
''Ningrum..! maukah kamu menjadi kekasihku?'' tanya Diky berharap Ningrum akan menerima ungkapan cintanya saat ini.
Ningrum masih terdiam, ia tidak tau mau menjawab apa, setelah sekian lama terdiam, ia pun berucap.
''Diky, aku sayang banget sama kamu, tapi maaf, sayang ku padamu bukanlah selayaknya sepasang kekasih, karena dari awal aku mengganggap mu saudara, bukan lagi sahabat.''
''Aku menganggap mu saudara, karena perlakuan dan kasih sayang yang kamu berikan kepadaku, membuat aku merasakan mempunyai seorang sosok kakak laki-laki yang selalu ingin menjaga dan melindungiku.''
''Sekali lagi maafkan aku, aku tidak bisa menerima perasaanmu saat ini.''
''Bukankah lebih baik kita bersaudara? kita akan selalu tetap bersama, tidak ada yang namanya mantan saudara, karena ikatan persaudaraan tidak akan pernah putus walau seburuk apapun kejadiannya.''
''Jadi aku mohon Diky, setelah kamu mendengar semua penjelasan ku, kamu berjanji tidak akan pernah berniat untuk menjauh dari ku, karena aku tidak mau itu terjadi.''
''Sungguh, percayalah aku sangat menyayangimu Dik.!'' ujar Ningrum dengan tatapan sendunya, menatap Diky yang diam mematung mendengarkan semua penjelasannya.
Diky begitu terenyuh, ia benar-benar merasakan kecewa yang sangat mendalam pada saat ini, persendiannya terasa begitu lemah menopang badannya yang sudah tidak bertenaga menerima kenyataan bahwa, ia ditolak oleh orang yang sangat ia cintai dan ia sayangi dari dulu.
Bagaimana tidak, perasaan yang sudah lama ia pendam, sampai ia menolak semua wanita yang mendekatinya, hanya karena ingin mendapatkan hati Ningrum, tetapi setelah dirasa saat yang tepat untuk ia mengungkapkan perasaannya kepada Ningrum, ia harus menerima kenyataan pahit kalau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, karena sebuah alasan klasik.
la sudah tidak tau mau berbuat apa, rasanya semangat hidupnya sudah hilang, ia menatap mata Ningrum dengan dalam, kemudian ia berlari dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Ningrum.
''Diky...!!!'' teriak Ningrum yang juga berusaha berlari untuk mengejarnya.
''Diky....!!! jangan marah, jangan menjauh, aku tidak mau kehilangan kamu!'' teriak Ningrum yang sudah menangis terisak-isak.
Tetapi usahanya hanya sia-sia, Diky yang sudah terlanjur kecewa, tidak menoleh sama sekali ke arahnya, malah ia tambah menjauh berlari agar Ningrum tidak bisa menemuinya.
Ningrum yang sudah lelah untuk mengejar Diky, hanya terduduk menangis melihat kepergian sahabatnya itu, ia sungguh takut kehilangan sahabat seperti Diky.
Tetapi mau bagaimana lagi, ia harus jujur, karena apabila ia menerima Diky tanpa ada rasa cinta, itu akan lebih menyakitkan Diky dari pada ini.
Sukma dan Heru yang melihat Ningrum menangis seperti, menghampiri Ningrum untuk menghiburnya.
__ADS_1
Sedangkan Surya yang menerima kenyataan kalau sahabatnya menyukai wanita yang sama dengannya, memilih untuk langsung pulang tanpa memberitahu sahabatnya yang lain.
Sukma memeluk Ningrum dengan erat, ia sangat mengerti bagaimana perasaan Ningrum saat ini, dan ia juga sangat paham bagaimana hancurnya perasaan Diky, karena selama ini Diky selalu curhat tentang perasaannya yang mencintai Ningrum kepada dirinya.
''Sukma, Ningrum, ayo kita pulang..! mari aku antar,'' ucap Heru yang juga sangat sedih melihat kekacauan yang terjadi antara para sahabatnya itu.
Setelah Sukma berhasil membujuk Ningrum untuk masuk ke mobil Heru, mereka duduk dengan tenang, mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
Terlebih dahulu Heru mengantarkan Ningrum ke rumahnya, setelah mereka berpisah, tidak lupa Heru mengantarkan Sukma terlebih dahulu sebelum ia pulang kerumahnya.
