
Putra menghela nafas dengan kasar mendengar jawaban polos Cantika.
''Saya tidak suka kalau kamu memakai baju terbuka seperti ini, apa kamu ingin menggoda saya?'' celetuk Putra dengan percaya dirinya.
"C**ih...! yang benar saja anda pak, tidak mungkin saya menggoda beruang kutub seperti anda," gumam Cantika dengan kesal.
"Maaf pak! saya tidak bermaksud menggoda anda, baiklah kedepannya saya tidak akan memakai baju seperti ini apabila bepergian dengan anda," balas Cantika sambil menundukkan kepalanya.
dengan kesal Putra menatap Cantika, "Maksud kamu apa? kalau tidak bepergian dengan saya kamu akan berpakaian telanjang seperti ini? iya...?" tanya Putra dengan sedikit membentak.
Putra sangat kesal mendengar ucapan Cantika, karena dia tidak mau orang yang ia sukai dilirik mata-mata jalang yang akan mempertontonkan kemolekan tubuh Cantika, walaupun itu hanya sebatas leher karena itu hanya miliknya, gumam Putra di dalam hati.
Putra pun memegang dagu runcing Cantika dengan lembut.
"Saya tidak mau kamu memakai baju terbuka seperti ini, bepergian dengan siapapun, karena kamu hanya boleh memperlihatkan tubuhmu hanya kepada saya pada saat malam pertama nanti, kamu mengerti Cantika...!" ujar Putra menatap Cantika.
Cantika kaget dengan apa yang didengarnya,
"Apa gue nggak salah dengar? sumpah...! gue deg-degan banget, maksudnya ini apa? kok gue jadi sesak gini," gumam Cantika kelabakan sendiri dengan pikirannya.
"Iya, baik pak!" ucap Cantika dengan sedikit gugup, karna baginya, mengiyakan apapun adalah jurus andalannya jika menghadapi bos beruang kutubnya ini, walaupun nanti ke belakangnya ia tidak tau apa yang akan terjadi.
Putra tersadar dengan ucapan yang barusan ia lontarkan, ia pun mengutuki dirinya karna sudah berbicara melampaui batas, mukanya langsung memerah karna sudah menahan malu.
Sedangkan Hary, hanya tersenyum geli mendengar ucapan bosnya itu,
"Bos kenapa sih..? langsung goblok gitu kalau udah kenal cinta, mana jiwa es batumu itu?" gumam Hary di dalam hati meledek bosnya.
Seketika terjadilah suasana canggung diantara mereka, dan untungnya Pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan, dan mereka pun menyantap dengan lahap semua makanan itu.
Setelah selesai makan, mereka langsung ke hotel untuk beristirahat karena besok pagi mereka akan pulang.
*
Pagi ini, seperti biasa Putri sudah dijemput oleh Victor di depan rumahnya, semenjak kejadian itu, Putri dan Victor semakin dekat dan sepertinya Putri sudah membuka sedikit hatinya untuk Victor.
__ADS_1
Semenjak hukumannya telah dicabut oleh papanya, Victor sudah diperbolehkan membawa kendaraan sendiri ke sekolah,dan tidak perlu lagi dikawal oleh sang pengawal untuk pergi ke kantor setelah pelajaran usai.
Victor melajukan motornya menuju sekolah, sepanjang perjalanan mereka bercerita yang diselingi canda tawa, dan tidak terasa mereka sampai di parkiran sekolah, banyak pasang mata yang memperhatikannya ada yang memandang iri, kecewa ataupun terpesona dengan pasangan ini.
Victor mengantarkan Putri sampai di depan kelasnya yang disambut oleh Raysa dengan tampang sumringahnya.
“Waahh…! Pasangan bucin udah dateng nih..!ledek Raysa menggoda Putri dan Victor.
Putri hanya tersipu malu, karena pagi-pagi sudah menjadi korban bulian sahabatnya.
“Apaan sih Ray! ayok masuk kelas!” ajak Putri kepada Raysa tanpa menghiraukan Victor.
“Eeeits... tunggu dulu! lu nggak pamit dulu sama kak Victor, dasar pacar durhaka, udah di antar jemput kaya mang ojek, nggak ngucapin terima kasih lagi." omel Raysa kepada Putri.
Putri Pun tersadar, ia merasa malu, membuat ia salah tingkah, dengan segera Putri pamit kepada Victor, Victor tersenyum melihat tingkah Putri yang masih malu-malu terhadapnya,
Diusapnya kepala Putri dengan sayang, membuat jiwa kejombloan yang melihatnya meronta-ronta, lalu Victor juga pamit memasuki kelasnya.
Putri dan Raysa menuju tempat duduk mereka yang telah ditunggu oleh Rendi dan Riko, Rendi Pun dengan antusias menyambut Putri, ia tidak sabar untuk mengajak Putri ke toko buku, karena novel yang meraka tunggu-tunggu sudah ada di toko buku langganan ia dan Putri .
Putri pun terdiam sejenak, dia sangat ingin pergi bersama Rendi, tapi apakah Victor akan mengizinkannya, gumam Putri dalam hati.
Melihat respon Putri seperti itu, Rendi terlihat kecewa, ia sadar semenjak Victor dan Putri semakin dekat, Putri seperti menjaga jarak dengannya.
“Hmm..! nanti coba gue tanya Victor dulu ya Rend, dia mau pulang bareng gue apa nggak, kalau nanti dia bareng gue, bolehkan kita barengan ke sananya." ucap Putri dengan wajah memohon.
“Baiklah Put,” balas Rendi dengan senyum yang sedikit di paksakan.
"Sekarang mah beda, kalau udah punya pacar minta ijin dulu," ucap Riko meledek. Membuat mereka semua tertawa, tetapi tidak dengan Rendi.
Pelajaran pun dimulai, para guru sudah memasuki kelas untuk memberi materi pelajaran kepada anak didiknya, Putri, Rendi, Raysa dan Riko begitu serius mengikuti pelajaran yang diberikan guru mereka, kalau dalam hal belajar mereka selalu berpacu secara sehat untuk mendapatkan nilai terbaik.
Tetapi jangan diragukan lagi, diantara mereka, Putrilah yang paling pintar, karena setiap ulangan, Putri mendapatkan nilai terbaik diantara mereka, ketika guru memberikan pertanyaan lisan, ia akan menjawab dengan sigap sesuai nalarnya. Bahkan Putri sangat terkenal di depan guru-guru karena kepintarannya, tapi itu tidak sedikit pun membuat ia sombong atau tinggi hati.
Karena ayahnya selalu mengajarkannya untuk rendah hati, dan tidak sombong, dan ia selalu memakai prinsip ayahnya, bahwasannya semua yang ada pada kita hanya titipan, jangan sombong karena hanya semudah membalikkan telapak tangan bagi sang Pencipta untuk menjatuhkan kita.
__ADS_1
Mata pelajaran pertama telah selesai, dan memasuki pelajaran kedua, “Ray...! sebelum guru masuk, temenin gue ke toilet yuk!" ajak Putri kepada Raysa yang sedang asyik ngobrol dengan Riko.
“ayo Put, gue juga kebelet nih," balas Raysa.
“Ikut doong...! gue juga pengen kencing nih," celetuk Riko menggoda Raysa dan Putri.
“Diiiih...! apaan sih rik, emang lu mau pipisnya jongkok, kalo mau ayo gabung, ntar gue ajarin,” balas Raysa menggoda Riko sambil tertawa terbahak-bahak, dan Raysa pun sudah membayangkan yang tidak-tidak sambil tertawa geli.
Melihat tingkah Raysa, Putri hanya geleng-geleng kepala, ia langsung menoyor kepala Raysa, “Woiii...! masih waras ga lu? Pasti pikiran lu udah traveling kemana-mana ya? Dasar mesum," celetuk Putri.
"Udah ah...! lu mau ikut apa kaga?"celetuknya lagi sambil melangkah keluar kelas.
“Duh...! Puuuut sakiiit, galak amat sih jadi cewek,” omel Raysa sambil mengelus kepalanya.
“Gara-gara lu nih, Rik! otak gue yang polos jadi ternodai karna pikiran kotor lu,” ucap Raysa melototkan matanya ke arah Riko, dan ia berjalan menyusul Putri.
Sedangkan Riko dan Rendi tertawa karena puas menjahili Raysa.
Setelah selesai di toilet, Putri dan Raysa merapikan baju mereka di depan cermin toilet sekolah, kemudian datang tiga orang kakak kelas mereka, yang langsung mereka sapa dengan sopan.
Tapi nasib baik tidak berpihak kepada Putri, ia malah dikepung oleh ketiga orang senior tersebut, Raysa yang melihat pun langsung kaget sedangkan Putri berusaha untuk tenang karena ia merasa tidak mempunyai kesalahan.
“Maaf kak, ada apa ya? ada yang bisa saya bantu?” tanya Putri dengan sopan.
Salah satu dari mereka yang tak lain itu adalah Helena, ia mendekatkan wajahnya ke arah Putri hingga menyisakan jarak sejengkal, dan Putri spontan langsung mundur kebelakang.
Helena pun mendesah pelan, suasana menjadi tegang, karena terlihat raut wajah Helena yang sangat kesal menatap Putri.
“Jadi lu yang bernama Putri? hmm...! Punya nyawa berapa lu sampai bisa ngerebut Victor dari gue?” Bentak Helena.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan Votenya. terima kasih