
Gadis itu masih menangis dengan memeluk boneka tedy bear coklat kesayangannya. Di temani cahaya lampu redup yang tampak menggambarkan suasana hati gadis itu saat ini, semua yang barusan terjadi masih teringat jelas di benaknya, seumur-umur baru pertama kalinya ayah Surya memarahinya hingga membentaknya seperti tadi.
Putra yang terlihat kasihan melihat adiknya, tampak membuka pintu kamar dan membawa secangkir coklat panas kesukaan Putri.
''Deek..!'' Putra mengelus rambut adiknya yang sedang membelakanginya menatap keluar jendela.
''Diminum dulu..!'' Perintahnya.
Tetapi orang yang diajak bicara, hanya diam tanpa menoleh ke yang empunya suara.
''Deek..!'' Masih dengan diamnya, Putra yang merasa diabaikan menaruh coklat panas itu di atas nakas, iya mencoba mengerti dengan kondisi adiknya saat ini, dengan pelan ia melangkah keluar kamar meninggalkan adiknya yang sepertinya butuh waktu untuk sendiri.
Ketika ingin menyentuh gagang pintu, Putri memanggil namanya dengan pelan.
''Abang..!'' Ujarnya.
Putra kembali menghampiri adiknya, seketika Putri langsung memeluk Putra dengan erat dan kembali meneteskan air matanya menangis sesenggukan. Putra merasa iba dengan adiknya itu, ia mengelus punggung adiknya dengan sayang.
''Maafin abang ya, tapi abang nggak pernah bilang ke ayah kalau kamu dapat surat panggilan dari kepala sekolah, abang mencoba menemui kepala sekolah, tapi ayah sudah duluan datang ke sana sebelum abang datang,'' jelasnya.
Putri melepaskan pelukan itu dan menatap abangnya dengan bingung, ''Siapa yang sudah memberitahu ayah, bang?'' Tanya Putri serius.
''Abang juga tidak tau dek,'' jawabnya dengan menggelengkan kepala. Sebenarnya ia tau semuanya, tetapi ia tidak mungkin memberitahukannya kepada Putri, karena itu akan menghancurkan rencana ayahnya untuk menikahkan Putri dengan Victor.
''Abang bantu aku bicara sama ayah ya, aku tidak mau menikah secepat itu bang, aku mau sekolah dulu, aku mau mengejar cita-cita aku dulu, setelah itu aku akan menikah, aku janji tidak akan mengulanginya lagi bang, aku janji..'' ujarnya masih dengan terisak.
Putra menarik nafasnya dengan kasar, sungguh ia tidak bisa melihat adiknya seperti ini, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
''Iya, abang akan coba membicarakan ini dengan ayah, kamu yang sabar ya, jangan menangis lagi.''
''Ayo senyum..!'' Ujar Putra berusaha menggoda adiknya.
Gadis itu membuat garis senyum di wajah imutnya walau tampak dipaksakan, ia berusaha membuat abangnya tenang dengan memperlihatkan kalau ia sekarang sudah baik-baik saja.
''Males ah, kalau terpaksa gitu,'' Putra melipatkan tangannya di dada dan berpura-pura membuang muka ke arah lain agar terlihat kalau ia sedang ngambek.
''Niih, beneran ini bang, cantik kan senyum aku?'' Putri dengan leluasa tersenyum lebar karena melihat tingkah abangnya yang seperti anak kecil.
__ADS_1
''Nah gitu dong, baru namanya adik kesayangan abang, jangan sedih lagi jangan nangis lagi ya, abang tidak mau melihat kamu seperti tadi lagi.''
''Abang yakin Putri pasti kuat, pasti bisa ngejalanin ini dengan sabar, janji dulu sama abang kalau Putri gak bakalan nangis lagi,'' Ujar Putra yang sudah mengacungkan jari kelinkingnya.
''Iya, aku akan berusaha, tapi aku tidak janji ya bang,'' ujar Putri tanpa memperdulikan Putra yang sudah mengacungkan jari kelingkingnya.
''Hmmm...! Ya sudah, abang keluar dulu,'' Putra mengelus kepala adiknya dengan sayang, dan melangkah berlalu keluar kamar.
...----------------...
Pagi yang terlihat cerah memperlihatkan matahari yang masih malu-malu untuk menampakkan wajahnya.
Keluarga permana terlihat sedang bersiap-siap untuk melakukan aktifitas hari ini, dan mereka sudah berkumpul di meja makan, karena melihat kursi yang biasa di tempati oleh Putri masih kosong, Surya hanya melepaskan nafasnya dengan kasar dan duduk di tempat biasa ia duduki.
