Pacar Galak

Pacar Galak
Butik


__ADS_3

Setelah pak Alan memberi hukuman kepada Helena, mereka bertiga dipersilahkan untuk keluar dari ruangan bapak kepala sekolah.


Helena menatap Victor dengan tatapan sendu.


''Lu kok tega banget sih Vic sama gue?'' ucap Helena sambil menarik lengan Victor.


''Apaan sih, lepasin...!'' bentak Victor.


''Ini pelajaran buat lu yang berani menyakiti wanita gue, ini belum seberapa, sampai tangan kotor lu menyentuh dia lagi, akan gue pastiin gue akan menjatuhkan lu lebih dari ini,'' Ucap Victor memberikan tatapan tajam yang membunuh kepada Helena.


''Bukannya lu sudah putus dengannya, kenapa lu masih memperdulikannya, sedangkan gue yang sudah menyukai lu sejak lama hanya dipandang sebelah mata, apa kurang gue...? gue lebih cantik dari dia, dan sayang gue ke elu lebih besar dari rasa sayang dia ke elu..!'' balas Helena dengan sedikit meninggikan suaranya.


Putri yang hanya melihat drama di depannya itu berusaha untuk tenang.


''Haha..! sayang...? sayang lu hanya sebatas ambisi..! tidak usah lu membanding-bandingkan diri lo dengannya, karena lu jauh berbeda..! paham..?" ucap Victor menekankan suaranya lebih dalam lagi, membuat Helena hanya terdiam malu.


"Jangan pernah lu mencari gara-gara lagi dengannya..!'' ucap Victor mengancam Helena kembali.


"Ayo kita pergi dari sini..!" ajak Victor kepada Putri sambil menarik tangan Putri dengan lembut dan berlalu dari sana meninggalkan Helena yang hanya berdiri mematung.


Victor pun berjalan beriringan dengan Putri.


"Kenapa lu melakukan semua ini?" tanya Putri dengan tampang datarnya.


Victor menghela nafasnya dengan kasar dan berucap.


"Karena aku ingin kamu yakin dan percaya, kalau aku tidak pernah berhubungan mesra dengannya."


"Agar kamu bisa meyakinkan hatimu untuk bisa kembali lagi kepada ku," ujar Victor memberikan keyakinan kepada Putri.


Putri hanya terdiam mendengar pengakuan Victor.


"Kamu mau ke kantin, kan?" bareng aku ya?''


"Emm...!" jawab Putri dengan ketus, Victor hanya tersenyum mendengar jawaban Putri.


"Ia sungguh menggemaskan," gumam Victor di dalam hati.

__ADS_1


Tiba di depan kantin, Putri mencari keberadaan Raysa dan Rendi, kebetulan hari ini Riko nggak masuk, karena ada urusan keluarga.


Putri melangkahkan kakinya menuju dimana Raysa dan Rendi berada, sementara Victor masih mengikuti langkahnya, merasa Victor yang masih saja terus mengikutinya ia pun berucap.


"Ngapain lu masih ngikutin gue, sono...! tuh udah ada temen lu kan?" ujar Putri yang memang melihat Doni dari kejauhan yang ada di sudut kantin bersama dengan teman-temannya yang lain.


"Jangan galak-galak dong, aku cuma mau mastiin kamu nyampe dengan selamat," balas Victor dengan tampang menggodanya.


"Apaan sih..! lebay...! ucap Putri semakin ketus.


Victor masih saja tersenyum melihat tingkah laku Putri yang selalu ketus kepadanya.


"Eh.. para bucin udah pada baikan nih ceritanya?" goda Raysa yang melihat Putri dan Victor jalan beriringan.


"Udah dong," ucap Victor bersemangat, kemudian ia duduk di bangku yang masih kosong berhadapan dengan Raysa dan Rendi.


''Ayo duduk!'' perintah Victor.


''Nggak!'' bantah Putri, Putri memilih duduk di samping Rendi yang masih tersedia bangku kosong.


Victor menghela nafas dengan kasar, ia begitu sangat cemburu melihat Putri dan Rendi selalu berduaan, apalagi semenjak ia mengetahui kalau Rendi menaruh hati kepada Putri.


''Ia sama-sama kak, kalau butuh bantuan gue lagi, jangan sungkan-sungkan yah,'' ucap Raysa dengan menebarkan senyuman cantiknya. Victor hanya mengangguk mengiyakan ucapan Raysa.


