Pacar Galak

Pacar Galak
Lampu Hijau


__ADS_3

''Gue nggak tau masalah apa yang terjadi antara orang tua gue dan orang tua Putri,'' ucapan itu langsung terlontar dari mulut Victor, setelah beberapa saat ia terdiam membisu.


Mendengar ucapan Victor, Doni dan Wiliam saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung, karena mereka belum bisa mencerna apa yang diucapkan Victor barusan.


''Maksud lu? mereka saling mengenal?'' tanya Doni dengan penuh kebingungan.


Victor mengangguk mengiyakannya.


''Bagaimana bisa?'' tanya Doni lagi.


''Gue nggak tau, tadi gue nganterin orang tua gue ke butik, sampai di sana gue begitu kaget karena yang mempunyai butik itu ternyata ibunya Putri.''


''Yang membuat gue lebih kaget lagi, papa gue begitu marah pada saat melihat ibu Putri. Gue nggak tau mereka mempunyai masalah apa, tapi yang pasti papa gue dan ayah Putri sekarang ini juga bermusuhan.''


''Gue bingung harus bagaimana.'' Ucap Victor yang sudah menekuk wajahnya.


''Putri tau masalah ini..?'' tanya Wiliam.


''Nggak..! dia nggak tau, dan gue udah minta tolong sama tante Ningrum untuk merahasiakan masalah ini dari Putri sampai masalah ini selesai.''


''Lu semua kan pada tau, hubungan gue dengannya sedang tidak baik-baik saja, malahan sekarang ini gue lebih sulit mendapatkan hatinya daripada dulu sebelum gue pertama mengenalnya, kalau sampai ia tau masalah ini, pasti dia akan lebih menutup hatinya buat gue, gue nggak mau sampai itu terjadi.''


''Karena gue sayang banget sama dia,'' lirih Victor.


Doni dan Wiliam menatap Victor dengan tatapan sendu sekali pun iba, karena mereka tau bagaimana perjuangan Victor untuk mendapatkan hati Putri dan menjaganya.


''Apa yang bisa gue bantu, Vic? apa perlu gue ngomong sama Putri biar ia percaya kalau semua tentang Helena hanyalah jebakan,'' ucap Doni yang sungguh tidak tega menatap temannya itu.


''Tidak usah Don.! biar gue buktiin sendiri kepadanya.''


''Ada satu hal lagi.''


''Ternyata Pertemuan keluarga gue dengan ibu Putri tadi, mama gue lah yang merencanakan semuanya, dan mereka juga berniat akan menjodohkan kami berdua secepatnya, setelah masalah di antara para suami mereka selesai.'' jelas Victor.

__ADS_1


Senyuman terpancar di raut wajah Wiliam dan Doni, dari sekian cerita buruk yang diceritakan oleh Victor, ada satu hal yang membuat mereka ikut merasa senang seperti Victor, yaitu perjodohan antara Victor dan Putri.


''Vic, berarti lu sudah mendapatkan lampu hijau, sekarang lu hanya fokus ke masalah orang tua lu, lu cari tau masalah apa yang membuat mereka seperti itu,''


''Kalau untuk urusan Putri, gue yakin dia masih punya perasaan sama lu, cuman dia tak ingin untuk memulai karena takut akan dikecewakan lagi, tinggal bagaimana lu memperlakukannya biar ia yakin sama lu.


''Gue jamin Putri pasti tidak akan bisa menolak perjodohan ini,'' ucap Wiliam menyemangati dan meyakinkan Victor, karena hanya itu yang bisa ia perbuat untuk saat sekarang ini.


Victor yang mendengar semua nasehat Wiliam menjadi semangat dan bertambah yakin untuk mengejar cinta Putri kembali.


''Iya, gue akan mencari tau masalahnya apa, sekarang gue pulang dulu ya, karena mama gue berjanji akan menceritakan semuanya ke gue malam ini, terima kasih..! Karena kalian sudah mau mendengarkan semua keluh kesah gue, gue bangga punya teman seperti kalian,'' ujar Victor sambil merangkul kedua sahabatnya.


Doni dan Wiliam hanya tersenyum menanggapi ucapan Victor.


''Kalau butuh apa-apa, kasih tau gue dan Wiliam, gue akan siap siaga bantuin lu,'' ucap Doni.


''Terima kasih, pasti akan gue kabarin, gue pamit dulu, sampai ketemu besok di sekolah,'' balas Victor. Kemudian ia melangkahkan kaki menuju mobilnya, setelah ia mengambil kunci di atas nakas.


Ia pun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar ia bisa sampai di rumah dengan cepat.


Setelah semua selesai, ia berniat ingin menemui mamanya, tetapi sebelum itu, terlebih dahulu ia memeriksa handphonenya berharap pesannya di balas oleh Putri, tetapi semua nihil, sama sekali Putri tidak berniat membalasnya, raut kecewa bersarang di wajahnya yang sungguh tampan itu.


Ia mencari nomor telfon Putri, dan melakukan panggilan video call berharap Putri akan mengangkatnya. Benar saja, seseorang dari sebrang sana telah mengangkat telfon itu.


''Selamat malam tante,'' salam Victor kepada bu Ningrum, setelah ia mengetahui kalau yang mengangkat telfonnya adalah calon ibu mertuanya.


''Iya, malam juga nak! kamu mau ngomong sama Putri ya? katanya dia malu ngomong sama kamu,'' ujar bu Ningrum menggoda Putri. Walaupun terjadi perdebatan pada saat ingin mengangkat telfon dari Victor. Putri yang memang tidak berniat untuk mengangkat telfon Victor, membuat bu Ningrum menjadi kesal, hingga ia sendiri yang berinisiatif merebut handphone Putri dan mengangkat telfon dari Victor.


Victor hanya tersenyum menanggapi ucapan bu Ningrum yang berusaha menggoda Putri.


''Tante gimana kabarnya? sehat?'' tanya Victor seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


''Alhamdulillah sehat, nak! kamu gimana kabarnya? kok kamu udah jarang main ke sini,'' tanya balik bu Ningrum.

__ADS_1


''Alhamdulillah sehat juga, besok setelah pulang dari sekolah aku main ke sana ya tante.''


''Oke, tante tunggu ya.''


''Udah dulu ya tante, tolong titipin salam aku buat Putri ya, selamat malam,'' ucap Victor dengan raut muka yang begitu senang.


Walaupun ia tidak berbicara dengan Putri, tetapi ia sangat senang karena calon ibu mertuanya selalu mendukung hubungan mereka.


Setelah mematikan telfonnya, Victor melangkahkan kakinya menuju kamar orang tuanya, belum sempat ia mengetuk pintu kamar tersebut, ia melihat mamanya menyendiri di ruang keluarga.


"Mama...! kenapa mama di sana? papa kemana ya? apa mereka masih bertengkar?" begitu banyak pertanyaan yang menghiasi benak Victor, tidak tau kenapa hatinya ikut merasa pilu di saat mamanya bersedih seperti itu.


Victor jalan ke dapur, dan menyeduh coklat panas kesukaan mamanya, kemudian ia melangkahkan kaki menuju ruang keluarga dengan membawa nampan yang berisi coklat panas.


"Ma..! minumlah..! agar mama bisa sedikit rileks," tawar Victor yang sudah mendaratkan tubuhnya untuk duduk di samping mamanya dan memberikan gelas yang berisi coklat seduh kepada mamanya.


"Alhamdulillah, kamu sudah pulang, nak? mama menunggu kamu loh dari tadi," balas bu Sukma sambil tersenyum kecut dan mengambil gelas yang diberikan oleh Victor, kemudian ia meminumnya dengan pelan.


"Terima kasih ya nak, harusnya mama yang menyiapkan kamu makan malam, kalau begitu ayo kita ke dapur akan mama siapkan," ujar bu Sukma.


"Tidak usah mah..! aku tidak lapar," balas Victor.


Victor menggenggam tangan mamanya dengan pelan dan berucap, " Apa mama sudah siap menceritakannya kepada aku sekarang ma?" tanya Victor dengan sangat hati-hati.


Mendengar ucapan dari Victor, bu Sukma menatap Victor dengan tatapan sendu, ia menghela nafas dan bersiap akan menceritakan masa lalu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2