Heru yang memang telah menjadi pacar Sukma pada saat itu, sudah sering berangkat dan pulang bersama, karena rumah mereka yang memang satu arah, mempermudah mereka untuk selalu bersama.
Heru dan Sukma berpacaran semenjak mereka mengawali kuliah di semester empat, Heru mengungkapkan perasaannya kepada Sukma, ketika ia telah menyukai Sukma semenjak awal Diky memperkenalkan mereka. Hingga akhirnya Heru terus berusaha mendapatkan hati Sukma hingga Sukma pun membalas rasa cintanya itu.
*
Setelah Heru mengantarkannya pulang, Ningrum masuk ke kamarnya dan berlalu ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan pakaian tidur, kepalanya begitu sangat pusing dan ia pun berniat hanya mengurung diri di kamarnya untuk hari ini.
Ia merebahkan badannya di atas kasur, kemudian ia mengambil handphonenya dan mengirimkan pesan singkat kepada Diky, tetapi sama sekali Diky tidak membalasnya, bahkan ia berusaha menelfon Diky, tetapi semua usahanya sia-sia, bukannya mengangkat telfon dari Ningrum ia malah menolaknya.
*
Pagi ini Ningrum bangun dari tidurnya dengan wajah yang tidak bergairah dan tidak bersemangat, ia akan ke kampus untuk mengambil perlengkapan wisudanya nanti.
Setelah tiba di kampus, Ningrum bertemu dengan Sukma, mereka berjalan menuju aula kampus, karena perlengkapan untuk wisuda minggu ini dibagikan di sana.
Sukma melihat wajah Ningrum yang tidak bersemangat langsung menegurnya, ia merasa kasihan melihat sahabatnya itu.
''Ning, urusan kamu sama Diky gimana?'' tanya Sukma ingin tau.
Ningrum hanya menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Sukma hanya terdiam membisu, ia bingung harus menolong Ningrum dengan cara apa, karena ia tau pasti kalau Diky saat ini sangat kecewa, bahkan Sukma yang mengirim pesan kepada Diky, juga tidak mendapatkan balasan dari Diky.
__ADS_1
Setelah mereka memasuki aula yang sudah terlihat ramai dengan teman-teman yang lainnya, mereka langsung menuju meja panitia acara untuk mengambil perlengkapan wisuda mereka.
Ternyata Heru dan Surya sudah datang duluan dari pada mereka. Ningrum yang tidak melihat keberadaan Diky, spontan bertanya kepada Heru dan Surya.
Sedangkan mereka yang memang tidak melihat Diky sedari tadi hanya menggelengkan kepalanya karena mereka tidak tau dimana keberadaan Diky sekarang ini.
Ningrum bertambah sedih, rasanya ia sudah tidak mempunyai tenaga untuk berjalan karena memikirkan Diky yang benar-benar marah dan ingin menjauhinya.
*
Setelah semua perlengkapan wisuda telah dibagikan, Ningrum melangkahkan kaki menuju gerbang kampus, ia akan langsung pulang karena ia merasa pusing dan tidak enak badan.
Sedang asyiknya berjalan, Ia dikagetkan dengan seseorang yang menarik tangannya dengan lembut, ia pun menoleh ke belakang, dan alangkah terkejutnya ia melihat pria yang berdiri dihadapannya sekarang ini.
Pria itu tersenyum dan menatap matanya dengan intens, membuat jantungnya berdetak kencang.
''Kamu mau pulang? aku antar ya!'' tawar pria itu kepada dirinya.
''Terima kasih Surya, aku pulang sendiri aja,'' balas Ningrum gugup dan ia berusaha melepaskan genggaman tangan Surya.
''Tetapi aku ingin mengantarkan mu pulang!'' ujarnya lagi.
Ningrum hanya terdiam menanggapi tawaran Surya, ia tidak bisa kalau hanya berdua dengan Surya, itu akan selalu membuatnya spot jantung dan menjadi salah tingkah.
''Maaf Surya, aku hanya ingin pulang sendiri,'' tolak Ningrum lagi dengan hati-hati.
''Baiklah, kalau kamu tidak mau aku antar pulang, ijinkan aku untuk berbicara terlebih dahulu kali ini saja,'' ucap Surya dengan tatapan sendu menatap dalam wajah Ningrum.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung