Pacar Galak

Pacar Galak
Makhluk Yang Lemah


__ADS_3

''Kamu masih sedih dek?? abang temenin ya biar ga sedih lagi,'' ucap Putra menenangkan adiknya. Begitulah Putra, ia sangat menyayangi adik satu-satunya ini, sejak mereka kecil melihat Putri bersedih ia akan dengan siap siaga membujuk adiknya untuk selalu bisa tersenyum kembali.


Putri hanya tersenyum walau dengan keadaan terpaksa. Ia berusaha baik-baik saja di depan abangnya, walaupun sebenarnya sekarang ini hatinya sakit banget, ia tak mampu untuk membendung air matanya lagi.


Karena sekuat apapun wanita, ia tetaplah makhluk yang lemah ketika disakiti oleh orang yang sudah ia cintai.


Melihat Putri seperti itu Putra langsung memeluk adiknya dengan sangat erat dan tak ingin melepaskannya.


''Kalau kamu pengen nangis, nangis aja dek, abang akan selalu ada buat kamu, abang siap dengar semua cerita kamu, menangislah kalau kamu ingin menangis,'' ucap Putra sekali lagi.


Mendengar ucapan abangnya itu, Putri pun langsung menangis sejadi-jadinya, ia luapkan semua perasaan yang gundah gulana itu di pelukan abangnya. Badannya bergetar karena menangis sejadi-jadinya.


Putra yang mendengar isak tangis adik kesayangannya itu merasakan sakit yang juga dirasakan adiknya, rasa pilu didada mendengarkan tangisan adik yang selalu ia jaga dengan sangat baik tetapi malah disakiti oleh laki-laki yang baru saja seumur jagung mengenal siapa adiknya ini.


''Gue harus bikin perhitungan sama bocah itu, berani sekali dia menyakiti adik kesayangan gue sampai segitunya adik gue nangis,'' gumam Putra sambil tetap memeluk adiknya itu.


Ketika Putri sudah sedikit lebih tenang, Putra pun mencoba menanyakan dengan pelan apa yang sebenarnya terjadi.


''Udah mau cerita sama abang?'' tanya Putra yang masih merangkul adiknya itu.


Putri pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Putra, Putri menceritakan secara detail apa yang dia rasakan saat ini, dan apa yang terjadi antara hubungan ia dan Victor belakangan ini.


Mulut Putri berkomat-kamit menceritakan semua yang terjadi, masih dengan bola mata yang berkaca-kaca menahan tangis.


Mungkin bagi sebagian orang itu sudah menjadi hal yang biasa dalam urusan percintaan, tetapi tidak untuk Putri, ini baru pertama kali baginya, memanglah sangat menyakitkan dan nggak akan bisa ia lupakan.

__ADS_1


Putra dengan sayang masih menenangkan adiknya itu. Ia tidak tega melihat adik semata wayangnya menangis seperti ini.


Setelah mendengar semua cerita Putri, Putra pun pamit untuk keluar kamar ia berniat untuk menelfon Victor. Tidak lupa ia meminjam Hp Putri dengan alasan ingin menelfon asistennya karena hpnya lowbat, padahal ia hanya ingin memindahkan nomor Victor ke hpnya tersebut.


Ketika nomor Victor sudah dipindahkan ke hpnya, ia pun langsung menelfon Victor, baru berdering dua kali, telfon langsung tersambung dan terdengarlah suara Victor di ujung sana.


^^^"*Halo," j**awab Victor dari seberang sana*.^^^


^^^''Halo, ini gue Putra, Abangnya Putri, nanti sore Lu sibuk gak? Kalau gak, bisa ketemu di cafe xx jam 5 sore?'" tanya Putra.^^^


^^^''Oh iya bang Putra, gue ngga sibuk kok, baiklah sampai ketemu di cafe xx ya bang, Balas Victor.^^^


^^^"oke", *j**awab Putra singkat dan ia langsung mematikan panggilan telfon tersebut*.^^^


Setelah menelfon Victor, Putra pun mengembalikan hp Putri yang ia pinjem tadi dan setelah itu ia membiarkan Putri untuk beristirahat.


