Pacar Galak

Pacar Galak
Demi Wanita Yang Gue Sayang


__ADS_3

Setiba di UKS, Victor berteriak memanggil seseorang yang berjaga di dalam sana untuk membantunya, tetapi tidak seorang pun yang menyautinya. Ia meletakkan Putri di tempat tidur yang ada di sana, kemudian ia mencari kursi untuk ia duduk dan menemani Putri hingga sadar.


10 menit berlalu, Putri membuka matanya dengan pelan, kepala yang masih terasa pusing membuat ia membuka mata dengan perlahan, menatap seluruh ruangan dan ia menyadari kalau sekarang ia berada di UKS.


Ia dikagetkan dengan posisi Victor yang tertidur di tepi ranjang sambil menggenggam tangannya. Victor yang merasakan kantuk karena begadang semalaman tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk tidur di UKS.


Dengan pelan Putri melepaskan genggaman tangan Victor, ia tatap wajah Victor yang sedang tertidur pulas, ''menggemaskan,'' batin Putri.


Putri mengelus pipi Victor dengan lembut, ''kalau lagi tidur seperti ini, wajah kamu polos banget, nggak keliatan nakalnya, tapi kalau udah bangun kaya singa, marah-marah mulu,'' gumam Putri dengan pelan.


''Ganteng banget sih.!'' Gumamnya lagi.


''Sudah puas ngelus pipi gue? Sudah puas kagum-kagumnya?'' Suara itu mengagetkan Putri yang masih menyentuh pipi Victor.


Victor yang sedari tadi sudah terbangun di saat Putri mengelus pipinya, berusaha tetap pura-pura tidur hingga ia berusaha menahan senyumnya mendengar ucapan Putri.


''Apaan sih..! Siapa juga yang kagum,'' ketus Putri.


''Lah, tadi kan lu ngomongin gue kalau gue ganteng banget,''


''Jadi dari tadi lu nggak tidur?'' Sela Putri.


''Nyebelin banget sih..!'' Ketusnya lagi.


''Kenapa? Lu malu? Santai aja lagi, gue juga udah tau kalau gue ganteng.'' Ucap Victor dengan pedenya.


''Najis..! Pede sekali anda,'' Putri kembali melanjutkan tidurnya dengan membelakangi Victor, karena perutnya masih terasa nyeri.


Victor tersenyum melihat tingkah Putri yang terlihat malu-malu, kemudian ia dikagetkan dengan bercak darah yang ada di belakang baju Putri.


''Put, lu baik-baik saja kan?'' Cemas Victor memegang lengan Putri.


''Apaan sih pegang-pegang, jangan cari-cari kesempatan lu,'' ketus Putri yang menjauhkan tangannya dari Victor.


''Tapi itu ada darah di baju lu?'' Ucap Victor lagi.


Putri pun kaget dan berhasil membulatkan matanya dengan sempurna, dengan sigap ia duduk dan langsung berlari ke toilet yang ada di dalam UKS tanpa menghiraukan Victor.


Victor yang begitu cemas dengan keadaan Putri, mengikutinya ke toilet, ia menunggu Putri di depan pintu toilet, setelah beberapa lama menunggu, Putri tak kunjung keluar dari toilet, ia pun semakin cemas, takut Putri kenapa-napa di dalam sana.


''Put..'' teriak Victor.


''Lu masih idup kan?'' Teriaknya lagi.


Tetapi wanita yang ia cemaskan tak kunjung menyautinya.

__ADS_1


''Put…!'' Ujar Victor yang sudah terlihat panik, pintu toilet itu terbuka dengan pelan, tanpa menunggu lama, Victor masuk ke dalam toilet dengan muka paniknya.


''Lu tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?'' Cemas Victor. Putri menatap muka Victor yang terlihat mencemaskannya.


''Sebegitu cemasnya dia dengan keadaan gue?'' Batin Putri.


''Eh.. mau ngapain lu? Keluar..!'' bentak Putri.


''Gue cuman mastiin keadaan lu doang kok, lu nggak papa kan? Itu tadi apa yang berdarah,'' tanya Victor dengan polosnya.


Putri menundukkan pandangannya karena malu, ''Gue tembus,'' ujarnya.


''Tembus? Tembus maksudnya apaan dah?'' Tanya Victor bingung. Victor yang memang tidak paham dengan keadaan Putri saat ini, menatap Putri dengan heran.


''Gue lagi datang bulan Vic, dan gue ngga bawa pembalut.''


''Ooh.. gitu,'' Victor ber oh ria dengan canggung.


''Trus gimana? Gue harus apa?''Tanya Victor bingung, karena ia baru pertama kali menghadapi cewek dalam keadaan seperti ini.


''Bisa tolong beliin gue pembalut ga? Pliis… '' ujar Putri.


''Gue..?'' tanya Victor menunjuk dirinya sendiri.


''Lah, kok harus gue? Malu dong gue,'' ujar Victor tidak terima.


'Kok lu tega banget sama gue? Perut gue sakit banget Vic,'' ujar Putri dengan wajah yang terlihat menahan sakit, membuat Victor tidak tega melihat wanitanya itu.


''Ya sudah, gue akan membelinya demi wanita yang gue sayang, tapi lu jangan di sini, ayo duduk di sana,'' ujar Victor yang membantu Putri berdiri dan menuntun Putri ke kursi.


Setelah mengantar Putri ke kursi, Victor pun pamit kepada Putri. Belum sempat Victor melangkahkan kakinya keluar UKS, Putri menahan lengan Victor.


''Gue ikut ya, Vic..! sekalian anterin gue pulang, nggak mungkin dengan keadaan seperti ini gue ke kelas.'' Ucap Putri memohon.


''Yaudah kalau lu mau pulang, gue anterin ke mobil dulu, nanti biar gue ambil tas lu ke kelas.''


''Tapi gue ngga enak, nanti kena jok mobil lu dong, gue naik ojek online aja deh,'' ucap Putri merasa tidak enak.


''Lu ke mobil..! gue yang anter pulang..! tidak ada penolakan,'' ketus Victor.


Ia kembali menuntun Putri menuju parkiran mobil. Putri yang sudah merasa lemas hanya mengikuti kemauan Victor.


Setelah tiba di parkiran mobil, dengan sigap Victor membuka pintu mobil dan menyuruh Putri untuk masuk.


''Vic, alas dulu kek pake apa gitu ujar Putri, nanti mobil lu kotor,'' ujarnya lagi.

__ADS_1


Dari pada berdebat dengan Putri, Victor pun membuka jaketnya dan mengalaskan tempat duduk Putri dengan jaketnya. Putri tidak terima dengan tingkah Victor saat ini.


''Nggak gini juga Vic, ah udahlah gue pulang pake ojek online aja,'' kesal Putri dan berusaha untuk meninggalkan Victor.


Dengan cepat Victor mencegah Putri dan menghentikannya,


''Lu batu banget ya, gue bilang masuk, ya masuk, ayo masuk mobil..!'' bentak Victor dengan menarik tangan Putri dengan sedikit kasar.


''Apaan sih lu, bentak-bentak gue dari tadi, nggak niat bantu gue bilang, nggak usah ngebentak gue,'' Putri yang terlihat menahan emosi, air mata itu berhasil lolos dari kelopak mata Putri, ia yang sudah tidak tahan menahan sakit perutnya dari tadi, menangis begitu saja dikala Victor membentaknya.


Mungkin karena pengaruh hormone estrogen pada saat datang bulan membuat ia menjadi sensitive seperti ini.


Victor yang melihat Putri menangis pun merasa bersalah, ia berusaha menenangkan Putri dan mengusap air mata Putri yang membasahi pipinya.


''Maaf, gue terlalu emosi, karena gue sangat mencemaskan keadaan lu, gue mohon dengerin gue ya, sekarang lu masuk mobil, ini kan cuma jaket yang kotor, nanti lu bisa cuci lagi kok, gue mohon jangan bantah gue,'' jelas Victor dengan pelan.


Putri hanya mengangguk dan mengikuti semua kemauan Victor.


''Gue tinggal sebentar ya, lu jangan kemana-mana,'' Victor berlari menuju kelas Putri, sebelum tiba di kelas Putri, terlebih dahulu ia minta ijin kepada guru piket yang berjaga saat ini, untuk mengantarkan temannya yang sakit, untung saja guru tersebut mengijinkannya, hingga ia bersemangat dan langsung berlari ke kelas Putri.


Setiba di sana, ia mencari keberadaan Raysa, dan ternyata wanita yang ia cari sedang asyik berbincang dengan kedua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Rendi dan Riko.


Semua menatap kedatangan Victor dengan tiba-tiba, tak terkecuali Rendi.


''Bagaimana keadaan Putri?'' Tanya Rendi dengan tatapan tidak suka.


''Lu tidak perlu tau bagaimana keadaan cewek gue, jangan pernah ganggu cewek gue lagi.'' Bentak Victor.


''Mana tas Putri..? Tanya Victor kepada Raysa dengan tatapan dingin.


''I-ini kak,'' ujar Raysa sedikit gugup, ia memasukkan buku Putri yang ada di atas meja ke dalam tas, setelah itu ia memberikan tas itu kepada Victor.


''Putri baik-baik saja kan kak?'' Tanya Raysa sedikit takut.


''Kalau lu mau tau kabarnya, lu tinggal chat aja, atau datang ke rumahnya.'' Victor berlalu dari sana, dengan tatapan dinginnya, membuat semua orang tidak berani menatapnya.


''Lu ada masalah apa sih Rend sama kak Victor?'' Ujar Raysa yang memang tidak mengetahui masalah antara Rendi dan Victor, memang Rendi menyembunyikannya dari kedua sahabatnya itu.


Rendi hanya menggelengkan kepalanya dan berpura-pura tidak tau.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2