
Siang ini di Universitas Sapta Lestari, begitu hiruk pikuk dikala semua angkatan semester akhir dinyatakan lulus mengikuti sidang skripsi hari ini.
Para mahasiswa dan mahasiswi meloncat kegirangan menerima kabar bahagia ini, dengan tidak sabar mereka menunggu hari, dimana mereka akan diwisudakan oleh pihak kampus tepatnya seminggu lagi.
''Ningrum..!'' teriak lelaki yang memanggilnya di ujung kantin. Lelaki itu yang tak lain adalah Diky, ia sahabat Ningrum semenjak mereka masuk sekolah menengah pertama, hingga sampai akan diwisuda pun, mereka masih bersahabat seperti saat ini.
Diky sengaja mengikuti Ningrum yang berjalan menuju kantin membeli air mineral untuk keempat sahabatnya, yang tak lain Sukma, Heru, Surya dan Diky yang sepertinya sudah sangat dehidrasi setelah keluar dari ruangan sidang untuk mempertanggungjawabkan skripsi mereka masing-masing.
Sedangkan Ningrum sudah menyelesaikan sidang skripsinya dua hari yang lalu, Ningrum yang memang pintar dan sangat rajin, lebih duluan selangkah dari sahabat-sahabatnya, bahkan ia dinyatakan lulus dengan menyandang sertifikat cumluade.
Mendengar namanya dipanggil, ia menoleh kebelakang.
"Diky...! aku kan sudah bilang tunggu di sana aja, biar aku yang membelikan minuman buat kalian," ujar Ningrum.
Diky tersenyum memandang wajah cantik Ningrum.
"Aku mau ngomong sama kamu.''
"Yaudah ngomong aja sih, kamu mau ngomong apa? serius amat," balas Ningrum yang melihat tingkah aneh dari Diky, karena biasanya kalau Diky mau berbicara apapun dengannya, ia akan langsung berbicara tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan dari Ningrum.
"Tapi aku mau ngomongnya bukan di sini, nggak mau di dengar banyak orang," ucap Diky.
Ningrum menghela nafasnya dengan kasar, "Apaan sih Diky, nggak jelas banget, yaudah tunggu sebentar aku bayar ini dulu," oceh Ningrum dan berlalu ke meja kasir untuk membayar air mineral yang ia bawa.
Setelah selesai membayar air mineral, Diky mengajak Ningrum ke taman yang ada di kampus itu.
Sukma, Heru dan Surya yang melihat kedua sahabatnya jalan ke arah taman, merasa bingung dan bertanya-tanya. Mereka pun diam-diam mengikuti Diky dan Ningrum dari belakang.
Setibanya di taman, Diky mengajak Ningrum duduk di bawah pohon yang rindang, membuat suasana tenang, nyaman dan menyejukkan.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih, Dik?" ujar Ningrum yang begitu heran melihat tingkah Diky yang tidak seperti biasanya.
Diky menghela nafasnya dengan pelan, kemudian ia menatap dalam wajah Ningrum.
"Ningrum, aku boleh jujur?" tanya Diky dengan sangat hati-hati.
"Diky...! kamu sebenarnya kenapa sih? kalau mau ngomong ya ngomong aja, ngapain juga harus minta ijin," kesal Ningrum yang melihat tingkah aneh Diky sejak tadi. Ia memang tidak mengetahui perasaan Diky kepadanya.
Diky yang sejak lama menahan perasaannya terhadap Ningrum, begitu sangat deg-degkan untuk menyatakan perasaannya saat ini.
"Ningrum.! Aku mencintai kamu.!" ucapan itu langsung terlontar saja dari mulut Diky, yang membuat Ningrum kaget bukan kepalang. Ia pun merasa saat ini Diky sedang bercanda dan ingin mempermainkannya.
Sedangkan ketiga sahabatnya yang mengikuti mereka diam-diam, mendengar pengakuan Diky kepada Ningrum, mereka yang tak kalah kagetnya, hanya melongo mendengar perbincangan yang ada di depan mereka.
Berbeda dengan Sukma, ia yang sudah mengetahui perasaan Diky kepada Ningrum dari semenjak SMA, hanya berusaha santai.
Karena selama ini, Diky selalu memperingati Sukma untuk tidak memberitahukan perasaannya kepada Ningrum.