*


Setelah pulang sekolah, seperti biasa Victor akan mengadakan latihan basket, karena mengingat lomba yang akan diadakan beberapa hari lagi, jadi mereka harus semangat dan rajin latihan agar dapat mengalahkan lawan mereka.


Terlebih dahulu Victor meminta izin kepada sang pelatih untuk tidak ikut latihan hari ini dengan alasan ada urusan mendadak, pak Prapto sang pelatih pun mengizinkan Victor untuk tidak ikut latihan hari ini.


*


Victor telah berada di cafe xx, ia sengaja lebih cepat dari pada waktu yang ditentukan agar nanti calon kakak iparnya tidak menunggu, lebih baik ia yang menunggu, pikirnya.

__ADS_1


Sambil menunggu kedatangan Putra, terlebih dahulu ia memesan minuman sambil memainkan ponselnya, sekarang ini pikirannya hanya tertuju kepada Putri, ia pun langsung menelfon Putri berharap wanitanya itu mengangkat telfon dari seberang sana.


Tetapi sudah lima kali panggilan tidak ada jawaban dari Putri, Victor terlihat kecewa ia sangat pusing sekarang ini harus bagaimana lagi menghadapi Putri yang marah kepadanya. Tidak lupa ia mengirimi pesan kepada Putri berharap Putri akan membalasnya, tetapi semua itu nihil, sudah 15 menit kurang Victor menunggu, tetapi tidak ada satupun balasan dari Putri.


Ia pun hanya bisa termenung memikirkan masalahnya ini, ketika masih dengan pikiran kacau, ia di kejutkan dengan kedatangan Putra dan asistennya.


''Sudah lama menunggu? Apa gue telat?" tanya Putra, pasalnya apabila berjanji Putra sangat jarang sekali terlambat, dia akan selalu tepat waktu karena dalam prinsip hidupnya, ia tidak pernah menyia-nyia kan waktu, makanya sekarang ia menjadi pria yang sangat sukses di umur yang masih terbilang muda.


''Belum lama kok bang, ayo silahkan duduk bang," ucap Victor dengan sedikit santai, padahal saat ini ia sangat merasa tegang sekali, karena Putra menemuinya pasti membahas hubungannya dan Putri.


''Langsung saja, gue tidak mau berlama-lama dan berbelit-belit, sebenarnya ada masalah apa lu sama adik gue?"


"Sebelumnya gue pernah bilang sama elu, jangan sekali-kali membuat adik gue menangis, kenapa sekarang lu malah membuatnya menangis? Sebenarnya ini bukan urusan gue, tetapi kalau sudah menyangkut air mata adik gue, gue berhak turun tangan, karena selama ini gue tidak pernah membuat adik gue menangis, tetapi sekarang dengan tidak tau dirinya orang asing seperti elu datang dan memberi rasa sakit yang mendalam untuk adik gue," ucap Putra dengan tegasnya, membuat nyali Victor seketika menciut, Karena selama ini ia tidak pernah melihat calon kakak iparnya sangat marah seperti itu.


Victor hanya menundukkan pandangannya, ia tidak tau harus memulai dari mana untuk menceritakan semua ini. Masih dengan diamnya ia memikirkan cara yang tepat untuk memberitahukan kepada kakak iparnya itu apa yang sebenarnya terjadi.


''Brakh....!'' begitulah bunyi meja yang dihantam oleh Putra karena menahan geram melihat tingkah Victor yang masih terdiam di saat ia sangat membutuhkan jawabannya.


''Berapa lama lagi gue menunggu jawaban dari lu? Waktu gue bukan buat nunggu lu doang ya Vic, jangan coba-coba menguji kesabaran gue,'' bentak Putra dengan menatap tajam kerah Victor.


Victor pun begitu kaget ketika mendengar bunyi meja dan suara Putra yang membentaknya. Dengan berat hati ia menceritakan semuanya kepada Putra.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2