
Tanpa menunggu jawaban Putri, Helena sudah menarik rambut Putri dengan kuat menghadap ke arah cermin toilet, seketika Raysa langsung berlari ke arah Putri berniat ingin membantu sahabatnya itu, tetapi langsung dicegah oleh salah satu sahabat Helena.
“Oiii kak...! jangan main keroyokan gitu dong, kaya preman pasar aja,'' bentak Raysa dengan berteriak
“Diem gak lu….!” Bentak Helena sambil menatap tajam ke arah Raysa, seketika nyali Raysa menciut.
Putri yang sudah merasa kesakitan karena rambutnya ditarik kuat oleh Helena, hanya berusaha diam.
“Tuh...! lu liat siapa diri lu di cermin? Cantik gak lu?” ucap Helena kepada Putri dengan nada tingginya sambil menarik rambut Putri dengan kuat melebihi sebelumnya.
“Pantes gak lu bergandengan dengan Victor? Wajah udah kaya tungku gitu,'' masih aja sok percaya diri,” ucapnya lagi.
“Palingan lu itu cuman jadi bahan taruhan sama teman-temannya, jadi nggak usah sok cantik dan terlalu percaya diri deh,” ucap Helena menyeringai tipis dan melepaskan rambut Putri yang ia tarik.
“Cantikan juga gue kemana-mana, ya nggak??? ”ucap Helena meminta pembelaan ke teman-temannya yang langsung diiyakan oleh mereka.
Putri berusaha mengontrol emosinya, dengan pelan ia menarik nafasnya, sebenarnya ia sangat malas mengurus hal seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, wanita ini telah menguji kesabarannya.
“Udah puas lu memuji diri?” tanya Putri dengan serius kepada Helena.
“Yaa. !! Lu emang cantik, gue sangat mengakuinya, malah gue ngefans banget sama lu, karena kecantikan lu yang tiada tara ini, tapi gue miris aja, ngeliat orang cantik seperti lu kok ngejar-ngejar cowok sih, kayak ga punya harga diri aja gitu,” ledek Putri dengan sesantai mungkin.
Membuat Helena kesal dan sangat marah, ia menjambak rambut Putri dengan sangat kuat membuat Putri meringis kesakitan.
“Brengsek... !!!! Ngelunjak lu ya bocah ingusan, ” ucap Helena, ia memegang tangan Putri dan memojokkan Putri ke dinding toilet dengan kasar.
“Hentikan...!!” suara itu menggema di ruangan itu yang ternyata adalah Doni, ia tadi bermaksud untuk buang air kecil, tapi mendengar keributan di toilet cewek, ia pun berinisiatif melihat apa yang terjadi dan ia sangat kaget karena pacar sahabatnya di keroyok oleh teman sekelasnya.
Helena kaget dengan kedatangan Doni yang tiba-tiba dan ia langsung melepaskan tangan Putri, ia pun tertunduk.
“Sumpah gue nggak nyangka lu bakalan se brutal ini Helen, emang ya kalau wanita murahan seperti lu, akan bertingkah murahan seperti ini juga, jangan pernah lagi lu menyentuh Putri, kalau sampai itu terjadi lu berurusan sama gue,” ucap Doni dengan nada penuh ancaman.
Doni menarik tangan Putri dengan pelan, lepasin dia..!!” bentak Doni kepada kedua sahabat Helena.
Kedua sahabat Helena melepaskan tangan Raysa yang mereka genggam kasar.
__ADS_1
Doni membawa Putri dan Raysa keluar dari toilet itu, dan mengantarkan mereka sampai depan kelas.
“Lu beneran tidak apa-apa, Put? Ada yang sakit?” tanya Doni dengan cemas.
Putri hanya memperlihatkan senyum manisnya dan membuat Doni tersipu,
“Gimana Victor nggak tergila-gila, senyumnya manis gitu,” gumam doni dalam hati.
“Tidak apa-apa kak, gue baik-baik aja kok, makasih ya udah bantu gue tadi, kalau nggak, gue udah jadi dendeng rebus, ucapnya sambil tertawa.
Tidak tau kenapa Doni menjadi sangat suka menatap wajah Putri yang imut natural itu, apalagi melihat ia tertawa seperti itu.
“Sumpah Vic, kenapa cewek lu menawan bangat sih..! berasa pengen gue tikung aja di sepertiga malam," gumam Doni lagi.