''Aku ke sana dulu ya, kamu jangan nakal,'' ucap Victor yang sudah mengelus kepala Putri dengan sayang, Putri hanya terdiam tanpa memberikan penolakan.


Kemudian Victor memberi tatapan tajam ke arah Rendi, mengisyaratkan kalau ia sangat tidak menyukai melihat kedekatan Putri dan Rendi.


*


Jam pulang pun telah tiba, semua murid berhamburan keluar gerbang. Victor, Doni dan teman-temannya yang lain berjalan menuju parkiran untuk mengambil kendaraan mereka masing-masing.


Victor terlebih dahulu pamit kepada teman-temannya untuk menemani mamanya terlebih dahulu, setelah itu ia akan menyusul untuk menjenguk Wiliam.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan kota, setelah beberapa lama ia pun sampai di depan rumahnya.


Bu Sukma yang sudah menunggu kepulangan anak semata wayangnya sedari tadi, langsung masuk ke mobil yang dikendarai oleh Victor.

__ADS_1


Victor kembali melajukan mobilnya menuju butik yang akan mereka datangi.


Tepat di depan sebuah butik yang tidak terlalu besar, begitu banyak pelanggan yang berlalu lalang mendatangi butik itu, membuat butik itu selalu terlihat ramai dengan para pengunjung.


Victor memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang telah disediakan oleh butik itu. Mereka turun dari mobil, dan melangkahkan kaki masuk ke dalam butik.


Pak Heru yang sudah datang duluan dari anak dan istrinya, menunggu mereka di ruang tunggu.


''Pah..!'' ucap bu Sukma menggenggam tangan suaminya dengan sedikit takut.


Pak Heru yang sudah memahami tingkah istrinya, menatap bu Sukma dengan tajam.


''Kenapa ma?'' ucap pak Heru dingin, ia sudah paham dengan tingkah istrinya yang seperti ini. Besar kemungkinan istrinya sudah melakukan kesalahan.


''Papa jangan marah sama mama, ya!'' ucap bu Sukma dengan sendu.


''Kamu melakukan kesalahan apa?'' tanya pak Heru semakin meninggikan nada suaranya.


Victor yang melihat kedua orang tuanya seperti itu, hanya terdiam dan bingung menanggapinya.


''Ayo kita masuk dulu pa,'' balas bu Sukma. Bu Sukma menggenggam tangan pak Heru dengan kuat, mereka memasuki lift menuju lantai atas.


Sesampainya di lantai atas, mereka sudah di sambut oleh salah satu karyawan butik itu, terlebih dahulu ia mempersilahkan tamu bosnya untuk duduk dan menunggu sebentar, karena ia akan mengkonfirmasi kedatangan tamu yang telah di tunggu-tunggu sejak tadi.


''Ma, aku mau ke toilet dulu, mama sama papa duluan aja, nanti aku akan menyusul,'' ujar Victor. Kemudian ia melangkahkan kaki menuju toilet.


Sudah lima menit menunggu, mereka dipersilahkan untuk masuk ke ruangan itu, pak Heru yang sejak tadi melihat istrinya gelisah hanya menatap istrinya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Sedangkan Victor yang sudah selesai dari toilet, mengiringi langkah orang tuanya dari belakang. Tepat di depan ruangan, setelah pintu dibuka oleh salah satu karyawannya, nampaklah seorang wanita yang sedang duduk di meja kebesarannya dengan membelakangi mereka.


Pak Heru dan bu Sukma saling bertatapan satu sama lain, pak Heru merasa bingung dengan sikap istrinya yang semakin panik, ia menggenggam tangan istrinya dengan tenang.


"Bukannya saya ke sini untuk fitting baju? kenapa harus menemui pemilik butik ini? Apa ia teman istri saya? tetapi kenapa istri saya begitu panik saat memasuki ruangan ini? dan siapa wanita ini?" gumam pak Heru di dalam hati.


Sungguh banyak pertanyaan yang berkeliaran di benak pak Heru. Ditambah lagi melihat tingkah istrinya yang tidak tenang dari awal pertemuan mereka tadi.


Wanita itu memutarkan kursi kebesarannya dengan pelan ke arah depan, tidak lupa ia menampakkan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.

__ADS_1


"Ningrum....!!"


"Tante Ningrum..!"


__ADS_2