Pada saat kuliah mereka memilih jurusan yang berbeda, tetapi tetap dengan fakultas yang sama. Di fakultas itulah mereka baru bertemu dengan Surya dan Heru, yang tak lain adalah teman sekelas Diky. Semenjak saat itu mereka berlima menjalin persahabatan sampai dengan sekarang.
Surya yang mendengar Diky menyatakan perasaannya kepada Ningrum, hanya terduduk lesu dan tidak bersemangat. Karena ia juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Ningrum, ia tidak menyangka kalau Diky yang memang paling dekat dengan Ningrum, juga menyimpan rasa seperti dirinya.
''Apaan sih Dik..!'' sela Ningrum yang sedikit terbawa emosi.
''Kalau mau bercanda, jangan bawa-bawa perasaan deh, aku nggak suka..!! perasaan tidak sebercanda itu..!'' ketus Ningrum. Ia pun berlalu dari sana melangkah kakinya menuju tempat sahabatnya yang lain berkumpul.
Belum sempat Ningrum menjauh, Diky menarik tangan Ningrum hingga Ningrum terjatuh ke dalam pelukannya, ia memeluk Ningrum dengan erat seperti tidak mau melepaskannya.
Ningrum yang dipeluk dengan tiba-tiba seperti itu, hanya terdiam dan menatap tak tentu arah dengan pemikiran yang membuat ia bertambah bingung.
__ADS_1
''Ningrum, aku tidak bercanda, aku sungguh mencintaimu, aku sudah tidak bisa menahan rasa yang sejak lama ku pendam, hari ini aku mengungkapkannya agar kamu tau perasaan ku selama ini!'' ucap Diky dengan suara bergetar.
Ningrum yang mendengarkan ungkapan perasaan Diky begitu shock, karena melihat dari raut wajah Diky, ia sangat paham kalau Diky saat ini sedang berbicara serius dengannya.
Ia sungguh tidak menyangka akan seperti ini, ia memang sangat menyayangi Diky lebih dari sahabatnya yang lain, tetapi rasa sayang ia terhadap Diky sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, karena mengingat ia anak tunggal, dan sejak mengenal Diky, Diky lah yang selalu menjaganya.
Bahkan, orang tua Ningrum menitipkan Ningrum kepada Diky. Orang tua Ningrum yakin dan percaya, bahwa Diky bisa menjaga anak semata wayang mereka, mengingat kedekatan mereka dan perlindungan yang selalu diberikan Diky kepada Ningrum selama ini.
''Diky..!'' balas Ningrum dengan lirih sambil melepaskan pelukan Diky dengan pelan.
''Sejak kapan kamu mempunyai rasa itu kepada ku?'' tanya Ningrum pelan.
''Sejak kita dihukum dan diperintahkan untuk membersihkan toilet sekolah, pada waktu itu kita duduk di kelas 2 SMA semester dua,'' balas Diky dengan tersenyum tampan.
Memang dikala itu, saat berduaan dengan Ningrum, sejak saat itu lah perasaannya sudah tidak karuan kepada Ningrum.
Setelah beberapa lama, ia menyadari kalau ia telah menyukai dan sangat mencintai Ningrum, hingga ia takut kehilangan Ningrum, makanya ia memilih satu fakultas dengan Ningrum walaupun ia berbeda jurusan. Setidaknya ia bisa melihat Ningrum setiap hari.
Ningrum yang mendengar pengakuan dari mulut Diky, menutup mulutnya karena saking kagetnya. Ini sungguh diluar dugaannya yang ternyata, Diky yang selalu baik kepadanya memang menyimpan rasa spesial untuk dirinya.
Sekarang ini Ningrum begitu frustasi, ia tidak tau mau menjawab apa, karena ia tidak mempunyai perasaan sedikit pun kepada Diky, rasa sayang yang selalu ia lontarkan kepada Diky, hanyalah rasa sayang sebagai kakak, saudara ataupun sahabat.
Ia takut kalau seandainya ia jujur tentang perasaanya yang sebenarnya, Diky akan menjauhi dan tidak ingin lagi berteman dengannya, ia tidak mau sampai itu terjadi.
Tetapi, apabila ia tidak mengatakan perasaannya itu, ia takut Diky akan selalu berharap lebih kepadanya, sungguh keadaan yang sangat sulit, sekarang ini ia seperti rasa memakan buah simalakama.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung