Pacar Galak

Pacar Galak
Emosi


__ADS_3

Doni sangat kaget mendengarkan semua penjelasan Victor, ia tidak menyangka Victor akan menyembunyikan masalah sebesar ini sendiri, tanpa memberitahu dirinya dan Wiliam.


Dengan emosi Doni memegang kerah baju Victor dan berucap, ''Egois banget lu brengsek!! masalah sebesar ini lu sembunyikan dari kita semua, dan lu lihat sekarang! teman gue di sekap, itu semua karena lu anjing,'' bentak Doni, kemudian ia memukul perut Victor dengan sangat emosi.


Victor pun tersungkur, karena ia diserang tanpa mempersiapkan diri terlebih dahulu. Kemudian ia kembali berdiri sambil memegang perutnya yang terasa perih.


''Don!! dengarkan penjelasan gue dulu, disaat seperti ini, kita tidak usah mengedepankan emosi kita masing-masing, sekarang ini cuma ada gue sama lu doang, saat ini, Wiliam sangat membutuhkan bantuan kita, gue mohon lu mau bekerja sama dengan gue. Setelah semua ini selesai lu boleh marah sama gue,'' ucap Victor memohon.


Doni hanya diam dan tampak berpikir mendengar ucapan Victor, ia pun tersadar, disaat seperti ini, seharus ia menurunkan egonya, mungkin Victor menyembunyikan semua ini karena ada alasan lain yang belum sempat ia jelaskan, lebih baik setelah semuanya selesai, ia akan menanyakan langsung kepada Victor, begitu pikirnya.


Doni merangkul Victor dengan perasaan bersalah karena telah memukul Victor dengan sangat emosi.


''Vic!! maafin gue,'' ucap Doni dengan tampang bersalahnya.


Victor mengangguk dan tersenyum menatap Doni yang dirundung rasa bersalahnya itu.


''Ayo kita bekerja sama,'' ucap Doni lagi dengan serius.


Victor kembali mengangguk dan berucap, ''Lu memang sahabat yang bisa gue andalkan,'' ucap Victor sambil tersenyum.


''So pasti, Doniii,'' ucap Doni menyombongkan diri sambil membusungkan dadanya, membuat Victor menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.


''Jadi kita harus bagaimana, Vic? kita harus melakukan apa?'' tanya Doni serius.


''Sepertinya kita butuh bantuan teman yang lain, dan untuk Wiliam lu nggak usah pikirin, karena bang Putra lah yang akan membantu kita,'' jelas Victor.

__ADS_1


''Bang Putra? bang Putra siapa?''tanya Doni bingung.


''Abang ipar gue,'' balas Victor dengan datar.


''Maksud lu? abangnya Helena si nenek sihir itu? tanya Doni dengan wajah tidak terima, kalau ia akan bekerja sama dengan Helena.


''Sotoy lu,'' ketus Victor sambil melempar botol bekas minuman yang ada di dekatnya tepat di kepala Doni, membuat Doni mengaduh dan mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit ulah sahabatnya itu.


Begitulah mereka, dalam masalah genting seperti ini masih saja rusuh, siapa lagi biangnya kalau bukan Doni.


''Bang Putra itu adalah abangnya Putri, jadi kemaren itu, pada saat gue berantem sama Putri, abangnya langsung ngajak gue ketemu, karena ia nggak terima kalau gue nyakitin adiknya, dan setelah ketemu, terpaksa gue ceritain semuanya, dari pada gue nantinya disalahkan, abang Putri cemas mendengar bahwa adiknya akan dicelakai oleh Damar, makanya abangnya juga ikut andil dalam masalah ini, setidaknya itu dapat membantu kita nantinya, kalau urusan Putri, gue sudah minta tolong ke Raysa untuk memaksa Putri melihat kita tanding besok, jadi gue bisa fokus lomba agar dapat mengalahkan Damar.''


''Untuk kita, don!! dan semua anggota yang lainnya, besok kita harus berhati-hati dalam menghadapi lawan kita, karena lawan yang akan kita hadapi bukan orang-orang hebat, melainkan mereka sangat licik, dan gue yakin, mereka akan menggunakan cara liciknya untuk mengalahkan kita, jadi kita harus mengawasi gerak-gerik mereka,'' jelas Victor panjang lebar, sedangkan Doni mendengarkan dengan serius semua penjelasan Victor.


''Satu lagi pesan gue, Don!! setelah lu melangkahkan kaki keluar dari warung bu Tejo ini, lu harus berhati-hati kemanapun lu akan pergi, gue nggak mau lu di bawa kabur seperti Wiliam, karena yang gue tau, mereka sangat mengincar kita bertiga,'' ucap Victor lagi.


''Ide yang bagus, Don!! sebelum kita pulang, lebih baik kita bicarakan ini sama teman-teman yang lain, agar mereka juga berhati-hati dan mawas diri,'' ujar Victor.


Dan mereka keluar dari ruangan itu menyusul teman-teman mereka yang lain. Setelah mereka semua berkumpul, Victor pun memulai pembicaraan dengan serius, sehingga teman-temannya yang lainnya, dengan mudah menentukan langkah untuk menjaga diri masing-masing, dan berhati-hati dalam perlombaan besok, setelah semua selesai, mereka pun bubar meninggalkan warung bu Tejo.


*


Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar, tampak seperti tidak terawat, debu yang bertebaran dimana-mana, dihiasi dengan kursi sofa yang sudah terlihat sedikit lapuk. Laki-laki dengan perawakan tinggi, kulit putih dan mata sipit, telah diikat di sebuah kursi yang sudah tak layak pakai, ia masih tidak sadarkan diri, setelah beberapa preman mengeroyoknya dan berhasil membawanya ke ruangan itu.


Langkah suara sepatu pantofel menggema mendekati ruangan itu, dan seketika pintu terbuka. Ia hanya tersenyum sinis melihat laki-laki yang ada dihadapannya ini, yang masih tidak sadarkan diri karena ulah preman yang sudah ia bayar untuk membuat laki-laki itu tidak berdaya, siapa lagi kalau bukan Damar yang selalu berambisi untuk mengalahkan siapapun lawannya, walaupun memakai cara yang tidak sehat sekalipun.

__ADS_1


Ia membuka tutup botol air mineral, dan menyiraminya ke muka laki-laki yang sudah tidak berdaya itu, membuat lelaki itu sangat kaget dan tersadar dari pingsannya.


Pandangan yang semula kabur, berangsur pulih, dan terpampang nyata, bahwa orang yang ia sebut musuh itu, telah berdiri dengan gagah dihadapannya yang sudah tidak berdaya.


''Hahaha...! brengsek! jadi lu biang permasalahannya?'' ucap Wiliam dengan santai.


Ya, ia adalah Wiliam, yang disekap di sebuah rumah kosong pinggiran kota.


''Iya, Gue!!" balas Damar dengan tersenyum licik.


''Karena lu takut akan kekalahan lu besok, dengan bodohnya lu menyekap gue seperti ini???''


''Hahaha...! kalau memang bodoh, ya bodoh sajalah, jangan berlagak pintar, karena dengan cara licik lu yang seperti ini, lu akan kelihatan bertambah bodoh, dan gue pastiin, tim gue akan memenangkan lomba itu, walaupun tanpa gue, karena mereka adalah pemain-pemain hebat yang bisa diandalkan,'' ucap Wiliam dengan senyum sinisnya.


''Bukh...!'' satu pukulan mendarat di perut Wiliam, membuat ia mengaduh dan menahan rasa nyeri di perutnya.


Damar melepaskan emosinya dengan memukul Wiliam tanpa bisa berkata-kata, kemudian ia berteriak memanggil salah satu anggotanya, dan memerintahkan untuk mengawasi Wiliam sampai acara besok selesai.


Damar melangkahkan kaki keluar ruangan itu, sebelum ia benar-benar ingin meninggalkan ruangan itu, Wiliam pun menghentikan langkahnya dan berucap, ''Damar..!! besok kau tidak usah masuk sekolah lagi, karena kau sudah cocok seperti preman pasar,'' ucap Wiliam sambil tertawa sinis yang membuat Damar bertambah emosi dan membanting pintu dengan sangat kuat, Wiliam sangat senang, melihat Damar terlihat kesal dengan ucapannya itu.


Begitulah Wiliam, ia sangat pandai memancing emosi lawannya, hanya dengan kata-kata tajam dan menusuk yang ia lontarkan dengan sebegitu tenangnya, walaupun dalam keadaan sulit seperti ini.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2