka kali ini.
''Drrrrt..Drrrrt,''
Handphone Heru yang berada di atas meja bergetar seketika, di sana tertera nama Victor yang melakukan panggilan video call bersama papanya.
''Assalamualaikum, nak,'' ujar Heru yang sudah mengangkat video call anaknya tersebut. Terlihat penampilan anaknya yang kucel dan amburadul.
''Kamu kenapa nak? Habis berantem lagi?'' Terlihat wajah Heru yang seketika langsung berubah.
__ADS_1
Sukma pun menghampiri suaminya itu, yang terlihat sudah emosi dari nada bicaranya, dan ia pun berusaha menenangkan.
Victor menunduk merasa bersalah melihat papanya seperti itu, ia menceritakan semua kejadian di sekolah hingga ia diberikan surat panggilan dari kepala sekolah untuk orang tuanya. Ia yang menyangka papanya akan marah masih menunduk setelah menceritakan semuanya.
''Come on, nak..! Kenapa muka kamu bersedih seperti itu, tenang saja, papa akan datang ke sekolah besok untuk menghadiri panggilan itu, begitu pun dengan om Surya, ia pasti akan datang untuk memenuhi panggilan itu.''
Victor membelalakkan matanya saking kaget mendengar respon dari papanya itu.
''Papa tidak marah?'' Tanya Victor meyakinkan dirinya.
''Tidak nak, papa justru bangga mempunyai anak yang bisa memperjuangkan wanitanya, ya seperti papa ke mama kamu,'' ujar Heru yang membuat semua yang mendengarnya tersenyum geli.
''Satu kabar lagi yang ingin papa katakan, pernikahan kamu dengan Putri akan kami percepat, jadi kamu harus bersiap-siap, dan kamu harus bersungguh-sungguh belajar, karena setelah ini kamu akan menjadi kepala keluarga.''
''Dan setelah kamu lulus nanti, papa akan langsung meletakkan kamu di sebuah anak perusahaan, dan kamu akan mempertanggung jawabkan perusahaan itu kepada papa, dan nantinya kamu akan dipandu oleh asisten papa untuk beberapa bulan ke depan, hingga kamu bisa mengendalikan perusahaan itu.''
''Sembari mengurus perusahaan, kamu akan papa masukkan ke universitas ternama di kota ini dengan jurusan bisnis, jadi kamu harus membagi waktu, dan tidak ada lagi waktu kamu untuk huru-hara bersama teman-teman kamu lagi.''
''Kamu paham dengan semua ucapan papa? Ada yang perlu diperjelas lagi?'' Tanya Heru kepada anaknya itu.
''Siap pah, aku akan berusaha melakukan semua yang papa inginkan demi masa depanku, apalagi kalau itu untuk memperjuangkan Putri, dengan senang hati papa.'' Ujar Victor yang terlihat sangat senang mendengar semua penjelasan papanya.
Semua yang ada di sana pun tersenyum mendengar semua percakapan antara ayah dan anak itu.
''Pah, sepertinya Putri marah banget sama aku dengan masalah tadi pah, aku harus gimana ya pah, apa Putri mau dijodohkan dengan aku pah?'' Terlihat wajah Victor yang begitu panik memikirkan hubungannya denga Putri.
Tanpa permisi Surya mengambil handphone Heru dengan sigap, sehingga ia bisa melihat wajah Victor yang sedikit ditekuk.
''Tenang saja nak, Putri pasti akan menerima perjodohan ini, kamu serahkan semuanya kepada om,'' Surya berusaha meyakinkan Victor.
Victor pun tersenyum mendengar semangat dari Surya. ''Terima kasih ya om.'' Ujarnya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1