“Iya, sama-sama, udah tugas gue sebagai sahabat Victor," ucap Doni dengan percaya dirinya.
“O iya! lu jangan percaya dengan semua ucapan Helena tadi ya, kalau masalah cewe, Victor tidak pernah main-main, dia sangat tulus kok mencintai lu, belum pernah loh Victor bersikap baik kepada wanita seperti yang ia tiap hari lakuin ke lu, jadi gue harap lu jangan percaya sama omongan orang ya, lu cari dulu kebenarannya,” ucap Doni.
“Iya, baik kak, sekali lagi terima kasih,” ucap Putri sambil tersenyum. Doni pun mengusap kepala Putri, sudah seperti abang dan adik saja.
“ Oke," ucap Putri dan Raysa, mereka pun memasuki kelas.
“Nyali lu kuat juga ya Put melawan senior murahan itu,” ucap Raysa ketika guru yang mengajar mereka izin ke ruangannya untuk mengambil barang yang tertinggal,
“Siapa senior murahan?" sambar Riko ingin tau, kemudian Raysa menceritakan kejadian di toilet tadi dengan cerita dibuat sedramatis mungkin olehnya kepada Rendi dan Riko , mereka kaget mendengar apa yang terjadi pada sahabatnya.
“Udahlah, Put! lu jangan takut lagi, ada abang Riko kok disini,” ucap Riko membanggakan diri.
“Nanti kalau Putri mau ke toilet ajak-ajak abang Riko aja yah, biar nggak ada yang gangguin Putri,'' ujar Riko menggoda Putri.
“Ish...! najong,” balas Raysa, sambil melempar kertas yang dibuat menjadi bola-bola kecil ke kepala Riko, Riko pun tertawa karena puas menjahili sahabatnya, agar suasana tidak menjadi tegang seperti sebelumnya, pikir Riko.
Setelah mengantarkan Putri dan Raysa ke kelas, sekuat tenaga Doni berlari ke toilet, karena ia sudah menahan kencing cukup lama, setelah itu ia langsung melangkahkan kaki menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, Doni menatap Helena dan kedua sahabatnya dengan tatapan membunuh, mereka yang mendapat tatapan seperti itu langsung menunduk takut.
__ADS_1
“Cuy ngeluarin apa lu di toilet, lama amat,” oceh Wiliam.
“Ngeluarin anak,” balas Doni dengan asal.
Victor dan Wiliam pun tertawa ngakak mendengar ucapan Doni, kemudian Doni menceritakan semua yang telah terjadi di toilet tadi, kepada Wiliam dan Victor tidak ada satupun cerita yang terlewatkan oleh Doni.
Mendengar semua cerita itu Wiliam dan Victor sangat kesal, mereka berniat menghampiri Helena dan kedua sahabatnya, tetapi guru mereka sudah memasuki kelas, mereka urungkan niat untuk menghampiri Helena.
Ketika sedang asyiknya membuat tugas yang diberikan guru, Doni pun membuka pembicaraan.
“ Vic, kalau dilihat-lihat cewek lu cantik juga yah," ucap Doni sambil membayangkan senyuman Putri tadi,
''Senyumnya itu loh, bikin gue klepek-klepek,'' ucap Doni lagi, ia tidak menyadari kalau Victor sudah terbakar emosi mendengar ucapannya.
"Pengen gue tikung deh di sepertiga malam," ucap Doni dengan dramanya.
Victor tidak segan-segan menabok Doni dengan emosi, hingga Doni tersadar dengan apa yang diucapkannya.
''Jangan pernah lu sentuh cewek gue Don..!" ucap Victor sambil menatap tajam ke arah Doni.
Dengan polos Doni menjawab, ''Yaah..!! Vic, tadi gue sempat mengusap kepalanya, gue elus pakai sayang kok,'' balas Doni menggoda Victor.
''Brakh...!!! Meja Victor tergeser ke depan, menimbulkan suara yang keras, ulah kakinya yang mendorong meja terlalu kuat, karena ia begitu emosi mendengarkan perkataan Doni, semua yang ada di sana langsung kaget dan menoleh ke arah sumber suara.
''Victor...!! apa yang kamu lakukan?'' tanya bu Tuti sedikit membentak, karena ia juga kaget dengan ulah Victor, ibu Tuti adalah guru bahasa inggris yang mengajar di kelas Victor.
.
.
.
.
bersambung
__ADS_1