''Bu, Putri nggak mau turun?'' Ujarnya kepada istri tercinta yang sedang sibuk membuat roti selai untuknya.
''Nggak mau yah, ibu sudah membangunkannya tetapi ia beralasan masih belum lapar,'' jelas Ningrum yang terlihat sedih.
''Apa kita tidak terlalu keras dengan Putri, yah? Kasian anak kita,'' ujar Ningrum lagi.
''Ibu tau ayah, tapi kan kasihan anak kita dipaksa menikah seperti itu.'' Balas Ningrum dengan wajah sendunya.
''Kita tidak memaksanya bu, mereka berdua memang sudah berpacaran, dari pada mereka melakukan kesalahan yang tidak kita inginkan, lebih baik kita ambil langkah ini saja, apalagi jamannya sekarang sudah mengerikan bu, lebih baik kita nikahkan agar anak kita tidak melakukan kesalahan dikemudian hari,''
''sudah lah bu, untuk kali ini jangan membantah keinginan ayah, sudah lama ayah memikirkan masalah ini, dan ayah yakin ini adalah keputusan yang tepat.'' Tegas Surya yang membuat Ningrum menciut dan terdiam begitupun Putra.
Semua pun selesai sarapan, Putra dan Surya berpamitan kepada Ningrum untuk berangkat ke kantor.
Setelah melepaskan kepergian suami dan anaknya ke kantor, Ningrum melangkah menuju kamar Putri membujuk anak gadisnya untuk sarapan. Dengan semua jurus yang ia keluarkan, berhasil meruntuhkan keras kepala Putri yang akhirnya mau untuk sarapan dengan disuapi ibunya.
Sedang asyiknya mengunyah makanan handphonenya pun berdering, dengan nada malas ia pun mengangkatnya.
''Drrrrt''
''Drrrrt''
''Ada apa?'' Tanya Putri ketus.
__ADS_1
''Kamu kenapa tidak masuk sekolah hari ini? Apa kamu baik-baik saja?’’ Ujarnya yang terlihat cemas di seberang sana.
''Semua gara-gara lu, jangan pernah menghubungi gue lagi..!'' Bentak Putri yang langsung mematikan panggilan itu dan melemparkan handphone ke sembarang arah hingga benda itu retak dan tak berbentuk lagi.
Sedangkan Ningrum berusaha menenangkan anak gadisnya yang sudah tersulut emosi dan menangis sejadi-jadinya.
...----------------...
''Selamat siang Tante,'' ujar Victor yang sudah berdiri di ambang pintu menunggu kedatangan siempunya rumah yang berkenan membukakan pintu untuknya.
''Nak Victor, ayo silahkan masuk..!'' Ningrum mempersilahkan calon menantunya untuk masuk.
''Putri dimana tante?'' Tanya Victor, terlihat raut khawatir di wajahnya.
''Dia sedang ada di kamarnya, sepertinya ia masih tidur.''
''Semalam om Surya sudah membicarakan masalah perjodohan itu kepada Putri, nak! Sepertinya ia sangat tertekan dengan perjodohan ini,'' jelas Ningrum dengan muka datarnya.
''Bu..! Tenang saja, setelah mengetahui kalau yang dijodohkan dengannya adalah Victor, ia akan menerimanya dengan senang hati, karena yang Putra tau, Putri sangat menyayangi Victor, tidak ingatkah ibu bagaimana terpuruknya Putri ketika putus dengan Victor?'' Sanggah Putra yang tiba-tiba saja datang dan mencampuri pembicaraan antara ibu dan calon adik iparnya itu.
Ningrum tersenyum mendengar penjelasan Putra, ia mengingat dulu betapa terpuruknya Putri putus dengan cinta pertamanya itu, dan sekarang ia merasa yakin kalau anaknya akan bahagia setelah ini.
Tidak terasa mereka telah bercengkrama cukup lama di temani minuman dan cemilan yang telah di suguhkan oleh bi Iyem.
Dan Victor berniat berpamitan untuk pulang, karena wanita yang ia tunggu-tunggu, tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
.
.
''Ngapain lu di rumah gue..!'' Bentakan suara itu sungguh menggema dan membuat semua yang ada di sana menoleh ke arahnya.
Hay para reader, maaf ya untuk beberapa waktu kemaren aku tidak melanjutkan novel ini, karena ada banyak urusan yang harus aku selesaikan di dunia nyata.
Dan Insyaallah untuk ke depannya aku akan up setiap hari, mohon dukungannya ya guys, dan jangan lupa beri like, masukan dan kritikan di kolom komentarnya ya.
Terima kasih🙏
__ADS_1