
''Ayo saya antar pulang,'' ujarnya.
''Iya pak,'' balasnya dengan sedikit gugup.
''Abang aku ikut yah, aku bosen sendiri di rumah,'' ujar Putri bergelayut manja di lengan abangnya.
Setelah tiba di rumah tadi, Putra melihat Cantika bersiap-siap untuk pulang, karena tidak enak membiarkan Cantika pulang sendiri, ia menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang.
''Yaudah kamu ganti baju dulu sana..!'' dengan sigap Putri menaiki tangga menuju kamarnya. Tidak membutuhkan waktu berapa lama, Putri pun telah siap dengan tampilannya yang terlihat santai, muka yang diolesi dengan bedak dan tidak lupa ia mempoleskan lip tint di bibir mungilnya itu agar terlihat tidak pucat.
Mereka menaiki mobil Putra yang sudah terparkir di depan rumah.
''Deek..! Kok kamu duduk di belakang sih, ayo sini di depan temenin abang..!''
''Nggak mau..! Aku maunya di belakang sama kak Cantika,'' tegasnya.
''Deek..! Abang ngak mau jalan kalau kamu nggak mau pindah ke depan, abang bukan sopir pribadi kamu loh ya.'' Omel Putra dengan kesalnya.
''Put kamu pindah aja ya, kakak tidak apa-apa kok sendiri di belakang, kakak nggak enak sama pak Putra.'' Cantika merasa tidak enak dengan ucapan Putra yang terkesan menyindirnya.
''Kenapa tidak kakak aja di depan?''
''Boleh ya bang, kak Cantika aja di depan yah, biar aku di belakang bisa tiduran.'' Akal licik Putri pun mulai beraksi untuk mendekatkan abangnya yang kaku itu dengan wanita sebaik Cantika menurutnya.
''Tapi Puut.'' Tolak Cantika.
''Sudah kamu ke depan saja, saya masih ada urusan, waktu saya bukan hanya untuk menunggu kamu saja.'' Ketus Putra dengan tampang dinginnya.
Cantika pun dengan sedikit takut pindah ke kursi depan yang bersebelahan dengan Putra.
Sedangkan Putri terlihat kesal melihat tingkah abangnya yang dingin terhadap Cantika.
Setelah drama itu pun selesai, Putra melajukan mobilnya menuju dimana rumah Cantika berada.
Setelah tiba di depan rumah minimalis yang tidak terlalu luas, terlihat seorang lelaki sedang menunggu si yang empunya rumah.
''Kakak tinggal di rumah ini bersama siapa?'' Tanya Putri yang melihat rumah itu terlihat tidak ada penghuninya.
''Sendiri Put, kapan-kapan main ke rumah kakak ya,'' ajak Cantika.
''Dengan senang hati kak, aku akan sering-sering ke sini.'' Jawab Putri dengan bersemangat.
Putra yang sedari tadi memandang lelaki yang berada di depan rumah Cantika menatap dengan tatapan dinginnya.
''Orang tua kamu mana?'' Pertanyaan itu berhasil terlontar dari mulut kakunya itu.
''Sudah meninggal pak,'' Cantika menekukkan wajahnya mengingat kecelakaan beberapa tahun silam yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Di dalam kecelakaan itu hanya ia yang selamat, sedangkan adik lelakinya yang pada saat itu masih kelas 2 SMP sempat bisa terselamatkan, tetapi ketika perjalanan menuju rumah sakit, ia pun mengikuti jejak orang tuanya menghembuskan nafas terakhirnya karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
__ADS_1
''Maaf, saya tidak bermaksud membuat kamu bersedih.'' Dengan spontan Putra menghapus air mata Cantika yang membasahi pipinya.
''Tidak apa-apa pak,'' Cantika berusah tersenyum walau dadanya begitu sesak mengingat semua kejadian itu.
''Saya masuk dulu ya pak, terima kasih sudah mengantarkan saya pulang.''
''Putri, kapan-kapan main ke rumah kakak ya, temenin kakak juga ya, kaka juga sendiri di rumah.'' Ujarnya sambil tersenyum ke arah Putri.
''Kakak..!'' Putri langsung memeluk Cantika dengan erat.
''Jangan nangis, jelek tau kalau nangis,'' Putri berusaha menghibur Cantika.
''Iya, ini udah nggak nangis lagi, lebih baik masuk dulu ke dalam yuk, kakak bikinin coklat panas,'' ajak Cantika yang sudah melepaskan pelukan itu.
''Boleh ya bang, ke dalam dulu, bentar aja.'' rayu Putri.
''Deek..!'' Belum sempat Putra melanjutkan pembicaraannya Putri sudah keluar dari mobil itu dan membuat Putra menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya.
Cantika hanya tersenyum canggung, melihat wajah bosnya yang sudah tidak mengenakkan.
''Itu pacar kamu sudah menunggu tuh,'' ujar Putra menunjuk dengan mulut, Cantika melihat ke arah yang ditujukan Putra, terlihat lelaki sebaya dengan Putra menghampiri mobil Putra.
''Itu bukan pacar saya pak..!''
''Chiko...!'' Teriak Cantika dengan antusias. Ia dengan sigap membuka pintu mobil tanpa menghiraukan Putra. Ia langsung memeluk Chiko dengan erat begitupun sebaliknya dengan Chiko.
''Nggak, baru sekitar 10 menitan.! Kamu dari mana?''
tanya lelaki yang bernama Chiko itu. Ia terlihat begitu dekat dengan Cantika. Membuat Putra yang melihat merasakan hawa panas di dalam dirinya.
''Dasar tidak sopan, di depan bosnya, begitu beraninya ia berpelukan dengan pacarnya, sok ngakunya jomblo ke gue lagi.'' Umpat Putra di dalam hati.
Ia keluar dari mobil dengan tampang kakunya.
''Sampai kapan kalian akan berpelukan? Saya haus,'' ucap Putra dengan kakunya.
''Eh, maaf pak, Ayo masuk pak..! Akan saya buatkan minuman untuk bapak.'' Cantika melepaskan pelukan itu dan melangkah menuju rumahnya, tidak lupa ia mengajak Putri dan merangkulnya.
''Yang tadi siapa kak?'' Tanya Putri dengan keponya sambil berbisik ke arah Cantika.
''Oh, itu sepupu kakak,!'' Jawab Cantika dengan santai.
Putri merasa lega mendengarkan ucapan Cantika, karena sebelumnya ia mengira kalau lelaki itu adalah kekasih Cantika hingga tidak ada kesempatan untuk ia mendekatkan abangnya dengan perempuan itu.
Mereka mengiringi Cantika memasuki rumah itu, tidak lupa Cantika mempersilahkan semuanya untuk duduk di ruang tamu dan meminta bantuan bi Minah untuk membuatkan minum untuk mereka.
Cantika terlalu asyik mengobrol dengan Putri mengarungi dunia pernovelan mereka, hingga ia melupakan bos dan sepupunya yang terlihat sudah gelisah karena diceukin.
''Dek..! Ayo kita pulang, tidak enak lama-lama di sini.'' Putra yang sudah terlihat kesal karena tidak dihiraukan oleh kedua wanita itu, memilih untuk pulang dan mengajak adiknya.
__ADS_1
Sedangkan Chiko menatap Putri dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, entah apa yang ada di dalam benaknya. Melihat Chiko menatap adiknya seperti itu, Putra pun bergumam,
*''Dasar bajingan*, sudah mempunyai pacar masih saja melirik wanita lain, awas aja kalau sampai kau menyentuh adikku.''
''Yaudah kak, aku pulang dulu, kapan-kapan aku main ke sini lagi ya.'' Putri memilih pulang karena melihat abangnya sudah gelisah seperti itu.
''Baiklah, terima kasih ya pak, Putri, sudah mau mampir ke sini,'' ujar Cantika yang sudah mengantarkan mereka ke depan begitu pun Chiko.
''Sama-sama, nanti saya akan mengirim sedikit tugas untuk kamu melewati email, mengingat hari launching produk baru kita semakin dekat, jangan sibuk pacaran saja, kau mengerti..!'' Tatapan dingin itu menatap Cantika dengan kaku.
Cantika menggaruk kepala belakangnya, karena heran dengan pernyataan bosnya itu, ''saya tidak sibuk pacaran pak, siapa juga yang mau saya pacari,'' sela Cantika dengan pelan walaupun terdengar di telinga Putra.
Putra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah kedua gadis itu berpelukan untuk berpisah, Putri menaiki mobil abangnya itu.
Di perjalanan pulang, Putra terlihat badmood dan hanya diam saja tanpa menghiraukan adiknya yang sedang berbicara.
''Bang, kak Cantika mandiri banget ya bang, dia bisa tinggal sendiri tanpa ada orang tua, kalau aku mungkin nggak akan kuat bila seperti itu,'' ujar Putri memuji Cantika yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Putra.
''Abang aku mau deh kalau kak Cantika jadi kakak ipar aku, abang juga suka kan sama dia,'' ujarnya lagi. Tetapi Putra masih saja terdiam hingga membuat Putri kesal.
''Abaang...!'' Teriak Putri.
''Apa sih dek teriak-teriak, budek nih telinga abang.'' Ujar Putra tak kalah sewotnya.
''Lagian dari tadi ditanya gak dijawab, masa aku didiemin sih,'' ketus Putri.
''Lagian kamu ada-ada saja, Cantika itu udah punya pacar, mana mungkin abang mau merusak hubungan mereka.''
''Kak Cantika nggak punya pacar bang, abang nggak usah sok tau deh.''
''Kamu nggak liat laki-laki tadi? Begitu mesra memeluk Cantika, itu kan pacarnya, udah deh nggak usah bahas ini lagi bikin abang bete aja.''
Putri menatap wajah abangnya dengan serius, ia tersenyum melihat abangnya terlihat terbakar api cemburu.
*''Jadi abang mengira kak Chiko adalah pacarnya kak Cantika? wkwkw kayanya abang cemburu deh, benih-benih itu sudah mulai ada, wkwkw*,'' gumam Cantika di dalam hati.
''Tapi abang suka kan sama kak Cantika?'' Sela Putri menggoda abangnya itu.
''Iya walaupun suka, kalau ia sudah milik orang lain, abang bisa apa sih dek, udahlah nggak usah bahas ini lagi deh, bikin badmood aja..!'' Ucap Putra sedikit membentak.
Membuat Putri terdiam dan hanya senyum-senyum sendiri, melihat reaksi abangnya pada saat cemburu. Tidak biasanya abangnya bersikap seperti itu.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1