
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, Victor yang ingin acara orang tuanya berjalan dengan lancar dan meriah, terlihat sibuk sedari pagi mengurus semua yang dibutuhkan dalam acara nanti agar tidak ada kekurangan apapun dan acara berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya.
Ia hanya mengundang teman dekat dan tim basketnya saja, untuk acara ini ia tidak mengundang Putri ataupun teman satu kelasnya.
Doni dan Wiliam yang ikut membantu kesibukan Victor, baru saja terduduk di kursi yang telah disediakan, mereka berbincang sambil tertawa satu sama lain.
''Vic..! kayanya gue mau pulang dulu, mau mandi,'' ujar Doni yang sudah terlihat gelisah karena keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya.
''Mandi disini aja sih.!'' balas Victor.
''Nggak ah, gue mau ganti baju yang bagus, biar keren, siapa tau nanti ketemu jodoh.''
''Dasar kuproy...! cewe mulu pikiran lu,'' oceh Wiliam sambil melempar bekas botol minuman mineral yang barusan habis tak tersisa ia teguk.
''Yeee....! biarin, kalau ga ada cewe nggak berwarna hidup gue, emang kaya hidup lu, gak berwarna..! gelap gulita, kaya mati lampu..!'' balas Doni tak kalah sewotnya.
''Serah lu dah, bodo amat, ayo pulang..!'' ajak Wiliam yang memang tidak mau berdebat dengan Doni, karena masalahnya akan jadi panjang, pikirnya.
Mereka pun pulang bersama dengan mengendarai motor mereka masing-masing setelah berpamitan kepada Victor dan orang tuanya.
Kebetulan acaranya akan dimulai jam 7 malam, jadi mereka punya waktu tiga jam lagi mempersiapkan diri untuk acara nanti.
Begitupun dengan keluarga Sanjaya, mereka harus mempersiapkan diri untuk acara nanti, baju mereka yang telah dirancang oleh Ningrum pun sudah siap dipakai untuk acara nanti.
...****************...
''Ibu..! ayah..! mau kemana?'' tanya Putri ketika melihat ibu dan ayahnya yang sudah berpakaian rapi.
Surya tersenyum melihat anak gadisnya yang menghampirinya dengan sangat antusias. Kebetulan jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam, pertanda acara yang akan mereka hadiri berlangsung setengah jam lagi.
''Ibu dan ayah akan pergi ke pesta anniversary teman ibu!''
''Tumben nggak ngajak aku!'' Putri mengerucutkan bibirnya ke depan pertanda ia sedang cemberut.
Surya mencubit pipi anak gadis kesayangannya itu dengan gemas, hingga anaknya mengaduh kesakitan.
''Aduuh..! ayah...! sakiit..!'' kesal Putri.
__ADS_1
''Habisnya anak ayah ini gemesin banget!''
''Untuk acara kali ini kamu di rumah dulu ya nak, soalnya kata ibu, acaranya sampai besok siang, besok kan kamu sekolah, maka dari itu ayah dan ibu tidak mengajak kamu.''
''Kamu di rumah dulu ya, sama bang Putra,'' jelas pak Surya kepada anak gadisnya itu.
Putri pun mengangguk mengerti dengan semua penjelasan ayahnya.
''Ooh gitu, yaudah ayah sama ibu hati-hati ya.! jangan lupa kabarin aku..!''
Surya mengusap kepala anaknya dengan sayang, kemudian ia memasuki mobil bersama dengan istrinya setelah mereka pamit kepada anak-anaknya.
Lebih kurang setengah jam menempuh perjalanan, mereka pun sampai di rumah mewah yang sudah dihiasi dengan bunga yang di sejejerkan untuk menyambut para tamu, dan terdapat balon-balon yang bergelantungan menambah suasana acara semakin meriah, para tamu sudah banyak yang berdatangan.
Bu Ningrum dan pak Surya memasuki ruangan yang telah disediakan untuk para tamu undangan, dengan sigap Victor menghampiri kedua calon mertuanya dan bersalaman.
"Nak Victor..! kamu di sini juga?" tanya pak Surya antusias.
Victor tersenyum menatap pak Surya yang begitu kaget.
"Iya om, tidak menyangka ya kita bisa bertemu di sini," ujarnya sambil mendudukkan tubuhnya di samping pak Surya.
"Semoga ayah mau menerima semuanya, dan semoga ayah senang..!" gumam bu Ningrum.
Acara pun dimulai, pembawa acara mempersilahkan semua para tamu undangan untuk duduk di tempat yang telah disediakan.
Bu Ningrum mendapatkan tempat duduk paling depan, ia menatap sekeliling mencari keberadaan kedua sahabatnya.
Sungguh, saat ini ia begitu deg-degkan, merasa takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini, apa suaminya mau menerima atau malah bahkan marah dan tidak mau bertemu dengan sahabat-sahabatnya, karena yang ia tau, suaminya masih terlihat kesal dengan kedua sahabatnya itu.
Acara berlangsung dengan khidmat, karena diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, kemudian tiba saatnya acara yang ditunggu-tunggu para tamu undangan, yaitu dengan pemotongan kue oleh pasangan suami istri yang sudah membina rumah tangga selama lebih kurang 18 tahun. Kebetulan di acara ini tidak ada acara peniupan lilin, karena itu permintaan dari pasangan suami istri tersebut, mereka meyakini kalau acara tiup lilin bukan merupakan kepercayaan agama mereka, jadi hanya ada acara pemotongan kue dan mengundang anak panti untuk makan bersama kemudian diberi sedikit uang dan bingkisan ketika mereka akan pulang nanti.
Pembawa acara memanggil kedua pasutri untuk maju ke atas panggung untuk memberi sedikit kata sambutan dan melanjutkan dengan memotong kue yang telah disediakan.
Alangkah terkejutnya pak Surya mendengar nama itu, ia menatap pasangan suami istri yang melangkah ke atas panggung.
''Ibu..!'' gumam pak Surya dengan lirih menggenggam tangan istrinya, untuk saat ini ia memang sangat butuh penjelasan dari istrinya itu.
__ADS_1
Pasalnya, Ningrum yang telah membawanya ke acara ini.
''Ayah, kamu jangan marah ya, aku telah membawamu ke sini,'' ujarnya.
''Maksudnya ini apa bu? tolong jelaskan kepada ku,'' ucap pak Surya dengan datar.
''Setelah acara ini selesai, akan ibu jelaskan semuanya kepada ayah.''
Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah dan mengucapkan terima kasih kepada para tamu undangan, Sukma dan Heru menatap Surya dengan sendu, kemudian mereka mengucapkan permintaan maaf kepada Surya dihadapan semua para tamu undangan, membuat Surya begitu kaget.
"Sebenarnya ini ada apa? ada apa dengan mereka," gumamnya di dalam hati.
Heru memanggil nama Surya berharap Surya mau maju ke depan dan menerima permintaan maafnya. Sedangkan orang yang dipanggil namanya, hanya terdiam kaku menatap mereka.
"Yah..! ayo kita maju ke depan, mereka sudah menunggu kita, ayah mau memaafkan mereka kan?" tanya Ningrum kepada suaminya itu.
"Tapi bu..!"
"Sudahlah ayah, ibu tau, suami ibu yang ganteng ini adalah orang yang pemaaf, karena ia juga sangat merindukan sahabat lamanya bukan?."
Ningrum menarik tangan suaminya dengan sumringah, karena ia merasa tidak ada penolakan dari suaminya, membuat Heru dan Sukma yang melihat Surya dan Ningrum menghampiri mereka tersenyum lega.
Sedangkan Surya hanya memasang wajah datar, kaku sekaligus bingung dengan apa yang terjadi pada saat ini, hingga ia hanya mengikuti kemauan istrinya saja.
Setibanya mereka di atas panggung, dengan sigapnya Heru merangkul sahabatnya yang sudah puluhan tahun tidak bertemu, ia merangkul dengan sangat erat hingga tidak ingin melepaskannya.
Setitik air mata membasahi pipinya, ia tidak menyangka akan bertemu dengan sahabatnya dengan cara seperti ini, tidak pernah terbesit dalam benaknya.
Ia hapus air mata yang jatuh membasahi pipinya, ia balas rangkulan sahabatnya itu dengan kuat.
"Sudah sejak lama aku memaafkan mu."
Kata-kata itu berhasil lolos dari mulutnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung